
Aku duduk di sofa ruang keluarga setelah melakukan ibadah sholat maghrib. Tak lama papa datang dan mendudukkan pantatnya disampingku. Aku mengurai pelukanku pada papa, orang yang paling berjasa dalam hidupku. Aku menyayanginya. Bahkan sangat.
"Aku kangen sama papa" kataku dengan nada manja.
"Loh baru juga sehari. Dimana Dev? "
Pertanyaan itu lagi pikirku.
"Dia ngga bisa ikut pa, dikantornya lagi banyak kerjaan" ujarku.
"Kamu minta izin kan sama dia kalau mau kesini? "
Papa melepas pelukannya, memegang bahuku dengan tatapan menyelidik.
"Tentu saja papa"
Aku berusaha mengalihkan pandangan dari matanya, kemudian melepaskan tangannya yang menggenggam bahuku.
Lalu..
"Aku juga bilang kalau aku akan menginap beberapa hari disini" sambungku.
"Sayang, jangan meninggalkan suamimu sendirian itu ngga baik, apalagi sampai jauh begini. Papa hanya takut kalau-kalau suamimu bersama perempuan lain saat kamu tidak ada"
Sesak. Aku ingin mencurahkan semua yang terjadi dalam rumah tanggaku pada sosok lelaki yang membesarkanku ini. Wejangan papa seolah menggambarkan kejadian yang sebenarnya, apa mungkin papa sama seperti mama masing-masing dari mereka sudah memiliki firasat saat aku datang kesini.
Andai papa tau. Bukan maksudku berburuk sangka pada suami sendiri tapi aku merasa dia memang punya perempuan lain. Batinku.
"Insya Allah ngga ko pa, aku tau dia ngga kayak gitu"
Aku ingat sebuah pepatah yang akrab didengar telinga bahwa 'ucapan adalah doa' berharap semua ucapan baikku dan harapan yang tersirat dalam setiap ucapanku benar adanya.
"Syukurlah kalau begitu"
Sebenarnya papa khawatir sama kamu nak, papa merasa Dave tidak menyukai pernikahan ini. Ditambah lagi ibunya Dave membenci keluarga kita. Lirih papa dalam hati.
__ADS_1
"Paa, sayang ayo makan"
Pekikan mama dari dapur melengking terdengar sampai ruang keluarga, aku dan papa yang asik menonton moto gp sontak menoleh kearah dapur bersamaan kemudian saling tatap.
"Sejak kapan mama bisa ngomong keras gitu pa? "
Aku dan papa tertawa. Baru kali ini aku dengar mama berteriak, tapi bukan memarahi seseorang.
"Papa juga ngga tau biasanya mama kamu kalau manggil tuh nyamperin terus ngomongnya lembut banget gapernah kayak gini" jawab papa.
Bahkan aku dan papa sudah sampai meja makanpun kami berdua masih tertawa dan sesekali bertukar pandang. Sedangkan yang ditertawakan hanya mengernyitkan dahi.
"Ngobrolin apasih asik banget kayaknya? " tanya mama sembari menyusun makanan diatas meja.
"Itu tuh tadi kita berdua nonton ibu-ibu suaranya kenceng banget sampe kaget dengernya. Padahal ngga pernah tuh ibu-ibu yang itu ngomong kenceng"
Aku dan papa tergelak lagi, kali ini mama juga ikut tersenyum tapi masih tidak mengerti duduk permasalahannya.
"Mama bisa ngomong kenceng ngga ma? " tanyaku.
"Bodo amat ma. Aku laper"
Kali ini aku yang kena bully dua orangtua ini. Mereka tergelak melihatku manyun sambil mengunyah makanan.
********
Disisi lain.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.47 wib. Dave kini sudah berada dirumah Leonna, kekasihnya. Jauh sebelum menikah dengan Teri, Dave sudah menjalin hubungan dengan Leonna Claudia, seorang model majalah dewasa. Leonna belum mengetahui kalau Dave sudah menikah karena Dave tidak pernah memberi tahunya.
Keduanya tengah berada di sofa dalam kamar Leonna, Leonna yang duduk diatas sofa dan Dave tiduran dipahanya.
"Sayang ini cincin apa? Ko kayak cincin pernikahan" tanya Leonna dengan intonasi agak tinggi.
"Ini memang cincin pernikahan"
__ADS_1
"Apa?!" Leonna memekik dengan keras hingga membuat Dave menutup telinganya.
Leonna memasang wajah kesalnya, dia bersidekap dada dan memalingkan pandangannya dari Dave. Dave pun segera bangkit dan merubah posisinya. Dave memegang dagu Leonna agar menatap kearahnya, sekarang mereka berhadapan.
"Sayang, dengarkan aku"
Leonna tetap mencoba menalingkan wajahnya, tapi Dave menahannya.
"Sayang hey, dengarkan aku. Ini memang cincin pernikahan, aku terpaksa menikahi anak dari kaka angkat ayahku karen kakek lagi kritis waktu itu, dan dia memintaku untuk menikah dengannya. Aku tidak bisa menolaknya sayang"
Leonna kembali mencoba memalingkn wajahnya lagi, tapi tetap tidak bisa karena Dave menahannya.
"Sayang, percayalah aku hanya mencintaimu. Ngga ada perempuan lain dihatiku. Secepatnya aku akan menceraikan dia dan menikah sama kamu".
Kemudian Dave membenamkan wajah Leonna di dadanya, Leonna menangis sesenggukan tapi senyum licik mengembang di bibirnya.
Selagi harta kamu banyak, apapun akan aku lakukan untuk bisa dapetin kamu dan menguras semua kekayaan kamu. Haha.
Dalam hatinya Leonna berkacak pinggang. Tidak peduli Dave punya banyak istri yang penting ia bisa punya apapun dari uangnya Dave.
"Janji" lirih Leonna.
"Janji" balas Dave.
"Kalau gitu malem ini kamu nginep disini temenin aku yah"
"Ngga bisa malem ini sayang"
"Pasti kamu mau nemenin istri kamu kan. Katanya kamu ngga cinta sama dia" Leonna cemberut lagi.
"Bukan nemenin sayang. Aku harus nyelesain urusan aku sama dia biar kita bisa cepet nikah. Yah"
Dave mengelus pipi Leonna lembut.
"Yaudah"
__ADS_1
"Aku pergi dulu. Dah" Mencium pucuk kepala Leonna lembut.