Never Hate

Never Hate
Andai selalu begini


__ADS_3

Dengan hati pedih, aku membaringkan tubuhku diranjang, kemudian berbalik memunggungi suamiku yang masih terduduk disana. Kudengar langkah kaki suamiku menjauh dari tempat tidur menuju sofa, mungkin saat ini ia sudah terbaring disana.


Waktu berlalu cukup lama, sebentar lagi subuh tapi mataku tidak mau terpejam, aku bangun dan melirik ke arah sofa, Dave sedang tidur disana dengan bersidekap dada. Kemudian aku membawa selimutku kearahnya dan menutupi tubuh Dave sampai ke leher.


Aku pikir akan masak saja sembari menunggu waktu subuh. Setengah jam kemudian adzan subuh berkumandang di mesjid, Aku baru selesai masak nasi dan memanaskan air untuk mandi. Setelah mandi dan sholat subuh, untuk menjadi istri yang baik aku harus mengingatkan suamiku tentang akhiratnya juga.


"Mas bangun" kataku dengan menggoyangkan bahu suamiku.


"Mas ini udah subuh bangun" sambungku.


Dave menggeliat, "Bangun udah subuh, sholat dulu" ucapku lagi.


Dave mengerjapkan matanya, samar-samar dia menatapku yang berdiri disampingnya dengan masih memakai mukena.


Meskipun sudah menikah, aku belum pernah sekalipun menampakkan rambutku pada Dave, aku tidak ingin melakukan itu sebelum dia benar-benar menganggapku istri yang seharusnya.


"Bangunlah aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Segera mandi dan sholat, aku akan kebawah" ucapku seraya berlalu meninggalkan Dave.


 


Dave povv


Aku mengerjapkan mataku berkali-kali, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang kutinggalkan saat tidur. Aku mencium wangi yang tak biasa pagi ini, wangi yang tak pernah kucium sebelumnya bahkan lebih wangi dari parfum Leonna.


"Siapa yang menyelimutiku? "


Agak sedikit bertanya-tanya dalam otakku, namun segera ingat pasti Teri yang melakukannya, karena dia bangun lebih dulu pikirku.


Dave tidak tahu kalau Teri sebenarnya tidak tidur semalaman.


Aku membawa langkahku kedalam kamar mandi dan wangi itu semakin menyengat di hidungku, aku mengambil sabun yang ada disamping bath up lalu kucium, ternyata benar dari sanalah wangi itu berasal.


"Pantas saja setiap bicara dengan Teri aku selalu mencium bau ini" kataku.


Kalian tenang saja, aku tidak berencana memakai sabun itu, karena sabun itu berbau perempuan.


 


Aku berkutat di dapur sendirian, mama sepertinya sudah bangun, tapi belum keluar kamar, tidak lama Dave menghampiriku di dapur dengan memakai kaos oblong warna putih dan celana boxer. Ganteng mah bebas mau pake apa aja pikirku.

__ADS_1


"Masak apa?" tanyanya datar.


Apa aku tidak salah dengar, dia menegurku. Padahal aku tidk bermimpi semalam. Jangankan bermimpi tidur saja tidak. Batinku.


"Apa makanan kesukaanmu?" bukannya menjawab aku malah bertanya balik.


"Apa aja aku suka" katanya, kemudian mengambil minuman dari dalam kulkas.


"Jangan minum itu" ucapku, seraya mengambil minumannya dari tangan Dave.


"Minum ini, lebih sehat. Lagipula ini masih pagi nanti sakit perut" lanjutku dan memberikan segelas air putih padanya.


"Kenapa kamu masih perhatian sama aku, walaupun aku tidak bersikap baik padamu? "


"Karena aku istrimu, sudah menjadi kewajibanku untuk berbakti pada suamiku, selama itu tidak keluar dari koridor agama" jawabku.


"Bukankah sudah kubilang, aku tidak menganggapmu istriku" jawabnya santai sambil berdiri memandangi punggungku.


"Sayang, apa yang kamu katakan. Bukankah kamu bilang kamu sangat mencintaiku"


Refleks aku memeluk Dave, dengan celemek yang masih menempel ditubuhku. Hampir saja gelas yang dipegang Dave terjatuh. Dave mencoba menjauhkan tubuhku darinya tapi aku memeluknya sangat erat.


"Lepaskan, apa-apaan kau ini" katanya kesal.


Dave memutar bola matanya dan benar saja, ia melihat mama sedang berdiri di samping ruang keluarga.


"Tapi yang kau lakukan ini berlebihan" katanya pelan seperti berbisik padaku.


"Kumohon bekerja samalah sebentar saja"


"Baiklah"


"Aku bercanda sayang, tentu saja aku sangat mencintaimu" lanjutnya dengan suara lembut sembari mengelus pundakku.


Nyaman sekali rasanya berada di pelukan suami sendiri, andai yang dikatakannya itu juga benar, aku pasti akan menjadi wanita paling bahagia.


"Benarkah? " lirihku.


"Tentu saja"

__ADS_1


"Bisakah itu menjadi kenyataan?" Aku berbisik pelan.


Bahkan mungkin Dave sendiri tidak mendengar apa yang aku katakan.


"Aaa" Aku memekik sangat keras sampai Dave pun terlonjak kaget, seketika aku melepaskan pelukanku dan memeriksa masakan yang kulupakan sejenak.


"Untung belum gosong"


Aku menghela nafas, kemudian menatap Dave yang memegangi dadanya.


Aku tersenyum "Maaf mas aku ngagetin kamu ya?"


"Ada apa sayang, kenapa kamu teriak-teriak?" Mama datang dengan wajah panik, sepertinya dia pergi setelah melihat kami baik-baik saja tadi, jadi tidak tahu apa yang terjadi.


"Hehe ngga papa ma, tadi cuma panik aja takut masakannya gosong"..


Entah kenapa ada perasaan bahagia dihati Dave saat melihat istrinya tertawa seperti itu. Saat di Jakarta dia tidak pernah melihat istrinya tertawa, hanya kesedihan yang terlihat dimatanya walaupun Teri selalu tersenyum saat melihatnya pulang.


"Assalamu'alaikum ma" Dave menyalami mama dengan sopan.


"Wa'alaikum salam sayang, kamu kapan sampe? "


"Semalam ma, banyak kerjaan di kantor jadi pulangnya malem"


"Mama kira kamu ngga bakalan kesini"


"Masa istriku kesini aku disana terus ma, aku juga takut dia kenapa-kenapa dijalan"


"Syukurlah, mama sampe ngira kamu ngga khawatir sama Teri"


Dave hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan terkekeh.


°


°


°


°

__ADS_1


°


Tinggalkan like dan votenya yaa dear :*


__ADS_2