
Dua keluarga yang seharusnya sudah menjadi satu kesatuan, dan yang bukan hanya dalam hubungan bisnis saja, kini tak lagi seperti dulu. Lebih tepatnya karena Mateo mengambil jarak usai pernikahan cucu dan anak mereka dibatalkan. Meskipun sudah lanjut umur, pria itu masih bisa berkeliaran di mana pun, termasuk datang ke restoran milik keluarga Carla.
Sudah lebih dari tiga puluh menit Mateo berada di hadapan dua manusia yang masih muda darinya, walaupun umur sepasang suami istri itu lebih dari seperempat abad. Ia menjelaskan maksud kedatangannya. Mateo juga tak ketinggalan menceritakan siapa sebenarnya Gilda baginya, hingga tampak ekspresi dua manusia di hadapannya terkejut bukan main.
"Sebelumnya aku sudah memperingatkan anak kalian. Dia juga sudah menyanggupi, dan kemarin adalah perbuatannya yang tidak bisa aku toleransi," ucap Mateo menatap tajam kedua orang tua Carla bergantian dengan mata tuanya yang tidak setajam dulu. "Jika kalian tidak bisa mendidik putri kalian sendiri, aku tidak segan-segan menarik saham dari perusahaan kalian."
"Maafkan Carla, Tuan Mateo. Kami akan berusaha membujuknya untuk berhenti mengganggu Edzhar dan Gilda, tapi mohon ... jangan sampai Tuan menarik saham. Kami tidak ingin perusahaan kami jatuh, Tuan," balas wanita paruh baya yang duduk berseberangan dengan Mateo seraya berdiri dan sedikit membungkuk.
"Aku pun tidak akan ragu untuk menyebarkan bukti perselingkuhan Carla dan Kendrick yang selama ini aku tutupi karena cucuku mencintainya. Seharusnya kalian lebih memperhatikan tingkah putri kalian di luar sana."
Ayah dari Carla pun segera bangkit dari duduknya setelah Mateo bangun dari kursi dibantu oleh Antonius. "Kami berjanji Tuan, Carla tidak akan mengganggu rumah tangga Edzhar dan Gilda," tegas ayah Carla dengan tubuh membungkuk dan kembali tegap setelah langkah Mateo meninggalkan restoran mewah yang menyatu dengan hotel mewah miliknya.
"Habis tak bersisa jika tuan Mateo benar-benar menarik sahamnya, Pa."
"Aku masih tidak menyangka jika Gilda adalah anak Gideon dengan wanita sederhana itu," gumam ayah Carla yang membuat wajah ibu Carla makin khawatir. Wanita itu mencemaskan Carla dan tentunya juga bisnis mereka yang sedikit banyak disokong oleh keluarga Martinez.
"Bagaimana jika tuan Mateo tidak main-main? Anak angkatnya yang sudah tiada itu sangat dicintainya, kini tuan Mateo pun sudah mengetahui bahwa Gilda adalah anak Gideon. Bagaimana dengan nasib kita ke depannya, Pa?!"
Ayah Carla merangkul dan mengecup pelipis istrinya sejenak. "Anak itu benar-benar sulit diatur! Apa sebenarnya yang tidak kita berikan padanya? Bahkan kita tidak pernah mengekangnya, semua fasilitas yang diminta kita berikan." Pria empat puluh lima tahunan itu pun menjauh dari meja makan. "Suruh Carla pulang malam ini! Aku akan memarahinya habis-habisan."
Sedangkan Mateo yang baru masuk ke dalam mobil, kini menyesal. "Seharusnya aku tidak mendengarkan saran Lukas." Antonius yang baru memasang sabuk pengaman, menatapnya dari kaca. "Bukankah akan lebih bagus jika aku langsung menarik saham tanpa memberi alasan sebenarnya, Antonius?"
"Tidak, Tuan. Menurut saya Tuan Mateo sudah mengambil langkah yang benar. Bagaimana pun hal itu adalah kesalahan anak mereka, keduanya tetap kerabat Tuan dalam bidang usaha."
"Kau benar, tapi di masa tuaku ini aku ingin hidup tenang. Terutama setelah aku mengetahui siapa Gilda sebenarnya, aku tidak ingin hidupnya penuh dengan kesedihan. Dia sudah banyak melewati masa sulit tanpa kedua orang tuanya."
