
"Siapa wanita jelek itu?" geram Azura, ketika melihat seorang wanita berjalan di sisi Arsa Dewananda.
Walaupun Arsa terlihat tidak menyukai wanita yang mengikutinya itu, tetap saja Azura cemburu melihatnya.
"Pergilah, Zayya. Aku nggak akan berubah pikiran. Kau nggak malu mengejar laki-laki seperti ini?" ujar Arsa mengusir Zayya Gantari.
"Kamu pikir aku mengikutimu, karena menyukaimu?" Zayya menghentikan langkahnya, lalu berbicara dengan nada cukup tinggi.
"Kalau bukan karena itu, terus apa lagi?" balas Arsa sambil mencibir. "Kau kan tahu aku tuh nggak suka sama cewek jelek kayak kamu," sambung pria itu.
Azura mendengar sebagian obrolan sepasang muda-mudi itu. "Wah, nggak ku sangka Arsa berani bicara blak-blakan seperti itu. Berarti aku termasuk kriteria dia, dong?" ucap Azura sembari mengepakkan sayapnya.
Malaikat dengan sayap biru gemerlapan itu memang terkenal dengan kecantikannya, di antara para malaikat lainnya.
Namun, rasa senang Azura hanya bersifat sementara. Dia geram melihat Zayya yang terus menerus mengikuti Arsa, meskipun sudah diusir berkali-kali.
"Aku juga nggak suka padamu, Arsa. Pria sombong tapi pura-pura lugu di depan semua orang. Justru sejak awal aku nggak mau dijodohkan denganmu. Tapi ibumu ..."
Zayya menghentikan kalimatnya yang belum selesai dia ucapkan. Dia tidak ingin membongkar aib ibu Arsa yang sangat gila harta. Zayya memang memiliki kedudukan lebih tinggi di perusahaan. Hal itu pula yang membuat ibunda Arsa menjodohkan mereka.
"Ah, ini gak bisa dibiarkan. Gak boleh ada seorang wanita pun di dekat Arsa, termasuk cewek jelek seperti dia."
Azura mendadak mengepakkan sayapnya, dan hendak mendak menjatuhkan beberapa buah-buahan busuk di atas kepala Zayya. Tapi ...
__ADS_1
"Loh, kenapa kekuatanku nggak mempan?" pikir Azura bingung.
Dia mengulangi tindakannya itu, tetapi tetap tidak bisa. Buah-buah busuk dari pohon jambu itu, justru terjatuh ke selokan.
"Hentikan perbuatanmu itu, Azura Andzelika!"
Suara yang terdengar menggelegar itu, spontan membuat Azura menoleh ke belakang.
"De-Dewi Isaura?" ujar Azura terkejut.
Dewi Isaura yang terkenal lemah lembut itu menatapnya dengan tajam. Tak sendirian, di belakang Dewi Isaura terdapat beberapa malaikat bersayap abu-abu, yang bertugas sebagai pengawal.
"Tangkap dia, lalu bawa dia ke hadapan Mahadewa yang Agung," perintah Dewi Isaura, dengan suara yang dingin dan tegas.
...🌟🌟🌟🌟...
"Kamu udah melakukan perbuatan tidak terpuji, Andzelika," ucap Mahadewa pada Azura Andzelika yang bersimpuh di hadapannya. "Kamu juga sudah melalaikan tugas, yang menyebabkan ribuan bayi meninggal dalam waktu kurang dari tiga bulan," sambung Mahadewa lagi.
"Ini salah paham, Yang Mulia Mahadewa. Aku tidak melakukan apa pun," bantah Azura tak terima dengan tuduhan itu. "Lagipula bayi-bayi itu mati karena wabah penyakit yang disebabkan oleh manusia itu sendiri. Ini bukan salahku," imbuhnya lagi.
Para Dewa Dewi yang berada di ruangan itu terkejut, mendengar Azura menyebutkan kata 'mati'. Bagaimana seorang malaikat penjaga bayi yang harusnya memiliki jiwa keibuan itu, mengucapkan kata kasar begitu?
"Kamu nggak bisa berbohong lagi. Sebagian sayapmu sudah berubah menjadi berwarna hitam. Itu artinya kamu sudah bersentuhan dengan manusia, menggunakan hawa nafsu," ujar Mahadewa dengan tenang namun penuh penekanan.
__ADS_1
Azura terkejut mendengar pernyataan tersebut. Dia lantas menoleh ke belakang, seraya merentangkan kedua sayapnya. Ternyata benar yang dikatakan oleh Mahadewa. Sayap bagian bawah sudah tampak menghitam.
"Andzelika, kamu adalah makhluk suci, yang nengemban tugas mulia. Kamu tidak boleh memiliki hawa nafsu layaknya manusia. Benci, cinta dan rasa ingin memiliki sesuatu adalah perbuatan yang dapat merusak kesucian dari jiwa malaikat," kata Mahadewa lagi.
"Kenapa tidak adil? Kenapa hanya malaikat yang tidak boleh merasakan cinta. Padahal Dewa Dewi yang seharusnya memimpin dunia juga boleh memiliki kekasih, bahkan lebih dari satu," teriak Azura, sembari menunjuk ke arah Dewi Ercilia.
"Aturan yang sudah dibuat sejak ribuan tahun lalu, tidak boleh diubah lagi, Andzelika. Kamu harus menerima hukuman, karena telah melanggar aturan," kata Mahadewa lagi.
"Aku tidak mau!" jerit Azura.
"Keputusan sudah ditetapkan oleh para Dewa Dewi. Kamu harus tinggal di bumi selama-lamanya sebagai penjaga kelestarian alam, demi menebus kesalahanmu itu. Semua kekuatanmu akan dicabut," titah Mahadewa.
"Aku nggak terima, Mahadewa. Ini nggak adil! Apa bedanya aku dengan manusia yang hina itu, kalau semua kekuatanku dicabut?" jerit Azura tak terima dengan hukuman tersebut.
"Bukankah kamu merusak kesucianmu karena seorang manusia itu?" sindir Mahadewa.
"Uh, jadi menyukai seorang pria dan menciumnya, kesucianku sudah dianggap ternoda?" pikir Azura.
"Baiklah, aku tidak mencabut sayapmu. Hanya itu yang bisa aku berikan. Dan kamu akan aku kirim ke wilayah kepulauan selatan khatulistiwa," kata Mahadewa setelah berunding dengan beberapa Dewa lainnya.
Azura hanya bisa menangis sedih, tatkala para malaikat pengawal menggiringnya ke bumi. Sayapnya yang biru bekilauan telah hilang. Yang tersisa saat ini hanyalah sayap kusam yang hitam legam, bagaikan yang dimiliki oleh bangsa iblis.
(Bersambung)
__ADS_1