
Matahari sudah terbit, burung-burung berkicau dengan riangnya. Ini pagi yang cerah, sangat baik jika digunakan untuk berolahraga santai seperti berlari keliling kompleks. Tapi aku harus bergegas untuk menjenguk kakek, setelah dzuhur aku harus kembali ke Jakarta.
"Mas kamu mau ikut jenguk kakek? " tanyaku saat kami sama-sama berada dikamar dan tengah bersiap.
"Ikut, sekalian kesini" datar seperti biasa.
"Oh yasudah. Aku berangkat duluan taksiku udah nunggu di depan"
"Apa kamu ngga mau berangkat sama aku? "Dave menaikkan alisnya sebelah.
"Aku takut kamu ngga suka semobil sama aku. Aku cuma ngga mau bikin kamu ngga nyaman"
"Oh yaudah" balasnya.
Sebenarnya aku berharap sekali bisa semobil dengan suamiku, tapi aku harus banyak mengerti perasaannya.
Aku mencium tangannya sebelum pergi, "assalamu'alaikum"
"wa'alaikum salam".
Sengaja aku melangkahkan kakiku pelan-pelan. Berharap Dia mengucapkan 'hati-hati dijalan' tapi ternyata tidak, aku berbalik melihatnya sekali lagi, tapi dia masih sibuk memakai jasnya menghadap ke cermin.
"Ma pa"
"Mama"
Aku memekik keras memanggil orangtuaku. Tapi mereka tidak menjawabku,
Tring..
Sebuah panggilan masuk ke ponselku dari nomor tak dikenal.
"Hallo assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam, selamat siang mbak, apa benar ini dengan keluarga bapak Perdian Tapanu dan ibu Maya? " ucap seorang wanita diujung telpon
"Iya benar saya putrinya, ada apa ya mbak? "
"Kami dari pihak rumah sakit ingin mengabarkan bahwa orang tua mbak mengalami kecelakaan dan meninggal ditempat, sekarang jasadnya sudah berada di rumah sakit Immanuel"
"Apa?!"
Prakk
__ADS_1
Tetiba saja tubuhku lemas dan jatuh bersimpuh dilantai, airmataku bercucuran, jantungku berdetak sangat cepat sampai aku bisa mendengarnya. Gelap. Semuanya gelap. Aku tidak ingat apapun lagi setelah itu.
***
Dave.
Aku yang baru saja turun dari lantai atas, seketika mataku terbelalak melihat Teri tertidur dilantai dengan ponsel yang tergeletak.
Apa yang terjadi padanya? Lirihku saat itu.
Aku segera berlari menuruni anak tangga, menghampiri Teri yang terkulai lemas disana.
Ku angkat kepalanya dan ku goyangkan tubuhnya
"Teri, Teri bangun. Apa yang terjadi? "
Naluri kemanusiaanku terenyuh kala itu, aku khawatir sekaligus bingung, apa yang menyebabkannya sampai pingsan begini.
Segera aku menggendongnya ala bridal style ke sofa terdekat, aku menidurkannya disana dan terus mencoba membangunkannya.
"Teri, bukalah matamu. Apa yang sebenarnya terjadi?" Ku oleskan minyak kayu putih di lengannya kemudian aku pijat pelan-pelan. Sesekali aku membuatnya agar menghirup aroma minyak kayu putih itu, berharap dengan itu dia akan sadar.
Sekitar 30 menit Teri pingsan, akhirnya dia mulai mengerjapkan matanya dan langsung memelukku yang sedang duduk disampingnya.
"Tenanglah, ada apa? kenapa kau menangis?" tanyaku dengan lembut. Tapi dia terus saja menangis malah semakin kencang, aku bisa mencium wangi tubuhnya saat itu karena sudah tidak ada jarak antara kami.
"Mama mas mama, papa" katanya.
Hanya itu yang ada dia ucapkan, selebihnya dia terus saja menangis dipelukanku. Sampai tiba-tiba dia melepaskan pelukannya dengan kasar.
"Aku harus pergi mas, aku harus kerumah sakit" katanya buru-buru dengan tubuh yang masih lemas.
Namun tanganku berhasil lebih cepat menahannya.
"Ada apa? kenapa terburu-buru? " tanyaku heran.
"Lepaskan aku mas. Aku harus ke rumah sakit mama dan papa kecelakaan"
Isak tangisnya tak bisa lagi dielakkan, ia sampai terduduk dilantai karena tak kuasa menahan lemas dengan satu tangannya yang masih aku pegang.
Aku sendiri terkejut, aku tidak bisa berkata-kata saat ini.
"Ayo kita harus cepat ke rumah sakit"
__ADS_1
Aku bangkit dari duduk dan langsung membopong Teri menuju mobil. Taksi yang dipesan Teri tadi pagi sudah tidak terlihat lagi di depan rumah, mungkin sudah pergi karena menunggu lama.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Teri tidak berhenti terisak, matanya sembab akibat menangis tissue di dash board mobil pun sampai habis olehnya.
"Cepetan mas" katanya, dengan wajah cemas.
"Ini juga udah cepet, kalau lebih cepat lagi nanti malah kita yang kecelakaan" jawabku. Dan Teri hanya memandangku kesal.
Dave menekan sebuah nomor dari mobilnya, kemudian menghubungi nomor itu. Panggilan terhubung.
"Hallo yah om-"
"Biasakan ucapkan assalamu'alaikum dulu"
Suara Teri yang parau memotong ucapan Dave, tanpa menatap sang empunya suara.
"Assalamu'alaikum. Ayah aku ada kabar buruk disini"
"Wa'alaikum salam. Ada apa nak, kenapa suaramu begitu cemas? " kata seorang lelaki diujung earphone.
"Om dan tante mengalami kecelakaan" aku sendiri bisa merasakan suaraku bergetar saat mengucapkan itu, bagaimana dengan perasaan Teri saat ini.
"Apa?! " pekik Sanjaya, ayahnya Dave di Jakarta "bagaimana keadaannya sekarang? ".
"Kami belum tau ayah, aku dan Teri masih diperjalanan menuju kesana. Om dan tante sekarang ada di rumah sakit Immanuel. Kalau tidak sibuk, ayah cepatlah kesini".
"Baiklah, ayah akan segera kesana, kabari ayah bila terjadi sesuatu pada mereka".
"He'em. Assalamu'alaikum".
Tut.
Aku kembali melirik Teri yang masih sesenggukan dari tadi. Aku tau dia pasti sangat terpukul saat ini. Meski aku belum pernah kehilangan siapapun dalam hidupku tapi aku bisa merasakan bagaimana perasaannya.
°
°
°
°
Tinggalkan like dan vote yaa dear :*
__ADS_1