
“Astaga! Te-tempat apa ini?”
Langit yang berwarna jingga itu, memiliki empat bola raksasa berwarna kemerahan, yang terletak di empat penjuru mata angin. Arsa baru melihatnya. Pepohonan yang rimbun dan menutupi angkasa, membuatnya tak menyadari keanehan itu sejak terbangun tadi.
“Apa itu bintang raksasa? Atau bulan? Kalau itu bintang, yang mana matahari?”
Tubuh Arsa bergetar hebat melihat keanehan tersebut. Ia tidak lagi yakin, dirinya berada di bumi saat ini. Ia tidak bisa menebak, di mana ia berada saat ini. Yang pasti ini bukan bumi, kan?
"Kalau itu benar bintang, kenapa tempat ini tidak terasa panas? Apa mungkin cuma planet?" Pria itu bergidik ngeri.
Suhu di tempat itu terasa cukup sejuk. Sesekali udara berhembus pelan. Jika tidak melihatnya langsung, pasti tidak ada yang percaya jika ada empat bola merah raksasa di langit.
"Tuanku, Anda mau ke mana? Kita harus lewat sini agar segera sampai," ucap para wanita itu.
“Oh, maaf. Sudah lama aku tidak melihat pemandangan lembah ini,” ujar Arsa berbohong.
Mereka mendekati sebuah pohon sequoia raksasa, lalu saling berpegangan tangan. Dann… Traa...! Kini mereka telah berada di sebuah bangunan serba kaca dan kristal.
Arsa menyipitkan matanya, menghindari kilauan cahaya yang memasuki retinanya. "Ini istananya? Wuah, megah sekali," pikir Arsa.
Bangunan itu sangat tinggi. Meski seluruhnya terbuat dari kaca dan kristal, bangunan itu terlihat sangat kokoh. Tidak banyak hiasan di sana. Hanya ada beberapa vas berisi bunga-bunga indah di sudut ruangan.
Kepala pria itu tidak sanggup mencerna hal-hal unik yang terus-terusan ia alami sejak tadi. Rasanya sudah mau pecah, ditambah lagi perutnya yang sangat lapar. Soal teleportasi yang baru saja ia alami? Bisa pingsan jika ia terus memikirkannya.
“Sebagai siapa aku di sini? Penulis berita? Pengirim surat? Ah, pasti bukan, kan? Aku saja memiliki pelayan pribadi. Pasti jabatanku cukup tinggi,” ujar Arsa dalam hati.
__ADS_1
“Silakan masuk, tuanku. Kami akan membantu Anda mandi, lalu menyiapkan makan,” kata si putih.
“Me-membantuku mandi? Apa itu nggak terlalu berlebihan?” tangan Arsa reflek menutup bagian tertentu, yang sebenarnya juga sudah tertutup kain.
“Oh, biasanya kan begitu,” ujar Peach.
“Kali ini tidak perlu. Aku lagi ingin sendiri. Tunjukkan saja di mana letak kamar mandinya,” kata Arsa. “Ah, sebentar. Bisakah kalian memberikan ponselku? Ada sesuatu yang ingin aku pastikan," pinta Arsa.
"Po-ponsel? Kenapa Dewa berbicara seperti manusia abad ke dua puluh satu masehi? Sudah ratusan abad sejak tidak ada benda seperti itu di sini."
"Mereka barusan bilang apa?" batinnya. Kepala Arsa semakin puyeng. Ia harus segera menyelesaikan masalah ini.
"Sepertinya kita memang harus memanggil tabib untuk mengecek kesehatan Dewa," ujar mereka saling berbisik.
"Itu nggak perlu, Nona-nona. Aku cuma butuh waktu sendiri dan beristirahat," kata Arsa. "Ah, setelah aku mandi dan makan, bisakah kalian mengantarku ke perpustakaan?” pinta Arsa.
...🌟🌟🌟🌟...
Tahun 2025, seluruh gerakan galaksi mengalami anomali, akibat adanya peleburan kedua galaksi dan lubang putih raksasa. Bumi turut terkena imbasnya. Planet-planet di tata surya matahari mengalami musim dingin secara mendadak, tidak terkecuali dengan bumi.
Gulungan awan cumulonimbus melingkungi sebagian besar permukaan bumi. Salju turun di seluruh benua, termasuk wilayah tropis. Selang beberapa saat, gumpalan awan menghilang. Belasan Asteroid datang menembus atmosfer bumi.
