Never Hate

Never Hate
Sekali hilang, semua!


__ADS_3

"Apa!? " kakek memekik dengan suaranya yang berat.


"Pah, papa tenanglah"


"Kek"


Kakek"


Semuanya mengkhawatirkan kakek. Ibu mertuaku juga sedang melakukan aktingnya, memanggil nama kakek dengan suara yang bergetar.


Benar saja apa yang kami takutkan, penyakit jantungnya kambuh, kakek kejang-kejang dan susah bernafas, matanya menatap tajam keatas dengan tubuh yang gemetar.


"Dokter!!" Teriak Dave sambil berlari kearah pintu.


Sepersekian detik seorang dokter dan suster datang dan langsung memeriksa kakek.


"Maaf pak bu, anda sebaiknya keluar dulu kami akan memeriksanya" kata dokter itu "Suster siapkan CPR" sambungnya.


"Baik dok"


Beberapa kali dokter melakukan resusitasi jantung pada kakek tapi tetap saja jantungnya tidak merespon, aku dan semuanya sudah sangat panik, air mataku mengalir melihat keadaan kakek yang terkulai lemas diatas ranjang saat ini. Cemas, gelisah, sedih semuanya bercampur dihatiku, langkahku mundar-mandir dilorong rumah sakit dengan mata sembap. Belum hilang sedihku karena kehilangan kedua orangtua aku tidak bisa membayangkan kalau aku harus kehilangan kakek juga.


Tiiiiit


Bunyi panjang dari monitor di samping ranjang kakek membuatku tersentak, meski dari luar aku bisa mendengar jelas bunyi itu.


Saat dokter dan suster yang memeriksa kakek keluar dari ruangan, aku langsung manghampirinya dengan cepat


"Bagaimana keadaan kakek saya dok?"

__ADS_1


"Maaf sekali bu, pak, kami sudah berusaha yang terbaik"


"Maksud dokter apa?!" pekikku dan mencengkram lengan baju dokter.


"Kakek anda tidak bisa kami selamatkan".


"Ngga mungkin!! Dokter pasti bohong! Kakeek!!"


Aku memekik sangat keras dan menghambur kedalam ruangan tanpa memperdulikan siapapun. Ayah mertuaku mengikutiku dari belakang, disususul Dave dan ibu mertuaku. Semuanya menitikkan air mata termasuk ibu.


Dave terlihat memijit keningnya, kemudian berbalik badan, sepertinya dia tidak ingin terlihat lemah dihadapanku.


"Pah, maafkan aku. Kalau saja aku tidak memberitahumu soal kematian kaka, kejadiannya tidak akan seperti ini".


"Paman, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Qulu nafsin dzaa'iqotul maut. Semua yang bernyawa pasti akan mati"


"Tapi nak, kalau saja tidak secepat ini kita beritahu kakek, kakek juga tidak akan meninggal secepat ini"


Sepertinya kemenangan akan berpihak padaku, tua bangka ini sudah pergi, tinggal satu penghalang lagi. Dan wanita kampungan ini akan menjadi sebatang kara. Sekilas aku melihat senyum sinis yang terkulum dibibir ibu.


Maafkan hambamu ya Allah, bukan maksudku suudzon tapi aku merasa ibu mertuaku punya maksud yang tidak baik pada keluarga ini. Batinku.


*******


Keesokan harinya setelah pemakaman kakek, aku mengurung diri dikamar sendirian, paman, bibi, semua sudah pulang ke Jakarta, hanya Dave yang masih tinggal. Aku membuka beberapa kotak warna-warni yang kusimpan didalam lemari, kenangan bersama kelauargaku dari 14 tahun yang lalu sejak aku berumur 9 tahun sampai aku lulus kuliah setahun yang lalu.


Kubuka kotak pertama warna kuning dengan catatan 1994-1996, ada banyak barang-barang anak kecil disana seperti ikat rambut, jepit rambut, lalu koin bergambar kelapa, kotak musik dengan potret keluarga yang lengkap dan beberapa foto masa kecilku bersama mama, papa serta kakek. Aku sangat lugu di salah satu foto , dengan baju beewarna merah muda dan kerudung yang sama warna, aku tersenyum dan memiringkan kepalaku menghadap kamera. Ada juga mama dan papa yang sedang memelukku bersamaan, kemudian kakek yang sedang menggendongku dengan berlari-lari kecil.


Sayang. Semuanya hanya tinggal kenangan, kenapa saat duniaku berubah, semua orang yang perduli padaku meninggalkanku.

__ADS_1


"Teri! " teriak Dave dari luar "buka pintunya" katanya.


Aku dengar, tapi kutahan suaraku, saat ini aku sedang ingin sendiri. Mempersiapkan diri menghadapi cobaan baru yang mungkin akan segera menerpaku lagi.


"Teri buka pintunya! " Suara Dave terdengar kesal sekarang.


"Aku ingin sendirian" lirihku dengan malas.


"Buka pintunya atau aku dobrak! " pekiknya.


Ada hal penting apa yang memaksanya ingin masuk pikirku.


Dengan malas aku memutar kunci yang menempel di pintu. Ya, hanya memutar kuncinya tidak membukakan pintunya.


Dave masuk dengan wajah kesal, rahangnya meninggi dan sorot matanya menyiratkan kalau dia sedang marah padaku. Baru kali ini aku melihatnya seperti itu, biasanya dia hanya mneunjukkan pandangan dingin tidak suka, bukan kemarahan.


"Kau mau menjadi istri durhaka hah?. Kenapa tidak mau membukakan pintu untukku? "


"Aku sedang malas berdebat hari ini" ucapku dan duduk diranjang lagi, mengemasi barang-barang yang aku keluarkan dari kotak tadi.


Dave yang masih kesal padaku hanya berkacak pinggang menghadap jendela kaca yang mengarah ke balkon. Tiba-tiba aku berpikir akan lebih baik jika tanpa Dave, untuk apa mempertahankan rumah tangga yang tanpa didasari cinta dan ibadah ini. Aku yakin kakek juga akan mengerti perasaanku, jika dia tau aku tidak bahagia dengan pernikahan ini dia pasti akan memintaku hal yang sama juga.


°


°


°


°

__ADS_1


...Like dan vote ya dear:*...


__ADS_2