Noda Darimu

Noda Darimu
Bab 23 Makan Malam


__ADS_3

Edzhar menghampiri dan segera memegang lengan Gilda cukup kencang. Bersiap membawa Gilda masuk kembali ke dalam kamar, namun bunyi cukup nyaring yang bersumber dari perut Gilda, ternyata mampu menghentikan langkah kaki Edzhar. Lelaki yang hendak menyeret sang istri masuk itu pun terpaksa merangkul pinggang.


Gilda yang merasa malu, tapi lega itu pun menunjukkan senyum lebarnya tanpa takut dimarahi Edzhar. “Aku benar-benar lapar, bukan?” tanyanya masih dengan tersenyum lebar tanpa dosa. “Tidak ada waktu lagi untuk ganti gaun.”


“Hanya malam ini kita makan di luar. Malam-malam berikutnya aku tidak akan mengajakmu lagi ke restoran, dan kita makan saja di dalam kamar.”


Tentu saja Gilda menolak keputusan Edzhar yang sangat merugikan. Baginya keluar kamar adalah saat-saat terbaik untuk menenangkan hati sekaligus pikiran. Wanita hamil itu menggeleng hebat dan menahan Edzhar dengan dirinya yang tiba-tiba berhenti jalan.


“Baiklah, aku ganti pakaian sekarang. Kau tunggu sebentar, Ed.”


“Terlambat, perutmu sudah berbunyi. Itu tandanya anak kita sudah kelaparan di dalam sana,” jawab Edzhar jauh lebih ketus dari sebelumnya dan semakin mempercepat langkahnya. Mau tidak mau, Gilda juga berjalan cepat agar segera tiba di restoran yang dimaksud lelaki di sampingnya ini.


“Aku janji, aku hanya memakai pakaian mini ini semalam saja, Ed.”


“Aku tidak peduli, yang jelas mulai besok aku tidak akan mengajakmu makan malam di luar.” Gilda yang ingin membantah kembali dibuat diam dengan ucapan tambahan dari Edzhar, “Bukankah kau istriku? Seharusnya kau tidak melanggar perintahku, Gil.”


Sesudah mereka adu mulut ringan, kaki keduanya membawa mereka ke restoran bernuansa laut. Gilda yang takjub dengan pemandangan restoran itu sampai menutup mulutnya dan melirik ke arah Edzhar. Sedangkan manusia yang diliriknya terus mengajaknya lebih masuk lagi ke dalam restoran.


Bisa Gilda lihat pemandangan unik dari restoran tersebut. Sebuah akuarium yang berbentuk lingkaran melingkari setiap satu meja dan sepasang kursi. Seolah-olah memagari para pasangan yang sedang menikmati makan malam romantis.


Tinggi akuarium itu hanya setengah meter saja, yang rata-rata hanya setinggi lutut. Beraneka macam ikan ada di dalam akuarium unik itu. Hingga Gilda merasa bingung karena Edzhar justru tidak mengajaknya makan di salah satu meja yang kosong.


“Ed, mengapa kita tidak makan di salah satu meja di sana? Kau ingin kita makan di mana?” tanya Gilda berbisik. Akan tetapi, Edzhar sama sekali tidak memberi jawaban. Sampai tiba-tiba ia tiba di sebuah pintu yang di sampingnya sudah ada penerima tamu dan menyambut mereka.


“Mari, Tuan, Nyonya ...,” ajak gadis ramah yang tersenyum pada Gilda dan Edzhar dan segera menuntun sepasang suami istri tersebut untuk masuk. Setelah pintu dibuka, Gilda semakin dibuat terpana akan pemandangan yang lebih indah dan tiada duanya baginya.


“Bagaimana? Apakah pemandangan ini lebih bagus daripada saat kau menaiki kano?”


Gilda dengan cepat mengiyakan. “Ki-kita makan malam di sini, Ed?”

__ADS_1


Belum sempat Edzhar menjawab, penerima tamu tadi mempersilakan Edzhar dan Gilda untuk duduk di kursi makan yang dekat dengan akuarium raksasa. Gilda yang masih terkagum-kagum dengan pemandangan layaknya lautan lepas itu mendongak dan melihat ke kirinya. Dari dekat, ia bisa melihat ikan kupu-kupu atau butterfly fish, ikan blue tang, mandarin fish, dan masih banyak ikan lain yang menawan.


Edzhar membantu Gilda duduk setelah gadis yang mendampingi mereka tadi pergi. “Berhentilah menatap mereka. Makanan kita sebentar lagi akan datang.”


“Mengapa tidak boleh? Ini indah sekali, Ed ...,” lirih Gilda sebelum mengulurkan tangannya pada Edzhar. “Mana ponselku, aku ingin selfie.” Edzhar sembari menggeleng, memberikannya.


Gilda mengabadikan dirinya bersama ikan-ikan di dalam wadah raksasa itu dengan tersenyum senang. Sampai Edzhar yang meliriknya pun ikut tersenyum tanpa sadar. Hingga lelaki itu pun bersuara, “Mengapa kita tidak foto berdua saja? Kau tidak ingin selfie bersamaku?”


“Memangnya kau mau?”


Edzhar mengangguk dan menepuk pahanya. “Ke mari, duduklah di sini.” Sontak saja Gilda melotot dan melirik ke kanan, lalu menoleh ke belakang dan langsung menggeleng. “Ada apa? Kau tidak ingin duduk di pahaku?”


“Bukankah tidak sopan? Mereka semua makan dengan tenang, Ed.”


