Negeri Empat Matahari

Negeri Empat Matahari
Ch. 5 - Black Shade


__ADS_3

"Jadi aku Dewa? Dewa apa? Aku akan percaya kalau kalian bisa menunjukkan jati diri sebagai peri," ujar Arsa.


Ia tertawa terpingkal-pingkal, menertawakan kebodohannya sendiri. Ia merasa tingkat kewarasannya saat ini berada pada titik terendah. Atau mungkin minus? Entahlah, yang jelas ia sudah gila karena semua kejadian yang ia alami hari ini.


Ctak! Dengan satu jentikan jari, ke tujuh wanita cantik itu pun berubah. Serbuk berkilauan berwarna perak, melingkupi tubuh mereka. Sepasang sayap di punggung dan ujung telinga yang meruncing.


Arsa ternganga melihat semua perubahan itu. Kata-kata yang hendak ia lontarkan kembali terbenam.


"Jadi kalian nggak bohong?" ucap Arsa dengan suara sangat rendah.


"Mana mungkin kami membohongi Dewa. Kami bisa dihukum mati," ujar mereka kompak.


"Tapi peri yang aku tahu, hanya berukuran tidak lebih besar dari jari tanganku," kata Arsa seraya mengingat-ingat film kartun yang pernah ia tonton dulu.


Ctak! Sekali lagi, hanya dengan satu jentikan jari, mereka berubah. Kini peri-peri tersebut lebih mirip kupu-kupu yang memiliki aneka warna.


Syuuu .... Terdengar suara hembusan angin merayap di sela-sela jendela kristal. Untuk beberapa saat, tempat itu sangat sepi. Arsa sedang mencerna apa yang sudah terjadi padanya.


"Tuanku, ini masalah serius. Apa tuanku benar-benar tidak ingat apa pun?" tanya Berry.


Arsa mengangkat kepalanya, memperhatikan makhluk mitologi yang kini sudah berubah bentuk menjadi mirip manusia lagi.


"Berry."


"Ya, Tuanku?"


"Sekarang sudah pukul berapa?" tanya Arsa. Ia belum menjawab pertanyaan peri biru tadi.


"Pukul?" Berry mnegerutkan kening, hingga kedua alisnya saling bertaut.


"Ya. Maksudku, jam berapa? Apakah ini pagi, siang atau sore hari?" Arsa menjelaskan pertanyaannya.

__ADS_1


Pria itu tidak bisa menebak-nebak waktu, karena ada empat matahari di atas sana. Semua terlihat sama, seperti tidak ada yang berubah. "Apakah planet ini tidak melakukan rotasi?" Begitu pikiran Arsa tadi.


"Maksud Dewa waktu? Kita kan sudah lama tidak memakai sistem waktu siang dan malam seperti itu. Saya terkejut karena Dewa tiba-tiba bertanya seperti itu," sahut Berry.


"Lalu bagaimana caranya kita menentukan waktu? Memangnya kalian tidak butuh tidur?"


"Tentu saja perlu, tuanku," jawab para peri.


"Lalu mengenai waktu, bumi kita berotasi selama dua puluh empat tahun zaman millenium. Karena waktu satu hari yang sangat lama, kita akhirnya memutuskan untuk melihat pergerakan bintang sebagai acuan waktu," jelas Lily.


"Satu hari dua puluh empat tahun? Bukan dua puluh empat jam? Ini bumi atau bukan, sih?" pekik Arsa.


"Anda semakin aneh, Dewa," ucap Peach.


Arsa menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. "Sebenarnya aku yang aneh, atau kalian, sih?" ujarnya. Para peri menggelengkan kepala tanda tidak tahu.


"Aku hanya akan jujur pada kalian. Tolong jangan beritahu Ratu." Arsa menatap wajah perempuan di hadapannya dengan serius.


"Bisa iya, tapi bisa juga tidak," sahut Arsa.


"Jadi, ada apa sebenarnya, Dewa?" tanya Olive pula.


"Aku melupakan beberapa hal tentang dunia ini. Bagaimana sistem waktu di sini, pekerjaanku, hubunganku dengan Ratu." Arsa mengungkapkan ganjalan di hatinya.


Tidak ada gunanya lagi berpura-pura. Jika ia terus memendamnya sendiri, maka akan semakin runyam.


"Mulai saat ini, aku akan membutuhkan bantuan kalian semua setiap saat," ucap Arsa.


...🌟🌟🌟🌟...


"Kenapa Ezekiel bisa terbangun di Hutan Rupelium?" Ratu Azura mondar mandir di kamarnya yang luas. Buah plum kesukaannya, sama sekali tidak disentuh sejak tadi.

__ADS_1


"Rania, apa kamu melihat sesuatu yang aneh atau berbahaya?" tanya Ratu pada dayang utama.


"Tidak ada, Yang Mulia Ratu. Saya hanya melihat Dewa seperti orang bingung saja," jawab Rania Wichery.


"Kalau begitu, apa penyebabnya ia bisa berada di sana? Sikapnya yang sekarang juga bisa membahayakan kerajaan kita, kalau pihak lain tahu," gumam Ratu cemas.


"Memang ini di luar dugaan kita. Tetapi Ratu tidak perlu cemas berlebihan. Bukankah artinya bagus, jika Dewa Ezekiel sudah di sini?" ucap seorang pria dengan baju Zirah yang sedari tadi diam saja.


"Ya, kamu benar Black. Tetapi hatiku masih belum tenang."


"Mohon izin, Yang Mulia Ratu. Saya akan menemui Dewa secara pribadi, untuk menyelidikinya lebih lanjut, sekalian memberikan penawar untuk ingatannya yang tampak kacau," ujar Rania.


"Hmmm ... Itu terdengar bagus. Aku jadi merasa sedikit lega." Ratu Azura mulai tersenyum.


Rania Wichery bukanlah sembarang dayang. Dia merupakan wanita berpendidikan tinggi di Kerajaan Viersonne. Dia juga menguasai beragam bidang ilmu dan bahasa. Bahkan wanita itu kerap kali menjadi dokter pribadi Ratu.


"Black Shade, tugasmu telah selesai. Kamu tidak perlu berpura-pura lagi," ujar Ratu Azura.


"Hormat saya, Yang Mulia Ratu. Semoga Yang Mulia tidak kecewa dengan hasil kerja saya selama ini," ucap Black Shade, salah satu orang kepercayaan Ratu Azura Auristella.


"Tentu tidak, Black. Mulai sekarang, kamu akan kuberikan tugas baru," sang Ratu pun berbisik, hingga cuma Rania dan Black Shade yang bisa mendengarnya.


...🌟🌟🌟🌟...


"Rudolf, ada perlu apa kamu datang kemari. Aku tidak akan mendengarkan jika itu hanya berita remeh tentang Verenian Pallace itu lagi," ucap sesosok makhluk yang duduk di singgasana berbentuk tengkorak buaya.


"Ini berita penting, Yang Mulia. Dia telah bangkit," jawab seekor ular kecil yang kemudian berubah menjadi sosok pemuda tampan.


"Dia? Maksudmu siapa?"


"Ezekiel, Sang Dewa Kecerdasan," ucap Rudolf."

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2