Negeri Empat Matahari

Negeri Empat Matahari
Ch. 2 - Dunia Baru


__ADS_3

“Aku di mana? Apa yang terjadi? Bukankah bumi sudah hancur?”


Bola mata Arsa tertuju pada pohon berbunga biru kobalt dengan aroma wangi yang kuat. Ya, itu adalah tanaman Tecophilaea Cyanocrocus yang dinyatakan sudah punah, bahkan sebelum revolusi industry terjadi di Eropa.


“Apa aku kembali ke zaman purba? Ini Zaman Devonian atau Zaman Karbon?” pikir Arsa menebak-nebak.


“Nggak. Zaman itu pepohonan dan tanaman berbunga belum ada. Hanya ada tanaman paku dan reptill raksasa." Arsa membantah kalimatnya sendiri. "Lalu aku sekarang ada di mana? Apa aku sudah mati? Ini surga, kan?”


Dipenuhi oleh rasa penasaran, Arsa mulai menjelajah wilayah tersebut. Sungai-sungai dangkal setinggi mata kaki, mendominasi wilayah tersebut. Airnya yang jernih, membuatnya bisa melihat dasar sungai yang terdiri dari bebatuan berwarna-warni.


Kratak! Tanpa sengaja kaki pria tersebut memijak benda gepeng yang aneh. Arsa memungutnya.


“Hah! Ini smartphone, kan?” seru Arsa. Meski benda itu lebih mirip lempengan besi berkarat, ia masih bisa melihat guratan tombol-tombol dan lubang usb di sisinya. Semangat Arsa untuk menjelajai hutan kembali bertambah. Ditambah lagi perutnya yang berguncang minta diisi. Masih ada harapan, bahwa dia tidak terdampar di tempat yang aneh.


Tak jauh dari kakinya, ia juga melihat beberapa benda dari zaman modern bertebaran. Arsa menemukan beberapa kemasan plastik yang tidak termakan usia. Hanya cetakan gambar di atasnya saja yang sudah pudar.


“Ini bungkus makanan ringan dan wafer, kan? Uh, perutku jadi semakin lapar,” keluhnya. “Hah, mungkin aku berpikir terlalu jauh. Bisa aja ini cuma lab tumbuhan di dalam rumah kaca, kan?” gumam Arsa.


Srak! Tiba-tiba sesuatu melompat dari balik semak belukar. Seekor binatang berbulu putih bak salju dengan tanduk bercabang sepanjang dua meter pun muncul. Binatang yang telah dinyatakan punah itu berjalan lambat di hadapan Arsa. Bulunya yang putih bersih sangat kontras dengan pepohonan hijau di sekitarnya.


“Ca-capreolus? Bukannya sudah punah sejak tahun 1850-an? Sebenarnya ini dunia apa?” Arsa tidak mengedipkan matanya melihat hewan misterius yang menjadi perbincangan para ilmuwan sejak tahun awal abad ke 18 hingga 19  tersebut.


“Sebenarnya ini dunia apa? Kenapa aku bisa terbangun di tengah hutan?”


Arsa memijat kepalanya yang berdenyut keras. Ingatannya masih tetap sama. Bola api di mana-mana, lalu tanah yang bergelombang lalu terbelah. Teriakan histeris dari semua orang. Di tambah lagi bulan dan matahari yang kian membesar, bagaikan hendak menabrak bumi.


Lalu sekarang? Semua indah seperti sedia kala. Di katakan surga juga tidak. Sisa-sisa peradaban bumi masih ada. Arsa terpaku dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Pertanyaan selanjutnya adalah, ke mana orang-orang?


Krucuk!


“Duh, perutku harus segera diisi. Ada buah yang bisa di makan nggak, ya?” Arsa kembali menjelajah hutan lebat tersebut.


"Dewa, Anda di mana?"

__ADS_1


“Tuanku, apa Anda bisa mendengarkan kami?”


Sayup-sayup terdengar suara perempuan memanggilnya. Diiringi langkah kaki kecil yang berkecipuk di air.


"Hah? Siapa yang mengenaliku di tempat ini?" pikir Arsa. Tapi hatinya cukup lega. Artinya dia tidak sendirian di sini.


Srak! Srak! Srak!


"Oh, Dewa. Kenapa Anda menghilang? Sang Ratu cemas mencari Anda."


Arsa tertegun. Beberapa orang perempuan cantik muncul dari sebalik tanaman paku raksasa. Pakaian mereka serupa dengan Arsa. Hanya saja, helaian yang mereka kenakan lebih tebal dibandingkan miliknya.


