
Gilda mengangguk-anggukkan kepala. "Tapi di awal kejadian itu aku sangat membenci diriku, Ed. Karena kita melakukan kesalahan fatal malam itu ...," ucap Gilda yang tiba-tiba berhenti saat tangan Edzhar membelai perutnya lagi.
"Lanjutkan saja, Gil ... atau, kau tak nyaman karena aku selalu mengusap perutmu?"
"Tidak, aku justru menyukainya. Kau membuatku ingin menangis saja," jawab Gilda yang sudah berkaca-kaca, namun berusaha untuk tertawa kecil.
Gilda yang kembali mengambil napas dalam-dalam, mencoba tenang. Mulutnya kembali terbuka, dan lanjut bercerita. "Aku marah saat terbangun di pelukanmu dan ternyata aku berada di kasurmu, aku pun menganggap bahwa aku ini wanita paling berdosa dan sudah bernoda ...."
Edzhar mendongak dan refleks mengusap air mata Gilda. "Oh, Gil ... maafkan aku, aku tidak menyangka kalau waktu itu kau merasa sangat bersalah. Maaf ...." Edzhar kembali membawa tubuh Gilda ke dalam dekapannya. Masih membiarkan Gilda duduk di pangkuannya, Edzhar memeluk pinggang dan memberikan ketenangan lewat usapan di punggung sang istri.
"Yang aku pikirkan saat itu adalah hubunganmu dan Carla. Aku takut kalau kau tahu malam itu bahwa akulah yang kau sentuh, bukan Carla, dan apa kau tahu ...? Setelah kita melakukannya, kau menyebut nama Carla, padahal kau sedang memelukku, Ed."
"Bahkan pagi itu aku tidak ingat apa pun. Aku hanya tahu sepreiku terkena noda merah, dan aku yakin bahwa itu darah."
Tubuh Gilda mendadak kaku. Membahas itu membuatnya malu saja, dan Gilda pun berdeham guna menetralkan dadanya yang berdebar. "Mungkinkah kakek Mateo tahu bahwa malam itu kita sudah melakukannya, bahkan tanpa melihat CCTV di rumah? Apakah kakek tahu dari pelayan yang membersihkan seprei milikmu, Ed?"
"Aku tidak tahu. Aku juga tidak tahu siapa yang membersihkan kamarku setelah itu." Gilda menggigit bibirnya. "Sudahlah, sekarang tugas kita hanya menjaganya bersama-sama sampai dia lahir nanti."
"Lalu, setelah anak kita lahir ... apakah aku masih bisa merawatnya? Aku tidak ingin berpisah darinya, Ed." Gilda menatap langit jingga dengan mata berkaca-kaca. "Bagaimana kalau kita benar-benar bercerai? Apa aku tidak akan bisa menggendong anakku sendiri?"
Edzhar yang semula ingin mengecup perut Gilda lagi, mendadak terdiam. Ia belum kepikiran sejauh itu. Dia sadar akan isi dari surat perjanjian, namun bagaimana dengan nasib Gilda ke depannya?
Pertanyaan Gilda pun mengusik hatinya. Mampukah dia menjauhkan anaknya dari ibu kandungnya sendiri? Apakah dia akan tega melakukan itu demi Carla? Kini otak dan hatinya benar-benar bergejolak. Melihat air mata Gilda, pintu hatinya seperti diketuk.
Bagaimana juga Gilda adalah sahabat terbaik yang dia miliki. Selama ini dirinya berteman dengan Gilda tanpa terkena masalah apa pun. Bahkan dirinya tergolong beruntung karena memiliki sahabat yang sangat pengertian dan selalu ada di sampingnya.
Jika dipikir-pikir lagi, Gilda memang selalu ada untuknya. Wanita itu yang senantiasa menemaninya di saat Carla sibuk dengan dunia pemotretan. Bahkan Gilda tak berhenti memberikan pemikiran positif bila Carla lebih mementingkan penampilan seksinya daripada masukannya untuk berpakaian lebih sopan demi kebaikan sang kekasih.
Pikiran Edzhar benar-benar terganggu sekarang. Cinta untuk Carla selalu dia simpan baik-baik, tapi perasaan Gilda juga wajib dia pikirkan. Jauh dari lubuk hatinya, dia sangat menyayangi Gilda.
"Kau tidak perlu memikirkan sejauh itu. Kau pasti bisa bertemu dengan anak kita setelah melahirkannya, aku bersumpah, Gil."
