Noda Darimu

Noda Darimu
Bab 13 Honeymoon?


__ADS_3

Gilda lantas melotot mendengar pertanyaan kotor yang keluar dari mulut Edzhar. Baru kali ini dia tahu Edzhar berani berkata vulgar. Selama menjadi teman, bahkan sahabat dekat lelaki ini, Edzhar tak pernah mengatakan hal-hal berbau kotor.


Pria itu selalu sopan, bahkan akan sangat kesal jika melihatnya berpakaian sedikit terbuka. Apalagi jika tahu kekasihnya berpakaian minim saja Edzhar akan menceramahi seharian. Mengingat kekasih Edzhar, rasa bersalah di benak Gilda kembali mencuat. Hubungannya dan Carla sekarang benar-benar terputus karena ia dan Edzhar menikah.


Wanita itu jadi melamun, dan membuat Edzhar menepuk pelan bahunya. "Kau memikirkan apa? Jangan bilang tengah memikirkan kegiatan kita semalam ...," bisik Edzhar yang seketika itu membuat bulu halus Gilda merinding.


Baru akan membantah, mulutnya kembali terkunci karena suara Mona. "Maaf mengganggu waktu sarapan Nyonya dan Tuan, ada nyonya Dalila di ruang tamu," ujar Mona tepat di samping Gilda. Gilda yang bingung dengan kedatangan sang bibi pun mengerutkan dahi. "Nyonya Dalila ingin bertemu dengan Nyonya Gilda. Ada sesuatu yang ingin nyonya Dalila sampaikan, Nyonya."


Tanpa berlama-lama lagi, Gilda lantas bangun dari kursi makan setelah mengucapkan terima kasih pada Mona. Ia keluar dari ruang makan dan menuju ruang tamu dengan tergesa-gesa. Sampai di sana, Gilda bisa melihat raut wajah Dalila yang tak biasa usai menoleh ke arahnya. Ada sosok Mateo di samping kiri sang bibi.


"Bicaralah di taman, sepertinya kalian butuh waktu cukup lama dan intens," ucap Mateo yang menatap Gilda dan Dalila bergantian.


Gilda mengangguk patuh. "Ya, Kakek." Pria tua itu lantas bangkit dari duduknya dan kembali masuk ke kamar setelah Dalila turut berterima kasih. "Bibi, ada apa? Kenapa Bibi ke sini?" tanya Gilda kemudian.


Dalila tak langsung menjawab, ia justru mengikuti Gilda yang melangkah ke arah taman minimalis di dalam rumah besar Mateo. Bahkan ada kandang kelinci di sana, berserta anakan kelinci yang sempat ia beli kemarin. Seorang pelayan yang baru saja membersihkan kandangnya, langsung pergi begitu tahu kehadiran Gilda dan Dalila.


Dalila duduk di salah satu single sofa dengan mengatakan, "Semalam kau pergi dari rumah ini dengan keadaan mengandung, bukan?"


Gilda yang hampir duduk di samping bibinya itu tiba-tiba berdiri kaku. Bahkan tangannya yang hendak terulur untuk menyentuh lengan Dalila mengambang di udara. "Maaf, Bibi. Aku tidak bermaksud untuk merahasiakan kehamilanku dari Bibi." Menatap sang bibi dengan menyesal.


"Teganya kau mengandung tanpa memberitahuku, Gilda?"


"Maafkan aku, Bi. Aku benar-benar minta maaf, aku tidak bermaksud."


"Kau baru saja menikah, sudah mengandung." Dalila menatap sang keponakan dengan tatapan sedikit lebih tajam. "Jujurlah padaku, itu anak siapa?!" bisiknya tajam sembari melirik ke arah perut rata Gilda.


"Astaga, Bibi!" pekik Gilda lalu duduk di samping Dalila. Mendengar pertanyaan sang bibi yang seolah-olah tidak percaya padanya, membuat hatinya terasa seperti dicubit. "Aku melakukannya bersama Ed. Malam itu aku tidak sengaja masuk ke kamarnya karena mabuk. Bibi bisa cek ke kamera tersembunyi di sini, Kakek Mateo yang mengetahui kebodohanku lebih dulu."


"Kau ceroboh sekali!" Gilda tertunduk, ia juga tidak tahu mengapa bisa pergi ke kamar Edzhar saat sedang mabuk. Kakinya yang menuntunnya. Kesadarannya bahkan sangat minim kala itu. "Jadi kamu menikah dengan Edzhar karena mengandung anaknya? Bukan karena kalian saling mencintai?"


