Never Hate

Never Hate
Haruskah berpisah?


__ADS_3

Selesai membereskan barang-barang yang aku keluarkan tadi, aku mulai membuka percakapan dengan Dave.


"Aku sudah kehilangan orang tuaku, aku juga kehilangan kakek, kalau kamu mau pergi juga dari hidupku silahkan. Aku tau kamu tidak suka dengan pernikahan ini, ibumu juga tidak suka padaku. Aku akan membebaskanmu dengan siapapun setelah kita bercerai. Aku tidak akan mengambil sepeserpun dari harta kakek karena aku sadar aku bukan siapa-siapa di keluarga ini. Aku akan memulai kehidupanku yang baru sendiri" kataku seraya mengambil koper yang tergeletak di sudut kamar.


Aku sudah lelah menangisi semua ini, sekarang bukan saatnya untuk terus menangis. Aku harus bisa mengikhlaskan semuanya, kehilangan, ditinggalkan, itu semua sudah takdir yang Maha Kuasa dan aku tidak bisa membantahnya.


Satu persatu pakaianku yang ku tinggalkan dirumah kakek, aku masukkan kedalam koper sampai tak ada yang tersisa di lemari, tak luput aku membawa beberapa barang yang ku anggap berharga.


"Aku akan pulang ke rumah, dan membereskan beberapa barangku yang ada disana. Jangan khawatir, aku akan pergi dari kehidupan kalian. Aku tau kau sangat tidak nyaman dengan kehadiranku sejak dulu, kau yang selalu cemburu padaku karena merasa kakek lebih menyayangiku daripada dirimu, dan selalu mencoba menyingkirkanku dari kehidupan keluargamu"


Aku menghela nafas kasar dan berjalan menuju pintu, aku berhenti sejenak saat berada di ambang pintu tanpa berbalik


"Oh iya, aku harap kau bisa meminta maaf pada kakek karena sudah berpikiran buruk tentangnya. Kau tau setiap hari kakek memandangi wajahmu di foto dia sangat menyayangimu, dia juga selalu mendoakanmu di setiap sholatnya. Setiap hari juga dia menelpon ibumu hanya untuk bicara denganmu, tapi ibumu selalu bilang kalau kau tidak ada dirumah. Tapi apa, kau hanya mengunjunginya setahun sekali, itupun tidak lama. Sungguh miris sekali bukan?Berhentilah berpikiran buruk Dev, tidak semua yang kau lihat dan kau pikir itu benar adanya. Aku pamit assalamu'alaikum".


Kemudian aku berjalan keluar kamar meninggalkan Dave yang masih berdiri memandang keluar dari jendela kamar.


 


"Wa'alaikum salam" lirih Dave pelan setelah melihat taksi yang ditumpangi Teri melaju meninggalkan jalanan komplek.


Dave menghelas nafas dan mengusap wajahnya kasar. Langkah besarnya pergi meninggalkan rumah kakeknya yang tanpa penghuni itu. Dave masuk kedalam mobil dan melaju dengan cepat. Saat ini dia tidak tau akan melakukan apa, dia sangat merasa bersalah pada kakeknya, juga permintaan Teri yang membuatnya bingung menghantui pikirannya.


Dave menghentikan mobilnya di pinggir jalan"Apa yang harus aku lakukan? Aargggh" Dave memukul-mukul setirnya dengan keras dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.

__ADS_1


"Ini kesempatanku untuk menyingkirkan dia dari hidupku, tapi kenapa aku merasa ragu seperti ini" katanya.


******


Setelah menempuh perjalanan Bandung-Jakarta selama kurang lebih 6 jam, Teri akhirnya sampai dirumah mertuanya.


"Assalamu'alaikum" sapanya saat berada di depan pintu.


"Wa'alaikum salam" jawab seseorang dari dalam rumah.


Samar-samar terdengar suara perempuan tertawa dari dalam, kedengarannya sangat bahagia.


Tak lama bi Inah membukakan pintu untuk Teri, dan mempersilahkannya masuk.


"Makasih bi" kata Teri dengan senyum.


"Perempuan itu" batin Teri berucap.


Teri merasa familiar dengan wajah perempuan yang sedang tertawa bersama mertuanya, ingatannya terbayang kejadian dimana dia menabrak seseorang sesaat setelah mengajukan surat lamaran pada sebuah perusahaan hari itu. Ya dia adalah perempuan yang bertabrakan dengan Teri tempo hari.


Sedang apa dia disini? ada hubungan apa dia dengan ibu? Kenapa mereka terlihat sangat akrab. Cercaan pertanyaan di otak Teri membuatnya pusing, untuk apa memikirkan urusan orang lain, pikirnya.


"Assalamu'alaikum bu"

__ADS_1


Teri berucap saat mendekati keduanya.


Tawa mereka yang tadinya mengembang, seketika berubah sinis saat melihat Teri berdiri di samping ibu mertuanya.


Bukannya menjawab salam dari Teri keduanya malah mengatakan hal yang diluar dugaan.


"Kebetulan kamu kesini. Ini Leonna, calon istrinya Dev" katanya.


"Leonna Jennielma. Pacarnya Dev" balasnya dengan angkuh.


Awalnya Teri terkejut, tapi kembali dia berhasil menyembunyikan perih dihatinya.


"Syukurlah mas Dev sudah memiliki wanita yang dicintai dan mencintainya. Aku ikut bahagia. Mbaknya tenang saja, kami akan segera berpisah" balas Teri dengan senyum.


Leonna mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Teri, dia tidak menduga kalau lawannya akan semudah ini untuk ditaklukkan.


"Baguslah kalau kau sadar diri. Segeralah pergi dari kehidupan kami, aku tidak mau membagi cintaku dengan orang lain" ujar Leonna ketus kemudian mengambil remot tv dan menyandarkan bahunya ke sandaran sofa dengan sombong.


.


.


.

__ADS_1


.


tbc.


__ADS_2