Mendengar jawaban Edzhar, Gilda tersenyum miris. Sudah sangat jelas bahwa Edzhar belum mencintainya, padahal banyak waktu yang ia lewati bersama lelaki itu, terutama di kamar. Jika begini caranya, Gilda bisa-bisa menyerah memperjuangkan cintanya.
__ADS_1
Terlebih perlakuan Edzhar yang selama ini hanya untuk menenangkannya. Bolehkah dirinya berharap lebih? Mengharapkan cinta sahabatnya yang sangat-sangat sulit digapai.
Gilda yang diam-diam berpikir tentang kelanjutan perasaannya, mendadak dibuat terkejut oleh tangan basah Edzhar. "Sekarang kita impas," ucap pria itu setelah membuat wajah Gilda basah karena air laut.
Gilda terkekeh-kekeh dan melakukan hal sama. Membiarkan air laut membasahi telapak tangannya, Gilda juga mengusap wajah Edzhar. Keduanya pun tertawa bersama hingga langit yang semula berwarna jingga kemerahan di ujung sana, berubah menjadi merah kehitaman perlahan-lahan.
Gilda tersenyum, untuk sekarang mungkin dia memang diharuskan menjadi wanita yang lebih kuat dari sebelumnya. Itu pun harus dilakukan demi anaknya bersama Edzhar. Dia ingin buah hatinya lahir dengan selamat dan sehat.
Di atas pangkuan Edzhar, Gilda memberanikan tangannya untuk melingkar di leher lelaki itu. Gilda juga mengelus pipi Edzhar perlahan. "Aku tidak tahu seperti apa takdir kita ke depannya, Ed. Jika kita memang tidak ditakdirkan bersama, aku ingin kita tetap menjadi sahabat seperti dulu." Mencium kening Edzhar cukup lama, setelah itu Gilda menepuk pelan pipi kanan suaminya sambil tersenyum tulus.
Di saat pandangan Gilda kembali mengarah pada langit senja, Edzhar yang terdiam menerima perlakuan manis istrinya itu mengulurkan tangan ke dada. Tidak tahu kenapa, jantungnya berdegup hebat. Baru kali ini Edzhar merasakan hal asing yang jarang sekali dia rasakan.
Mengabaikan dadanya yang tiba-tiba berdebar karena menerima senyuman tulus dan tatapan lembut sahabatnya tadi, Edzhar mencoba fokus pada perut Gilda. Ia yakin, mungkin hal itu bisa terjadi karena mereka memutuskan bekerja sama untuk menjaga calon bayi mereka. Hingga kapal yang berlayar di tengah laut ini, mulai menepi dan suara Gilda mampu menyadarkan Edzhar.
"Kita sekarang ada di mana?" tanya Gilda kala kapal mereka berhenti di tepi pasir putih.
Bangun dari pangkuan Edzhar, Gilda bisa melihat beberapa rumah minimalis yang terbuat dari kayu berjajar di sana. Mungkin lebih dari sepuluh jumlahnya, karena Gilda belum sempat menghitung seluruhnya. Sementara dia yang belum menerima jawaban dari sang suami pun kembali bertanya, "Ed, kita sekarang di mana?"
"Ini, Tuan." Pria itu memberikan ransel milik Edzhar yang dibawa dari villa sebelum mereka makan siang di restoran, tepat sebelum mereka pergi ke rumah sakit. "Tas Nyonya sudah ada di dalam," imbuhnya saat Edzhar ingin memberikan uang.
Edzhar mengiyakan dan berucap, "Kembali sesuai jadwal."
"Baik, Tuan."
Sesudah pria itu pergi, Gilda menunjuk-nunjuk lengan Edzhar. "Kita ke sini untuk apa, Ed? Bukankah kita sudah tinggal di penginapan keluargamu?" tanya Gilda yang belum tahu dengan agendanya bersama Edzhar beberapa hari ke depan. Gilda merasa aneh karena tiba-tiba saja mereka sudah terdampar saja di pulau kecil, namun terlihat sangat mempesona baginya ini.
"Sebelum kita makan siang di resto, Janez menyarankan untuk mengajakmu ke sini. Katanya tempat ini salah satu bisnis keluargaku, dan dia menyarankannya supaya kondisi hatimu membaik."
"Hem. Aku baik-baik saja, Ed."
