Negeri Empat Matahari

Negeri Empat Matahari
Ch. 6 - Dewa Palsu


__ADS_3

Tharfield Castle, Kerajaan Clandestine.


"Mohon izin, Yang Mulia Raja. Rudolf dari perbatasan timur datang menghadap."


"Rudolf, ada perlu apa kamu datang kemari. Aku tidak akan mendengarkan jika itu hanya berita remeh tentang Verenian Pallace itu lagi," ucap sesosok makhluk yang duduk di singgasana berbentuk tengkorak buaya.


Ia sibuk membaca buku tanpa menghiraukan seseorang yang datang. Jemarinya yang memiliki kuku sangat panjang, membuka lembaran kertas dengan hati-hati.


"Ini berita penting, Yang Mulia. Dia telah bangkit," jawab seekor ular kecil yang kemudian berubah menjadi sosok pemuda tampan.


"Dia? Maksudmu siapa?" Sosok yang dipanggil Yang Mulia Raja itu mulai tertarik dengan berita yang di bawa Rudolf. Ia pun memberikan buku yang dibacanya kepada seorang dayang.


"Ezekiel, Sang Dewa Kecerdasan," ucap Rudolf."


"Oh, ya? Ini menarik. Bagaimana kau bisa mengetahui keadaannya? Padahal Ratu mereka pasti susah payah menyembunyikan keberadaannya," kata Claude Kanezka, Sang Penguasa Kerajaan Clandestine.


"Tentu saja aku mengetahuinya, Yang Mulia. Aroma manusia dari abad dua puluh satu sangat berbeda bagi bangsa kami," sahut Rudolf.


"Lalu bagaimana keadaannya setelah puluhan ribu tahun tertidur lelap?" tanya Claude. Sosok itu tidak bisa menyembunyikan senyum lebar di wajahnya.


"Dia masih sama seperti sosok manusia lemah dari abad dua puluh satu, Yang Mulia," sahut Rudolf, makhluk setengah Demon yang bisa berubah bentuk menjadi hewan-hewan mengerikan.


"Dewa terlemah, ya? Ini semakin menarik. Aku ingin melihat dulu permainan apa lagi yang dilakukan Ratu Azura."


Claude turun dari singgasananya. Ia berjalan di sisi air mancur yang juga mengalirkan lava mendidih di tengah ruang istana tersebut.


"Ratu dari negeri Empat Matahari itu pasti tidak tahu, jika selama ini kita menyadari Dewa Kecerdasan mereka adalah palsu. Yang bertugas selama ini adalah Balck Shade." Claude semakin tertawa lebar.


"Tidak disangka, Sang Ratu yang mereka sanjung selama ribuan tahun, justru menipu seluruh kerajaan dengan Dewa Kecerdasan palsu yang ia ciptakan sendiri dari sihirnya. Black Shade hanyalah bagian gelap dari Sang Ratu," kata Claude lagi.

__ADS_1


Dengan keberadaan Dewa terlemah di Kerajaan Vierstone, tentu lebih memudahkan Claude untuk melakukan rencananya.


"Benar, Yang Mulia. Tetapi jangan lupa, Black Shade masih ada di sekitar Ratu. Kita harus memiliki rencana yang matang, untuk melakukan hal itu," ucap Rudolf.


"Tentu saja, Rudolf. Kau tahu, kan? Aku dijuluki sebagai Raja paling cerdas di abad ini?" ucap Claude. "Aku tidak akan lengah sedikit pun. Jadi, laporkan terus padaku berita terbaru dari Kerajaan Viersonne," lanjutnya.


...🌟🌟🌟🌟...


"Jadi ini masa lalu atau masa depan? Kenapa malah jadi seperti abad pertengahan? Duh, aku kangen internet. Hidupku berasa hampa tanpa internet."


Arsa berguling di atas kasurnya yang sangat lebar. Ia merasa waktu berjalan sangat lambat, atau malah tidak berubah sama sekali.


Sebagai orang yang pernah hidup di zaman modern, gadget dan internet adalah sesuatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Bahkan bagi sebagian orang, itu lebih penting dari pada makan.


Lalu sekarang? Jangankan internet. Kendaraan bermesin saja tidak dapat digunakan, karena adanya perubahan medan magnet dan beberapa sistem dasar fisika. Sungguh membingungkan.


"Jadi aku sudah bersama Ratu merintis kerajaam ini selama tiga ribu tahun? Kalau begitu, kenapa aku nggak ingat apa pun tentang dunia ini? Apa mereka menyimpan suatu kebohongan?" ujar Arsa curiga.


Tok! Tok! Tok!


"Mohon izin, Dewa. Ini aku Lily. Apa yang Anda inginkan untuk sarapan?" tanya perempuan cantik berselendang putih tersebut.


"Ayam geprek level sembilan," celetuk Arsa.


"Maaf?" Wanita dengan jepit rambut berbentuk bunga Lily itu mengerutkan keningnya.


"Ah, nggak. Aku cuma bercanda. Aku ingin menu makan yang seperti biasanya," kata Arsa kemudian. Arsa sebenarnya tak yakin, apa yang biasa dia makan saat ini.


"Sarapan, ya? Artinya ini pagi hari?" kata Arsa.

__ADS_1


"Benar, tuanku. Anda bisa melihat ke arah timur. Sebuah bintang kecil berwarna biru tampak bersinar di langit. Itu artinya pagi hari," jelas Lily.


"Begitu, ya? Padahal aku belum ada tidur sama sekali," gumamnya pelan. "Ah, Lily. Apa di sini tidak pernah menghidangkan nasi? Atau Sang Ratu membuat larangan makan nasi?"


"Nasi? Maksud Dewa, makanan yang memiliki kadar karbohidrat dan gula cukup tinggi, dari tanaman Oryza Sativa?" tanya Lily sambil mengerutkan dahinya.


"Ya, benar. Maksudnya dari padi."


"Sejak bencana besar sepuluh ribu tahun lalu, tanaman jenis itu serta triticum tidak ada lagi di sini," ujar Lily.


"Semua benihnya luluh lantak terkena lava dan asteroid yang terbakar. Para peneliti pun selalu gagal melakukan rekayasa genetika terhadap tumbuh-tumbuhan dari jenis itu," lanjut peri putih tersebut.


"Ah, sayang sekali. Padahal itu makanan paling enak di dunia, apalagi pake sambal ulek super pedas," kata Arsa.


"Hm?" Lily tak mengerti apa yang dikatakan Arsa.


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Aku cuma ingin mengenang masa lalu. Makanan di sini juga lezat semua, kok."


"Jadi menu sarapan pagi ini daging asap kelinci dengan saus jamur dan bubuk cabai habanero?" Perempuan itu menyebutkan sebuah menu yang sangat aneh.


"Y-ya? Boleh juga," sahut Arsa.


"Baiklah, akan segera saya siapkan."


Tiba-tiba ... "Mohon izin, Dewa. Rania Wichery, dayang utama Yang Mulia Ratu datang menghadap." Terdengar suara perempuan yang lembut namun tegas, di luar ruang pribadi milik Arsa.


"Dayang Yang Mulia Ratu? Baiklah, silakan masuk," ujar Arsa alias Ezekiel.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2