Negeri Empat Matahari

Negeri Empat Matahari
Ch. 7 - Dewi Perang


__ADS_3

"Mohon izin, Dewa. Rania Wichery, dayang utama Yang Mulia Ratu datang menghadap." Terdengar suara peremluan yang lembut namun tegas, di luar ruang pribadi milik Arsa.


"Dayang Yang Mulia Ratu? Baiklah, silakan masuk," ujar Arsa alias Ezekiel.


Seorang wanita berkulit putih pucat, rambut hitam, bola mata cokelat kemerahan dan bertubuh mungil, memasuki ruang pribadi Dewa kecerdasan tersebut. Tangan kanannya menggenggam sebuah botol kecil dengan isi berwarna ungu gelap.


"Hormat saya, Dewa Ezekiel." Rania membungkukkan tubuhnya, hingga ujung gaunnya yang menjuntai, menyentuh lantai.


"Ada apa gerangan, dayang utama Ratu menemuiku?" tanya Ezekiel dengan lidah patah-patah. Pria yang telah dinobatkan sebagai Dewa itu masih belum terbiasa dengan keadaan istana yang serba formal.


"Saya hanya ingin menyambut kembali kedatangan Dewa, setelah sekian lama menghilang." Rania menegakkan kembali tubuhnya, lalu duduk bersimpuh di hadapan Arsa alias Ezekiel.


"Dan jika Dewa berkenan, saya membawakan sebuah ramuan herbal untuk membuat tubuh Dewa bugar kembali setelah berjalan-jalan di hutan." Dayang cantik tersebut memberikan botol tadi kepada Ezekiel.


"Ini terbuat dari apa? Aku tidak terbiasa meminum jamu. Ah, maksudku Ramuan herbal," ujar Ezekiel.


"Tentu saja saya sudah memikirkannya matang-matang, Dewa. Ini terbuat dari bahan yang sangat aman dan tidak pahit. Rasanya sedikit mirip dengan jus strawberry," jelas Rania.


"Begitu, ya? Apa Ratu tahu, kalau kamu ke sini menemuiku? Atau karena perintah Ratu?" tanya Ezekiel masih waspada.


"Tentu saja, Dewa. Saya ke sini atas izin dari Sang Ratu," jawab Rania.


Ezekiel menatap para pelayannya untuk meminta pendapat. Tetapi mereka semua menganggukkan kepala.


"Baiklah, akan ku terima ramuan herbal ini. Terima kasih, Rania," sahut Sang Dewa.


"Dewa bisa meminumnya sekaligus dalam dua kali tegukan," kata Rania lagi.


"Terima kasih. Aku akan meminumnya nanti," ucap Ezekiel.


"Ramuan itu hanya tahan sampai sebelum makan siang, Dewa," ucap Rania mengingatkan.

__ADS_1


"Jadi maksudnya aku harus meminumnya sekarang?" tanya Ezekiel.


"Sebaiknya begitu."


Ezekiel membuka tutup botol tersebut. Ukurannya tidak lebih besar dari jari telunjuknya. Aroma manis dan segar menguar dari dalam sana. Keraguan Sang Dew pun perlahan lenyap. Dalam dua kali tegukan, ia pun menghabiskan hadiah dari dayang utama Sang Ratu.


"Sepertinya ia nggak bohong. Ini beneran enak dan badanku terasa lebih segar," gumam Ezekiel dalam hati. "Tapi..." Ia masih merasakan sesuatu yang janggal.


"Kalau begitu, saya pamit undur diri dulu, Dewa," ucap Rania kembali membungkukkan badannya.


"Silakan. Sampaikan salamku pada Ratu Azura," balas Ezekiel.


Beberapa saat kemudian, di Verenian Pallace, kediaman Ratu Azura Auristella.


"Bagaimana, Rania?" tanya Ratu Azura, ketika melihat dayangnya kembali.


"Berjalan dengan baik, Ratu. Dewa Ezekiel sudah meminum ramuan dari buah dan bunga Atropa belladona dalam dosis rendah," lapor Rania.


"Syukurlah, semoga tidak ada yang menyadari jika Ezekiel baru saja bangkit dari tidur panjangnya. Tetapi kita harus tetap berhati-hati, karena hal ini bisa mengancam stabilitas negara," ujar Ratu Azura.


"Baik, Ratu."


...🌟🌟🌟🌟...


"Peach, Almond, kenapa di sana ramai sekali?" tanya Ezekiel melihat kerumunan dari balik jendela ruang baca miliknya. Arak-arakan tersebut melintas di sisi kediaman Ezekiel, menuju Valenseau Castle.


"Oh, Dewa belum mendapat kabar? Hari ini Dewi Zayya kembali dari perbatasan," sahut Peach.


"Dewi Zayya? Kenapa namanya nggak asing ya di telingaku?" gumam Ezekiel.


"Dewi Zayya adalah Dewi Perang, tuanku. Tentu saja Anda sering mendengar namanya, karena beliau adalah salah satu Dewa berpangkat tinggi seperti tuanku," jelas Almond.

__ADS_1


"Kenapa seorang Dewi malah pergi berperang?" ucap Ezekiel. Rasanya aneh saja, gelar yang biasa disandang oleh kaum pria itu justru dipegang oleh seorang Dewi.


"Dewa pasti salah paham. Meski beliau adalah Dewi Perang, tetapi ia sama sekali tidak memimpin perang," kata Rose sembari meletakkan buah pir di atas meja.


"Benar. Sejak peradaban baru dimulai, tidak ada lagi perebutan kekuasaan seperti dahulu. Manusia dan makhluk lainnya hidup berdampingan. Dewi Zayya hanya bertugas menjaga keamanan negeri ini," tambah Olive yang menuangkan sari buah apel untuk Ezekiel.


"Selain itu, Dewi Zayya juga memastikan bahwa seluruh peradaban saat ini berada di bawah naungan kerajaan Viersonne, agar tidak ada lagi kesenjangan sosial. Sampai saat ini, Dewi Zayya sudah melebarkan kerajaan hingga ke seluruh benua Eiland dan Alkara," tambah Almond.


"Apa itu bukannya disebut perebutan kekuasaan? Aku nggak ngerti gimana konsep di sini?" kata Ezekiel memijat kepalanya yang pusing.


"Ah, benar juga," celetuk Peach. Ia lalu membongkar-bongkar laci kecil di sudut ruangan.


"Selama Dewi bepergian, ia beberapa kali mengirimkan surat kepada Anda." Peach memberikan tiga pucuk surat kepada Ezekiel.


"Kenapa ia mengirim surat padaku? Memangnya kami memiliki hubungan spesial?" pikir Ezekiel.


Tanpa menunggu lama, ia pun membuka surat itu satu per satu.


[Dewa Ezekiel, saya menyarankan agar Anda sesekali berjalan-jalan keluar untuk melihat keadaan. Banyak sekali hal yang berbeda di luar istana.]


"Kenapa ia menyuruhku berjalan-jalan keluar istana? Padahal aku saja berada di hutan?" Komentar Ezekiel ketika membaca surat pertama.


"Dewi Zayya tidak tahu jika Anda pergi, tuanku. Ia sudah keluar dari istana sejak bintang utara masih bersinar," kata Almond.


"Begitu, ya?" Albert lalu membuka surat kedua.


[Jika Rania Wichery memberikan sesuatu, sebisa mungkin Anda menolaknya. Terutama makanan dan ramuan.]


"Kenapa aku dilarang menerima pemberian dayang Ratu?"


Arsa alias Ezekiel semakin berpikir keras.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2