
Sepuluh ribu tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2025.
"Azura, kenapa kamu ada di sini? Mahadewa menunggu laporanmu," ucap Vicoletta.
"Ah, Leta. Kau bikin aku kaget aja," ucap Azura dengan santai. Dia duduk manis di sebuah awan putih yang terlihat seperti gumpalan kapas raksasa.
"Jangan bersantai-santai di sini, Azura. Kalau Mahadewa murka bisa bahaya," ucap Vicoletta lagi. Malaikat yang bertugas menabur benih tanaman di bumi itu tampak gusar.
"Ssshhh! Kau ini ribut mulu." Azura menarik lengan Vicoletta dan nengajaknya duduk bersamanya. "Coba lihat di bawah sana. Apa kamu nampak seorang cowok tampan yang sedang termenung sendirian itu?" tanya Azura, sembari menunjuk seorang pria, yang duduk di bawah sebuah pohon rindang.
"Ya, lalu kenapa?" tanya Vicoletta bingung.
Menolong manusia dewasa bukanlah tugas Azura. Malaikat yang memiliki nama lengkap Azura Andzelika itu bertugas menjaga bayi-bayi yang baru dilahirkan.
"Dia tampan, kan? Apa dia sudah punya pacar?" ucap Azura lagi.
"Pacar? Azura, kamu mikiri apa, sih? Kita para malaikat ini tidak boleh jatuh cinta. Apalagi sama manusia," tegur Vicoletta.
"Aaah, itu nggak adil. Kenapa cuma bangsa kita yang nggak boleh merasakan cinta? Padahal bangsa lain boleh menikah dan memiliki pasangan, termasuk para Dewa Dewi," kata Azura.
"Itu bukan urusan kita, Azura. Ayo pulang. Aku nggak mau lagi berbohong pada Mahadewa, demi melindungimu," kata Vicoletta, memaksa temannya untuk kembali ke langit keempat.
"Haah, ya sudah. Kamu duluan aja," ucap Azura. Matanya tak lepas memandang seorang pemuda tampan di bawah sana.
__ADS_1
"Nggak! Pokoknya kamu harua ikut sama aku, Azura. Lihatlah, matahari sebentar lagi terbenam. Dia pasti juga bakalan pulang ke rumah," ujar Vicoletta memaksa.
"Justru itu yang aku tunggu-tunggu. Aku ingin tahu, dia sudah menikah atau belum," balas Azura lagi.
"Kamu mau dihukum sama Mahadewa?" ujar Vicoletta mengingatkan. "Aku nggak mau membantumu, kalau kamu dimarahi Mahadewa nanti," sambungnya malaikat bersayap peach itu.
"Ah, kamu cerewet banget, sih?" kata Azura sambil beranjak dari awan putih itu untuk mengikuti rekannya.
Namun, baru dua kali kepakan sayap, mata Azura menangkap sesuatu di bawah sana. Dia melihat pemuda itu berjalan dengan sangat lemah.
"Tidak, sayangku kenapa? Apa dia sakit?" Azura memutar tubuhnya menuju kembali ke permukaan bumi. Vicoletta yang tak mengetahuinya, sudah terbang lebih dulu, menuju ke lapisan langit ke empat.
Bruk! Azura menangkap tubuh pria yang hampir saja terjatuh di tanah. Dia lalu membawa pria itu terbang ke suatu tempat yang aman.
"Sayangku, kenapa kamu menjadi semakin kurus begini? Apa kamu sakit?"
Malaikat yang sudah dimabuk cinta itu memanfaatkan kesempatan itu untuk menyalurkan keinginannya yang sudah terpendam lama. Hidungnya yang mancung mendarat di pipi sang manusia tampan. Sementara jemarinya bergerak liar di dada bidang pria dewasa tersebut.
"Jangan takut, sayangku. Setelah ini aku pasti akan membantu menyelesaikan semua masalahmu. Selama lima tahun aku mengikutimu, baru sekali ini kita berada di jarak yang sangat dekat. Kamu juga menyukaiku, kan?" bisik Azura di telinga sang pemuda.
"Uh." Pemuda tampan itu menggeram pelan, ketika bibir lembut Azura menyentuh bibirnya.
Perlahan, kelopak mata pria itu bergerak. Jemarinya pun mulai bergerak.
__ADS_1
"Tolong, jangan bangun dulu. Biar aku selesaikan urusan kita ini sampai tuntas."
Azura yang baru saja hendak melepaskan gaunnya merasa resah, melihat kesadaran Arsa Dewandaru mulai kembali. Dia lalu menggunakan kekuatannya, untuk membuat Arsa kembali tertidur. Namun sayangnya, kekuatannya yang hanya mampu digunakan untuk para bayi, tidak mempan pada Arsa.
Beberapa saat kemudian.
"Loh, kok aku udah di rumah? Bukannya tadi aku baru aja pulang kantor, dan membawa surat BPKB motor untuk agunan pinjaman?" pikir Arsa bingung, ketika mendapati dirinya berada di sebuah kamar sempit.
"Tadi aku juga kayak melihat perempuan cantik dan tempat indah seperti awan. Ah, itu pasti cuma mimpi, kan? Mana mungkin aku ada di tempat seperti itu," gumam Arsa lagi.
Rasa terkejut Arsa tidak berhenti sampai di sana. Dia mendapati sejumlah uang, di atas meja kamarnya, beserta surat BPKB sepeda motor tua miliknya.
"Ini uang siapa? Dari mana?" pikir Arsa bingung, sembari melihat ke kiri dan ke kanan.
Tidak menemukan jawabannya di sana, Arsa pun keluar kamar dan mencari sang ibu. Dia lalu menceritakan perihal uang di dalam kamarnya.
"Loh, masa kamu lupa? Kemarin kan kamu dapat hadiah dari seseorang, karena udah mengembalikan dompetnya yang hilang," jawab sang ibu dengan cuek.
"Ini lebih aneh lagi. Kemarin aku nggak merasa menolong siapa pun," ujar Arsa.
"Udah sih, terima aja. Namanya duit rezeki nggak boleh ditolak," kata sang ibu yang memiliki sifat matre.
Arsa hanya bisa menarik napas panjang, melihat sikap sang ibu. "Eh, tunggu. Kemarin? Kok terdengar aneh. Bukannya aku baru tadi pulang dari kantor?" kata Arsa semakin bingung.
__ADS_1
"Kamu masih ngelindur. Ini udah jam delapan pagi. Memangnya kamu nggak ke kantor? Ayo cepat pergi. Kalau kamu dipecat, ibu mau makan apa?" desak ibu Arsa.
(Bersambung)