Noda Darimu

Noda Darimu
Bab 18 Dari Hati?


__ADS_3

"Termasuk mengangkat anak. Gilda, dia anak dari Gideon Martinez."


"Gideon ...? Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya," sela Carla yang menatap Lexa dengan penuh keingintahuan. "Siapa dia?"


"Gideon adalah anak angkat sekaligus anak kesayangan Mateo dan istrinya, Eliana."


"Anak angkat kakek?" Carla sampai sedikit membuka bibirnya karena cukup terkejut mengetahui asal-usul Gilda yang membuatnya sangat penasaran. "Jadi, itulah sebabnya kakek menyayangi Gilda? Karena Gilda anak dari anak angkat kakek?"


Lexa mengangguk sebelum meminum minumannya yang semakin menggugah hasratnya. Sementara Carla masih sibuk dengan kekagetannya. Rahang Lexa mulai mengeras jika mengingat masa lalu, di mana dirinya ditolak secara tidak hormat oleh anak angkat Mateo itu.


"Kalau benar begitu, kenapa Gilda dan orang tuanya tidak tinggal bersama kakek? Bukankah tadi kau bilang Gideon anak kesayangan?"


"Itu karena Gideon tidak ingin dijodohkan denganku, dia sudah mencintai Zelda, wanita sok polos dan kampungan."


Carla pun menangkap maksud Lexa yang kini mulai makin terang. "Jangan bilang kau ingin mencelakai Gilda karena dia anak musuhmu?" tanya Carla yang membuat tawa Lexa muncul tiba-tiba. "Apakah dugaanku benar? Kau ingin menghancurkan Gilda karena dia anak dari Gideon dan Zelda?"


"Kau cukup pintar dan cepat mencerna penjelasanku rupanya." Lexa masih tertawa-tawa. "Ya, aku akan menghancurkan Gilda karena dia anak Gideon dan Zelda."


"Kau sakit hati karena cintamu ditolak Gideon? Terlebih lagi karena ... Gideon memilih wanita yang tidak sekelas denganmu." Carla sangat pelan mengatakan kalimat itu, sedikit takut jika wanita di depannya ini mengamuk. "Benarkah begitu?"


Lexa meremas gelasnya yang hampir menempel ke bibir. "Memang sudah seharusnya dia bersama wanita kelas bawah, karena dia pun berasal dari bawah," balas Lexa sebelum meneguk minumannya untuk yang ke sekian kali. Membiarkan hangatnya alkohol mengalir di tenggorokannya yang kering.


"Kalau dia kelas bawah, mengapa kau bisa jatuh cinta pada Gideon? Bukankah dia tidak istimewa dan menarik di matamu? Atau karena dia menjadi pewaris dari Mateo?"


"Ya, awalnya aku menyukai Gideon karena dia ditunjuk Mateo untuk mengelola bisnis keluarga Martinez, Gideon satu-satunya penerus Martinez yang mampu memimpin segala usaha walaupun dia tidak memiliki darah Martinez."


Carla mengangguk paham. "Bukankah itu sulit? Seharusnya yang dapat meneruskan bisnis di keluarga hanya mereka yang memiliki darah Martinez. Walaupun hanya Gideon yang mampu, mengapa dia tetap bisa memimpin?" tanya Carla yang masih kurang paham dengan keputusan keluarga Martinez menjadikan Gideon pemimpin di bidang usaha keluarga besar.


Lexa geleng-geleng kepala. "Kini kau terlihat bodoh!" ucap Lexa yang membuat Carla menarik napas dalam-dalam. "Sudah jelas. Seluruh keluarga Martinez tidak ingin bisnis mereka bangkrut secara perlahan karena pemimpin yang kurang kompeten. Hanya Gideon yang mampu, dan di saat itu pula Mateo menjodohkan anak angkatnya itu denganku."


Mendengar penjelasan Lexa yang sangat masuk akal, Carla lagi-lagi mengangguk. Dia meminum koktail miliknya lagi sebelum mengajukan pertanyaan. "Lalu, apakah dia menolakmu?" tanyanya tanpa takut meskipun Lexa sudah melayangkan tatapan tajam.

__ADS_1


"Dia memilih Zelda, gadis yang katanya sudah mencuri hatinya semasa kuliah. Mereka bertemu di restoran milik Martinez yang saat itu dikelola Gideon pertama kali."


"Lalu apa yang terjadi? Apakah kakek tidak menyetujui mereka?"


Lexa membenarkan pertanyaan Carla. "Kau benar, Mateo lebih memilihku daripada wanita kampungan itu."


Di saat ingin membuka mulutnya lagi, Carla merasa ponsel di atas meja bergetar. Ponsel miliknya ternyata menerima pesan masuk. Bukan hanya dia yang melirik, Lexa pun ikut melihatnya.


Sambil menggapai ponselnya, Carla berujar, "Sepertinya aku tidak bisa di sini lama-lama."


"Ada apa? Mengapa Kendrick menghubungimu?"


"Aku tidak tahu. Mungkin dia memintaku untuk menemaninya." Lexa terus memberikan tatapan mengintimidasi. "Keponakanmu itu sesekali memintaku untuk pergi bersama. Dia bilang kalau tidak punya teman selain aku."


"Ya sudah, pergilah. Jangan lupakan pemotretan besok, pagi hari kau harus sudah siap di lokasi. Orangku yang akan mengirimkan alamatnya nanti."


"Baiklah, aku pergi dulu," balas Carla yang sudah bangun dari kursinya. Ia membawa hand bag warna merah dan melambai pada calon mertuanya. "Nikmati waktumu."


