
Kurabg lebih 45 nenit perjalanan kami dari rumah kakek ke rumah sakit Immanuel. Badu saja mobil Dave berhenti di parkiran, aku langsung mencoba membuka pintu mobil, tapi tidak bisa karena masih dikunci Dave.
"Buka pintunya! " kataku kesal.
Dave meihatku sekilas kemudian membukanya. Aku langsung berlari menuju meja receptionist dengan wajah cemas dan Dave mengikutiku dari belakang.
"Assalamu'alaikum saya keluarga korban kecelakaan mobil tadi pagi"
"Korban sudah berada di kamar jenazah. Silahkan kamarnya ada diujung kiri lorong ini"
Dave yang berdiri sekitar satu meter di belakang Teri sontak terperangah dengan pernyataan suster barusan. Ia tidak menyangka om dan tantenya akan pergi secepat ini.
Dengan airmata yang lagi-lagi tumpah, Teri berlari menuju ruangan yang dimaksud suster tadi diikuti oleh Dave. Saat berada tepat di depan ruang jenazah Teri tidak mampu lagi berlari. Dengan langkah pelan dan tubuh gemetar Teri membuka pintu kamar jenazah. Disana ada beberapa jenazah lain selain orang tuanya, seorang penjaga ruangan itu menunjukkan yang mana jenazah orang tuanya setelah penjaga itu bertanya pada Dave.
Hiks hiks,
"Innalillahi wainnailaihi rooji'un"
Hiks-hiks.
Dengan tubuh bergetar, aku membuka satu persatu kain putih yang menutupi wajah keduanya, pertama mama, perempuan yang telah menorehkan garis kasih di hidupku,
"Mamaa" Aku memeluk jasad almarhumah dengan erat, tak ada suara hanya keheningan yang kudapat darinya.
Dave membuka kain yang menutupi papaku, wajahnya terlihat tak percaya dengan yang dilihatnya, kala itu kesedihan terlihat jelas di wajah tampannya meski tak mengeluarkan air mata.
"Papaa" hiks hiks.
Air mataku semakin tak terbendung, tatkala. melihat jasad almarhum, orang yang paling berjasa dalam hidupku setelah mama, orang yang sudah membuatku hadir ke dunia.
Dave mendekatiku, tidak tau ada angin baik darimana tapi kali ini dia mendekapku dalam pelukannya sangat erat, aku membenamkan wajahku di dada bidangnya tanpa membalas pelukannya membiarkan semua kesedihan itu tumpah lewat air mata yang mengalir.
__ADS_1
"Ini mimpi kan mas? " tanyaku dengan suara pelan dan bergetar.
Tanpa ada jawaban, Dave memelukku lebih erat, mengusap pucuk kepalaku dan meletakkan dagunya disana.
"Aku pasti lagi tidur, soalnya semalem aku ngga tidur. Bangun Teri bangun, patahkan mimpi buruk ini" ucapku lagi seraya menepuk-nepuk pipi basahku.
"Hentikan!" Kata Dave. Dan menggenggam tangan kananku.
"Ini bukan mimpi Teri. Ini kenyataan"
"Ngga!! Kamu pasti bohong"
Tiba-tiba saja Dave mencubit tanganku dan aku mengaduh kesakitan "Auh"
"Bagaimana? sakit kan? "
Menyadari bahwa ini nyata, tangisku semakin pecah. Bahkan seisi ruangan itu hanya terisi oleh tangisanku.
*****
Suasana haru menyelimuti pemakaman kedua orangtuaku, Dave yang dari tadi tidak pernah jauh dariku membuatku semakin sesak, rasanya aku seperti dipermainkan oleh semesta.
"Ayah" kata Dave pelan dan memeluk ayahnya.
"Nak"
Ayah Sanjaya menepuk bahuku yang sedang terduduk di samping makam papa..
"Paman" kataku dan langsung menangis dipelukannya.
Saat ini aku tidak ingin menanggap paman sebagai ayah mertuaku, aku ingin merasa kalau aku masih Teri yang seperti dulu, hanya merasakan kasih sayang tanpa memikirkan beban dalam rumah tangga.
__ADS_1
"Paman turut berduka cita nak. Kamu tidak sendirian, masih ada paman dan bibi yang menyayangimu, kami sudah menganggapmu seperti anak sendiri. Ikhlaskan mereka, biarkan mereka tenang di alam sana"
Ibu mertuaku bibi Luna tidak mengatakan sepatah katapun, dia malah mengulum senyum kemenangan di tengah duka yang kurasakan.
Bagus, satu persatu penghalangku untuk mendapatkan semua harta kakek tua itu lenyap dari muka bumi ini, tinggal Sanjaya. Aku harus membuat keluarga ini hancur. Ibu kau pasti bahagia disana mendengar kabar ini. Batinnya.
******
Malam harinya setelah melakukan pengajian dirumah kakek untuk mendiang papa dan mama, aku, paman, bibi, dan suamiku pergi kerumah sakit mengunjungi kakek. Paman berencana membawa kakek ke Jakarta dan dirawat disana. Aku hanya bisa mengiyakan ucapannya saja karena logikanya jika disini tidak akan ada yang merawat kakek.
"Pah, papa ikut kami ke Jakarta ya" kata paman.
"Ada apa, memangnya disini kenapa?"
Paman memutar pandangannya pada kami semua, aku tau dia bingung. Aku juga tidak tega mengutarakan semuanya pada kakek, aku takut dia shock dan jantungnya kambuh lagi.
"Tapi papah harus tenang dulu. Aku ada kabar yang tidak baik untuk papa"
Lalu..
"Mas Perdian dan mbak Luna sudah meninggal"
°
°
°
°
Tinggalkan like dan vote yaa dear :*
__ADS_1