
Pukul 06.32. Matahari sudah terbit sejak tadi tapi sinarnya harus tertutup oleh awan hitam ysng membendung pagi ini. Rintik hujan membasahi kota tempat Teri dan Dave tinggal, dan dua sejoli itu masih asik bergelut dengan selimutnya.
Entah kapan posisi mereka berubah, keduanya saling mendekap dalam selimut seolah tidak akan bisa dipisahkan. Teri membenamkan wajah cantiknya di dada suaminya Dave, Dave juga membalas istrinya itu dengan pelukan.
Perlahan Teri mulai sadar lalu mengerjapkan matanya perlahan, Ia merasakan keningnya menempel pada sebuah kulit dan guling yang ia peluk terasa lebih besar pagi ini.
Gerakan tubuh Teri merubah posisinya jadi terlentang membuat Dave tersadar, hanya dia tidak membuka mata seolah masih tertidur.
Apa yang aku lakukan. Batin Teri.
Ini tidak benar, kenapa aku memeluknya. Dan sejak kapan aku memeluknya sampai kesiangan begini.
Hah kesiangan?!
Oh shit. Teri belum sholat subuh.
"Mas, mas bangun"
Teri berkali-kali membangunkan Dave dengan menggoyang-goyangkan tubuh suaminya. Tapi Dave tetap tidak bereaksi apapun. Ia masih konsisten dengan akting tidurnya.
"Mas bangun ini udah siang, kita kesiangan sholat subuh"
"Nghh"
"Mas-"
Tiba-tiba Teri merasa ada yang ganjil dengannya. Kemudian dia langsung terduduk dan memeriksa susuatu dibawah sana.
Benar saja!
Ada darah di kasurnya, rupanya Teri datang bulan, pantas ia merasa area sensitifnya basah.
Bug..
Tiba-tiba Teri menjatuhkan diri lagi dan kembali tidur dengan Dave. " Mas kamu harus sholat dulu"
"Bisa ngga sehari aja ngga usah sholat" racau Dave.
"Bisa kalau kamu mau masuk neraka. Tapi jangan bawa-bawa aku ya"
__ADS_1
"Kenapa kan kamu istriku"
"Istri?"
Hahah sejak kapan dia menganggap Teri istrinya.
Jika Dave melihatnya ia pasti heran dengan ekspresi Teri mengerutkan kening sambil menatapnya dengan tatapan penuh tanya sambil berkata 'istri?'.
Tapi sayang lelaki itu masih asik dengan bantal guling hidupnya.
...*-*-*-*-*-*...
Dave's Pov
Aku terpaksa bangun dengan malas karena istriku juga sudah pergi sekian detik setelah dia mengatakan kata istri.
Mungkin dia ingat pertengkaran kami semalam jadi moodnya kembali buruk. Aku tidak bisa menyalahkannya karena ini murni kesalahanku. Dia baik sangat baik, hanya...
Entahlah aku bingung, disatu sisi aku mencintai Leonna disisi lain aku tidak bisa meninggalkannya. Dan sejak kapan aku merasa ingin selalu membuatnya disisiku? Mendekapnya membuatku sangat nyaman, bahkan sampai aku malas bangun dan ingin mengurungnya disini seharian bersamaku.
Bodoh!
Kenapa aku jadi tidak fokus begini.
"Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?" tanyanya.
Itu sukses membuat lamunanku buyar dan aku salanh tingkah.
Konyol. Aku ketangkap basah memandanginya. Ahh aku ingin kecebur kolam saja saat ini.
"Ngga ada. Siapa yang ngeliatin kamu" sangkalku.
"Udah ketauan ngga mau ngaku"
"Mandangin istri sendiri kan ngga papa"
"Istri?"
__ADS_1
Aish lagi-lagi kata itu yang keluar dari mulutnya. Memangnya ada apa dengan kata 'istri'? Perempuan berhijab itu sangat sensitif bila disinggung soal istri. Aku menatap ada perubahan ekspresi disana saat mengucapkan kata istri. Sepertinya dia marah.
"Bukannya kamu bilang, tidak menganggapku istrimu"
Ahh ya! Aku ingat. pantas saja ekspresinya berubah saat aku mengucapkan istri. Ternyata itu juga kesalahanku.
Bagaimana bisa dia mengatakan aku istrinya. Sudah dua kali pagi ini dia mengatakan itu. Apa dia ngg tau betapa sakitnya hatiku mendengar kata itu. Dulu dia terang-terangan mengatakan aku bukan istrinya, dan sekarang dia mengatakannaku istrinya tapi dia mencintai wanita lain. Rasanya aku ingin membuangnya jauh-jauh dari rumahku.
"Aku mau pergi kerja. Kamu pulang sana aku ngga ikut pulang" katanya ketus seraya memasukan sesuatu kedalam tasnya.
"Kerja?" kataku dengan nada yang sama sepertinya tadi.
"Iya kerja. Aku harus kerja untuk menyambung hidup"
Deg..
Kalimat itu membuatku seperti tidak berguna. Dijatuhkan sejatuh-jatuhnya kedasar jurang yang tak berujung.
Satu sisi aku merasa bersalah di hari-hari kemarin, sisi lain ego ku sebagai laki-laki merasa diremehkan. Apa yang harus aku lakukan sekarang.
"Kamu istriku, aku masih bisa menghidupi kamu meski tujuh turunan lagi". Intonasiku meninggi kali ini.
"Aku tau kamu kaya. Aku hanya bersiap untuk semua kemungkinan yang akan terjadi"
"Ngga bakalan ada yang terjadi Teri! Berhenti bekerja dan ayo pulang kerumah"
Sialan.
Kenapa aku merasa marah saat dia mengatakan apa yang jadi isi hatinya. Aku tidak suka mendengarnya bicara seolah-olah kami akan berpisah. Yang lebih membuatku frustasi dia bisa setenang itu saat menimpali ucapanku. Apa dia benar-benar ingin pisah.
.
.
.
.
tbc.
__ADS_1