
“Berhenti tanya seperti itu padaku! Kau seperti bukan Edzhar sahabatku!” pekik Gilda seraya menahan dada bidang Edzhar agar tubuh mereka tidak bersentuhan. “Ucapanmu kotor sekali, Ed!”
Edzhar tertawa kecil, dan itu terdengar seperti ejekan di telinga Gilda. “Bukankah aku memang sudah bukan lagi sahabatmu?” Membelai wajah Gilda dengan sangat lembut, jari-jarinya menari di pipi itu sebelum meraba bibir Gilda yang tampak merekah indah. “Aku suamimu, Gil.”
“Sebelumnya kau sangat sopan, dan tidak pernah berkata kotor seperti akhir-akhir ini! Kau benar-benar berubah, Ed!”
“Itu karena kau sendirilah yang membuatku begini.” Gilda yang tak paham mengangkat alis. “Kau yang sendiri yang memperkenalkan padaku betapa panasnya malam itu,” lirih Edzhar seraya menarik kaki kanan Gilda, membuat tubuh wanita itu seketika merosot dan terlentang tepat di bawahnya. “Kau yang membuatku jadi seperti ini,” bisik Edzhar sebelum merasakan hangat dan manisnya bibir Gilda.
Gilda sekuat tenaga mendorong bahu Edzhar. Terlebih saat tangan lelaki itu sudah meraba lututnya dan makin lama makin ke atas, Gilda yang semakin gugup itu berusaha keras menjauhkan muka Edzhar. Sampai beberapa detik usahanya gagal, akhirnya Edzhar sendirilah yang melepas ciuman mereka dan menarik diri.
“Kau lanjut tidur saja, aku harus bekerja,” ucap pria itu seraya menyingkir dari ranjang. Ia keluar dari kamar tanpa menerima balasan dari Gilda, karena sang istri tengah diam sembari memegang dadanya.
“Aku tidak tahu apakah perasaanku ini salah atau tidak, tapi sekarang kita sudah menjadi pasangan suami istri, Ed. Aku sudah berjanji untuk menjaga pernikahan kita.”
Gilda pun teringat akan ucapan Dalila beberapa jam lalu. “Ya, aku akan memperjuangkan rumah tangga kita, aku juga akan memperjuangkan cintaku. Bukan hanya untuk perasaanku, tapi untuk noda darimu ini ....” Gilda mengelus singkat perutnya.
Tiba-tiba saja Gilda melirik di mana kopernya berada, yang di atasnya terdapat sebuah tas selempang putih miliknya. “Aku harus meminta tolong padanya untuk mengikuti Carla!” pekik Gilda setelah berjalan dan mengambil tas itu, mengeluarkan ponsel, dan teringat akan pembicaraannya dengan sopir pribadinya.
“Bukannya saat di mobil itu dia sudah setuju untuk kerja sama memata-matai Carla? Seharusnya hari aku bisa memulai misiku hari ini.” Menghela napas, Gilda meneruskan, “Karena kakek, aku harus mendekam di sini.” Sesudah mengirim pesan singkat, Gilda menaruh ponselnya di atas ranjang. Lalu membuka kopernya dan memilih jumpsuit floral untuk dikenakan setelah mandi sore ini.
Sementara di tempat yang jauh dari Gilda dan Edzhar berada, suara ******* wanita dan pria mengalun merdu hingga memenuhi ruang tamu apartemen milik seseorang.
“Yes, Baby! Lebih cepat!”
Kendrick mendaratkan dua tangannya pada tubuh bagian atas wanita itu. Sembari terus mengeluarkan kalimat-kalimat pujian lainnya, sang wanita menengadahkan kepalanya dan meluncurkan ******* terus-menerus. Ritme pergerakan itu pun makin lama makin cepat, hingga sang pria yang merasa puas tak ragu memuji pertempuran mereka di sore hari itu.