Para penduduk bumi tidak tahu, jika hari itu adalah awal kepunahan masal dari penghuni bumi. Tiga per empat dari planet ini akan musnah.
Dalam waktu singkat, Gelombang supersonic yang diakibatkan oleh belasan asteroid berukuran 10 – 15 km membuat atmosfer terbakar. Berselang beberapa detik kemudian, Asteroid tersebut menghantam permukaan bumi, menyebabkan ledakan dahsyat yang setara satu juta kali ledakan akibat meletusnya gunung krakatu di Indonesia. Cahayanya begitu terang, seakan-akan matahari baru muncul dalam tata surya tersebut.
__ADS_1
Tanah bergelombang bagaikan riak air di tepi pantai. Kebakaran dahsyat terjadi di mana-mana. Gelombang Tsunami setinggi gedung sepuluh lantai menghantam seluruh pesisisr. Oksigen kian berkurang. Para manusia di benua lain, yang tidak berada di radius ledakan tersebut berlari mencari bantuan dan tempat perlindungan. Bumi yang beberapa menit lalu masih sangat indah, kini berubah menjadi tempat yang sangat mengerikan.
Bebatuan kecil dan debu memenuhi seluruh atmosfer. Komposisi atmosfer berubah. Bebatuan tersebut meleleh akibat suhu atmosfer yang sangat panas. Beberapa jam setelah benturan, kebakaran dahsyat masih terjadi di mana-mana. Tsunami telah mereda.
Apakah ini kiamat? Tidak. Masih ada banyak nyawa yang selamat. Penduduk bumi yang masih selamat, melarikan diri ke gua-gua yang tidak runtuh, dengan bekal seadanya.
Abu dan jelaga akibat kebakaran dahsyat tersebut menyebabkan sinar matahari terhalang. Bumi tenggelam dalam kegelapan yang sangat panjang. Ribuan jenis makhluk hidup di bumi pun musnah. Suhu udara di bumi terjun bebas. Parahnya lagi, listrik dan internet yang menghubungkan seluruh sisi bumi tidak dapat digunakan. Semua peralatan modern hanya menjadi bangkai-bangkai tidak berguna.
Ratusan tahun berlalu dengan keadaan yang sama, bumi diliputi oleh salju abadi. Hingga secercah kehidupan mulai muncul kembali. Matahari mulai menyinari bumi. Biji tanaman yang tertanam di dalam tanah kembali bertunas. Manusia keluar dari persembunyiannya. Mereka adalah generasi berikutnya dari kakek moyang mereka yang mengalami kejadian dahsyat. Dan hanya manusia cerdas dan kuat yang mampu bertahan.
Tetapi masalah belum usai. Bencana besar tersebut menyebabkan perubahan sistem tatasurya yang cukup signifikan, dan mengacaukan medan gravitasi di seluruh ruang angkasa. Seluruh peralatan elektronik tidak dapat digunakan, bahkan setelah sepuluh ribu tahun berlalu.
"Hah, gila. Jadi mega bencana waktu itu benar-benar terjadi? Sepuluh ribu tahun lalu? Tapi kenapa aku masih berada di sini?" pikir Arsa bingung.
Ia telah membaca puluhan buku sejarah di perpustakaan ini. Dari situ juga ia mengetahui bahwa dirinya telah melampaui sepuluh ribu tahun sejak kiamat itu terjadi. Sebuah hal yang sangat mustahil untuk dipercaya oleh manusia lemah seperti dirinya.
"Jadi itu sebabnya tidak ada internet dan semua peralatan modern di dunia ini? Ini adalah masa depan, tapi suasananya lebih mirip abad pertengahan. Sulit dipercaya jika ini adalah bumi yang sama, dengan tempatku berpijak dulu," gumam Arsa.
Pria dari tahun 2025 itu berjalan ke sisi jendela. Empat bola api raksasa masih berada di langit. Tidak ada yang berubah sejak tadi.
"Hampir semua buku di sini menggunakan bahasa Perancis dan celtik kuno. Untung saja aku sempat mempelajarinya dulu," gumam Arsa lagi.
"Jika demikian, apakah peradaban yang selamat hanya dari benua Eropa? Lalu bagaimana dengan Indonesia? Bagaimana dengan ayah dan ibu?"
Tanpa disadari, air mata mengalir di pipinya yang tirus.
__ADS_1
(Bersambung)