
Aku memberanikan diri menghentikan langkahnya saat berada di tengah tangga. Seperti biasa suamiku menatapku dengan tajam, dan melirik tanganku.
Dengan sadar aku melepaskan tangannya, Kutatap balik matanya dan pandangan kami bertemu saat itu. Dia suamiku, tidak berdosa jikapun aku menatapnya lama bukan?
"Pertama, aku ingin meminta izin untuk pulang ke Bandung beberapa hari ini. Aku ingin melihat keadaan kakek. Kedua, aku harap mas ikut pulang bersamaku. Dan ketiga, bisakah kita bicara berdua nanti? Aku ingin membicarakan banyak hal bersamamu"
Tahan Teri tahan. Sebenarnya batinku menjerit kala itu, tatapan mata suamiku belum sedikitpun kurasakan hangatnya, jangankan pelukannya, genggaman tangannyapun belum pernah kurasakan.
"Lihat saja nanti, aku banyak urusan hari ini. Kalau kau mau pulang pulang saja".
Itu saja? Apa tak ada sedikitpun rasa ibamu padaku suamiku? Aku tidak mencintaimu juga tidak membencimu. Tapi sebagai perempuan aku tidak mau diperlakukan seperti ini. Dimana harga diriku? Aku takut orangtuaku bertanya dimana suamimu? saat seorang perempuan yang sudah menikah pulang kerumah orangtuanya sendirian.
"Apa yang harus aku katakan sama orangtuaku kalau aku pulang kesana sendirian? Kakek juga pasti bertanya dimana kamu mas"
Rasanya mataku sudah panas karena menahan tangis saat itu. Aku ingin mengungkapkan semua perasaan ku, meluapkan segala yang mengganjal dihati dan pikiranku, tapi aku tahan karena ini belum saatnya. Aku tidak mau semua orang tau masalah rumah tanggaku. Cukup aku dan Tuhan yang tau.
"Ya kamu carilah sendiri alasannya, aku gaada waktu mikirin yang kayak gitu"
__ADS_1
Dave pergi meninggalkanku yang berdiri di anak tangga sendirian. Saat air mataku sudah tak mampu berdiam diri dikelopak mata, sebelum tetesan pertama jatuh gerakan tanganku lebih cepat menghentikan alirannya. Kuseka sisanya dengan ujung hijabku.
Ku langkahkan kakiku yang lemas dengan kekuatan yang tersisa, sebelum keluar kamar aku sudah memesan taksi online dan tidak lama taksinya sudah berada didepan rumah.
Dave langsung pergi tanpa sarapan selesai berdebat tadi. Akupun meninggalkan rumah tanpa berpamitan pada ayah dan ibu mertuaku karen mereka tak terlihat.
Di taksi, aku mengambil sebuah diary kecil dari tas, hari itu rabu, 15 juli 2007 untuk pertama kalinya setelah menikah aku menulis diary lagi dibuku itu aku menulis
Harapan semanis impian, bagaimana jika takdir tak sejalan.
Sejam perjalanan akhirnya aku sampai di gedung DM GROUP perusahaan yang akan kulamar. Gedungnya sekitar 20 lantai, lengkap dengan parkiran luas dan desain artistik yang casual.
Besok lusa aku mulai bisa bekerja disana. Berarti hari ini dan besok aku masih bisa menginap di Bandung.
Terimakasih ya Allah, Engkau telah mengabulkan doa hamba. Ucapku sembari berjalan keluar.
Brukk..
__ADS_1
"Aww"
Saking senangnya, aku tidk melihat ada seseorang yang berjalan bersilangan denganku.
"Maaf" aku mengatupkan tanganku.
"Kalo jalan liat-liat dong, gapunya mata ya" ucap seseorang itu dengan kasar.
"Maaf mbak, saya tidak lihat"
"Sekali lagi maaf" tambahku.
Setelah kuamati, wajahnya familiar. Aku seperti pernah melihat perempuan ini, tapi dimana? Otakku traveling mengingat dimana pernah melihat perempuan cantik ini. Tapi nihil, tak ada satupun jejak yang mengingatkanku padanya.
Perempuan itu akhirnya hanya berdecih kemudian melengos menuju lift. Tinggi dan ukuran tubuhnya hampir sama denganku, mungkin hanya karena dia memakai heels jadi sedikit lebih tinggi dan sedikit kurus. Hidungnya mancung, rambutnya bergelombang dan barang-barang yang dipakainya terlihat mahal.
Setiap orang dilahirkan berbeda-beda, beda sifat, beda bentuk fisik, beda kepribadian, beda keturunan, dan masih banyak lagi perbedaan lainnya. Semua tergantung bagaimana seseorang menggunakannya, menjadi baik atau sebaliknya. Penampilan seseorang dinilai baik atau buruk juga tergantung yang melihat, tergantung persepsi masing-masing.
__ADS_1
"Jalan pak" kataku saat sudah memasuki taksi.
Sekitar pukul 11 taksi pun melaju membelah padatnya jalanan ibukota menuju tempat yang kurindukan kehangatannya.