
Dan disinilah aku sekarang. Empat jam perjalanan terasa lama sekali untukku. Karena rindu pada sang pelebur kasih sudah memuncak, rindu pada kehangatan keluarga yang terkasih jua.
Kubawa langkah kakiku dengan gemetar melewati gerbang utama rumah kakekku
"Assalamu'alaika yaa Rasulullahi" ucapku saat memasuki pekarangan rumah.
Gugup aku mengucapkan salam saat didepan pintu, ku lebarkan senyum termanis seperti dulu, agar mama tak bertanya ada apa aku kemari.
Samar-samar kudengar suara orang yang sudah melahirkanku, lembut. Sejak aku kecil, pun mungkin sebelumnya ibu tidak pernah berteriak atau berkata kasar pada siapapun. Juga papa yang selalu berlaku halus pada mama, sosok pejuang tanpa lelah untuk keluarga kecilnya. Mengingat hal-hal indah ditempat ini, membuatku enggan kembali ke Jakarta.
"Teri"
"Mama"
Aku memeluk mama sangat erat, sekuat tenaga aku menahan air mataku agar tidak jatuh, tapi mataku tak bisa diajak kompromi kala itu, langsung saja mengalir deras di pipiku.
Beberapa kali kuseka air mataku sebelum melepas pelukanku dari mama.
"Ko ngga ngabarin mama mau kesini? "
"Iya, dadakan soalnya"
"Ada apa sayang?"
Dengan tangannya yang lembut mama mengusap pipi basahku, sepertinya mama punya firasat dihatinya, seorang ibu memang selalu terikat dengan anaknya. Sepandai apapun aku menyembunyikan kesedihanku mama tetap bisa merasakannya.
"Ngga ko ma, saking senengnya ketemu mama sampe nangis gini" jawabku dengan senyum.
__ADS_1
"Udah jangan nangis lagi. Suami kamu mana?"
Pertanyaan itu yang aku takutkan. Namun terlontar juga dari mulut mama.
"Dia lagi banyak kerjaan di Jakarta jadi ngga bisa ikut"
"Kalian kan baru aja menikah, ko dia lebih mentingin pekerjaannya daripada nganterin kamu kesini. Jakarta-Bandung kan ngga deket, gimana kalau terjadi sesuatu sama kamu? "
"Aku ngga papa ko ma. Buktinya aku baik-baik aja kan"
Lalu..
"Aku ngga diajak masuk nih? " Kataku disertai tawa renyah.
Mama tertawa melihatku. Kemudian membawaku masuk kedalam rumah.
"Papa sehat ko sayang, kakek juga alhamdulillah semakin membaik sejak kamu sama Dave menikah"
Itu yang membuatku harus mempertahankan pernikahan ini. Tidak masalah jika aku yang harus menahan sakit setiap hari asalkan keluargaku sehat dan bahagia.
"Syukurlah, aku seneng dengernya"
"Kamu pasti belum makan, kebetulan hari ini mama masak nasi kalong sama soto kesukaan kamu"
"Wah kayaknya enak tuh ma, Tapi Teri mau mandi dulu gerah, lengket"
"Yaudah kamu mandi dulu sana, pantesan dari tadi mama nyium bau asem"
__ADS_1
Aku dan mama tergelak. Dirumah sebesar ini mama hanya memakai jasa art untuk beres-beres rumah saja, untuk masak biasanya mama yang melakukannya. Art akan pulang setelah semua pekerjaannya selesai .
****
Aku merapihkan beberapa pakaianku yang kubawa dari Jakarta kedalam lemariku kemudian menutupnya. Aku seperti melihat sesuatu yang asing didalam lemari. Pikirku. Lalu aku membuka kembali lemariku dan kuambil sesuatu yang aneh itu dari petak paling atas.
Apa ini? Siapa yang menaruh baju laki-laki dilemariku?
"Seingatku aku tidak pernah menyimpan baju lelaki dilemari. Apa mama yang menyimpannya? "
Setelah aku membukanya ternyata itu adalah satu set baju tidur pria dan wanita, warnanya yang mencolok membuatku bergidik ngeri membayangkan aku dan suamiku memakai baju itu.
Selesai dengan aktivitasku di kamar mandi kemudian sholat ashar dan berganti pakaian, aku langsung turun kebawah mencari mama, tapi yang kutemukan sang pejuang keluarga, papaku. Ia sedang duduk di sofa ruang keluarga, menonton tayangan televisi kesukaannya Moto GP. Papaku suka sesuatu yang berbau extreme salah satunya moto gp.
Aku mengendap-endap dari balik sofa yang di duduki papa, aku ingin memberikan kejutan padanya. Pelan-pelan sekali ku langkahkan kakiku agar tidak bersuara.
"Papa"
Suara kerasku membuyarkan konsentrasi papa yang sedang menonton dengan fokus, saat itu papa sampai mengelus dadanya karena terkejut. Mama yang baru keluar dari kamar hanya tertawa melihatku menjahili papa.
Beberapa detik kemudian aku duduk disamping papa dan memeluknya, mencurahkan rasa rinduku pada sosok cinta pertamaku.
Dari dulu, aku ingin memiliki pendamping hidup yang sifatnya seperti papaku, meski tidak sama persis setidaknya dia memiliki sebagian dari sifat papa. Baik, penyayang, tidak pernah berkata kasar pada perempuan, pekerja keras, penyabar, tegas, dan bertanggung jawab. Sempurna bukan papaku?
Dan sampai detik ini aku belum melihat sifat papa dalam diri suamiku.
__ADS_1