Suara Dalila yang terlontar sangat lembut itu perlahan-lahan membuat kepala Gilda mendongak. "Ya, kakek Mateo ingin aku menikah dengan Ed karena tahu aku sudah melakukan hubungan bersama Ed, tapi ... setelah insiden itu aku mulai mencintai Edzhar. Sepertinya hanya aku yang mencintainya, Bi."


"Bibi tahu hidupmu adalah keputusanmu, tapi Bibi ingin kamu mempertimbangkan sesuatu."


Gilda mengerutkan keningnya. "Apa, Bi?"

__ADS_1


"Keluarga ini tidak sebaik yang kamu kira, Gilda."


"Maksud Bibi apa?"


Dalila melihat-lihat ke sekitar lebih dulu, memastikan bahwa benar-benar tidak ada yang di taman selain ia dan Gilda. "Papamu adalah anak angkat tuan Mateo, dan salah satu keinginannya kabur dari sini karena tidak mau masa depannya dirampas begitu saja. Tuang Mateo memaksanya menikahi wanita yang tidak dicintai papamu," terang Dalila yang semakin membuat Gilda bingung.


"Bibi, Bibi bicara apa? Mana mungkin papa anak angkat dari kakek Mateo? Bibi ...."


Mengabaikan pertanyaan keponakannya, Dalila menatap ke arah kandang kelinci sembari mengenang masa lalu. "Papamu lebih memilih pergi dan memperjuangkan cinta ibumu. Cintanya yang begitu besar itu, membuatnya rela hidup sederhana, dan kamu tahu siapa wanita yang dijodohkan dengan papamu?"


Gilda masih diam karena mencerna semua cerita yang tidak masuk akal baginya. Wanita itu hanya diam memerhatikan, tapi otaknya memikirkan sesuatu. Hingga suara Dalila selanjutnya berhasil membuat jantungnya hampir loncat.


"Dia adalah Isidora Lexa, wanita itu yang sebelumnya akan menikah dengan papamu," sambung Dalila menoleh ke arah Gilda dan dengan pelan mengulurkan satu tangannya ke arah perut Gilda. "Wanita itu pasti akan menghancurkanmu, untuk itu Bibi memintamu berhati-hati."


"Aku akan menjaga calon anakku dan Ed, Bibi. Ada kakek Mateo juga yang menyayangiku. Pasti dia akan menjagaku juga," jawab Gilda yang membuat senyum Dalila sedikit mengembang.


"Sepertinya tuan Mateo juga tahu kau ini anak dari Gideon Martinez. Anak angkatnya yang seharusnya menjadi penerusnya, dan sekarang ini mungkin tuan Mateo ingin menebus kesalahannya di masa lalu dengan menikahkanmu bersama Edzhar."


"Pantas saja, selama ini kakek Mateo memperlakukanku seperti cucunya sendiri," gumam Gilda sebelum Dalila menariknya ke dalam pelukan. Beberapa detik lamanya mereka berpelukan, sampai akhirnya Gilda menarik diri dan bertanya, "Ada apa Bibi ke sini? Atau Bibi hanya ingin tahu kehamilanku?"


"Maaf, aku cuma tidak berani berkata jujur, Bi. Aku takut Bibi kecewa saat tahu aku hamil di luar pernikahan."


"Jelas saja aku akan kecewa, tapi jangan pernah menyembunyikan apa pun dariku. Kita ini keluarga, dan aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri. Aku cuma punya kau, Gilda. Aku pasti akan memaafkanmu walaupun merasa kecewa di awal tahu, Gilda."


Gilda membawa tubuh sang bibi ke dalam pelukannya. Sampai suara langkah kaki orang yang akan bergabung dengan mereka membuat keduanya menoleh. Mona tersenyum dan meminta maaf karena mengganggu waktu keponakan dan bibinya itu.


"Ada apa, Mona?"


"Begini Nyonya Gilda, tuan Edzhar sudah siap. Tuan Edzhar sudah menunggu Nyonya."


"Apa kami akan pergi ke villa sekarang?" Mendengar pertanyaan Gilda pada Mona, Dalila jadi tahu bahwa keponakannya akan pergi berlibur dengan sang suami.


"Benar, Nyonya. Tuan Edzhar juga harus bekerja di sana, untuk itu tuan Edzhar sudah bersiap," tambah Mona yang membuat dua wanita yang tadi berpelukan itu berdiri. Gilda mengangguk paham dan Dalila juga mengerti apa yang seharusnya ia lakukan. "Kalau begitu saya permisi, Nyonya."


"Bibi akan lanjut bekerja, dan kamu ... nikmatilah waktu liburanmu. Kalau mencintai Edzhar, perjuangkan cintamu seperti papamu memperjuangkan ibumu. Kau mengerti?" Gilda mengangguk dan tersenyum manis.

