Noda Darimu

Noda Darimu
Bab 30 Aku Mencintaimu


__ADS_3

Pukul satu siang hari di rumah besar, Mateo segera berjalan menggunakan tongkatnya. Ia dibantu Mona untuk mendekati sang sopir usai Antonius menghentikan mobilnya di depan teras. Begitu Antonius keluar, ia membuka mulut dan mengatakan, "Jemput paksa Gilda, aku sudah memerintahnya untuk setengah hari kerja, tapi sampai sekarang dia belum datang. Ponselnya juga tidak aktif, Antonius."


Tatapannya pada Antonius terlihat seperti menyiratkan kekhawatiran yang berlebihan. Antonius yang baru sampai karena mengantar pelayan untuk berbelanja pun tidak banyak protes. "Baik, Tuan. Saya akan menjemput nyonya. Anda tenang dan beristirahat di dalam saja, Tuan Mateo." Setelah mengatakan itu ia pamit dan segera masuk kembali ke mobil dan melajukan kendaraan beroda empat warna hitam itu milik Mateo.


"Mengapa kau suka sekali bekerja walaupun perutmu sangat besar, Nak?" gumam Mateo sesudah mobil hitam itu melewati pagar rumahnya. Mona yang mendampingi Mateo pun turut menenangkan dengan mengatakan bahwa 'tidak ada yang perlu dicemaskan' oleh pria senja itu. "Bagaimana aku tidak cemas? Tidak biasanya Gilda menolak pendampingan dan dijemput sopir pribadinya. Dia juga sulit dihubungi sekarang."


"Anda hanya kurang mengistirahatkan tubuh saja, Tuan. Nyonya juga sesekali tidak diawasi Antonius, tidak perlu cemas, Tuan Mateo." Mateo yang hendak berbicara itu terpaksa mengatupkan bibir karena Mona meneruskan, "Bisa saja nyonya Gilda terlalu fokus menyapa pembeli atau membaca buku, Tuan."


"Tetap saja, perutnya sekarang sudah semakin besar. Tidak seharusnya dia kembali ke toko roti, wanita itu sungguh keras kepala."


Mona hanya mampu mengusap punggung renta milik sang tuan. "Mari, saya antar Tuan ke kamar." Mateo mengangguk singkat. Keduanya pun masuk ke dalam rumah.


Antonius yang baru saja memarkirkan mobilnya di depan toko roti sang nyonya pun turun dari sana dengan tergesa-gesa. Langsung berlari ke arah pintu masuk toko roti yang sudah terbuka. Di sana berdiri seorang gadis yang segera menyapanya.


"Apakah nyonya Gilda ada di dalam? Sudah jam pulang, tetapi aku tidak bisa menghubunginya." Menatap ke pegawai toko yang berdiri di samping pintu masuk.


"Nona Gilda sudah pulang, tuan Antonius," jawab seorang gadis yang menyambut kedatangan Antonius.


"Bagaimana bisa? Aku baru saja dari rumah, tetapi nyonya tidak mengirim kabar apa pun." Tampak gadis itu menutup mulutnya dengan bola mata yang ingin loncat dari kelopak matanya. "Kenapa kau terkejut? Apa nyonya sudah lama pergi dari sini?"


"I-iya! Nyonya sudah pergi sejak pagi tadi, beberapa menit setelah masuk toko." Terlihat sekali wajahnya yang cemas dan suara gagap tak bisa tertahan karena syok, mengetahui sang bos belum sampai rumah. "No-nona bahkan mengatakan ingin pu-pulang."


"Baiklah, terima kasih." Antonius pun memutar badan, dan segera menghubungi Mona melalui sambungan telepon. "Halo, Mona. Apakah nyonya sudah di rumah?"


"Belum, bukankah kau sedang menjemputnya? Mengapa bertanya?" balas Mona dari seberang sebelum kembali bertanya, "Sebenarnya ada apa?! Apakah nyonya tidak ada di sana?!"


