Never Hate

Never Hate
Maafkan aku


__ADS_3

Dave pikir Teri kembali ke Bandung dan akan menempati rumah kakeknya, atau mungkin ke kuburan orang tuanya. Pertama dia pergi ke kuburan orang tua Teri, meski hari sudah malam.


Dave pov


Suasana hening dan gelap di area pemakaman membuat bulu kudukku berdiri tanpa aba-aba, dengan sedikit gemetar aku memberanikan diri mendatangi makam orang tua Teri dengan menggunakan flashlight ponselku sebagai penerang. Tapi aku tidak menemukan siapapun disana.


Yang membuat bulu kudukku semakin berdiri adalah suara-suara yang ku dengar di area itu, entah mungkin suara burung atau binatang apapun, tapi ini benar-benar sangat mencekam untukku.


 


Setelah berkutat dengan tempat menyeramkan tadi, aku kembali ke rumah kakek, sepi tak ada suara sedikitpun, semua barang sudah tertutup rapih oleh kain putih, jendela dan pintu menutup semua. Aku berlari ke lantai dua dan membuka pintu kamar Teri, tak kudapati siapapun disana, hanya ada sebuah foto yang tergeletak di atas nakas, foto Teri bersama kakek dan kedua orangtuanya sedang mengangkat sebuah piala, yang aku tidak tahu piala apa itu. Setelah ku amati ada keterangan di bawah foto yang bertuliskan. Teri Indriani Puspa. 13 Juni 1991 Juara 1 Menulis karangan puisi se provinsi.


Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Ucapku pelan sambil mengusap foto itu.


Waktu sudah semakin malam, dan aku belum menemukan Teri, aku juga tidak punya nomor telponnya. Tanpa membuang waktu, aku mencari buku telpon yang ada di rumah kakek, aku turun ke lantai satu dan membuka semu laci yang ada disana satu persatu.


"Nah ini dia" ucapku saat menemukan apa yang kucari.


Selembar demi selembar aku mencari nama Teri disana, dan di lembaran ke empat aku menemukan namanya tertera 'Teri Puspa'. Segera aku menyalin nomor itu ke ponselku dan memanggilnya.


Beberapa detik terdengar nada sambung di ujung telpon. Sampai ada suara lembut menyapa disana.


"Hallo assalamu'alaikum" sapa Teri diujung telpon.


Entah kenapa aku merasa senang mendengar suaranya yang sepertinya baik-baik saja. Aku merasa bertanggung jawab atas dirinya saat ini, karena dia tidak memiliki keluarga lain selain keluargaku disini.


"Hallo, siapa ini?", merasa tak ada jawaban Teri memanggilku untuk kedua kalinya.


"Assalamu'alaikum" ucapnya lagi.


Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku sehingga aku tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


Tut... Suara ponsel di matikan sepihak oleh Teri, pasti dia kesal karena tak ada jawaban.


*Maaf untuk semua yang telah aku lakukan padamu, untuk sikapku, untuk ibuku, untuk pernikahan kita... Aku minta maaf sebesar-besarnya.


Terlebih, aku minta maaf untuk cinta yang tak bisa kuberikan untukmu. Aku akan bertanggung jawab sebagai seorang suami untukmu, tapi tak bisa bertanggung jawab sebagai orang yang mencintaimu*.


Beberapa kali aku mengetik pesan dalam ponselku, pertama aku mengetik "kau dimana? aku akan menjemputmu" kemudian aku urungkan, aku mengetik lagi "pulanglah kerumah, ada yang mau aku bicarakan" aku berpikir itu terlalu vulgar, aku hapus lagi.


Kesal dengan kata-kata yang ingin aku kirimkan, aku membanting ponselku di atas laci.


Kemudian aku mengambilnya lagi dan mengetikkan "kau dimana?" kali ini aku benar-benar mengirimnya.


Tak lama aku mendapat balasan singkat dari Teri "Ini siapa?" balasnya.


Apa dia tidak punya nomor telponku? Ujar batinku.


Aku :


Teri :


Oh, aku dirumah.


"Apa dia pulang kerumah?" pikirku. Untuk memastikan aku menanyakan langsung padanya.


Aku :


Rumah siapa?


Teri :


Rumah baruku. Ada apa, apa kau sudah memikirkan tentang perpisahan kita?

__ADS_1


Bosan dengan terus-terusan mengetik pesan akhirnya aku menelpon Teri kembali untuk memastikan semuanya.


"Hallo assalamu'alaikum" Teri menyapaku lebih dulu, dan memang selalu seperti itu. Dia selalu menyapa lebih dulu pada setiap orang.


"Wa'alaikum salam" balasku, "kau dimana, aku akan menjemputmu"


"Apa kau merasa kasihan padaku mas? sampai nuranimu tergerak untuk menjemputku"


Tidak bisa dipungkiri kalau apa yang diucapkan Teri memang benar, aku hanya merasa kasihan padanya saat ini, kehilangan orang tua dan kakeknya pasti membuatnya sangat terpuruk dan akulah satu-satunya keluarganya saat ini.


"Tidak perlu mengasihaniku, aku baik-baik saja. Uang mahar yang kau berikan padaku ada di laci kamarku. Tidak kurang sedikitpun, aku mengembalikannya padamu"


"Apa yang kau pikirkan, aku tidak akan meninggalkanmu dalam situasi seperti ini Teri"


"Lalu? itu berarti kau akan meninggalkanku juga kan suatu saat?"


Kenapa ucapannya selalu membuatku kalah telak.


"Aku tidak akan meninggalkanmu sampai kapanpun Teri, aku berjanji! "


"Tapi kenapa?"


"Karena"........


.


.


.


.

__ADS_1


...see you next up dear:*...


__ADS_2