
Akibat pemeriksaan siang hari ini, Gilda tak berhenti mengabaikan Edzhar. Kala lelaki itu membahas hubungan badan, Gilda selalu saja merasa salah tingkah. Hingga kini mereka berada di salah satu wahana air, Gilda masih saja mendiamkan Edzhar.
"Mengapa kau diam saja? Bukannya ini saat-saat yang paling kau tunggu?" tanya Edzhar yang hanya mendapat lirikan. "Hei! Kita sudah di pantai, Gil." Edzhar mengarahkan tubuh Gilda agar berhadapan dengannya.
Belum sempat Edzhar melanjutkan ucapannya, petugas sekaligus penyewa kano memberikan pelampung untuk dirinya dan Gilda. Edzhar menerima pelampung berwarna orange, dan hendak memakaikan salah satunya untuk Gilda. Akan tetapi, Gilda mengambil paksa dari tangannya dan membuat Edzhar mengerut bingung serta menahan kesal.
"Kenapa kau diam saja? Apa ada yang salah dengan naik kano lebih dulu? Apa kau ingin naik kapal?"
"Diamlah, aku sedang tidak ingin bicara."
"Jika aku diam, kaulah yang seharusnya berkata-kata! Bukan menutup bibirmu dan mengabaikan ucapanku, Gil! Kau tahu sendiri aku benci diabaikan!"
Belum sempat Gilda membalas, kano untuk mereka berdua pun datang dan siap ditumpangi. Gilda berjalan lebih dulu dan bersiap untuk naik. Hingga penyewa kano pun memanggil Edzhar untuk turut naik ke atas perahu kecil itu.
"Aku tidak akan naik jika kau diam saja," ucap Edzhar dan membuat wanita yang sudah duduk di atas kano tersebut menoleh. "Kau naik saja sendiri," tambahnya.
Penyewa kano itu hanya bisa menatap Gilda dan Edzhar bergantian sebelum memilih menjauh. Mengerti bahwa dua manusia itu butuh bicara, dia memutuskan untuk menyibukkan diri dengan menyapa para wisatawan lainnya. Menawarkan perahu kecilnya yang disewakan selama satu jam untuk para wisatawan.
Sedangkan Gilda yang tadinya sudah masuk ke kano, terpaksa keluar dan menghampiri Edzhar. "Ayolah, waktu kita di sini sangat sedikit, Ed!"
"Kau sendiri yang membuat acara kita tidak berjalan lancar. Kau sadar apa kesalahanmu?!"
"Kaulah yang membuatku kesal! Mengapa saat memeriksakan kandunganku, kau harus membahas tentang hubungan intim kita?!"
Edzhar yang kini mengetahui duduk perkara Gilda mengabaikannya, diam beberapa saat. Sampai akhirnya tawa lebar lelaki itu mengudara. Membuat seluruh orang di sekitarnya yang diam-diam menguping, ikut tertawa-tawa.
__ADS_1
Sedangkan Gilda, ia melirik sekitar dengan kepala agak menunduk. Tangannya meremas ujung kaosnya dengan kaki menendangi pasir pantai. Tak lama kemudian, dirinya mendapat sentuhan di punggung, bersamaan dengan tubuhnya yang didekap Edzhar.
Gilda mendongak dan menatap lelaki itu. "Setahuku itu hal wajar. Kau tidak perlu malu karena aku mendiskusikannya pada dokter," ujar Edzhar berusaha menenangkan walaupun senyum jahilnya tersungging sangat jelas di mata Gilda.
"Sekarang kau puas? Kau mempermalukanku di depan banyak orang."
"Semua itu salahmu sendiri karena malu. Ayo, kita naik kano! Waktu kita sudah terbuang karena efek perasaan malu."
Edzhar merangkul Gilda dan mengajaknya ke kano yang masih di pinggir pantai. Keduanya pun masuk bersama. Penyewa kano yang peka pun kembali dan mendorong kano tersebut sampai masuk ke air laut, dan mengambang di sana.
Edzhar dan Gilda sama-sama mendayung. Mereka melakukannya sesuai persis dengan arahan pemilik kano. Jika mendayung di sebelah kanan, perahu kecil itu akan berbelok ke kiri, begitu pula sebaliknya. Gilda yang duduk di depan itu tak berhenti menunduk, mengamati ikan-ikan kecil di laut yang beraneka ragam warna dan bentuknya.
"Kita sudah melakukannya lebih dari dua kali. Apa kau masih malu padaku?"
"Pertanyaan apa itu, Ed? Kau ingin aku mendiamkanmu lagi?"
Tahu ke mana arah pembicaraan Edzhar, Gilda menyendok air laut dengan telapak tangannya, dan mengarahkannya ke muka lelaki itu. Edzhar yang masih tertawa pelan itu pun kemasukan air laut. Sontak saja dia meludah dan mengelap bibir dengan kaos putihnya.
"Akhirnya kau berhenti tertawa, Ed."
Keduanya pun tak lagi saling bersitegang. Terutama setelah wanita itu tertawa saat melihat wajah Edzhar yang abstrak, lantaran mencicipi asinnya air laut. Edzhar juga ikut tertawa dengan perlakuan Gilda padanya.