Antonius pun mengayunkan kaki ke arah mobil yang baru saja terparkir. "Nyonya Gilda sudah pulang sejak tadi." Terdengar suara Mona yang terkejut dan membuat Antonius menghela napas panjang karena dirinya pun merasa sangat cemas sekarang. "Baiklah, kau tenang saja. Aku akan menghubungi tuan Edzhar. Jangan sampai kabar ini sampai ke telinga tuan Mateo."


"Baik, bergeraklah cepat! Aku takut terjadi sesuatu pada nyonya Gilda!"


Antonius menutup panggilannya dengan satu tangan membuka mobil, dan lekas masuk. Sembari menghidupkan mesin kendaraan roda empat itu, satu tangan lainnya mengotak-atik gawai. Pria itu menghubungi Edzhar dan berharap sang tuan segera menjawab.

__ADS_1


"Ayolah, jawab panggilanku tuan!" pekiknya sembari fokus menatap jalanan di depan. Beberapa detik kemudian panggilannya terjawab, dan kata 'halo' meluncur dari sang tuan di balik ponsel. "Tuan, saya ingin menyampaikan kabar tidak baik. Nyonya Gilda menghilang."


"Kau yakin? Mungkin saja istriku keluar sebentar."


"Tidak, Tuan. Mona tidak melihat keberadaan nyonya di rumah. Seharusnya nyonya sudah sampai sejak tadi, Tuan. Pegawai toko juga mengatakan bahwa nyonya sudah pulang dari pagi tadi, Tuan."


Setelah itu Edzhar segera menutup pembicaraan mereka tanpa mengeluarkan satu kata pun. Antonius yang mendadak teringat akan Lukas, lantas menghubunginya. Pria itu meminta bantuan Lukas untuk mencari Gilda. Sesudah itu dia berusaha menghubungi Gilda yang ternyata ponselnya masih belum aktif.


Sedangkan Edzhar yang sudah beranjak dari ruangannya, buru-buru lari dan terus menelepon sang istri. Lelaki itu keluar dari kantor sambil melepas dua kancing teratasnya karena merasa panas sekaligus sesak. Kepanikan perlahan-lahan merambat pada jiwanya.


Akan tetapi, panggilan dari suara yang ia kenal masih membuat Edzhar fokus dan menoleh. "Kau ingin ke mana, Ed?!" tanya Janez dari arah belakang Edzhar. Pria itu juga berlari, dan menghampiri Edzhar.


"Istriku tidak bisa dihubungi, dia juga tidak terlihat di toko roti sejak pagi tadi," jawab Edzhar yang mempercepat larinya. "Aku akan mencarinya, batalkan kunjungan ke hotel."


"Aku mendapat pesan dari Gilda, tetapi pesan darinya lebih dari lima jam yang lalu."


"Apa?! Apa isinya?!"


Edzhar dengan kasar melepaskan cengkeramannya dan sedikit mendorong. "Dia ingin bertemu di mana?!"


"Di taman yang lokasinya tidak jauh dari toko rotinya." Edzhar tampak diam. "Aku rasa dia sudah tidak di sana, Ed." Edzhar yang juga mengira bahwa sang istri di sana pun kembali berpikir.


Keduanya sudah di luar gedung kantor keluarga Martinez. Janez mengatakan bahwa dia saja yang menyetir, dan meminta Edzhar untuk menunggunya mengambil mobil miliknya. Begitu mobil merah itu sudah berhenti di depan Edzhar, lelaki itu menunggu sang adik sepupu duduk dan mengenakan sabuk pengaman.


"Aku sudah tahu dia di mana," ucap Edzhar sambil menatap layar ponselnya. "Lokasinya sangat jauh dari sini, butuh waktu dua jam."


Janez menoleh ke kiri dan mengerutkan keningnya. "Dari mana kau tahu?"


"Aplikasi yang terhubung dengan alat pelacak."


"Beruntunglah karena kau sempat memikirkan itu."

