Noda Darimu

Noda Darimu
Bab 27 Keinginan Bayi


__ADS_3

Malam itu langit yang gelap tampak sangat mendung. Gilda dapat merasakan kulitnya yang dingin setelah ia keluar dari rumah besar Mateo. Dalam pelukan Edzhar, ia pun dituntun untuk masuk ke mobil bagian belakang. Perjalanannya malam ini didampingi lagi oleh Lukas.


“Kau yakin dia tidak tinggal di rumah orang tuanya?”


“Saya sangat yakin, Tuan. Tuan Mateo yang memberitahu saya alamat apartemen dan unit yang ditinggali nona Carla.”


Edzhar tidak menyangka bahwa selama ini Carla tidak tinggal bersama orang tuanya. Pria itu selalu menjemput sang kekasih di rumah besar milik orang tua Carla, dan sama sekali tidak tahu menahu tentang apartemen yang dimaksud oleh Lukas. Laki-laki itu menatap luar jendela di sebelah kirinya dengan tangan kanan yang menggenggam jemari Gilda.


Wanita yang duduk di samping Edzhar itu berusaha menenangkan. Kali ini ia tak ingin berperan sebagai istri, namun sebagai seorang sahabat yang merangkul dan selalu menghibur sahabatnya. Gilda tak berhenti mengelus-elus punggung tangan Edzhar.


“Aku memahami perasaanmu, Ed. Tidak apa-apa kalau kau ingin menangis. Seorang pria juga boleh bersedih.”


Edzhar menoleh ke kanan di mana Gilda tersenyum manis untuknya. Ya, senyuman tipis itu tampak manis di matanya. Ucapan Gilda yang selalu menghiburnya di kala sedih mampu membuat hatinya merasa jauh lebih baik.


“Aku tidak pernah tahu jika Carla mempunyai apartemen sendiri. Selama ini aku hanya tahu rumah orang tuanya. Apakah aku hanya dianggap sebagai dompet berjalannya saja, Gil?”


“Kau bisa tanyakan itu nanti padanya, Ed.”


Sebagai seorang sahabat yang mengetahui betapa besar cinta Edzhar pada Carla, tentu saja Gilda merasa miris mengetahui ini. Ia tidak menyangka jika apartemen milik Carla digunakan hanya untuk bersama dengan Kendrick, seperti yang diberitakan Mateo saat makan malam tadi. Gilda tahu seperti apa hancurnya Edzhar sekarang ini.


Lelaki di samping Gilda itu semakin erat menggenggam jarinya. Bahkan Gilda bisa melihat sirat amarah sekaligus kesedihan di mata Edzhar yang berkabut. Yang bisa dilakukannya hanya menenangkan Edzhar melalui elusan di lengan kencang pria itu.


“Di gedung apartemen itulah nona Carla menghabiskan waktunya bersama tuan Kendrick, Tuan ...,” lirih Lukas sebelum mobil yang dikendarainya mendekat. Edzhar tampak semakin mengeratkan genggamannya di tangan Gilda.


“Bisa-bisanya dia tinggal di apartemen ini?” tanya Edzhar dengan suara serak, terlihat sekali menahan marahnya.


“Benar, Tuan.”


Edzhar yang menggeleng tak percaya itu pun bertanya, “Apa dia tidak tahu kalau kakek juga menanamkan sahamnya di sini?”


“Kakek punya saham di sini?” Gilda bertanya dengan tampang kaget. Ia sendiri juga tidak menyangka kalau Mateo diam-diam memiliki banyak sekali uang tak terlihat di mana-mana. Sungguh, keluarga Martinez memang sulit ditebak kekayaannya.


“Kemungkinan nona Carla tidak mencari tahu lebih dulu, Tuan.”


Lukas memarkirkan mobil hitam itu di basement. Ketiga orang itu keluar dari mobil, tentunya Lukas yang paling akhir. Akan tetapi, ia diminta Edzhar untuk memimpin jalan.


“Aku ingin melihat Carla terkejut karena aku datang tanpa memberitahunya.”


“Baik, Tuan.”

__ADS_1


Masuk ke dalam lift setelah mereka mendapat sambutan dari security di sana. Tepatnya setelah Lukas menunjukkan kartu namanya dan memberitahu bahwa mereka adalah kerabat dari pemilik gedung apartemen. Lukas menunjuk angka 8 sebelum lift tersebut membawa mereka naik.


Begitu lift sampai di lantai yang dituju dan pintu terbuka, Edzhar memerintahkan Lukas yang menemui Carla terlebih dulu dan dirinya serta Gilda akan menanti wanita itu keluar. Lukas pun setuju dan ia mulai berjalan ke unit apartemen Carla berada. Ia menekan bel, dan menunggu pintu di hadapannya terbuka.