“Ganti posisi,” ucap pria itu yang segera mengangkat tubuh Carla. Carla menurut dan pertempuran itu kembali terjadi dengan posisi yang membuat sang pria merasa lebih puas. Selama melakukan hubungan di atas sofa itu, Carla terus mendesah dan memanggil namanya.
__ADS_1
“Apakah goyanganku lebih enak daripada pacarmu yang sudah beristri itu?” tanya Kendrick di sela-sela percintaan mereka. Carla tak langsung menjawab, ia terus menyebut nama Kendrick dan memejamkan mata. “Jawab, Baby!” seru Kendrick seraya meremas sesuatu di tubuh Carla dari belakang.
“A-aku tidak tahu! A-aku tidak pernah mencobanya!” balas Carla sebelum mulutnya kembali menerbangkan ******* yang merdu di telinga Kendrick. Kendrick yang bangga akan pujian itu semakin membuat Carla merasa panas dan mendamba sentuhannya. “Ya, kamu hebat, Ken! Aku hampir sampai!”
Tak lama kemudian keduanya melakukan pelepasan. Kendrick menarik tubuh Carla agar jatuh ke dalam pelukannya. Kedua manusia yang belum menikah itu berhenti sejenak dan saling pandang sebelum akhirnya menyatukan bibir.
“Sampai sekarang kau cuma menjaga milikmu ini untukku?” Wanita itu dengan cepat mengangguk dan tertawa kegelian. “Mengapa kau lebih memilih untuk menikah bersama Ed? Bukankah kau tahu hebatnya milikku?"
“Kau dan Ed jelas berbeda.”
“Apa bedanya? Dia sudah tidak perjaka lagi sekarang, bahkan dia sudah menikah dengan sahabatnya sendiri!” Carla mengecup bibir Kendrick dan menyunggingkan senyumnya. “Bagaimana bisa kau mau bertahan dengan pria beristri?”
“Dia lebih kaya darimu, Ken. Hidupku akan bergelimang harta jika menikah dengannya. Yah, meskipun aku tidak terlalu mencintainya. Aku ingin menguras hartanya,” ungkap Carla. Baginya lebih menggoda Kendrick, ketimbang Edzhar yang selalu memerintahnya untuk berpakaian sopan.
“Lalu, jika kalian sudah menikah nanti, apakah aku tidak bisa merasakan milikmu lagi yang enak ini?” tanya Kendrick sembari membelai, dan membuat Carla mendesah tiba-tiba. “Apa kau akan menjadi istri penurut dan menjauhiku, Baby?”
Kendrick terus memberikan belaian dan sentuhan. Membuat Carla yang meliuk-liukkan tubuhnya. “Sudah siap, Baby?” tanya Kendrick yang membuat Carla mengangguk tersenyum.
Akan tetapi, belum sempat Kendrick memasukkan senjatanya, bunyi bel di apartemen Carla terdengar. Membuat keduanya berdecak kesal, dan Kendrick buru-buru mengenakan pakaiannya dan pergi ke kamar Carla. Sedangkan Carla yang sedang mengenakan pakaian berteriak, “Ya! Tunggu sebentar!”
Sesudah merasa pakaiannya rapi, Carla buru-buru menghampiri pintu apartemen. Tanpa melirik ke lubang kecil pintu, dibukanya pintu itu. Seketika itu juga Carla mengerutkan dahi karena bingung.
“Saya tidak memesan makanan atau apa pun, Anda siapa?” tanya Carla yang membuat pria itu berdeham. “Kau siapa?” tanya Carla sekali lagi karena tidak mengenali sosok di depannya ini.
“Mungkin Anda tidak mengenal saya, tapi sepertinya temanku mengenal Anda dengan sangat baik.” Lelaki itu menoleh ke kiri, dan sosok yang ia bicarakan mendekat. Sopir pribadi Gilda itu berdiri tepat di depan Carla. “Apakah Anda ingat siapa dia?”
