Noda Darimu

Noda Darimu
Bab 20 Sehat?


__ADS_3

Tentu saja Gilda akan bersabar lebih lama lagi sebelum mengumpulkan banyak bukti lainnya. Dia harus benar-benar mempersiapkan matang-matang rencananya untuk membongkar perselingkuhan Carla dan Kendrick. Pertanyaan itu hanya muncul di hati Gilda, saat tatapan hangat Edzhar seakan-akan membelai lembut dadanya.


Tangan Edzhar yang lain melambai-lambai di depan wajah Gilda. "Kau baik-baik saja, Gil?" tanya Edzhar kemudian.


"Ya. Aku baik, terima kasih untuk keputusanmu. Kalau begitu, lanjutlah bekerja."


Di saat Gilda mengambil jarak, Edzhar menahan pergelangan tangannya. "Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu, aku juga terkejut saat menerima ciuman Carla, Gil."


"Tidak apa, seharusnya aku yang tidak perlu sakit hati."


"Kau sakit hati?" Gilda lantas saja terkejut mendengar pertanyaan Edzhar. "Maaf, aku lupa kalau kau pernah menyatakan cinta padaku."


Gilda pun tersenyum kecil sambil melepaskan diri dari lengan Edzhar. Ada perasaan kesal karena dengan mudahnya Edzhar melupakan perasaan cintanya untuk sang suami. "Sudahlah, memang tidak mudah untukmu mencintaiku, Ed. Aku mengerti, dan kembalilah bekerja." Gilda buru-buru angkat kaki dari lantai satu penginapan dan memilih untuk pergi ke halaman samping villa.


Gilda yang berjalan santai ke arah kursi panjang yang berada di pinggir kolam renang, mendadak pandangannya tersita pada dua pria di sana. Salah satu lelaki yang ia tahu bernama Janez itu tengah mengobrol dengan seseorang. Gilda yakin bahwa yang diajak berdiskusi adalah pekerja, lebih tepatnya orang yang turut merenovasi villa.


"Pergilah," pinta Janez pada seseorang yang ia ajak bicara sebelum menoleh ke arah Gilda. "Kau baik-baik saja?" tanya Janez begitu melihat sosok Gilda makin mendekat ke arahnya.


"Terima kasih, kau membuatku merasa lebih tenang."


Janez yang kini berada di dekat kursi kayu pinggir kolam renang itu pun duduk. Ia mempersilakan Gilda juga untuk duduk di kursi yang lain di sampingnya. "Sebenarnya aku tidak tahu siapa istri Ed. Awalnya kukira wanita tadi yang menjadi pasangan Ed, karena setahuku dialah kekasihnya," jelas Janez jujur.


"Sebenarnya akulah yang salah dari awal, karena aku sudah merusak hubungan mereka. Seharusnya Edzhar sudah menikah dengan Carla, bukan menikahiku, sahabatnya, dan menikah pun secara terpaksa." Gilda melirik perutnya dan tangannya mulai mengusap di sana. "Kami menikah karena aku melakukan kesalahan."


"Maksudmu, kau hamil anak orang lain dan Ed yang bertanggung jawab?"


Dengan secepat mungkin Gilda menggeleng. "Bukan. Bukan begitu, aku mabuk malam itu dan terjadilah peristiwa yang seharusnya tidak boleh kami berdua lakukan." Janez tiba-tiba tertawa. "Mengapa kau tertawa seperti itu?"


"Bukankah takdir sangat lucu?" Gilda mengerutkan dahinya. "Bagaimana tidak? Kau dan Edzhar adalah sahabat, dan kalian disatukan karena satu kejadian yang menurut kalian itu kesalahan. Bagiku itu takdir, hanya saja terjadi di waktu yang kurang tepat," jelas Janez masih tertawa pelan.


"Tapi pernikahan kami hanya sebentar. Kami berdua memutuskan untuk bercerai setelah satu tahun menikah."


Janez yang masih tertawa lebar, lantas berhenti tertawa dan menatap Gilda tajam. "Bercerai? Apakah kakek Mateo mengetahui hal ini?"


Kini Gilda yang sadar sudah keceplosan dan membocorkan rahasianya dengan Edzhar terlalu jauh, lantas menggigit bibirnya. Dia juga meminta maaf dan hendak pergi, namun lengannya ditahan Janez. Pria itu memintanya untuk kembali duduk.


"Em ... bukan maksudku untuk menceritakan ini, tapi ... tolong jangan beritahu siapa pun. Ini rahasia kami berdua."


"Perceraian sangat ditentang oleh keluarga Martinez. Mengapa Edzhar berani memutuskan hal bodoh yang dibenci keluarganya sendiri?"