Edzhar merangkul pundak Gilda dan mulai mengayunkan kaki ke arah salah satu rumah kayu di sana. "Aku tahu kau merasa sedih setelah melihatku berciuman dengan Carla." Tepat setelah mengatakan itu, seorang wanita paruh baya datang dari rumah kayu lainnya dan mengucapkan salam pada Edzhar dan Gilda.
Setelah itu wanita tersebut memberikan kunci pada Edzhar. "Sekali lagi selamat datang dan menikmati waktu Anda, Tuan, Nyonya ...."
__ADS_1
"Terima kasih," balas Gilda dan Edzhar yang tidak sengaja terlontar secara bersamaan.
"Jadi benar kalau kita di sini untuk bulan madu?" tebak Gilda yang mampu mengundang seringai lebar milik Edzhar. "Hei! Kau jangan membuatku takut, Ed!"
"Mungkin aku harus sering-sering mengunjunginya," jawab Edzhar dengan tatapan mengarah ke perut Gilda. Sontak saja wanita itu menutup perutnya. Hal itu membuat senyum Edzhar semakin mengembang, namun lelaki itu lekas menggeleng. "Aku bercanda. Masuklah, istirahat sebentar dan bersih-bersih dulu sebelum kita makan malam. Aku akan memilihkan menu untuk kita," ujar Edzhar seraya meletakkan tas ranselnya di dekat pintu.
Lelaki itu menyempatkan bibirnya untuk mencium kening bersama tangan meraba perut Gilda. Sesudah itu Edzhar benar-benar keluar dari sana. Meninggalkan Gilda yang terkesiap sambil memegang keningnya.
"Kau membuatku maju mundur, Ed."
Sesudah itu Gilda memegang dadanya sembari berjalan ke tas ransel. Ia menempelkan lututnya di lantai yang terbuat dari kayu. Kemudian mencari pakaian yang akan dikenakan untuk makan malam bersama Edzhar.
"Sepertinya aku membawa pakaian yang benar ...." Senyum Gilda mengembang setelah tangannya menemukan sebuah gaun cantik.
*
Netra biru Edzhar tak bisa berhenti menatap Gilda dari atas hingga bawah. Lalu kembali menatap wajah istrinya. "Bukankah kau tahu aku membenci wanita yang tidak bisa berpakaian sopan, Gil?" tanya Edzhar saat dia baru saja membuka pintu kamar mandi.
Pemandangan tubuh seksi Gilda yang tertutup gaun panjang sampai betis, namun memiliki belahan dada yang rendah dan bertali tipis, sungguh mengganggunya. Edzhar mendekat, dan hal itu membuat Gilda menggeleng sambil mengulurkan tangannya. "Kau mau apa? Bukannya kau yang bilang kalau malam ini kita akan makan malam bersama?"
"Kau benar, aku memang bilang begitu, Gil ...," balas Edzhar yang kembali terjeda saat langkahnya yang makin mendekat ditahan tangan Gilda.
"Kau bilang begitu setelah kita batal ke kebun binatang. Kau juga bilang kalau aku boleh membeli gaun apa pun sebelum kita ke pantai, Ed. Sekarang kau ingin melarangku?"
"Ayolah, Gil! Aku tidak suka melihatmu memakai gaun itu. Beberapa pria di sini akan fokus padamu, Gil! Ganti dengan gaun lainnya, atau gaun yang kau pakai saat kita makan siang saja!"
"Memangnya aku siapa bagimu? Kenapa kau kesal kalau tubuhku dilirik pria lain? Bukankah itu menguntungkan bagiku, karena aku bisa mendapatkan laki-laki setelah kita bercerai nanti? Benar atau tidak?"
Edzhar yang hendak melangkah, tiba-tiba dikejutkan dengan dering ponsel di saku celananya. "Kita tidak sedang membahas perceraian! Cepat ganti gaunmu! Atau kita tidak akan makan malam di luar!" sentak Edzhar sebelum meraih gagang pintu dan memilih keluar kamar untuk mengangkat panggilan telepon dari Janez.
"Aku tidak akan ganti," gumam Gilda seraya mengikuti jejak Edzhar yang keluar dari kamar. Merasa ada seseorang di belakangnya, Edzhar pun menoleh dan detik berikutnya ia melotot tajam. "Anak kita sudah lapar, Ed."
"Aku sungguh ingin mengurungmu," desis Edzhar setelah menutup ponselnya, padahal dia belum selesai bicara dengan Janez. "Kau benar-benar, Gil!"
__ADS_1