Wajah mereka semua hampir serupa. Mata indah berwarna biru kehijauan, bibir mugil merah delima, hidung mancung sempurna, kulit putih seperti kapas, tubuh langsing sempurna. Sulit dikatakan jika mereka adalah manusia, terlalu sempurna. Perbedaan mereka hanya terletak di warna pakaian dan warna rambut saja.


"Ratu?" gumam Arsa kemudian. Ia semakin bingung dengan apa yang terjadi.


"Benar. Anda harus segera pulang. Ratu telah menunggu Anda di istana,” ujar wanita dengan gaun berwarna amethyst.


"Wah, kayaknya aku udah gila. Kenapa aku mimpi seaneh ini? Wanita cantik yang mengkhawatirkanku? Capreolus yang berkomunikasi pada manusia?" batin Arsa.


“Oh, Dewa. Kita harus segera ke istana. Pasti Anda sudah lapar sekali kan? Berhari-hari menghilang tanpa kabar,” kata mereka.


“Boleh aku tahu, kalian siapa dan aku berada di mana?” tanya Arsa. Wajah-wajah cantik itu rupanya tidak serta membuat Arsa luluh dan percaya. Di tempat asing seperti ini, ia harus lebih waspada.


“Apa maksud Dewa? Ah, tuanku tidak hilang ingatan, kan?” seru mereka bersamaan.


“Hah? Kayaknya yang aneh itu kalian, deh,” ujar Arsa dalam hati.


“Tuanku, kami tidak tahu apa Anda sedang berpura-pura atau beneran tidak ingat. Tapi saat ini kita berada di hutan Rupelium, wilayah kerajaan Viersonne,” sahut si Amethyst.


“Rupelium? Itu kan nama zaman geologi, saat bumi beriklim hangat, hewan dan tanaman modern bermunculan di bumi?” pikir Arsa.


“Lalu kalian?” tanya Arsa.

__ADS_1


“Kami adalah pelayan pribadi Anda, tuanku,” sahut si Peach.


“Pe-pelayan pribadi? Memangnya aku siapa? Mana sanggup aku menggaji kalian semua,” kata Arsa.


“Oh, Dewa. Anda pasti sangat kelaparan, sampai memakan buah prunus,” kata si Olive.


“Tuanku, sebaiknya kita segera ke istana. Kesehatan Anda sepertinya cukup terganggu,” kata si putih yang sejak tadi diam.


"Baiklah, sepertinya bukan ide buruk. Aku harus mengisi perut, sebelum berpikir kembali. Aku juga harus keluar dari hutan ini, kan?” Arsa mengambil sebatang kayu untuk berjaga-jaga, jika para wanita ini hendak menipunya.


Mereka berjalan cukup jauh, melalui beberapa sungai kecil dan pepohonan lebat. Beragam tumbuhan dan hewan aneh mereka jumpai sepanjang perjalanan.


“Apa masih jauh? Kenapa kalian tidak membawa kendaraan?” tanya Arsa yang berjalan di belakang para wanita tersebut.


“Sebentar lagi kita sampai, tuanku. Sayangnya kendaraan tidak bisa memasuki hutan lebat itu.”


“Ah, benar juga.” Arsa menyadari kebodohannya. Mereka saja harus melangkah lebih lebar dan memilih jalan agar tidak tersandung akar tanaman yang menjulur. Bagaimana kendaraan bisa melalui tempat seperti ini. Dan sudah pasti tidak ada sinyal internet di tempat seperti ini, kan?


Perlahan rona hutan yang lebat digantikan dengan tanaman perdu yang lebih rendah. Arsa pun bisa melihat sinar matahari yang datang dari segala arah.


“Kita sudah sampai, tuanku,” ujar Peach.


“Astaga! Te-tempat apa ini?”


Arsa terlonjak kaget melihat pemandangan di hadapannya. Sebuah lembah dengan hamparan bunga berwarna-warni, yang menjadi tempat tinggal bagi ratusan bahkan ribuan kupu-kupu.


Tidak, bukan itu masalahnya, tetapi ada di atas. Langit yang berwarna jingga itu, memiliki empat bola raksasa berwarna kemerahan, yang terletak di empat penjuru mata angin. Arsa baru melihatnya.


Pepohonan yang rimbun dan menutupi angkasa, membuatnya tak menyadari keanehan itu sejak terbangun tadi.


"Kalau itu benar bintang, kenapa tempat ini tidak terasa panas? Apa mungkin cuma planet?" Pria itu bergidik ngeri. Ia tidak bisa menebak, di mana ia berada saat ini.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2