"Aku tidak tahu, yang jelas ... dia sangat mencintai Carla. Aku tahu seberapa cintanya Ed untuk kekasihnya."


"Buatlah Edzhar mencintaimu. Aku percaya kau bisa melakukan itu."

__ADS_1


"Aku cukup yakin, tapi cukup sulit juga membuat sahabatku mencintaiku."


"Jika tidak bisa, mungkin aku akan menunggumu menjadi janda," ujar Janez diiringi tawa lebar. Hal itu membuat Gilda ikut tertawa. "Bodoh jika dia melepaskanmu, apalagi demi wanita murahan seperti kekasihnya tadi. Aku lihat-lihat dia tidak tulus mencintai adik sepupuku."


"Apa kau mengenal Carla?"


"Ya, saat di kantor. Aku pernah melihatnya sekilas bersama Edzhar. Hari ini, aku semakin yakin kalau dia wanita murahan."


Gilda ingin sekali menunjukkan foto Carla dengan Kendrick pada Janez, tapi ia takut kalau dirinya terlihat sangat kejam. Gilda masih ragu melancarkan aksinya yang akan membongkar pengkhianatan Carla. Wanita itu pun merenung sembari mengelus perutnya.


"Mengapa kau tiba-tiba diam?"


"A-aku ... aku sudah mendapatkan bukti perselingkuhan Carla, tapi ... aku ragu memberitahu Edzhar. Apa aku harus menunjukkan pengkhianatan Carla sekarang?"


"Benar dugaanku jika wanita itu ternyata murahan?"


Gilda tidak menjawab. Akan tetapi, dia langsung mengambil ponselnya dan memberikan pada Janez. "Foto itu diambil oleh Antonius, sopir pribadiku yang dipekerjakan oleh kakek Mateo."


"Kalau aku boleh memberi saran, buatlah Edzhar mencintaimu lebih dalam. Di saat waktu kalian akan bercerai, tunjukkan saja bukti itu. Edzhar yang kecewa, pasti tidak akan menceraikanmu."


Gilda mengangguk paham. "Aku akan simpan bukti ini baik-baik. Terima kasih untuk sarannya."


"Edzhar adalah adik kesayanganku. Secara tidak langsung aku menjaganya dari wanita yang licik seperti kekasihnya tadi. Kau sendiri jangan pernah berhenti mencintainya, aku tahu kau wanita terbaik yang pernah Edzhar kenal."


"Aku dan Edzhar akan lanjut bekerja." Janez sudah berdiri dan hendak meninggalkan Gilda. Sebelum pergi dia menambahkan, "Kau nikmati saja waktumu di halaman belakang. Hewan yang kau sukai ada di sana."


"Hewan yang kusukai? Kelinci?!"


Janez mengangguk-angguk. "Pria tadi memberitahu padaku bahwa Mateo pagi ini mengirimkan sepuluh ekor kelinci untuk dipelihara di villa ini," jelasnya yang membuat Gilda menarik sudut bibirnya.


Sedangkan di lokasi pemotretan yang tidak jauh dengan villa Martinez, Carla turun dari mobilnya dengan wajah marahnya. Wanita itu ikut bergabung bersama para kru dan mencari-cari sosok Lexa. "Di mana Isidora?"


"Nyonya ada di ruang ganti, Nona Carla," sahut salah satu kru dan turut mengikutinya. "Nyonya sudah menunggu Anda, Nona. Mari, Nona sudah diminta untuk bersiap secepatnya."


"Siapa kau berani mengaturku? Aku ingin berbicara dengan calon mertuaku dulu! Pergilah!"


Carla masuk ke suatu ruangan yang dipakai untuk Lexa berdandan dan bersiap-siap. "Aku kira di villa hanya ada Gilda! Mengapa di sana ada lelaki tampan yang terkenal dingin di keluarga Martinez?! Dia menggagalkan rencanaku untuk berduaan bersama putramu!"


"Kau baru tiba dan langsung marah-marah. Kau lupa kalau ada pemotretan pagi ini?!"


"Aku belum bisa bekerja sebelum kondisi hatiku membaik!"


"Ceritakanlah padaku pelan-pelan," ujar Lexa yang mengalah dan menatap dalam ke arah Carla yang mulai memandang padanya. Carla pun menceritakan apa yang terjadi beberapa menit lalu di villa Martinez. "Kau yang terlalu bodoh! Bukankah sudah jelas kalau di sana Edzhar tidak hanya berbulan madu? Dia juga bekerja karena villa itu tengah bermasalah, dan kemungkinan besar Janez meminta Edzhar untuk bertanggung jawab. Untuk itulah Edzhar membawa Gilda ke sana."

