Noda Darimu

Noda Darimu
Bab 11 Tertangkap


__ADS_3

Waktu yang dilalui Gilda di dalam mobil lebih dari satu jam. Bahkan hampir dua jam perjalanan ke rumah lama orang tuanya. Akhirnya taksi online ini berhenti, dan Gilda menyodorkan tiga lembar uang lima puluh ribuan pada sang sopir setelah mengambilnya dari dalam tas. Tak lupa berterima kasih sebelum benar-benar keluar.


Gilda lantas berbalik badan setelah taksi tersebut pergi. Ia tersenyum singkat saat menatap rumah sederhana di depannya yang sudah lama tidak ia kunjungi. Dengan langkah pelan, Gilda melewati pagar sederhana nan mungil.


Tangannya tanpa ragu meraba sofa berdebu. Mengambil sesuatu dari belakang sofa, di mana tempat tersembunyi itu untuk meletakkan kunci rumah. Gilda dengan menarik napas dalam-dalam mulai menurunkan gagang pintu setelah kuncinya memutar di lubangnya.


Perlahan-lahan kakinya masuk dengan perasaan yang tidak tenang. Walaupun Gilda jarang menonton film hantu, tapi ia mulai merinding jika datang ke tempat yang lama tak dirawat. Bahkan Gilda tidak berani menutup pintu rumah, agar mendapat penerangan dari lampu luar.


"Terakhir kali ke mari beberapa bulan lalu ...," gumamnya sambil merogoh tasnya. Gilda mengambil ponsel dan menyalakan senter.


Tepat saat senter menyala, ia mendengar suara langkah kaki dari luar rumah.


Gilda yang kaget, balik badan dan mengarahkan senter gawainya ke luar. "E-ED?! Kenapa kau ... kenapa kau bisa tahu aku di sini?!" Gilda bergetar ketakutan kala melihat kepala Edzhar menunduk dan kakinya terus melangkah masuk. Membuat Gilda terus menghindar dengan jalan mundur.


"Kau takut Gil? Kau takut karena aku menyentuhmu, sampai kau memilih kabur?" Gilda tidak menjawab, dan fokus pada pergerakan Edzhar yang terus melangkah padanya. "Mengapa kau takut? Bukankah kita sudah pernah melakukannya? Dan sekarang kau hamil dari bibitku," sahut Edzhar panjang lebar dan makin mendekati Gilda yang tak berhenti melangkah mundur. "Jika kau menolakku karena alasan Carla, itu urusanku."


"Sudah cukup kau menyakitiku dan menyakiti Carla karena pernikahan sementara ini, Ed." Gilda menggeleng saat Edzhar makin dekat dengannya. "Aku tidak ingin semakin terikat padamu kalau kau menyentuhku lagi selain malam itu. Sudah cukup, Ed."


Keduanya masih berputar di ruang tamu. Dengan Edzhar yang terus melangkah maju, dan Gilda yang bergerak mundur. Gilda menelan ludahnya takut, karena di ruang tamu tidak ada barang apa pun selain sofa dan meja berdebu.


"Kumohon, kembalilah seperti dulu. Kita sahabat, dan seperti katamu ... aku bukan wanitamu."


"Tapi kau istriku selama satu tahun penuh."


Gilda mendelik mengingat surat perjanjian itu. Tidak, dia tidak lupa kalau sudah setuju dengan menandatanganinya. Akan tetapi, dia lupa kalau tugas salah satu seorang istri adalah melayani suami.


"Aku berhak melakukan apa pun padamu selama itu. Jika kau melanggar kontrak, aku pun berhak menghukummu. Jangan lupa, kau sudah tanda tangan."

__ADS_1


"Ta-tapi, kau punya Carla! Apa kau tidak peduli perasaannya?"


"Kau istriku, dan sudah tugasmu melayaniku," jawab Edzhar yang tiba-tiba berlari cepat ke arah Gilda.


Wanita yang terkejut itu belum sempat berlari, dan kini pinggangnya sudah dililit oleh dua tangan Edzhar dari arah belakang. Ponsel Gilda pun terjatuh dengan sendirinya saking terkejutnya, dan membuat penerangan di sana benar-benar minim. Hanya ada kegelapan di setiap sudut ruangan.


"Ingatkan aku akan panasnya malam itu ...," bisik Edzhar tepat di belakang telinga Gilda. Salah satu tangannya melepas tas Gilda dari pundak dan membiarkannya jatuh di lantai.


Bersamaan dengan itu Edzhar mengarahkan tangan lainnya untuk masuk ke dalam kemeja yang dipakai sang istri. Sedangkan bibirnya, terus mengecup leher belakang Gilda dan memberikan beberapa hisapan. Saat tangannya mulai bergerak naik dan menemukan benda kenyal dibalut penampung, Edzhar membebaskannya.


Suara permintaan untuk berhenti dari Gilda pun terus memenuhi telinganya. Namun, sama sekali tidak dikabulkan karena Edzhar benar-benar ingin merasakan tubuh Gilda. "Aku tahu kau menginginkannya ... berhenti bersikap munafik ...," bisik Edzhar kala dua tangannya sudah menggapai milik istrinya yang hampir pas di tangan.


"Kita sudah melewatkan malam pertama. Jadi, layanilah suamimu sebaik mungkin ...."


Gilda yang berusaha sadar, makin terganggu kala bagian bawahnya sudah mendapat sentuhan. Bahkan, jari Edzhar dengan mudahnya masuk dan membelai. Gilda yang terkejut sekaligus merasa terdorong, mendongak dengan dua tangannya berpegangan pada lengan berotot milik Edzhar.