Sembari mendayung, Gilda yang mulai cerewet itu asyik membahas ikan yang berenang di bawah kano mereka. Tanpa mereka sadari, perasaan di hati mulai menyatu secara tak kasat mata. Edzhar yang terus mendengarkan Gilda, tidak sadar kalau hatinya menghangat melihat wanita itu tersenyum dan sesekali tertawa.
Waktu yang dihabiskan di atas laut dengan menaiki perahu kecil khusus dua hingga tiga orang itu tidak lebih dari satu jam. Begitu selesai, Gilda segera mengajak Edzhar untuk menaiki kapal yang menampung delapan orang. Edzhar tentu saja setuju, ia sudah berjanji ingin menyenangkan hati sang istri.
__ADS_1
Kapal yang tidak besar itu menyediakan bangku panjang di sisi kanan dan kiri. Sedangkan di bagian tengah-tengah terdapat kaca persegi panjang yang tembus pandang, memperlihatkan pemandangan bawah laut yang sangat jernih. Sedangkan ruang untuk nahkoda yang berada di depan, dibatasi dengan kaca persegi yang memperlihat kepalanya saja.
Saat dirinya dan Edzhar duduk di atas kapal, Gilda yang semula menunggu para pengunjung lain pun dibuat bingung saat kapal mulai berlayar. Dia yang duduk di samping Edzhar lantas bertanya, "Ke mana penumpang yang lain? Bukankah kita harus menunggu orang-orang yang ikut menyewa kapal ini sebelum berlayar, Ed?" Raut bingung tampak tercetak jelas di wajah Gilda.
"Aku menyewanya khusus untuk kita berdua saja." Edzhar pun tersenyum melihat ekspresi kaget Gilda. Edzhar sudah tahu, pasti menurut Gilda, dirinya cukup berlebihan karena menyewa satu kapal untuk dua jam ke depan. "Ke marilah," ujar Edzhar sembari menepuk pahanya.
Gilda yang mendelik, kini menggelengkan kepala tak setuju. "Jangan bertingkah! Kita sedang di atas kapal, Ed!" Ombak yang diarungi kapal mereka memang tidak besar, tapi angin yang menerpa wajah mereka sangatlah deras. Gilda tidak ingin oleng jika pindah posisi.
Bukannya mendengarkan larangan sang istri, Edzhar nekat membawa tubuh Gilda ke pangkuannya. Lelaki itu mendudukkan Gilda di pahanya dengan dua tangan melingkar di pinggang. Edzhar mengecup punggung Gilda seraya mengelus perut wanita di pangkuannya itu.
"Bukankah ini pemandangan yang manis? Kau bisa melihat matahari terbenam dengan diriku yang memelukmu seperti sekarang." Gilda tersenyum. "Apakah kau suka jika kita melakukan hal-hal seperti ini, Gil?"
"Aku suka, dan akan lebih suka lagi kalau aku melakukannya bersama orang yang benar-benar mencintaiku."
Edzhar yang tangannya senantiasa mengusap-usap perut Gilda pun berhenti. "Bisakah kau mengesampingkan hal itu?" tanya Edzhar sedikit menaikkan nada bicaranya. "Bukankah kita sudah berjanji untuk menjalankan satu tahun penuh bersama calon bayi kita, tanpa memikirkan hubunganku dengan Carla?"
Gilda pun berdeham dan meminta maaf. Edzhar yang sebenarnya merasa tersentil itu merasa tak enak hati. Ada perasaan tidak tega kala Gilda mengatakan hal jujur seperti tadi. Bisa dia tebak, Gilda sedang berusaha untuk menikmati setiap waktu bersamanya dengan perasaan was-was maupun menahan luka.
"Pikirkan saja saat ini, kebersamaan kita, dan calon buah hati kita. Aku tidak ingin pikiranmu mempengaruhi kondisinya." Gilda mengangguk. Edzhar pun mengarahkan kepala wanita itu untuk menunduk.
Tepat kala posisi kapal yang disewa Edzhar berada di tengah-tengah laut, dia melabuhkan bibirnya di bibir lembut Gilda. Masih mendaratkan telapak tangannya di perut Gilda, Edzhar ******* bibir sang istri seraya mengelus calon buah hati mereka secara tidak langsung. Karena semakin memperdalam ciumannya, Edzhar ternyata sukses membuat Gilda melupakan perasaan takut akan jatuh cinta.
"Sepertinya ada lampu hijau yang membuatku berani semakin dalam mencintaimu, Ed ...," batin Gilda kala ciuman hangat Edzhar berpindah di keningnya. Tak hanya itu, kini Edzhar juga mengarahkan bibirnya ke perutnya.
"Tumbuhlah dengan sehat, kami mencintaimu, Baby ...," bisik Edzhar yang mampu meloloskan air mata haru Gilda. "Papa mencintaimu ...." Gilda mendongak dan buru-buru menghapus air matanya dan segera memalingkan muka saat Edzhar hendak menjauhkan bibir dari perutnya.
__ADS_1
"Kau benar-benar sudah mencintainya, Ed?" tanya Gilda spontan, persis setelah ia kembali merasakan usapan di perut.
"Melihatnya secara langsung saat di rumah sakit, entah mengapa hatiku bergetar." Gilda menatap netra Edzhar lebih dalam. "Ada perasaan senang kala melihatnya." Lelaki itu berkata jujur, dan kemudian bertanya, "Apakah itu perasaanmu saat tahu kau hamil, Gil?"