__ADS_1


"Jadi, mereka tidak benar-benar bulan madu?"


"Ya, Edzhar pasti sibuk bekerja dan mengabaikan Gilda. Kau tenang saja, dan tidak perlu cemburu. Aku yakin putraku masih sangat mencintaimu."


"Seharusnya begitu, karena aku tidak rela Gilda merebut Edzhar dariku. Edzhar hanya milikku."


"Ya, anakku selamanya menjadi milikmu. Sekarang bersiaplah untuk pemotretan, waktuku tidak banyak," balas Lexa seraya bangun dari kursi usai hair stylish merampungkan tugasnya. "Sore nanti aku harus terbang ke luar negeri."


*


Sesuai apa yang dikatakan Edzhar padanya pagi tadi, siang ini dirinya dan lelaki itu makan bersama. Edzhar mengajaknya makan siang di sebuah restoran milik salah satu keluarga Martinez, lokasinya dekat villa. Mereka duduk berhadapan dengan menyantap makanan masing-masing.


Aktivitas Gilda pun terhenti kala Edzhar bersuara, "Antonius, sopir pribadimu itu aneh sekali." Wanita itu pun meletakkan pisau, dan garpunya yang hendak memasukkan daging ke mulut pun terhenti. "Aku memintanya untuk mengantar kita pergi siang ini, tapi dia menolak. Tidak biasanya dia membantah perintahku."


Gilda yang ditatap Edzhar itu hanya mengangkat bahunya. Jelas sekali Gilda tak akan memberitahukan apa yang dikerjakan oleh Antonius. Lelaki itu pasti tengah membuntuti Carla, apalagi ia sempat memberitahu bahwa pagi tadi Carla datang ke penginapan. Sudah dipastikan, Antonius melaksanakan tugas darinya.


"Kakek justru menyarankan Lukas untuk mengantar kita."


"Mungkin kakek tidak pergi ke mana pun, dan mungkin saja kakek ingin kita aman jika Lukas yang menemani kita bepergian, Ed."


"Tetap saja, Lukas adalah sopir pribadi kakek. Lelaki itu juga jarang jauh-jauh dari kakek. Kesetiaannya pada kakek sudah tidak bisa diragukan."


Lagi-lagi Gilda hanya bisa mengangkat bahu. Diam-diam ia menahan kegugupannya. Berbohong seolah-olah tak tahu apa pun bukanlah dirinya yang asli.


Makan siang berlangsung tanpa hambatan. Gilda menerima perlakuan manis Edzhar setelah mereka selesai. Lelaki itu tidak berhenti mengusap-usap perut Gilda dari restoran sampai kini mereka di dalam mobil.


"Bukannya kita akan pergi ke kebun binatang?" tanya Gilda saat mobil mereka akan memasuki arena rumah sakit. "Kenapa kita ke sini, Ed?"


"Selama ini kita belum memeriksakan kondisinya." Tangan Edzhar masih di luar perut Gilda.


"Kata siapa? Aku sudah pernah mengeceknya, dan sejauh ini aku yakin dia baik-baik saja."


Edzhar tak menjawab. Dia lebih fokus pada kendaraan roda empat yang membawa mereka, sampai akhirnya berhenti di area parkir. "Ayo turun!" ajak Edzhar setelah pintu mobil terbuka dan dia turun lebih dulu.


Gilda pun turun setelah menerima tangan dari Edzhar. Keduanya langsung pergi ke dokter kandungan usai pegawai rumah sakit ada yang mendekati Edzhar dan mengobrol sejenak. Begitu sampai di ruangan dokter yang Edzhar cari, Gilda diminta untuk berbaring.


Edzhar yang melihat Gilda mulai telentang di ranjang, hanya fokus pada perut yang akan diperiksa. Begitu gaun selutut Gilda terangkat dengan bagian bawahnya tertutup selimut, Edzhar bisa melihat alat dari dokter berkeliling di sekitar perut sang istri. "Bagaimana kondisinya? Apakah dia sehat?"


Masih dengan aktivitasnya, sang dokter tersenyum. "Sehat, Tuan Edzhar," jawab sang dokter yang membuat Edzhar bernapas lega.


"Bukankah sudah kubilang? Dia yang masih berumur dua belas minggu ini sangat sehat," lirih Gilda seraya tersenyum kala calon anaknya terlihat di layar, terlihat masih sangat kecil baginya.


"Apakah kondisinya tetap aman jika kami sering melakukan hubungan suami istri?"

__ADS_1


__ADS_2