Never Hate

Never Hate
Curahan hati Teri


__ADS_3

Teri povv


Ini sudah tengah malam, aku dan orang tuaku sudah tidur, besok pagi aku harus menjenguk kakek ke rumah sakit, lusanya aku harus mulai bekerja di tempat kerja yang baru. Sebelumnya aku adalah seorang customer service di sebuah bank ternama di Bandung, tapi harus terhenti karena isu penggelapan uang nasabah yang dituduhkan padaku, sampai akhirnya pelaku yang sebenarnya tertangkap, bahkan aku sempat menjadi tahanan rumah untuk beberapa minggu sebelum pelaku yang sebenarnya tertangkap.


Samar-samar aku mendengar suara klakson mobil, dan tak lama terdengar suara bel dipencet.


Siapa yang bertamu malam-malam begini? Kataku.


Untuk sesaat aku hanya berdiam diri di kamar, sambil mendengar apakah ada orang yang membukakan pintu untuk tamu yang datang tengah malam begini. Tapi setelah kudengar beberapa kali lagi bel dipencet tetap tak terdengar langkah kaki yang membukakan pintu.


Aku meraih kerudungku yang ku tanggalkan dibalik pintu, dan kupakai. Dengan ragu aku membawa langkahku keluar rumah, takut kalau-kalau itu orang jahat. Sampai di depan gerbang.


"Siapa?" pekikku.


"Ini aku" balasnya dari luar.


Sejenak aku berpikir, mencerna ucapan orang yang ada dibalik gerbang. Aku? Siapa? lirihki pelan.


"Aku siapa?" tanyaku lagi.


"Dave" katanya dari luar.


Dave? Darimana saja kamu mas tengah malam begini baru nyusul. Pikirku.

__ADS_1


Segera aku buka gerbang utama rumah kakek, kulihat Dave sedang bersandar dimobilnya dengan kedua tangan dimasukkan ke kantong. Aku memberanikan diri menghampirinya dan mencium tangannya, lagi-lagi tangannya bau parfum perempuan. Beda sekali dengan parfum yang kucium tadi pagi saat kami berdebat di tangga.


"Kamu darimana mas, ko jam segini baru sampe? "


"Baru pulang ngantor" jawab suamiku datar.


"Yaudah ayo masuk diluar dingin" ajakku.


-------------


1 jam berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul 00.57 Dave sudah mandi dan memakai piyama yang ditaruh mama dilemari. Karena hanya itu baju santai yang ada disana. Aku ingin tertawa melihat Dave memakai piyama dengan gambar love kecil-kecil berwarna merah mencolok yang sangat kontras dengan kulit putihnya.


"Kenapa tertawa? " tanyanya dengan datar seperti biasa.


Aku mengulum senyum, berusaha keras menahan tawaku diatas ranjang. Wajahku sampai tertunduk dan memerah karena menahan tawa, sampai tak sadar ternyata ada sepasang mata yang menatapku lekat.


Saat aku mengangkat wajahku, pandanganku dan Dave bertemu, seketika senyumku menghilang. Entah kenapa setiap melihat sorot matanya aku merasa takut, hatiku merasa tidak perlu bersitatap dengan pandangan dingin seperti itu. Ditambah lagi ini sudah menjelang dini hari, jika terus bertatapan dengan pandangan dingin bisa-bisa aku membeku.


Baru saja aku mau membaringkan tubuhku di ranjang, baritone Dave menghentikan ku.


"Kau tidur di sofa" katanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Apa? " kataku dengan intonasi lebih tinggi dari biasanya.

__ADS_1


"Tidur di sofa" katanya lagi sambil menunjuk sofa yang berada di ujung kamarku dengan dagunya.


Lalu..


"Jangan sampai aku menyuruhmu tidur di kamar tamu ya. Atau kau mau orang tuamu tau masalah ini. Kemudian kakek meninggal karena kepikiran cucu kesayangannya dan aku akan menyalahkanmu jika itu terjadi"


Astagfirullahal'adzim. Lirihku pelan.


"Kalau kita bisa sama-sama kenapa aku harus pergi mas? Bukankah halal jika suami istri tidur seranjang?"


"Oh kamu lupa, sudah kubilang, dimataku kamu bukan istriku. Jadi kita tidak boleh tidur seranjang" Kata Dave dengan nada mengejek disertai seringaian licik di bibirnya "Atau kamu ingin tidur denganku malam ini? " lanjutnya.


Aku terisak di hadapannya, mataku panas tak dapag lagi menahan air mata. Ku tundukkan kepalaku dalam-dalam, aku tidak mau membuatnya melihatku menangis meski isakanku pasti terdengar olehnya.


"Mari kita bicara dari hati ke hati mas. Jujur sama aku apa kamu punya perempuan lain? Apa salahku? Kenapa kamu sampai tidak mau menganggapku seoarang istri. Siapa perempuan difoto yang ada di kamarmu itu?" hikss hikss. Aku semakin terisak dihadapannya. Entah dapat kekuatan dari mana, aku mengangkat wajahku menatapnya dengan tatapan sendu dan air mata yang terus mengalir.


"Tidak bisakah kamu menghargai aku sedikit saja, jika memang tidak mungkin kamu bisa mencintaiku, setidaknya anggap aku ini ada dihidup kamu mas. Buatlah aku menjadi sedikit berguna sebagai seorang istri. Tidak perlu melakukannya untukku, tapi lakukanlah untuk kakek" suaraku semakin parau karena menangis, sedangkan Dave hanya duduk terdiam di sudut ranjang memunggungiku.


"Sebagai perempuan aku ingin dimengerti mas, aku ingin dicintai, dianggap, di manja. Aku tidak mau diperlakukan seperti ini, meski aku juga tidak mencintaimu tetap saja hatiku sakit sekali mas. Tidak akan ada perempuan yang mau diperlakukan seperti ini. Semuanya ingin mendapatkan kasih sayang yang tulus dari pasangannya. Ingin dicintai dan mencintai, berjuang bersama mengarungi bahtera rumah tangga, bukan begini"..


Sesak sekali nafasku, dadaku juga sudah kembang kempis menahan pengap dari sakit hati yang keluar. Aku tak bisa lagi berkata-kata, dan Dave tidak menjawab satupun dari sekian banyaknya pertanyaanku. Aku kembali mengangkat pantatku dari ranjang, hendak berjalan menuju sofa. Tapi tangan Dave menahanku, kali ini tatapannya padaku berubah, ada sedikit kehangatan disana.


"Tidurlah disini" katanya lembut "biar aku yang disofa" sambungnya.

__ADS_1


__ADS_2