
Keesokan harinya Teri menginjakkan kaki dirumah keluarga Sanjaya untuk pertama kalinya. Rumah keluarga Dave tak kalah megah dari rumah kakeknya, rumah yang didominasi warna putih dan coklat tua lengkap dengan hiasan serta perlengkapan primer dan skunder berbagai motif.
Saat langkah pertamanya memasuki ruang utama rumah Dave, tiba-tiba langkahnya terhenti. Perasaan tak nyaman merasuki pikiran Teri, ditambah dengan sikap Dave yang seolah berubah 360 derajat sejak memasuki mobil dari pekarangan rumah Teri tadi, didalam mobil Dave tidak mengatakan sepatah katapun pada Teri, ia seolah menganggap Teri tidak terlihat meski jelas Teri disampingnya.
"Mau sampai kapan kau berdiri disitu? "
suara itu mengagetkan Teri yang mematung di belakang pintu, itu suara Dave. Teripun segera menarik kopernya mengikuti Dave menuju lantai dua.
Ini hanya perasaanku atau memang dia juga tidak menyukai pernikahan ini, sama sepertiku? Astagfirullahal'adzim Teri apa yang kamu pikirkan, jangan suudzon.
Gadis berkerudung syari itu melongo meliihat Dave membuka sebuah pintu kamar yang sangat besar meurut Teri. Dirumah kakeknya dia malah tidur di kamar tamu yang lebih kecil meski sudah memiliki kamar yang besar.
"apa kita akan tidur disini?"
Dave menggeleng, kemudian mengendorkan dasi yang menggantung dilehernya
"apa yang kamu lakukan?"
Teri menutup mata dengan kedua tangannya membuat Dave berdecih tak suka.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Dave sinis.
__ADS_1
"Aku ini suami mu, kenapa kau menutup mata? Bahkan aku belum membuka apapun" lanjutnya kemudian.
Teri tersenyum malu, terlihat jelas wajahnya memerah meski tertunduk. Dalam hati kecilnya Teri senang dengan pernikahan ini karena ini menyempurnakan separuh agamanya.
Padahal sebenarnya pernikahan ini adalah awal dari penderitaannya..
"Ini kamarmu, dan itu kamarku" menunjuk satu kamar yang berada di ujung kiri lantai itu.
"Bukankah kita... mmm"
Dave segera memotong ucapan Teri dengan telak "Maksudmu kita adalah suami istri? Dimata keluarga kita memang suami istri tapi dimataku kau bukan istriku. Aku tidak mencintaimu dan aku tidak mau sekamar bersamamu"
Jleb kalimat yang terlontar dari mulut suaminya itu membuat Teri tak bisa berkata-kata, ingin sekali rasanya ia menangis. Mama lirihnya pelan cobaan apa ini..
*---
"Ya Allah apa aku salah jika menyesali pernikahan ini? Meski hatiku belum memiliki cinta untuk suamiku tapi kenapa rasanya sakit sekali saat mendengarnya tidak menganggapku seorang istri, lalu jika bukan istri lantas dia menganggapku apa? Kuatkan hambamu dalam menjalani cobaan ini ya Allah. Karena haya Engkaulah yang bisa membolak-balikkan hati seseorang, tolong luluhkan hatinya untukku. Setiap orang menginginkan pernikahan yang harmonis, pernikahan yang didasari cinta dan ibadah. Jika tidak memang tidak mungkin ada cinta diantara kami maka biarkan kami mengambil pahala dari pernikahan ini. Aamiin"
Sulit dijelaskan, Teri orang baru dirumah itu, suami yang ia pikir akan membuat Teri layaknya keluarga dirumah itu malah membuatnya seperti orang asing yang numpang tinggal disana.
Teri menghampiri seorang asisten rumah tangga yang tengah masak untuk makan malam, wanita paruh baya yang umurnya mungkin sudah setengah abad itu diketahui bernama Bi Inah. Bi Inah sudah bekerja selama 10 tahun dengan keluarga Sanjaya, jadi cukup mengenal sifat orang-orang disana.
__ADS_1
"Bibi sudah lama kerja disini? "
"Sudah 10 tahun non"
Teri mengambil piring-piring kotor yang tergeletak di wastafle untuk dicuci, tapi tangan Bi Inah menghentikannya
"Ngga usah non biar bibi aja, nanti si aden marah sama bibi. Masa istrinya masak dan cuci piring" ujar bi Inah dengan wajah ketakutan.
Tangan Teri melayang diatas piring-piring kotor itu, mendengar kalimat bi Inah pikirannya kembali teringat kata-kata Dave tadi sore dimata keluarga kita memang suami istri, tapi dimataku kau bukan istriku. Aku tidak mencintaimu..
"Ngga papa bi, ngga bakalan ada yang marah ko. Saya bantuin ya biar cepet selesai, bibi masak aja biar saya yang nyuci"
Teri tersenyum. Kemudian melanjutkan aksi mencuci piringnya.
"tapi non" bi Inah masih terdengar ketakutan dan sesekali melihat ke arah meja makan,
"Udah ngga papa bi, masakannya gosong tuh" kata Teri sambil tertawa, diikuti senyuman yang terbit dari bibir bi Inah.
Kehangatan seperti inilah yang ia pikir akan didapatkan saat Dave membawanya dari rumah kakeknya
"Saya pasti akan menjaga dan memperlakukan Teri dengan baik karena Teri adalah istri saya sekarang. Mama dan papa tidak perlu khawatir ia tidak akan kekurangan kasih sayang sedikitpun"
__ADS_1
Aku kira yang kudengar saat dirumah kakek semuanya nyata, ternyata bohong belaka.