__ADS_1


Sembari mengepalkan tangannya Edzhar menatap tajam jalanan lalu menengok ke kanan. "Aku menaruh alat itu di dalam tas miliknya. Sudah lama aku memasang alat mungil itu di seluruh tasnya untuk berjaga-jaga. Aku tidak tahu jika hari ini akan tiba."


Janez yang mendengar jawaban pria di sebelahnya bisa sedikit bernapas lega dan mencoba untuk lebih tenang dan fokus. Kakinya pun langsung menginjak pedal gas. Mengendarai mobil merah tersebut dengan kecepatan yang jauh dari rata-rata.


Di dalam rumah kosong tak berpenghuni, wanita hamil yang tangannya diikat satu-persatu itu tertunduk dengan air mata yang hendak keluar. Sebelum akhirnya ia berani untuk menatap seorang laki-laki yang duduk di sofa sambil memandanginya dengan tangan terlipat di depan dada. "Lepaskan aku!" pintanya dengan suara bergetar, tapi masih mampu membentak.


"Kau ingin mendapatkan tamparan lagi?!"


"LEPASKAN AKU! KAU BANCI, BAJINGAN!" teriak Gilda yang berusaha mengumpulkan keberaniannya. "Aku sudah bilang beberapa kali bahwa aku tidak pernah tertarik padamu!"


"Tapi aku mencintaimu! Aku mencintaimu sejak aku melihatmu pertama kali, Violet!"


*


Bisa baca part selanjutnya di **********. Link ada di profil aku.


*


"Kalau kau mencintaiku, kau tidak akan melakukan ini bodoh!" Lelaki yang kembali bangkit dari sofa itu sudah meremas dagu Gilda. Lalu menarik rambut panjang Gilda hingga kepala wanita hamil itu mendongak. Ia meringis kesakitan. "Kau hanya tertarik pada tubuhku!" sembur Gilda yang pipinya sudah berlinang air mata.


"Ya! Dan seharusnya kau juga tertarik padaku, bukan pada pria bodoh seperti saudaraku itu!"


"Kau sudah punya Carla! Seharusnya kau tidak perlu melakukan ini padaku! Kau tidak perlu menculikku dan menyiksaku!"


"Tidak perlu kau bilang?!" Gilda yang mendapat bentakan itu memejamkan matanya, karena tarikan Kendrick juga semakin kuat bibir Gilda mengaduh kesakitan. "Carla belum sempat menguras hartanya! Aku pun tidak mendapatkan bagian. Jika aku menculikmu, setidaknya aku bisa mendapatkan kenikmatan dari tubuh seksimu ini ...," bisik Kendrick seraya membelai pipi dan lengan Gilda.


Belum sempat Gilda memprotes, suara pintu terbuka dari ruang tidur kotor itu membuat keduanya menoleh ke arah yang sama. Seorang wanita paruh baya keluar dari sana dengan tatapan tajam dan rahangnya yang sudah mengeras. "Kau keluarlah, aku ingin memberi pelajaran pada wanita kampungan ini," katanya yang berjalan mendekati Gilda dan Kendrick. "Kau bisa menikmatinya sepuasmu setelah aku selesai bicara."


Kendrick menyetujui permintaan sang bibi. Ia pun menepuk pipi halus Gilda dan diakhiri dengan kecupan singkat di bibir. Membuat Gilda yang tak bisa melawan itu meludah sembarangan, dan semburan ludahnya itu tepat mengenai dagu Kendrick.


"KAU!"

__ADS_1


"Keluarlah!" teriak Lexa setelah Kendrick melayangkan tamparan ke wajah Gilda. Bahkan tamparan itu mampu memberikan luka di bibir menantunya. "Aku sudah mengatakan padamu untuk sekarang dia tawananku, Kendrick!" Lexa juga menarik tubuh keponakannya agar beranjak dari hadapan Gilda. Lelaki itu pun terpaksa angkat kaki dari ruangan kumuh itu, membiarkan sang bibi melakukan apa pun pada wanita yang membuatnya bergairah setiap melirik tubuh seksinya.


__ADS_2