Antonius mengerti kegelisahan tuannya itu, tetapi dia juga mengenal sedikit sifat Gilda yang sangat berperasaan. Mengetahui nyonya mudanya yang rela berkorban, Antonius tahu betapa lembutnya hati wanita itu jika menyangkut perasaan orang yang dikasihi ataupun pernah disayanginya. "Jika nyonya Gilda tahu bahwa Anda benar-benar membuat usaha mereka jatuh, nyonya pasti akan sangat sedih, Tuan."
__ADS_1
"Sekarang aku hanya bisa menunggu orang tua Carla bertindak." Antonius mengiyakan dan segera melajukan mobil yang mereka tumpangi. Ia harus segera sampai ke rumah karena Mona sudah mengingatkannya tentang obat yang harus dikonsumsi Mateo setelah makan malam.
Malam itu setelah makan malam berdua yang dikelilingi oleh ikan-ikan cantik, Gilda ingin mengajak Edzhar untuk jalan-jalan di tepi pantai sambil menikmati live music yang dimulai sebelum mereka makan malam. Akan tetapi, Edzhar justru meminta Gilda untuk mengganti pakaiannya lebih dulu, yakni memakai jumpsuit lengan panjangnya, melepas gaun minim sebelumnya yang mengganggu mata Edzhar. Sedangkan Edzhar hanya melepas jas, menyisakan kemeja yang kini digulung sampai siku.
"Mengapa kita tidak jalan ke tempat yang aku maksud?"
Dengan santai Edzhar menjawab, "Ada tempat yang lebih bagus."
"Kalau begitu untuk apa kau tanya keinginanku, Ed ...," lirih Gilda sembari menggeleng. Akan tetapi, ia menerima saja pelukan erat Edzhar di pinggangnya. Ternyata, Edzhar membawanya ke pinggir pantai, lebih tepatnya jalan ke dermaga, dan di sana ada kapal layar ringan berkapasitas besar nan mewah yang menanti. Gilda pun menganga dan bertanya, "Kau ingin kita masuk ke sana, Ed?"
"Malam ini ada pesta, kau ingin atau tidak?" Gilda yang masih terkejut itu mengangguk-angguk pelan dan refleks mendekatkan dirinya ke Edzhar sampai menempel. "Janez memberitahuku lagi untuk mengajakmu ke sana. Dia bilang ... akan menyenangkan jika malam-malam begini kita menghabiskan waktu di sana," imbuhnya tersenyum.
Sebuah kapal cukup mewah yang hanya mampu menampung delapan orang itu terlihat sangat sepi. Gilda yang mulai merasa janggal pun mendongak dan menatap Edzhar. "Ed, mengapa tidak ada orang di sini?" tanya Gilda yang membuat Edzhar menatap sekeliling, di mana sofa melingkar tidak ada yang menempati.
"Aku juga tidak tahu."
"Ya, Janez yang mengatakannya padaku."
Belum sempat Gilda bertanya lagi, seseorang mendatangi keduanya. "Atas nama Tuan Edzhar dan Nyonya Gilda?" tanya pria tersebut yang tersenyum ramah pada pasangan muda di hadapannya. Keduanya pun mengiyakan. "Mari, Tuan dan Nyonya bisa mengikuti saya untuk naik ke lantai dua," tambahnya yang diangguki Edzhar, sementara Gilda sudah membuang napas panjang.
"Lagi-lagi buang uang," gumam Gilda yang masih bisa didengar Edzhar.
"Tidak apa, mungkin liburan ini sebagai hadiah pernikahan sederhana yang kau mau kemarin. Janez memang tidak pernah pelit soal uang, jadi kau tidak perlu memasang muka begitu." Mengangkat dagu Gilda, Edzhar menunduk dan menatap dalam-dalam. "Santai dan nikmati waktu kita malam ini," bisik Edzhar diakhiri dengan kecupan di pipi kanan sang istri.
Sampai di atas, Gilda dan Edzhar persilakan duduk di sofa malas empuk berwarna cokelat keemasan. Sofa tersebut saling berdempetan, dengan masing-masing sofa tersedia sebuah meja beserta makanan dan minuman. Edzhar membantu Gilda untuk duduk karena wanita itu sedikit ngeri melihat pemandangan laut di bawah sana.
"Silakan nikmati waktu Anda, Tuan, Nyonya."