Gilda yang terbuai akan sentuhan Edzhar di bawah sana justru mengeluarkan *******, seakan tuli pada pertanyaan barusan. Karena tahu fokus Gilda makin menipis, tangannya berhenti bermain di dalam kemeja dan segera melepas kancing Gilda satu-persatu.


Sedangkan Gilda mulai menyebut nama Edzhar saat jari lelaki itu berhasil masuk dan membuatnya basah.


"Bagus, sebut namaku ... buat diriku tertarik padamu, Gil," bisiknya kala berhasil melepas pakaian luar dan dalam yang dikenakan Gilda, dan kini sudah jatuh di lantai.


Edzhar memutar badan Gilda yang atasnya sudah tak tertutup apa pun, hingga kini mereka berhadapan. Walau begitu, tangan Edzhar yang di bawah kembali bergerak setelah terlepas sebentar. Membuat Gilda yang mulai lemas itu berpegangan pada pundak Edzhar.


Keduanya saling melempar tatapan dalam kegelapan. Dengan Edzhar yang menatap penuh hasrat, dan Gilda memandangnya dengan penuh penyesalan. Edzhar semakin menggodanya dengan pergerakan jari di bawah maupun bagian atas tubuhnya.


"Apa yang sebenarnya membuatmu begini, Ed?" tanya wanita itu sebelum tubuhnya bergetar dan menyembunyikan mukanya di dada bidang Edzhar yang masih tertutup kaos hitam lengan pendek. "Jika Carla tahu kau melakukan ini lagi denganku, aku akan semakin merasa bersalah ... apa kau ingin aku merasakan itu?"

__ADS_1


"Aku mengetahui perselingkuhan Carla dengan Kendrick," ungkap Edzhar yang tiba-tiba membuat Gilda mendongak.


"Ka-kau tahu mereka berhubungan di belakangmu?"


"Sudahlah, ini urusanku. Sekarang aku menginginkanmu. Aku sangat menginginkanmu, Gil," ucap Edzhar penuh ketegasan.


Kedua manusia yang dipenuhi oleh api yang membara di dalam diri mereka masing-masing, tak bisa lagi memadamkannya. Malam ini, sepasang suami istri yang sudah sah melakukan malam pertama di rumah kosong milik orang tua Gilda yang sudah lama tidak dibersihkan. Hasrat keduanya yang membuat malam terasa panas, walaupun hawa di luar begitu dingin.


Entah pengaruh setan di sana yang menggoda Gilda untuk setuju, atau memang hatinya yang mendamba, Gilda benar-benar melakukannya bersama Edzhar. Kali ini tak ada alkohol yang mempengaruhi keduanya. Semuanya murni terjadi dengan kesadaran yang sama-sama utuh.


"Apa kau melakukan ini padaku semata-mata untuk melampiaskan amarahmu pada Carla?" tanya Gilda yang sudah dibaringkan di sisi kanan Edzhar beberapa menit lalu. Keduanya sudah selesai bertempur, dan malam juga sudah berganti menjadi dini hari. Gilda yang menguap mencari posisi ternyaman untuk tidur


Edzhar yang memainkan rambut panjang Gilda menggeleng. "Aku tidak tahu, yang jelas ... aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat kemarin sore." Tangan kirinya tengah mengelus perut rata Gilda yang tak terhalang apa-apa, setelah ia menyingkap kemeja Gilda.


Gilda yang menikmati sentuhan Edzhar itu mulai terhanyut. Kantuk makin menghampiri, membuat matanya enggan terjaga. Edzhar yang tahu Gilda sudah lelah, sengaja mengusap perut dan rambut agar wanita sepasang mata berbulu lentik itu terpejam.


"Apakah mulai hari ini kau akan mencoba untuk pelan-pelan memberikan cintamu padaku, Ed?" tanya Gilda sebelum kantuk merenggut kesadarannya sepenuhnya.


Edzhar yang semula mengusap-usap rambut Gilda, berhenti mendadak. Kepalanya menoleh ke kanan, di mana wajah Gilda yang sudah tertidur terlihat lelap di matanya. Lengan kencangnya menjadi tumpuan kepala sang istri.


“Aku sangat mencintai kekasihku,” ungkap Edzhar sembari menarik tangannya dari perut Gilda. “Bahkan sangat sulit mengusir Carla dari hatiku, walaupun aku tahu ... dia telah memancing amarah dan kekecewaanku,” lanjutnya. Edzhar membetulkan semua kancing kemeja Gilda sebelum beranjak dari sofa.


Kemudian ia memungut kaosnya yang belum sempat ia pakai. Edzhar juga berhasil menggapai ponsel Gilda setelah kesusahan mencari. Walaupun rumah itu gelap, cahaya dari rumah sekitar berhasil masuk lewat pintu yang sampai sekarang tidak ditutup oleh Gilda.


Sedangkan Gilda, ia yang masih setengah sadar dapat mendengar jawaban Edzhar. Baginya Edzhar memang sudah terlalu dalam mencintai Carla. Kau dibutakan oleh cintamu pada Carla, sampai-sampai kau rela dikhianati, Ed. Apa kau tahu, kau pria bodoh yang diperbudak oleh cinta? Apa aku harus bekerja sama dengan kakek untuk menjauh darimu?


Gilda yang masih terpejam dan membatin itu berangsur larut dengan kantuk. Ia benar-benar tertidur. Sampai dia tidak tahu, Edzhar yang sudah berpakaian lengkap kembali berbaring di sofa bersamanya. Bahkan pria itu memeluk pinggangnya dan sempat mengecup keningnya. Sepasang insan itu tidur lelap sebelum beberapa jam lagi pagi menyapa, dan sinar matahari membangunkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2