“Tidak apa, mereka tidak memedulikan kita. Lagi pula apa yang kita lakukan adalah hal wajar. Kau istriku, Gil.”


“Baik, Tuan.”


Dari memeluk erat pinggang Gilda, lalu meminta Gilda untuk saling berpandangan bersamanya, hingga Edzhar mengulum bibir sahabatnya, semuanya berhasil masuk ke kamera ponsel Gilda. Gilda yang belum siap menerima gaya yang terakhir itu pun merasa jantungnya tidak aman.


“Selamat menikmati makan malam Anda, Tuan, Nyonya.”


Gilda pun buru-buru pindah ke kursinya dan segera menenangkan dadanya yang berdebar dengan meraih segelas air mineral. “Mari makan, bukankah perutmu sangat lapar?” Gilda mengangguk dan meletakkan gelasnya. Sesudah itu Edzhar dan Gilda mulai makan makanan pembuka terlebih dahulu.


Gilda yang hendak mengambil minumnya, dikejutkan dengan Edzhar yang lebih dulu mengambilkan gelas itu untuknya. “Terima kasih, Ed.” Tak sampai di situ saja, Gilda kembali dikejutkan dengan Edzhar yang akan menyuapkan daging lobster padanya, menu kedua di makan malam mereka.  “Mengapa kau menyuapiku?”


“Apakah salah?”


“Tidak, Ed, tapi ... aku bisa makan sendiri.”

__ADS_1


“Mulai malam ini aku akan memperlakukanmu seperti wanitaku,” ucap Edzhar yang kembali menyodorkan sesendok daging lembut nan gurih itu pada sang istri. “Makanlah.” Gilda pun makan dengan menatap Edzhar yang fokus menyuapinya.


Makan malam itu dinikmati Gilda dengan perasaan yang tak menentu. Di satu sisi ia ingin sekali membiarkan perasaan cintanya berkembang, tapi otaknya selalu memberi sinyal bahwa kebahagiaan itu tidak akan berlangsung selamanya dan akan memberikan kesedihan yang mendalam. Namun, tiba-tiba saja Gilda teringat akan malam di mana mereka menghabiskan waktu di rumah lama orang tuanya.


Gilda yang hendak bertanya pun membuka mulutnya. “Ed ...,” lirih Gilda yang terpotong begitu saja karena permintaan Edzhar.


“Kirimkan foto tadi padaku, Gil.”


Gilda mengiyakan, tanpa basa-basi melaksanakannya. Di saat yang bersamaan, ia mendapat kiriman dari Antonius lagi. Pria itu mengirim foto Kendrick dan Carla tengah saling berpelukan di samping mobil yang terparkir di sebuah area parkir pusat perbelanjaan. Antonius menerangkan bahwa foto itu diambil setelah keduanya turun dari mobil.


Gilda pun memiliki ide, ia tak ingin lagi menunda seperti yang Janez sarankan padanya. Dia melirik Edzhar sejenak dan segera mengirimkan semua bukti yang ia dapat dari Antonius. Satu detik belum ada respons, dua detik Gilda yang merasa gugup, tiga detik kemudian Gilda menundukkan kepalanya. Hingga detik kelima barulah Gilda meremas gaunnya.


“Aku ingin bertanya, Ed ... bukankah kau sudah tahu kalau Carla bermain di belakangmu? Tapi kenapa kau marah saat aku bertanya bagaimana perasaanmu kalau Carla tidak sepenuhnya mencintaimu?”


Bukannya menjawab, Edzhar justru bertanya, “Mengapa kau mengirim foto mereka padaku?”


“Kau tahu Carla selingkuh, tapi masih ingin berpacaran dengannya, Ed? Kau cinta mati pada Carla?”


“Siapa yang berpacaran? Bukankah aku sudah bilang kalau saat ini aku akan fokus padamu dan calon anak kita? Kau masih kurang jelas?”


“Aku tahu kau sangat mencintainya, tapi berhentilah mencintai wanita yang hanya ingin mengambil sesuatu darimu, Ed.”


“Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak ikut campur dengan hubunganku dan Carla. Mengapa kau melakukan pengintaian? Kau melakukannya demi diriku, bukan?” Edzhar menggeleng dan menekankan sekali lagi, katanya, “Tidak perlu melakukan sejauh itu untuk membuatku melepaskan Carla, Gil.”


“Mengapa kau bilang begitu? Aku peduli padamu karena kita pernah menjadi sahabat, dan aku ingin yang terbaik untukmu.” Gilda yang memang semakin sensitif itu sudah memperlihatkan netranya yang mengembun. “Setidaknya kalau kita tidak berjodoh, aku ingin kau mencintai orang yang pantas kau cintai. Orang yang pantas mendapatkan ketulusan hatimu, dan orang yang pantas bersamamu di saat senang maupun susah, Ed.”


Edzhar yang mendengarkan setiap kata dari mulut Gilda pun belum bisa mengeluarkan balasan. Lelaki itu justru menatap Gilda yang sudah menundukkan kepala. Melihat ke sekelilingnya, Edzhar menghela napas. Meski para pengunjung resto yang lain sibuk sendiri-sendiri, dirinya tetap merasa tidak nyaman.


“Kau ingin kita ke mana setelah ini?” Saat Gilda mendongak dan ingin menjawab, Edzhar kembali melanjutkan, “Jangan bilang kau ingin kembali ke kamar. Aku tidak ingin kau pura-pura tidur dan diam-diam menangis. Jadi katakan, kau ingin ke mana?”

__ADS_1


__ADS_2