Lexa tampak tidak main-main di setiap pengucapannya. Matanya pun menyiratkan tekad bulat. Bisa dipastikan dia akan membalaskan dendam pada Gideon dan Zelda. Sedikit saja, dia tidak ingin anak musuhnya hidup bahagia di kediaman Mateo.


"Tunggu waktunya tiba, dan akan aku pastikan pembalasanku itu lebih menyakitkan dari apa yang kau berikan padaku dulu, Gideon. Putrimu itu akan merasakan betapa sakitnya ditolak mentah-mentah oleh orang yang dicintai." Senyum menyeringai dari bibir Lexa terbentuk tatkala ia meneguk lagi alkohol dari gelas ramping di tangan kirinya.


*


Gilda yang baru saja bangun dari tidurnya, menoleh ke kiri dengan tangan meraba-raba. Masih dengan mata terpejam, ia menoleh ke kanan bersama tangan kirinya yang bergerak-gerak. Detik itulah Gilda merasakan pegangan di pergelangan tangannya, dan sontak membuka mata.


"Kau sengaja menggodaku?" tanya pria yang tubuhnya sempat ia raba.


Lelaki tersebut tengah menyangga kepalanya sendiri dengan tangan kiri. Sedangkan posisinya tepat di samping Gilda. Kini Gilda menyadari bahwa bagian yang dia raba tadi adalah dada bidang Edzhar yang polos, tak tertutup kaos maupun selimut.


"Ti-dak!" Gilda menggelengkan kepala dan tersenyum kaku. "Aku, aku saja baru bangun. Tujuanku meraba bukan untuk menggodamu, tapi memeriksa apakah di sampingku ada orang atau tidak."

__ADS_1


"Kau tahu kau menyentuh bagian tubuhku yang mana?"


Sontak saja Gilda merasakan jantungnya seperti diajak berlari. Buru-buru ia membalikkan badannya, dan membelakangi Edzhar. Merapatkan selimut sampai batas leher, Gilda menjawab, "Bukannya kau harus bekerja? Ini sudah pagi, dan waktunya kau bersiap-siap. Aku akan mandi setelahmu, Ed."


Bukannya mendapat balasan dari bibir suaminya, Gilda justru menerima sentuhan di punggung polosnya. Seketika itu bulu halusnya meremang. Belum lagi sesuatu yang basah nan lembut juga hinggap di sana.


Edzhar memberi kecupan-kecupan dan itu membuat Gilda semakin merekatkan selimut di bagian depan tubuhnya. "Mengapa kita tidak mandi bersama saja, Gil ...?" bisik Edzhar sebelum menggigit kecil daun telinga Gilda. "Kau tidak ingin mengulangi kegiatan kita semalam?"


"Kau gila?! Kita sudah melakukannya lebih dari lima kali!" teriak Gilda lalu memasukkan serta kepalanya ke dalam selimut dan meringkuk. Bukannya didengar oleh Edzhar, dia justru mendapat sentuhan di bagian tubuhnya yang menonjol di belakang. "Apa yang kau lakukan?! Sekarang kaulah yang menggodaku!"


Edzhar terkekeh, dan terus menggoda Gilda dengan ciuman-ciuman yang dibubuhkan di bahu wanita itu. "Sepertinya pagi ini kita masih punya sedikit waktu untuk melakukannya lagi," ucap Edzhar semakin berani merayu, karena tangannya sudah siap menarik paksa Gilda dari ranjang.


"Kau mandi sendiri, Ed! Aaa ...! EDZHAR!" Tubuh Gilda yang tertutup selimut sudah diangkat. Edzhar menggendongnya seperti mempelai lelaki membopong mempelai wanita. "Turunkan aku, Ed! Kita mandi sendiri-sendiri!"


"Nanti ... setelah kita masuk ke dalam bathtub," jawab lelaki yang hanya mengenakan celana pendek ketat sepaha itu seraya berjalan ke arah kamar mandi. "Berikan aku service yang bagus lebih dulu, maka aku akan membiarkanmu menggosok tubuhmu sendiri," imbuh Edzhar yang tak dijawab Gilda karena wanita itu tengah memegang dadanya yang berdebar.


Melihat wajah Edzhar di pagi hari dengan dekat seperti ini membuat jantung Gilda tidak aman. Betapa tampannya sang sahabat sekaligus suaminya itu mampu membuat Gilda melupakan sejenak penampilannya. "Apakah senyummu pagi ini benar-benar tulus untukku, Ed?"


"Apa maksudmu?"


"Apa kau bahagia jika kita begini setiap pagi?" Edzhar yang hendak meminta Gilda membuka pintu kamar mandi itu lantas terdiam. "Apakah kau merasa bahagia jika melewati setiap aktivitas semacam ini bersamaku? Karena kulihat ... senyummu saat ini terlihat manis. Kau seperti tidak keberatan menunjukkannya padaku, Ed."


Bukannya menjawab, Edzhar justru menurunkannya. Lelaki itu membuka pintu kamar mandi dan segera menggeret Gilda untuk masuk ke dalam. Sampai di dalam kamar mandi, Edzhar kembali menggendong Gilda dan membawa serta tubuhnya untuk masuk ke dalam bathub.


Edzhar menyerang bibir Gilda dengan ciuman lembut, namun panas bagi wanita itu. Gilda hanya bisa menerima dan membalas sebisanya. Sepasang tangannya bahkan sudah menggantung di leher belakang Edzhar.


"Sudah kukatakan semalam, aku akan berusaha mengesampingkan Carla demi pernikahan kontrak kita."


"Jadi, saat ini ... semua perlakuanmu padaku tidak berasal dari perasaan ataupun hatimu, Ed?"


"Apa pentingnya bagimu perbuatanku ini dari hati atau tidak?"

__ADS_1


__ADS_2