Tak lama sang pemilik pun keluar. “Untuk apalagi kau menemuiku?! Bukankah tuan peyotmu itu sudah mengadu pada orang tuaku?! Aku juga sudah tidak berminat mengganggu mereka lagi!” teriak Carla tanpa melihat kanan dan kiri, serta tak takut jika suaranya bisa mengganggu.


“Penyesalan memang selalu di belakang.” Edzhar yang berjalan sendiri itu mendekati Lukas dan menatap Carla. “Melihatmu dengan penampilan seperti itu di depan Lukas, aku jadi semakin yakin untuk melepaskanmu.”


Tampilan hanya mengenakan gaun tipis. Tak hanya itu, tubuh bagian atasnya terlihat sangat jelas itu sudah dipenuhi dengan banyaknya bekas ciuman. Edzhar pun teringat akan foto Carla yang dikirimkan Gilda padanya.


Tepat setelah Edzhar berkata begitu, sosok Kendrick terlihat dengan hanya mengenakan celana pendek saja. Belum sempat bersuara, Carla melewati Edzhar dan Lukas, ia berlari ke arah Gilda yang tengah duduk di kursi panjang sambil meliriknya. Wanita itu dengan berani menarik tangan Gilda, sampai perempuan hamil itu berdiri.


Edzhar dan Lukas yang melihat itu sudah menyusulnya. Bahkan di saat Carla ingin mendorong perut Gilda kencang, Lukas dengan sigap menarik pinggang Carla. Sementara Edzhar menjaga tubuh Gilda yang sudah terdorong, namun berhasil diselamatkan oleh Edzhar. Gilda tak sampai jatuh ke lantai.


“SEMUA INI KARENA WANITA MURAHAN ITU! Kalau kamu tidak menikahinya, aku tidak akan berselingkuh darimu, Ed!”


“Tutup mulutmu, Carla! Aku sudah tahu perselingkuhan kalian sejak aku bertemu Kendrick di acara pertunanganmu dengan Ed!” balas Gilda tak ingin disalahkan lagi. “Aku justru sangat bersyukur sekarang karena pernah dinikahi sahabatku sendiri! Sekarang kaulah yang menanggung buah dari ketidaksetiaan dan maksudmu mendekati Edzhar!”


“Semua kartu yang aku berikan padamu selama ini tidak akan pernah bisa kau gunakan lagi, Carla.” Edzhar yang masih merangkul Gilda itu menatap dalam nan tajam sang kekasih. “Habiskan saja sepanjang hidupmu yang sudah tidak dipenuhi harta bersama saudaraku itu.”


Lukas pun menjaga Edzhar dan Gilda dari belakang. Ketiganya pergi setelah dua security keluar dari lift. Lukas mempersilakan Edzhar dan Gilda yang menaiki lift lebih dulu, sementara dirinya memilih untuk berbincang dengan dua petugas keamanan.


Butuh waktu satu bulan penuh bagi Edzhar demi melupakan Carla. Semenjak kejadian di apartemen yang ditinggali Carla, laki-laki itu sering melamun. Jika makan di ruang makan, atau saat di mobil setelah menjemput Gilda begitu perempuan itu bercerita tentang toko rotinya yang semakin meningkat, juga ketika mereka berdua duduk di taman indoor rumah Mateo, Edzhar sering hilang fokus.


Gilda tentu saja memahami. Sangat mengerti bahwa sang suami butuh waktu untuk menerima semua pengkhianatan Carla yang dilihat di depan mata. Jika Edzhar pernah bilang bahwa telah mengetahui perselingkuhan Carla ketika berjalan bersama Kendrick di pusat perbelanjaan, minggu kemarin itulah bukti perselingkuhan nyata yang disaksikan Edzhar secara langsung.


“Ed, apakah saat ini kamu tidak ingin makan sesuatu?”


“Mengapa tiba-tiba bertanya? Apa kau ingin makan sesuatu?” Gilda menggeleng lalu menggigit bibir bawahnya. “Lalu kenapa bertanya?”


“Aku ingin melihatmu makan, Ed.” Edzhar sontak mengerutkan keningnya. “Sepertinya aku harus melihatmu makan spaghetti saus kacang,”


Bola mata Edzhar tampak ingin keluar. “Aneh ... tapi, sepertinya tidak terlalu buruk.” Edzhar pun bangkit dari kasur. Diikuti Gilda yang turun dari ranjang pula dengan menatapnya ragu. “Apa ada lagi selain itu, Gil?” Edzhar merasakan nasib buruk akan menimpanya beberapa menit ke depan saat kepala Gilda perlahan mengangguk.


“Tapi harus dicampur buah mangga, Ed.”


Detik itu juga Edzhar berhenti mengayunkan kaki dan batal menggapai kenop pintu. “Apa?! Apa katamu? Dicampur mangga?”