Carla yang semula bingung itu lantas menatap keduanya dengan tatapan membola. “Bukannya kau itu laki-laki yang bersama Gilda saat kemarin di tempat makan? Kenapa kalian ke mari?! Dan dari mana kalian tahu tempat tinggalku di sini?!”
__ADS_1
“Ikutlah dengan kami kalau Anda tidak ingin kami melaporkan perbuatan Anda pada nyonya Gilda.” Lukas mengeluarkan ponselnya dari saku kemeja hitamnya. Ditunjukkannya video rekaman saat menampar dan hendak menjambak rambut Gilda. “Tuan Mateo bisa melaporkan Anda pada polisi,” sambung Lukas sebelum menyimpan kembali ponselnya.
Carla yang mendadak merasa hatinya tidak tenang itu bertanya, “Memangnya kalian ingin membawaku ke mana?”
“Kepada tuan kami, tuan Mateo. Beliau yang akan menentukan nasib Anda setelah ini.”
“Bilang saja padanya, aku tidak akan melakukan itu lagi pada Gilda. Aku juga tidak akan mengganggu hubungan mereka. Katakan pada Gilda bahwa aku minta maaf, katakan itu saja.”
“Tidak, Anda harus menemui tuan Mateo, atau apa yang ada di ponsel saya berhasil membawa Anda ke kantor polisi.” Carla mau tidak mau menerima permintaan anak buah Mateo tersebut. Carla juga meminta Lukas dan sopir pribadi Gilda untuk menunggunya mengambil barang-barang penting lebih dulu.
Di dalam kamar, Kendrick pun bertanya setelah Carla masuk. “Ada apa? Mengapa ada Lukas di sana? Bukankah dia kaki tangan kakek Mateo?” tanya Kendrick yang melihat Carla tengah mengemasi ponsel dan dompetnya di atas nakas.
“Ya, aku diminta mereka untuk menemui pria tua itu supaya perbuatanku pada Gilda tidak dikasuskan! Menyebalkan sekali tua bangka satu itu! Sudah membuatku batal menikah, dia juga ingin aku mendekam di penjara?! Sialan!”
"Apa perlu kuantar?”
“Tidak! Dia bisa tahu kalau kita punya hubungan sejauh ini, kau gila ingin membongkar rahasia kita?!”
“Baiklah, aku tunggu kau pulang.” Kendrick mencium kening Carla. “Aku menunggumu, selesaikan urusanmu.” Setelah itu Kendrick menyambar bibir Carla, sebelum wanita itu benar-benar keluar kamar.
Sesudah yakin Carla keluar, lelaki itu mengeluarkan ponselnya. “Mateo begitu menyayangimu, sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan Mateo?” gumam Kendrick sembari mengamati foto Gilda yang kini ada di layar ponsel. “Lama menatapmu, aku jadi ingin tahu seberapa hebatnya kau di ranjang.”
Di luar, setelah Carla mengikuti ke mana Lukas membawanya, sopir pribadi Gilda yang berada di belakang Carla itu mulai mengetikkan sesuatu di ponselnya.
Antonius: Hari ini saya melihat sepatu lelaki di apartemen nyonya Carla.
Sesudah mengirimkan pesan itu pada sang nyonya, Antonius kembali menghadap depan. Ia fokus meneliti penampilan Carla. Antonius dapat melihat bulir keringat di kening Carla, hingga beberapa detik kemudian ia mendelik kaget.
__ADS_1
“Astaga! Apa itu bukti bahwa dia baru saja bercinta?” batin sopir Gilda saat tak sengaja melihat bekas ciuman Kendrick di leher bagian bawah yang tidak tertutup pakaian. Ia pun dengan sigap membuka aplikasi pesannya dengan sang nyonya. Memberitahu bahwa ada tanda ruam kemerahan di leher Carla. “Apakah itu tandanya ... ia melakukannya dengan seorang pria sebelum kami datang menjemput?” sambungnya di dalam hati.