
Setelah semalam tidak pulang, pagi ini Dave terlihat memarkirkan mobil di garasi. Teri yang baru selesai membuat sarapan melihat suaminya itu masuk rumah dengan pakaian lusuh dan rambut berantakan.
Teri menyalami suaminya dan menyadari bau tubuh suaminya itu tak seperti biasa
"Semalem kamu darimana mas? ko bau kamu aneh"
Teri mengendus lengan baju Dave dan membuka jaket suaminya itu dengan cepat.
Bau parfum perempuan. Perempuan mana? Siapa? Meski Teri tidak pernah mencium bau parfum Dave, tapi dia tau bau laki-laki dan perempuan berbeda.
Pikiran Teri kembali pada kejadian semalam, perempuan difoto itu, panggilan dari seseorang di malam hari, apa mungkin suamiku main api? lirih batinnya.
Ku akui, aku tidak cukup tau sosok suamiku. Apakah mungkin disini aku yang jadi orang ketiga, atau aku yang tidak berharga.
"Ini bukan urusan kamu. Ah ya aku lupa jangan pernah mencampuri urusan pribadiku, mengerti!" ucap Dave kasar.
"Awas minggir"
Karena tubuh Teri yang kecil, tubuhnya sampai terhuyung ke belakang karena Dave. Teri tak dapat lagi menahan air matanya, tanpa aba-aba seketika langsung berselancar di pipinya. Ia segera melemparkan pantat dan duduk dikursi. Menatap makanan yang tersusun rapi diatas meja kemudian menundukkan kepalanya dalam.
Cukup lama Teri menundukkan wajahnya, mencoba berdamai dengan hati, mengesampingkan perasaannnya demi keluarga yang disayangi. Sampai tak lama ayah mertuanya datang dengan istrinya.
Melihat menantunya tertunduk sangat dalam sampai tidak menyadari kedatangan mereka membuat Sanjaya heran. Saat suara sebuah kursi ditarik Teri segera menyeka airmatanya menggunakan punggung tangan kemudian mengangkat kepalanya diiringi senyuman.
"Ada apa nak? Apa Dev melakukan sesuatu padamu?"
__ADS_1
"Ngga yah, Teri cuma kangen sama mama dan papa" jawab Teri. Maafin Teri yah, Teri terpaksa berbohong batinnya.
"Halah baru juga semalam disini" Ibu mertuanya menimpali dengan ketus.
"Iya bu, mungkin karena dari kecil Teri tidak pernah jauh dari mereka, jadi selalu merasa rindu jika tidak melihatnya" balas Teri tetap dengan senyum.
"Kalo mau pulang pulang aja, sekalian ngga usah balik lagi" ketus seperti tadi.
"Ko ibu ngomongnya gitu? "
"Gadis kampungan kayak kamu ngga cocok buat anak saya"
Jleb. Seperti panah api yang melesat menusuk relung hatinya, senyum Teri yang tadi mengembang sirna ditelan waktu. Sakit. Satu kata itu cukup mewakili perasaannya saat ini. Ternyata bukan hanya suaminya yang tidak suka padanya, tapi ibu mertuanya juga.
"Bu! "
"Sebelumnya aku minta maaf bu, aku memang tidak seperti perempuan diluar sana, mungkin ibu menganggapku kampungan karena pakaianku. Tapi bu, bukankah menutup aurat itu suatu kewajiban untuk umat muslim"
Merasa tidak memiliki jawaban untuk kalimat Teri, Luna hanya diam dan memakan makanannya dengan kasar. Kemudian pergi dengan sarkas.
Jika dipaksakan, ingin sekali rasanya Teri pergi dari rumah ini, bercerai dengan suaminya dan mencari lelaki yang lebih bisa menghargainya. Tapi itu tidak mungkin, ia sudah berjanji pada kakeknya untuk tidak berpisah dengan Dave, apalagi dalam islam perceraian adalah salah satu perbuatan yang dibenci Allah, jika Allah saja sudah membenci perbuatannya manusia mana yang akan menyukainya.
"Maafkan ibumu ya, dia memang seperti itu" ucap Sanjaya lembut.
"Ngga papa yah. Oiya yah, hari ini Teri mau melamar pekerjaan di daerah Senayan. Rencana setelah itu Teri akan pulang dulu ke Bandung sekalian melihat keadaan kakek, kemungkinan Teri akan menginap disana, mungkin satu atau dua hari jadi ayah tidak perlu mengkhawatirkan Teri"
__ADS_1
"Kamu pergi sama siapa?"
"Sendiri yah"
"Kenapa ngga sekalian sama Dave aja, kantornya Dave juga di daerah itu. Apa Dave ngga ikut kamu ke Bandung?" tanya Sanjaya heran.
"Teri bisa pergi sendiri ko yah, nanti mas Dave nyusul, Teri juga ngga mau ngerepotin mas Dave"
"Yasudah kalau kamu maunya begitu, hati-hati dijalannya"
Teri mengangguk. Selanjutnya hanya ada keheningan di meja makan, yang terdengar hanya dentingan sendok mengenai piring.
Maafkan hambamu ya Allah, untuk semua kebohongan ini. Batin Teri.
*****
Teri povv
Ku ambil map coklat yang kutaruh diatas nakas semalam, kutatap diriku didepan cermin kemudian tersenyum. Aku bersyukur karena Tuhan masih memberikanku anggota tubuh yang lengkap dan berfungsi dengan baik.
Saat keluar dari kamar kulihat Dave juga sudah rapi dengan pakaiannya, suamiku itu memakai jas berwarna biru dongker dan dasi berwarna senada, tampan pikirku. Jika dilihat dari luar wanita mana yang tidak mau dengan suamiku yang tampan dan mapan itu.
Ah sudahlah!
Dave menatapku dengan tajam saat langkah kami bersamaan menuju tangga, tangannya yang mengancingkan jas semakin membuat sisi karismatiknya memuncar, membuatku sedikit terpaku namun segera sadar mengingat perlakuannya yang tidak seperti penampilannya.
__ADS_1
Apa aku berdosa jika suatu saat aku mencintai atau membenci suamiku sendiri? pikirku saat itu.