Never Hate

Never Hate
Menjemputmu


__ADS_3

"Karena aku suami mu. Aku akan bertanggung jawab atas dirimu. Dan lagipula sekarang aku satu-satunya keluargamu"...


Aku pasti terlihat bodoh dimatanya karena mengucpakan kata-kata yang sama seperti tadi. Pikir Dave.


"Kamu yakin mas? Aku pikir itu hanya mulutmu saja, bagaimana dengan hatimu? Kudengar tadi kamu akan menikah dengan Leonna"


Darimana Teri tau tentang Leonna?


Di kontrakan kecilnya Teri menyunggingkan senyum miris, menertawakan nasibnya sendiri.


Teri bukan perempuan yang kuat jika harus berbagi suami dengan wanita lain. Lebih baik berpisah daripada harus di poligami. Teri tau betul balasan wanita yang ikhlas di poligami adalah surga, tapi jiwa dan raganya menolak keras jika harus menjalani pernikahan diatas poligami.


"Darimana kamu tau tentang Leonna?"


"Aku tidak ingin membahas itu, aku lelah. Assalamu'alaikum"


Tanpa mendengar jawaban Dave terlebih dahulu Teri langsung mematikan telponnya sepihak. Kepalanya terasa berat memikirkan hal yang belum pasti menurutnya, dia tidak peduli lagi dengan prinsipnya yang hanya akan menikah sekali seumur hidup. Pernikahannya belum seumur jagung, tapi sakitnya sudah bertubi-tubi, apalagi dengan bangganya mertuanya memperkenalkan wanita lain sebagai calon istri anaknya pada menantunya sendiri. Apa yang lebih menyakitkan dari itu untuk seorang istri yang baru menikah?


*-*-*-*-*-*-*


Langkah Dave menghambur keluar rumah mendiang kakeknya. Setelah melacak ponsel milik Teri, tidak menunggu lama lagi Dave langsung menyusul istrinya itu


Sekarang Dave sudah berada di depan kontrakan Teri, waktu sudah tengah malam saat Dave tiba disana. Karena jarak antara Bandung-Jakarta yang mengharuskannya bolak-balik.


Sebelum mengetuk pintu, Dave menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. Mencoba untuk menetralkan aliran darah dan detak jantungnya yang memburu.


Tok tok tok... Tok tok tok....


Didalam, Teri terhenyak mendengar ketika pintu yang berulang, gerakan tangannya mengambil ponsel diatas balas kemudian menatapnya sebentar.


"Siapa yang bertamu tengah malam bergini?" gumam Teri.


Ia kemudian melangkah dan berdiri di belakang pintu

__ADS_1


"Siapa ya?". Bukan maksud untuk suudzon, Teri takut kalau ada orang yang berniat tidak baik padanya. Ditambah disana dia sebagai penghuni baru belum tahu bagaimana kondisi lingkungan sekitar, dan ini juga tengah malam. Siapa yang bertamu malam-malam begini.


"Ini Dave, bukalah"


"Mas Dave" lirihnya pelan.


Darimana dia tau tempat tinggalku? aku tidak memberitahunya. Perlahan, tangan Teri memutar handle pintu, tatapannya bertemu dengan manik coklat milik Dave saat pintu terbuka. Dave yang memang berdiri tepat di depan pintu langsung reflek memeluk Teri meski tanpa ada balasan dari sang istri.


"Kenapa kamu kesini?" tanya Teri.


Tangan mungilnya sedikit mendorong tubuh kekar Dave yang memeluknya erat, Teri merasa tidak nyaman dengan Dave yang memeluknya secara tiba-tiba, ini di depan pintu dan seenaknya Dave menghambur memeluknya. Teri takut akan menimbulkan fitnah, karena tetangga disana belum ada yang tau kalau Teri sudah menikah.


"Aku menjemputmu" jawab Dave disertai senyuman.


"Masuklah" titah Teri mempersilahkan dan langsung dibalas oleh langkah besar Dave yang melenggang masuk.


Ekor mata Dave menelisik setiap sudut kontrakan Teri, menatap dua sofa kecil di sudut kiri dan ada lemari plastik tiga pintu di sampingnya. Serta dua kamar di samping kanan dan satu pintu yang sepertinya mengarah ke dapur sekaligus kamar mandi. Tidak ada AC ataupun kipas angin, hawa dingin yang menusuk kulit hanya dihasilkan dari lubang ventilasi yang menghiasi atas jendela. Sangat berbeda dengan rumah Teri yang dulu.


"Duduklah. Aku ambil minum dulu" ucap Teri seraya berlalu menuju dapur.


”Ini rumahmu?" tanya Dave sambil menatap langit-langit putih sebelum menjatuhkan pandangannya pada Teri yang terus memasang wajah masam.


"Iya" jawab Teri singkat tanpa menatap balik.


"Kenapa mau tinggal dirumah sekecil ini? Bahkan rumah ini lebih kecil dari kamarku" ucap Dave terkesan menyombongkan diri.


"Untuk apa tinggal dirumah besar jika tidak mendapatkan kenyamanan"


Sebelum menanggapi ucapan Teri, Dave meminum kopi yang tadi dibuatkan Teri, ada juga air putih didalam teko kecil tersedia di meja.


"Aku minta maaf, pulanglah ayah akan memarahiku kalau kamu ngga pulang" ucap Dave memohon.


"Aku sudah mengirim pesan pada paman. Dan dia menghargai keputusanku kamu ngga perlu khawatir"

__ADS_1


"Teri. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sampai kapanpun. Pulanglah bersamaku"


"Bagaimana dengan Leonna?". Kali ini Teri menatap tajam pada Dave yang sedikit memiringkan tubuhnya ke depan dengan tatapan memohon.


"Darimana kamu tau tentang Leonna?"


"Kamu tau apa yang aku alami setelah pulang dari Bandung? Saat aku sampai rumah, aku ketemu ibu dan Leonna, dan kamu tau apa yang ibu bilang? Leonna calon istrimu" ucap Teri penuh penekanan.


"Leonna adalah kekasihku. Aku berencana akan menikah dengannya, tapi mendiang kakek malah menikahkan ku denganmu"


"Dan kamu masih akan menikah dengannya?"


"Aku mencintainya, tapi aku juga ngga bisa ninggalin kamu karena aku sudah berjanji pada kakek ngga akan ninggalin kamu apapun yang terjadi"


"Maaf mas. Aku nggak bisa kalau harus di poligami"


"Teri. Aku mohon, kamu pasti tau mengingkari janji itu dosa, dan aku ngga mau nanggung dosa itu"


"Kalau begitu putuskan hubungan kamu sama Leonna. Kamu ngga mau kan nanggung dosa ingkar janji? Aku juga ngga mau nanggung dosa karena membiarkan suamiku berbuat zina dengan wanita lain"


"Tapi Teri. Aku mencintainya, kalau kamu ngga mau nanggung dosa biarkan aku menikahinya"


Teri terdiam cukup lama, hatinya menjerit merasakan nyeri yang teramat sangat. Bagaimana tidak, dia disudutkan pada keadaan yang membingungkan. Prinsipnya dipertanyakan dan keteguhan hatinya juga sedang diombang ambing saat ini. Entahlah, dia ingin sendiri dulu, menjernihkan pikiran.


"Aku mau sendiri dulu. Kamu pulanglah, ini sudah terlalu larut ngga enak kalau dilihat orang"...


.


.


.


.

__ADS_1


tbc.


__ADS_2