Never Hate

Never Hate
Prolog


__ADS_3

Dibawah rindangnya pohon beringin ditengah-tengah taman kota, kuhampiri seorang perempuan cantik yang tengah duduk dikursi, sendirian. Lama ku pandangi perempuan itu saat berada di sampingnya, mata indahnya mengeluarkan cairan bening yang terus mengalir, tatapannya sendu, wajahnya muram, dan sepertinya tidak menyadari apapun yang terjadi disana selain suasana hatinya saat ini.


Tanpa ragu, aku duduk di sampingnya, kemudian menepuk pelan bahu perempuan yang kini menatapku dengan tatapan kosong.


"Assalamu'alaikum" sapa ku padanya. Sengaja ku ucapkan salam lebih dulu saat ku amati terdapat sebuah Quran kecil ditangannya.


"Wa'alaikum salam" jawabnya dengan suara parau mungkin karena lama menangis jadi suaranya terpengaruh.


Kemudian perempuan itu kembali memalingkan wajahnya ke arah semula, aku tidak tau kenapa dia tidak menyeka air matanya walaupun dia tau ada orang yang pasti akan mengamatinya saat melihat keadaannya seperti itu.


Akupun mencoba untuk mengalihkan pandanganku kearah yang berlawanan, kuhela nafas panjang, ku ambil tissue didalam tas lalu menyerahkannya pada perempuan itu. Semula dia menatapku heran, tak lama sedikit senyum terbit dari bibir manisnya.


"Terimakasih" katanya. Iapun mengambil tissue itu dan kembali memalingkan wajahnya.


Ku ikuti pandangannya yang lurus kedepan, menatap air mancur yang menyembul dengan indahnya, hangat sekali rasanya untukku, tapi aku tidak tau menurut perempuan itu.

__ADS_1


"Saya tidak tau apa permasalahan mbak, tapi melihat keadaan mbaknya saya jadi merasa iba. Kita tidak akan pernah bisa menebak takdir, beberapa kadang ada yang sesuai dengan keinginan, beberapa memaksa kita untuk memahaminya. Yang perlu kita lakukan hanyalah berbaik sangka pada yang menciptakan"


Tatapan perempuan itu masih sama seperti tadi, tapi kini tak kulihat lagi air mata yang mengalir pun menggenang dimatanya, sedikit rasa lega menghampiri jiwaku, entah kenapa aku merasa senang melihatnya tak lagi berderai air mata, sebagai seorang perempuan yang sudah bersuami dan memiliki anak, aku sudah merasakan pahit manisnya kehidupan, melihatnya menangis dengan sangat seperti itu aku berpikir mungkin dia sedang amat terluka.


Lalu....


Kulanjutkan ucapanku "maaf kalau saya mengganggu, saya seorang penulis novel, saya juga pernah menjadi seorang psikiater disebuah rumah sakit. Jika mbak tidak keberatan saya mau menjadi pendengar yang setia untuk mbak, sebagai sesama perempuan saya ikut sedih melihat mbak dalam keadaan seperti ini"


Perempuan itu menatapku heran, siapa perempuan ini? mungkin itu yang ada di benaknya sekarang.


"Saya Teri, Teri Puspa" balasnya, kali ini dengan sebuah senyuman manis yang baru kulihat pertama kali dari sekian lamanya kami duduk ditaman itu.


"Maaf kalau saya mengganggu mbak Teri, kalau tidak keberatan mbak boleh bercerita pada saya apa masalah mbak, mungkin saya bisa membantu"


Lalu...

__ADS_1


"mbak Teri tidak perlu khawatir. Saya tidak akan menuliskan cerita mbak jadi sebuah novel. Saya hanya mengarang novel fiksi saja ko. Saya juga tidak akan menceritakan kisah mbak pada siapapun. Tapi kalau mbak merasa keberatan tidak apa-apa saya tidak memaksa" ucapku saat kurasa kata-kataku sedikit memaksa.


Perempuan itu menatapku cukup lama, sorot matanya mengamatiku denga seksama dari atas kebawah. Apa aku terlihat seperti seorang pembohong? itulah yang ku pikirkan sekarang.


"Baiklah saya akan bercerita" katanya dan kini menatap penuh arti kedepan.


"Saya akan bercerita karena saya melihat kamu sepertinya orang yang bisa dipercaya. Selain cara berpakaian kita yang sama saya juga paham bahwa orang yang taat pada Tuhannya akan senantiasa menghindari perbuatan dosa" lanjutnya kemudian, tanpa menatapku.


"Terimakasih mbak sudah mau bercerita dan percaya pada saya"


Beberapa detik hanya keheningan yang menyelimuti kami, aku melihat perempuan itu beberapa kali menundukkan wajahnya dengan sangat dalam, luka dan kepedihan yang dirasakannya mungkib sudah melebihi batas normal, bahkan belum sempat ia mengucapkan satu katapun air mata sudah membanjiri pipinya yang kemerahan. Iapun menghela nafas panjang dan akhirnya mulai bercerita.


Dave dan Teri.


"Semuanya berawal dari".....

__ADS_1


__ADS_2