Negeri Empat Matahari

Negeri Empat Matahari
Ch. 10 - Zayya Glynth


__ADS_3

Roda kayu berderak-derak kala berputar di jalanan berbatu yang penuh debu. Derap kaki-kaki kuda semakin menambah jumlah partikel halus di udara.


Sinar dari empat bola cahaya di langit terasa sangat menusuk hingga ke bagian endodermis. Bulir peluh membasahi kain sutera yang melapisi kulit.


"Uh, aku benci zaman kuno," keluh Ezekiel. "Meskipun ini masa depan, tetapi aku merasa tinggal di abad pertengahan," lanjutnya.


"Misty, apakah Valenseau Castle masih jauh?" tanya Ezekiel.


"Masih melalui dua jembatan besar lagi, tuanku," sahut Lily.


Perjalanan menuju ke Valenseau Castle kali ini, Ezekiel di dampingi oleh Misty, Lily dan Berry.


"Duh, bisa dehidrasi kalau begini," keluh Ezekiel lagi. "Coba kalau di kotaku zaman 2025 dulu, jam segini banyak gerobak jual minuman," gumamnya.


"Ehem!" Seorang pengawal yang sedang mengendalikan kuda di sebelah Ezekiel hanya bisa menahan senyum, mendengar kalimat terakhir Sang Dewa.


Ezekiel memandang tajam pada pengawal tersebut. "Hei, bukannya kita bisa melakukan teleportasi? Kenapa kita bersusah payah melakukan perjalanan berat ini?" protes Ezekiel.


"Tuanku, teleportasi itu membutuhkan tenaga yang sangat besar bagi kami para peri. Sementara Valenseau Castle hanya berjarak sekitar lima belas kilo yard dari kastil tuanku," sahut Berry dengan sangat.


*(15 kilo yard ~ 13,71 km)


"Uh, karena menggunakan kuda, perjalanan jadi terasa jauh banget," keluh Ezekiel.


Puncak menara berwarna merah mulai terlihat di sebalik pepohonan. Derap kaki kuda kian terdengar, ketika mereka melintasi sebuah jembatan kayu di atas sungai kecil.


"Hiat!" Ezekiel menarik kendali tali kudanya, hingga hewan gagah berwarna hitam itu terhenti.


"Ini aneh, ternyata aku bukan salah lihat. Padahal ada empat bola cahaya di langit. Tetapi kenapa bayangannya cuma satu?" batin Ezekiel.

__ADS_1


"Ada apa, Dewa?" tanya para pengawal di belakang.


"Tidak apa-apa. Aku pikir tadi melihat sesuatu yang menarik di sungai," kata Ezekiel sembari memerintahkan kudanya untuk kembali berjalan.


...🌟🌟🌟🌟...


"Wow, tak kusangka Dewa yang lebih senang menghabiskan waktu membaca buku, sekarang ada di hadapanku menghadiri jamuan makan." Seorang wanita dengan gaun berwarna merah, dan rambut di tata ke atas, datang menyapa Ezekiel.


Sang Dewa hanya tercengang, tanpa membalas sapaan tersebut.


"Beliau Dewi Zayya, tuanku," bisik Berry ketika melihat ekspresi bingung di wajah Ezekiel.


"Hah?"


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Dewi Zayya seraya mengangkat sebelah alisnya.


Ezekiel mengalihkan pandangannya seraya menahan senyum, "Duh, gimana bilangnya, ya? Dia beneran seorang Dewi?"


Dewi Zayya memiliki tubuh yang tinggi dan tegap bak lelaki. Ototnya terlihat jelas, di balik gaunnya. Kulitnya berwarna cokelat gelap, serta rambut yang bergelombang. Terlebih lagi, Ezekiel sangat mengenali wajah itu.


"Zaya Gantari?" ucap Ezekiel.


"Apa maksudmu?" tanya Zaya tidak mengerti.


"Namamu. Zaya Gantari," ulang Ezekiel.


"Jangan seenaknya mengganti nama. Aku Zayya Glynth," ujar Sang Dewi.


"Eh, apa ingatanku salah, ya? Atau dia yang kehilangan ingatannya di masa lalu?" ucap Ezekiel dalam hati.

__ADS_1


"Nah, ini pertama kalinya kau berkunjung ke kastilku, kan? Ayo nikmati hidangan di sini," kata Dewi Zayya, mengajak Ezekiel ke ruangan lain.


"Ramai sekali," gumam Ezekiel.


"Tentu saja. Kau pikir aku hanya mengundangmu?" ucap Dewi Zayya.


"Hei, siapa yang berpikir seperti itu?" bantah Ezekiel.


"Aku bisa menebaknya di wajahmu. Kau terlihat kecewa. Apa kau bingung karena surat-surat dariku?" tanya Dewi Zayya.


Ezekiel menggelengkan kepala. Tetapi ia mengurungkan niatnya untuk memasuki ruangan itu. Ia tidak mengenal siapa pun di sana. Dewa kepintaran itu takut membuat kesalahan lagi, seperti tempo hari bertemu sang Ratu.


...🌟🌟🌟🌟...


"Rania, apa kali ini Ezekiel juga melewatkan undangan makan di Valenseau Castle?" tanya Sang Ratu.


"Ampun, Ratu. Menurut berita, Dewa Ezekiel kali ini memenuhi undangan Dewi Zayya," jawab Rania.


"Tumben?" gumam Ratu menunjukkan wajah penuh pertanyaan. Ezekiel bukanlah Dewa yang seperti itu," lanjut Azura.


"Benar, Yang Mulia Ratu. Dewa Ezekiel tadi juga menyambut para putri dari Alkara Selatan," ujar para pengawal.


"Alkara Selatan? Itu kan jauh sekali dari sini. Siapa saja mereka?" tanya Sang Ratu.


"Putri Razima Vandella, Putri Zelila Fawnia, Putri Zaniya Celia, Yang Mulia."


"Kenapa Ezekiel menerima para putri itu? Apa dia nggak tahu mereka itu siapa?" ujar Sang Ratu murka.


"Rania, coba kamu cari tahu keadaan Ezekiel sekarang," perintah Ratu.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2