Never Hate

Never Hate
Kemana kau pergi?


__ADS_3

Aku melangkahkan kaki dengan keyakinan penuh kalau aku harus benar-benar pergi dari rumah ini. Satu tanganku menyeret koper besar yang kubawa dari rumah kakek menaikki anak tangga.


Sesampainya di depan kamar, aku mengeluarkan semua pakaianku dari lemari, tak ada yang ku sisakan satupun karena memang bajuku tidak banyak.


Dari rumah itu aku hanya membawa pakaian. Karena tak ada barang berharga yang kupunya disana. Selama dirumah itu hanya kepedihan yang ku dapatkan. Suamiku tidak pernah membelikanku sesuatu juga tak pernah memberiku uang sepeserpun. Jangankan uang, nomor telponnya saja aku tidak tau.


Aku benar-benar hanya menumpang tinggal dirumah besar itu.


Selesai membereskan pakaian, aku turun dari lantai dua, kulihat ibu dan Leonna masih asik menonton sebuah drama, mereka hanya melirik sekilas ke arahku yang keberatan menggeret koper kemudian tidak memperdulikanku lagi.


Aku berlalu tanpa berpamitan pada mereka, karena pasti yang ku dapat hanyalah penghinaan.


"Non, mau kemana?" sergah bi Inah saat aku hampir keluar.


"Saya harus pergi bi. Ini bukan rumah saya" balasku, kemudian mengelus punggung tangan bi Inah sembari tersenyum.


"Tapi non kan istrinya mas Dev, lagipula non mau pulang kemana?"


Aku tersenyum menyiratkan aku tak ingin menceritakan semuanya "Bibi tenang saja, saya akan baik-baik saja. Oh iya, tolong sampaikan salam saya pada om Sanjaya dan Alea. Mereka bisa mengunjungi saya nanti"


"Tapi non, bagaimana kalau tuan bertanya, apa yang harus saya katakan?"


"Bibi tidak perlu menjawab apapun, saya yang akan menjawab pertanyaan mereka"


Cairan bening di pelupuk mata bi Inah sudah menggenang sejak tadi, seakan menunjukkan kesediahan karena aku akan pergi.


Cairan bening itu akhirnya sedikit lolos dari matanya yang sayu, namun dengan cepat aku menyapunya dengan jariku.

__ADS_1


"Jangan menangis bi, saya akan baik-baik saja. Bibi tidak perlu mencemaskan saya" ucapku seraya mengurai pelukan pada bi Inah. Orang yang selalu bersikap baik padaku selama aku disini.


"Biarkan dia pergi bi! " teriak ibu mertuaku dari ruang keluarga tanpa menoleh.


Aku bisa mendengar dengan jelas nada tidak sukanya padaku.


"Saya pamit, assalamu'alaikum" ucapku dan mengayun kembali langkahku keluar rumah.


"Wa'alaikum salam" balas bi Inah dan melambaikan tangannya.


.....


"Jalan pak" kataku pada sopir taksi online yang sudah menunggu dari tadi.


Aku pikir akan mencari rumah kontrakan saja dulu di daerah tempatku bekerja, memulai hidup baruku dengan pekerjaan dan status yang mungkin akan baru juga.


Setidaknya aku bisa hidup tenang setelah ini, hidup normal tanpa banyak cacian dari sana sini.


Aku bercakap-cakap dengan pemilik kontrakan sembari memeriksa tempat yang akan ku tinggali. Beberapa menit kemudian aku menemukan tempat yang menurutku layak untukku. Sebuah rumah dengan nuansa merah putih yang memiliki dua kamar kecil, serta dapur dan satu kamar mandi lengkap dengan perabotan yang diperlukan, sepertinya baru selesai di renovasi karena bau catnya masih menyengat di hidungku, juga tembok-tembok yang masih bersih.


Sesudah bertransaksi dengan pemilik kontrakan, aku segera membereskan beberapa barang-barangku yang sesak di koper, untung saja aku masih punya tabungan saat bekerja di bank swasta, mungkin masih cukup untuk beberapa bulan kedepan.


*-*-*-*-*-*-*-*-*


Srekk


Dave mengerem mobilnya dengan cepat saat berada di depan rumahnya dan langsung menghambur ke dalam rumah dengan wajah panik.

__ADS_1


"Teri! "


"Teri! "


Suara Dave menggema memenuhi rumah besar milik keluarga Sanjaya, dengan langkah besar Dave menaikki anak tangga menuju lantai atas, kemudian membuka handel pintu kamar Teri dengan keras dan tidak menemukan siapapun disana, Dave juga membuka lemari pakaian Teri dan tak ada yang tersisa.


Langkahnya kembali menuruni anak tangga dengan sedikit berlari sambil berteriak-teriak.


"Teri Teri!" namun tak ada jawaban dari sang empunya nama.


Bi Inah yang menyaksikan Dave berteriak-teriak tidak jelas mencoba mendekati Dave. Sebelum bi Inah memberitahunya Dave sudah lebih dulu bertanya "dimana Teri bi?" katanya.


"Saya tidak tahu mas, tapi non Teri sudah pergi sekitar 3 jam yang lalu".


"Apa dia memberitahu bibi dia akan pergi kemana?" kata Dave cepat dengan tangan kanan berkacak pinggang serta tangan kirinya menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Tidak mas, dia juga hanya menitipkan salam untuk tuan besar dan non Alea"....


Setelah mendengar jawaban bi Inah, Dave berlalu membawa mobilnya dengan kecepatan penuh dan wajah panik.


"Kemana kau pergi. Bukankah aku belum memberikan kepastian akan menceraikanmu atau tidak" lirih Galih sambil terus melajukan mobilnya menuju Bandung, lagi.


.


.


.

__ADS_1


.


...Like dan vote yaa dear :*...


__ADS_2