Never Hate

Never Hate
Mungkin ini takdir-Nya


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Teri Indriani Puspa binti Perdian Tapanu dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar 500 juta rupiah dibayar tunai"


Saat penghulu melontarkan pertanyaan "bagaimana saksi sah? " tanyanya. Semua orang diruangan itu menjawab "sah" berbarengan dengan senyum bahagia namun kesedihan juga bercampur di dalamnya.


Di ruangan vip rumah sakit Advent Bandung kata-kata sakral itu terucap dari mulut seorang Dave Mahesa, laki-laki yang telah menjadi suami Teri saat ini.


Teri menggenggam tangan kakeknya yang tengah berbaring di ranjang dengan banyak selang yang menempel pada tubuh tua renta kakenya.


"sekarang kakek sudah tenang meski harus meninggalkan cucu kesayangan kakek. Berjanjilah" kata Padli pada kedua cucunya yang baru saja melangsungkan pernikahan di hadapannya,


setelah itu...


"berjanjilah nak" Padli menatap Dave dengan lekat "kau tidak akan pernah meninggalkan Teri apapun yang terjadi" lanjutnya.


Dave hanya memandang kakenya itu dengan senyum, ekspresinya saat ini tidak bisa ditebak antara sedih karena melihat kakeknya yang tak berdaya, kecewa karena harus menikah dengan perempuan yang ia benci, atau bingung harus mengiyakan ucapan kakeknya atau tidak.


Sejak tadi airmata tidak mau berhenti mengalir dari mata Teri, melihat kakenya mengucapkan kalimat demikian membuat hatinya semakin takut "Kakek apa yang kakek katakan, kakek pasti sembuh. Bukankah kakek ingin melihat Teri menikah, sekarang Teri sudah menikah jadi kakek juga harus sembuh demi Teri"


Ayah Dave dan papa Teri memang tidak memiliki hubungan darah apapun, Sanjaya Nugraha (ayahnya Dave) adalah anak kandung dari Padli dan Nana (almh) sedangkan Perdian Tapanu adalah anak angkat Padli. Dulu Perdian tinggal di Panti Asuhan Kasih Ibu, dia tidak tau siapa ayah dan ibu kandungnya, saat berusia 3 tahun Padli dan Nana mengadopsinya karena mereka tak kunjung memiliki momongan. Lima bulan kemudian setelah mengadopsi Perdian, Padli dan Nana dikaruniai seorang putra yaitu Sanjaya. Namun 7 tahun setelah itu Padli dan Nana mengalami kecelakaan yang mengakibatkan Nana meninggal dunia.

__ADS_1


"Kakek akan berusaha, kakek ingin melihat cucu-cucu kakek nanti" ujar Padli. Dave yang duduk disamping Teri hanya memandang sinis pada istrinya itu.


Tiba-tiba Luna mendekati Dave dan menarik tangannya untuk mengikuti Luna keluar,


"kamu lihat! Ini semua gara-gara kamu. Kalau dari dulu kamu dengerin kat-kata ibu kamu ngga harus menikah sama perempuan kampungan itu"


"kalau aku tau semuanya bakal kayak gini, dari dulu aku nikahin Leonna. Ibu tau kan saat ini aku ngga punya pilihan lain, kakek lagi sekarat dan aku ngga bisa nolak permintaannya"


"Ibu ngga mau tau pokoknya kamu harus tetap nikahin Leonna. Apa kata tante Lidya nanti kalau tau kamu sudah menikahi perempuan lain, dia pasti narik semua sahamnya dari kantor ibu"


"Ibu tenang aja, perempuan yang aku cintai cuma Leonna ngga ada yang lain, aku akan buat perempuan itu memohon untuk cerai dariku secepatnya" Luna dan Dave hanya saling menatap dengan senyum sinis yang tercetak di bibir keduanya sebelum akhirnya kembali memasuki ruangan tempat Padli dirawat.


"Mas, saya sangat senang akhirnya kedua anak kita menikah" kata Sanjaya pada Perdian yang berdiri disebelahnya kemudian berpelukan


"saya juga senang. Saya berharap anak-anak kita akan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah dan saya harap kalian menerimanya dengan baik" balas Perdian


"tentu saja, mas jangan khawatir kami akan menjaganya" lanjut Sanjaya kemudian.


"Mbak juga senang akhirnya Teri menikah, nak Dev anak yang baik, mbak yakin dia akan menjaga Teri, iya kan nak Dev?". Sontak pernyataan Maya itu mengagetkan Dave yang sedang bergelut dengan pikirannya.

__ADS_1


"Kenapa tante? " jawab Dave terbata-bata.


"jangan panggil tante dong, tante kan udah jadi mama kamu juga sekarang, jadi panggil mama" kata Maya dengan suara lembut keibuan.


"Iya tentu saja-" "mmm ma" lanjut Dave ragu-ragu dan sesekali melirik ke arah Teri yang terus memegang tangan kakeknya.


****


Dalam hidupku tak pernah terpikir akan menikah dengan saudaraku sendiri, meski bukan saudara sebenarnya. Apa pernikahanku akan berjalan bahagia atau sebaliknya. Membayangkannyapun aku tidak bisa. Yang kulakukan saat itu hanyalah pasrah akan takdirnya, kutau rencana-Nya lebih baik dari rencanaku. Setelah pernikahanku berjalan yang perlu kulakukan hanya satu 'sabar' berharap kesabaranku akan berbuah manis nantinya.


°


°


°


°


Like dan vote yaa dear:*

__ADS_1


__ADS_2