“Aku juga ingin lihat saat kamu membuatnya.” Edzhar menelan ludahnya dengan tatapan mengarah pada tangan Gilda yang mengelus perut. “Sepertinya ini keinginan bayi kita,” lanjut Gilda yang merasa tak enak hati. Terlebih lagi istri Edzhar itu bisa menangkap raut wajah laki-laki yang kini sedikit keberatan melakukan apa yang diinginkan bayi mereka.

__ADS_1


“Aku tidak yakin bisa memakannya. Kalau membuat aku masih sanggup, Gil.”


Gilda menunduk sambil mengikuti Edzhar dari belakang. Wanita itu menatap punggung kekar Edzhar seraya membuang napas lega. “Setidaknya papamu mau membuatnya. Tak apa kalau dia tidak mau memakannya, ya, Baby?” gumam Gilda yang masih bisa ditangkap oleh sepasang telinga pria di depannya.


“Baiklah, kita lihat nanti. Apakah Papa sanggup memakannya atau tidak,” jawab Edzhar yang menoleh ke belakang dan menunggu Gilda agar berjalan di sampingnya.


Keduanya pun masuk ke wilayah dapur yang sudah sangat sepi karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Semua pelayan tentunya sudah di kamar masing-masing, termasuk Mona. Bisa dipastikan pula kalau Mateo sudah tertidur, karena jam tidur pria tua itu di antara pukul sembilan hingga sepuluh malam.


Edzhar mulai merebus pasta sebelum mencari saus kacang yang tersedia di lemari makan. Gilda yang melihat Edzhar meletakkan panci ke atas kompor listrik itu mengusap perutnya sambil tersenyum senang. Terlebih lagi saat Edzhar mulai mengambil wadah saus kacang.


“Kamu belum mencuci dan memotong mangga, Ed ...,” lirih Gilda saat Edzhar sudah mengambil piring dan garpu.


“Apakah harus memakai mangga?”


“Hem.” Gilda turut mengangguk-anggukkan kepala. “Anak kita ingin melihat papanya makan spaghetti saus kacang dicampur mangga manis. Katanya, rasanya pasti enak, Ed.”


“Jangan bercanda, Gil.”


Meski tak ingin, Edzhar tetap mengambil satu buah mangga dari lemari pendingin. Ia menatap Gilda sekilas dan mendapat anggukan pasti dari wanita hamil itu. Dengan ragu dan tidak ikhlas Edzhar mengupasnya, lalu membersihkan mangga di tangannya. Sedangkan Gilda menyiapkan mangkuk untuk wadah mangga yang akan dipotong Edzhar.


Sepuluh menit lebih sudah berlalu. Pasta yang direbus pun sudah disajikan di atas piring putih dan di atasnya sudah disiram dengan saus kacang yang gurih. Sayangnya, Gilda langsung menuang potongan mangga berbentuk dadu itu ke atas spaghetti saus kacang tersebut.


Seketika itu juga perut Edzhar terasa mulas. Ia menatap Gilda melas, dan memegang garpunya dengan tangan bergetar. “Selamat makan, Papa!” seru Gilda yang sudah menunjukkan giginya, ia tersenyum lebar dan membuat Edzhar lesu.


“Mengapa anak kita kejam sekali?”


“Dia hanya ingin melihat kehebatanmu, Ed.”


“Hebat dari mana?” Edzhar mendelik lalu menghela napas panjang. “Ini makan terburuk yang pernah aku makan,” imbuh Edzhar seraya menusuk satu potong mangga yang tak terkena saus kacang.


“Makan bersamaan dengan spaghettimu, Ed!”


Edzhar tak mengindahkan. Ia langsung berjalan ke Gilda yang berdiri mengamatinya. Lelaki yang sedang mengunyah mangga itu langsung menarik pinggang sang istri. Bibirnya mentransfer rasa manis mangga ke bibir dan mulut Gilda.


Gilda yang terkejut itu hanya bisa meremas lengan suaminya. Lambat laun ia justru menikmati ciuman dari Edzhar yang bercampur dengan manisnya buah mangga. Tak cuma itu, Edzhar mengangkat satu kaki Gilda dan sedikit mendorong punggung Gilda agar menempel pada meja.


Edzhar yang sudah menikmati suasana dan ciuman itu pun tak ragu untuk menempatkan Gilda di atas meja. Lelaki itu pun mulai mencumbu leher Gilda dengan sepasang tangannya yang tidak tinggal diam. Semua jarinya aktif memberikan kenikmatan di bagian atas dan bawah tubuh privasi milik sang istri.


“Aku jadi ingin bermain dengan jus mangga,” bisik Edzhar sebelum bibirnya turun ke bagian sintal milik sang istri. Membuat Gilda yang meremas rambutnya itu mendesah dan menyebut namanya.

__ADS_1


__ADS_2