__ADS_1
"Terima kasih," ujar Gilda dan pria itu pun turun kembali. Gilda melirik Edzhar yang sudah duduk bersandar di sofa dengan tangan kirinya tak berhenti mengusap perut Gilda setelah wanita itu meluruskan kakinya. "Kali ini benar-benar berlebihan, Ed."
"Tidak apa, anggap saja malam ini kita memulai hidup yang benar-benar baru. Berhenti memikirkan hubunganku dan Carla, Gil. Fokuslah pada kandunganmu," jawab Edzhar tidak bercanda. Gilda yang ingin membantah, dikejutkan dengan lengan Edzhar. Dengan mudahnya, Edzhar menempatkannya di atas pangkuan pria itu.
Gilda yang terkejut karena tubuhnya diangkat pun refleks berpegangan pada dada bidang Edzhar. Kedua kakinya yang melebar, terlihat seperti tengah mengapit pinggang sang suami. Ia mendelik saat sepasang tangan Edzhar melingkari pinggangnya, hingga kini ia berpegangan pada pundak Edzhar.
"Jantungmu naik-turun, Gil ...," ucap Edzhar karena pria itu mengetahui dengan jelas. Bahkan deru napas Gilda yang tak beraturan pun Edzhar dapat merasakannya. Sembari menyingkirkan anak rambut Gilda yang jatuh, Edzhar menekan leher Gilda agar bibir mereka semakin tak berjarak.
Bersamaan dengan penyatuan bibir dan perasaan yang hangat di hati keduanya, sayup-sayup dua telinga pasangan muda itu mendengar lagu berjudul 'Lucky' milik Jason Mraz yang dinyanyikan bersama Colbie Calliat. Lirik yang mampu menyentuh hati pasangan suami istri tersebut, terutama Gilda.
Wanita itu merasa tersentil, karena jelas terjadi pada dirinya, ia yang jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Belum lagi di kalimat pertama persis seperti yang mereka lakukan sekarang, tengah berada di bawah langit dan di lautan. Gilda spontan mencengkeram erat pundak Edzhar dan meneteskan air matanya.
Tiba-tiba saja Edzhar menghentikan ciuman mereka. Gilda yang semula memejamkan mata, kini menatap Edzhar. "Apakah aku akan beruntung karena jatuh cinta padamu, Ed?" batinnya masih dengan netranya yang bertabrakan dengan mata biru Edzhar.
"Maafkan aku karena mempunyai perasaan yang salah ini, Ed ...," ucapnya sebelum menumpahkan tangisnya di dada Edzhar.
Sementara Edzhar yang mendengar permintaan maaf Gilda justru merasa bersalah karena dia yang meminta lagu tersebut diputar. Tangannya yang semula di pinggang Gilda, kini merayap ke atas. Mengusap-usap punggung wanita itu agar sang pemilik merasa lebih tenang.
"Kau tidak perlu meminta maaf, aku tidak akan menyalahkanmu karena kau memiliki cinta untukku, Gil. Justru aku yang bersyukur karena dicintai wanita sepertimu. Aku beruntung karena dicintai sahabatku sendiri," ujar Edzhar yang berusaha untuk menghibur Gilda.
Sepasang telapak tangannya menangkup pipi kanan dan kiri Gilda, Edzhar membuat kepala istrinya itu mendongak. Bibirnya perlahan mendekat dan kini ia berhasil untuk kembali menyatukan ciuman mereka. Edzhar pun menutupnya dengan mencium kening Gilda sedikit lebih lama.
Di atas kapal layar ringan nan cepat itu, keduanya menikmati dinginnya malam dengan hati yang sama menghangat. Edzhar tidak sadar bahwa perasaan tak asing di dalam hatinya perlahan-lahan mulai tumbuh sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Terlebih setelah melihat ke dalam sorot mata Gilda yang terlihat sangat tulus dan tidak main-main, pintu hatinya seakan dibuka lebar-lebar.
Berbeda dengan malam dingin di atas kapal, suasana dingin di kediaman Mateo semakin terasa setelah Mona menemukan surat perjanjian. Pelayan itu tak sengaja menemukannya saat ia diberi tugas membersihkan kamar tuan muda dan sang istri. Mona yang tampak gugup dan takut itu hanya bisa menundukkan kepala saat tangan Mateo meremas kertas tersebut dan memanggil Lukas.
"Ya? Ada apa, Tuan?"
__ADS_1