__ADS_1


"Terima kasih, Bibi. Aku menyayangi Bibi."


*


Waktu yang terbuang dalam perjalanan dari kediaman Mateo sampai villa keluarga lebih dari empat jam. Selama perjalanan yang tak singkat itu, Gilda yang mengantuk tak bisa untuk tidak tidur di pelukan Gilda. Tentu saja bukan karena ulahnya sendiri, melainkan pria itu yang melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


Diam-diam pula Edzhar melabuhkan ciumannya di bibir Gilda saat wanita itu sudah tertidur lelap. Tak hanya itu, tangan satunya mengusap pelan perut rata Gilda. Semua dilakukannya tanpa sadar, karena otaknya tak terima jika dirinya melakukan itu semua.


"Aku mencintai Carla, tapi aku juga tidak bisa menolakmu ...," bisiknya sangat pelan, tepat di telinga kiri sang istri yang masih terlelap.


Karena di saat mereka sampai Gilda masih belum juga sadar dari tidurnya, Edzhar mau tidak mau menggendongnya. Dengan mudah tubuh ramping Gilda diangkut oleh dua lengan berototnya. Sementara di belakang mereka, sopir sewaan Edzhar membantu membawakan koper keduanya.


"Letakkan saja di sana," ujar Edzhar saat mereka sudah sampai di kamar dan kala sopir penyewa itu menggeret dua koper di dekat pintu. "Kau bisa pergi sekarang. Bayaranmu akan aku transfer setelah ini. Jangan lupa tutup lagi pintunya."


"Baik, Tuan. Saya permisi." Sebelum itu ia meletakkan kunci kamar di tempatnya yang menempel di dinding dekat pintu.


Edzhar membaringkan Gilda di atas ranjang. Lelaki itu mengamati sejenak wajah lelap sang istri sebelum mendaratkan kecupannya di bibir merah merona itu, dan aktivitasnya harus terhenti karena ponsel dalam saku celana berdering. Ia membenarkan letak bantal di bawah Gilda sebelum merogoh ponselnya.


"Halo?"


"Aku dengar kamu pergi bersama wanita ular itu! Apa kamu benar-benar sudah masuk ke dalam jebakannya, Ed?" tanya wanita dari seberang tanpa jeda dan berapi-api. Membuat Edzhar menjauhkan ponselnya sejenak. "Jawab, Ed! Kamu sudah mencintainya?!"


"Aku ada pekerjaan di sini, dan kakek ingin aku berbulan madu dengannya. Aku tidak bisa menolak," jawab Edzhar sekenanya. "Lagi pula aku tidak akan berduaan dengannya sepanjang hari. Aku benar-benar harus bekerja di sini, jadi kamu tenang saja."


"Awas saja kalau aku tahu kamu semakin dekat dengannya!"


"Tidak, aku tidak akan mengkhianatimu." Setelah Edzhar mengatakan itu, panggilan dimatikan oleh si penelepon. Tak langsung menyimpan ponselnya, Edzhar segera menghubungi seseorang. Hanya dalam waktu beberapa detik saja panggilannya diterima.


"Awasi dia dan berikan informasi apa pun itu," perintahnya sebelum mematikan panggilan. Edzhar lantas mengayunkan kakinya ke arah pintu, karena mulai siang ini dia harus mengecek villa. Seperti rencananya, ia akan merenovasi bagian villa yang butuh dipercantik untuk menarik minat penyewa.


Akan tetapi, belum sempat ia membuka gagang pintu suara wanita di sana membuat langkah berhenti. Edzhar batal membuka pintu dan menoleh ke arah Gilda yang sudah duduk sambil bersandar pada kepala ranjang. "Siapa yang mau kau awasi, Ed?"


"Kau sudah bangun ternyata, apa kau juga sudah menguping pembicaraanku sedari tadi?"


Gilda terkekeh. Dia melipat tangannya di depan dada. "Aku terbangun karena mendengar suara Carla yang kencang. Aku juga dengar dia menyebutku wanita ular. Apa kau terima istrimu dijuluki begitu, Ed? Gadis seperti itu juga yang ternyata membuatmu tergila-gila?"

__ADS_1


Edzhar mendekati Gilda yang tampak berani, namun ia tahu bahwa wanita itu sebenarnya hanya berpura-pura. "Ada apa? Kau cemburu?" tanyanya yang sudah merangkak ke atas kasur besar itu. "Bilang saja, atau ... kau masih merindukan sentuhanku?"


__ADS_2