Never Hate

Never Hate
Tidur sekamar


__ADS_3

"Aku ngga akan pulang kalau kamu ngga ikut pulang" ujar Dave.


Dengan santainya pria bermanik mata coklat itu menyandarkan bahunya di sandaran sofa kemudian menyunggingkan smirk.


"Yaudah terserah". Dengan kesal Teri menutup pintu sebelum kembali ke kamarnya.


Baru tiga langkah Teri berjalan hendak ke kamar, terdengar langkah lain mengikutinya dari belakang.


Srekk...


"Kamu mau kemana?" tanya Teri tiba-tiba.


Sontak saja itu membuat Dave terperanjat kaget dan memegangi dadanya. Kenapa dia balik badan tanpa aba-aba begitu, bagaimana kalau aku punya penyakit jantung. Ahh meresahkan!.


"Aku juga mau tidur" jawab Dave yang masih memegangi dadanya dengan tatapan polos.


"Tidur di kamar ini" Teri menunjuk kamar kosong di samping kamarnya.


"Oh". Dave mengangguk.


Teri melanjutkan langkahnya hendak masuk ke kamar, tapi Dave juga ikut melangkah mengikutinya.


"Jangan ngikutin aku" kata Teri.


Kenapa dia menyebalkan sekali.


"Siapa yang ngikutin kamu, aku mau ke kamar mandi" jawab Dave santai.


Oh shit.


Malunyaa :(


Sepersekian detik Teri melengos meninggalkan Dave yang mematung, menyembunyikan wajahnya yang menahan malu dibalik pintu kamar kemudian membaringkan tubuh diatas kasur bulu yang tergeletak di lantai.


 

__ADS_1


Plak plak plak...


"Arrggh"..


"Kenapa banyak banget sih nyamuk disini"


Plak..


Nyamuk sialan!


Dini hari menjelang subuh, belum ada 20 menit Dave tidur nyamuk sudah mengganggunya dengan gigitan dari berbagai arah ditambah suara nyaring ditelinganya membuat hawa semakin panas dan pengap.


Kamar yang kecil beralaskan karpet dan berselimutkan selimut tipis, tanpa kipas apalagi AC membuat Dave frustasi dengan kondisinya sendiri. Kenapa Teri lebih memilih tinggal disini? Dalam keadaan seperti ini? Bahkan belum ada sehari dirinya di kontrakan Teri Dave sudah merasa tidak betah.


Eeeengg...


Plak..


"Hhh"


Tanpa pikir panjang Dave keluar dan mengetuk pintu kamar Teri. Teri yang dari semalam tidak tidur karena memikirkan rumah tangganya yang tidak tentu arah, sebenarnya sudah tau kalau Dave sangat terganggu dengan nyamuk-nyamuk itu. Bagaimanapun kamar mereka bersebelahan.


"Teri!" teriak Dave di depan pintu kamar Teri.


"Hmm"


"Buka pintunya"


"Mau ngapain? Kamu jangan macem-macem yah"


"Siapa yang mau macem-macem"


Malas-malas Teri membukakan pintu untuk Dave. Mata Dave terbelalak sebentar menatap kamar yang ditempati Teri menggunakan kelambu.


Pantas saja tidak terganggu nyamuk.

__ADS_1


"Apa kamu punya obat nyamuk?" tanya Dave, mengalihkan pandangannya pada Teri.


"Ngga punya, aku belum sempet beli"


"Kalau gitu aku tidur dikamar kamu ya. Bisa habis darahku di sedotin nyamuk terus disana (menunjuk kamar yang di tempatinya tadi)"


Melihat tatapan Teri yang melotot tajam padanya, Dave langsung memperjelas ucapannya sambil terus menggaruk-garuk tubuhnya yang gatal karena digigit nyamuk.


"Promise, just sleep" ucap Dave.


"Kumohon. Aku sangat lelah" lanjutnya.


Wajah tampan Dave memang menunjukkan rasa lelah dan kantuk yang teramat disana, Teri yang menyaksikan hal itu dihadapannya sendiri tidak sampai hati membiarkan suaminya tersiksa begitu. Lalu membiarkan Dave masuk ke kamarnya yang hanya ada sebuah lemari kayu dan meja kecil di sudut kamar.


Waktu berputar sangat lambat bagi Teri, sekarang baru pukul 03.11, ia sangat tidak nyaman tidur sedekat ini dengan Dave, meski itu suaminya. Karena kondisi kamar yang kecil dan kasur yang juga kecil mengharuskan dirinya dan Dave tidur berdempetan. Jarak antara keduanya hanya beberapa senti saja itupun karena Teri sengaja memunggungi Dave yang tidur terlentang.


Bagaimana dengan Dave?


Ah, suaminya itu sudah tidur pulas sepertinya, karena hembusan nafasnya sudah teratur dan nyaman, tidak ada lagi gangguan dari pasukan nyamuk yang menyerangnya.


"Nghhh"


Pluk..


Teri terhenyak mendapati tangan Dave melingkar di perutnya, suaminya itu kini tengah memeluknya dengan erat layaknya bantal guling, bahkan dia menarik Teri semakin dalam ke pelukannya. Membuat jarak antara mereka terkikis habis.


Tentu saja Teri mencoba melepaskan pelukan Dave tanpa bermaksud membangunkan sang empunya tangan, tapi usahanya sia-sia Dave malah semakin mengeratkan pelukannya saat merasakan gerakan Teri menghindarinya.


Helaan nafas panjang keluar dari mulut Teri karena gagal melepaskan pelukan Dave yang semakin mengerat saja. Membuatnya merasa sesak saat ini.


Akhirnya karena waktu berjalan semakin melambat bagi Teri, dia memberanikan diri menutup matanya dan tertidur dengan memegang tangan Dave yang melingkar ditubuhnya.


Sebuah senyum terlukis di wajah Dave saat merasakan detak jantung Teri yang sudah normal dan nafasnya yang lembut terdengar, tanda istrinya itu sudah tidur pulas di pelukannya.


Berhasil!

__ADS_1


Yes.


__ADS_2