Noda Darimu

Noda Darimu
Bab 16 Jauhi Carla


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Gilda yang dianggap sebagai bualan tidak mutu, Edzhar tak ragu untuk menabrakkan punggung sang istri ke dinding putih lorong penghubung ruang makan. Meski tidak kencang, Gilda sampai terkejut dan menatap Edzhar dalam nan tajam. Edzhar tampak melotot menatap Gilda yang sedikit meringis itu.


“Ed!” pekik Gilda sembari melirik lengannya yang dicengkeram cukup kuat oleh Edzhar.


“Apa yang kau bicarakan?! Kau tahu, kau sudah melebihi batas, Gil?!” tanya Edzhar penuh penekanan di setiap katanya.


“Aku cuma bertanya, tapi mengapa responmu terlalu berlebihan begini?”


“Kau bilang aku berlebihan? Carla kekasihku!”


“Dia kekasihmu, tapi aku istrimu!” sentak Gilda tak kalah kencang. Suaranya sudah terdengar bergetar, sama seperti dadanya bergetar, sakit.


“Dia wanitaku!”


Kepala Gilda terangkat sedikit, mendongak menatap Edzhar dengan sepasang mata yang sudah berkaca-kaca. Hatinya sakit mendengar ucapan Edzhar yang terang-terang menekankan bahwa Carla adalah kekasih dan wanitanya.


“Ya, dia wanitamu ...,” dengan senyum kaku Gilda manggut-manggut. Pegangan di lengannya perlahan-lahan terlepas. “Aku cuma bertanya, apa salahnya aku bertanya begitu?!” sentak Gilda dengan suara makin bergetar. Wanita itu langsung pergi setelah Edzhar benar-benar melepaskan genggamannya.


Jujur saja, Gilda sangat terkejut akan perlakuan spontan lelaki itu yang menabrakkan dirinya di dinding, entah mengapa pula air matanya harus keluar. Disentuhnya dada yang terasa pedih, kepalanya menunduk. Dirinya tidak tahu, sedih karena perasaannya yang sensitif karena hamil, atau memang dirinya yang kecewa dengan perlakuan Edzhar padanya.


Masih menunduk, Gilda menyentuh perutnya. “Susah sekali memperjuangkan papamu ...,” batin Gilda sebelum pundaknya dirangkul dari belakang.


Melirik sang pelaku yang kini berdiri di samping kirinya, Gilda kembali menundukkan kepala. “Maaf, aku tidak bermaksud melukaimu.” Edzhar masih merangkul pundak kanannya. “Aku terlalu kesal mendengar pertanyaanmu.”

__ADS_1


“Aku tahu, kau terlalu mencintai Carla. Aku mengerti itu, tapi ... aku tidak tahu kenapa kau setega itu padaku. Padahal aku cuma bertanya, Ed.”


Edzhar yang merasa bersalah itu berdeham, sebelum melingkarkan tangannya di pinggang Gilda. Membuat Gilda menoleh ke arahnya. Dihapusnya air mata Gilda dan mengatakan, “Lain kali jangan bertanya seperti itu.”


“Mengapa aku tidak boleh? Kau takut kalau apa yang aku tanyakan itu benar-benar bisa terjadi?” Edzhar menghela napas mendengarkan balasan sahabatnya itu. “Entah nanti kau akan percaya atau tidak, tapi Carla memang tidak sepenuhnya mencintaimu,” ujar Gilda kemudian dan segera melepaskan tangan Edzhar dari pinggangnya.


Wanita itu memilih pergi ke halaman di samping villa yang begitu luas. Ada gazebo di ujung halaman, lalu kolam renang khusus untuk orang dewasa. Saat Gilda berjalan sekarang ini, ia tengah berada di taman bunga kecil yang di bagian kanan terdapat kolam kecil, di dalamnya dihuni ikan hias.


Gilda yang butuh waktu untuk menenangkan diri itu akhirnya memilih duduk di gazebo. Sampai di gazebo, Gilda membuka lagi ponselnya. Melihat layar ponselnya, membuka galeri. Tatapannya jatuh pada foto Carla yang hendak ia tunjukkan pada sang suami, alias sahabatnya.


Tiba-tiba air matanya tumpah lagi. “Apakah aku salah mencintaimu, Ed?” Memandang ke atas langit yang menggelap karena mendung, Gilda membiarkan air mata membasahi pipi. Tidak memedulikan obat gel di pipinya yang bisa luntur akibat tersapu air mata.


Dadanya sakit, ucapan Edzhar tadi benar-benar memaksanya untuk kembali sadar siapa dia sebenarnya dari awal. Gilda hanyalah sahabat yang tidak sengaja merusak hubungan sahabatnya sendiri. Rasa takut kembali menjalar di hatinya, seakan meminta dirinya untuk berhenti memupuk rasa cinta untuk Edzhar.


Gilda yang terisak itu menunduk, melirik perutnya. “Ternyata sesulit itu masuk ke dalam hatimu, Ed ....” Berusaha menahan tangisannya agar tidak semakin kencang, tetapi Gilda tampak kesulitan. Berakhir dengan kedua telapak tangan menutup wajahnya. Dia meluapkan sakit di hatinya.


Orang yang disebut namanya oleh Gilda, ternyata tengah memperhatikan diam-diam dari kejauhan. Edzhar yang sudah mengambil makanannya dari ruang makan itu terdiam kala melihat sang istri duduk di gazebo sembari menangis. Bagian dari hatinya merasa tidak tega, sekaligus merasa bersalah.


Namun, Edzhar belum bisa melepaskan Carla. Cintanya pada Carla benar-benar tulus, dan tidak pernah putus hingga detik ini. Lelaki itu seakan cinta mati pada Carla, dan karena cinta itulah ia menjaga Carla hingga berharap bisa menikah dengan Carla suatu saat nanti. Lebih tepatnya setelah pernikahan kontraknya dengan Gilda selesai.


“Apa kau sangat mencintaiku?” tanya Edzhar yang tiba-tiba sudah berada di samping gazebo tanpa sepengetahuan Gilda. Wanita itu menoleh dan berdiri, hendak melangkah pergi, tapi tangannya ditahan. “Temani aku makan, bukankah tadi kau sudah setuju?”


Gilda tidak menjawab, tapi kembali duduk. Edzhar lantas mendekatinya, dan menempatkan diri di sisi kanan sang istri. Kini keduanya sama-sama berada di atas gazebo, dengan Gilda yang enggan memandang Edzhar. Sementara lelaki itu sama sekali tidak memutuskan tatapan pada Gilda.

__ADS_1


“Kau mau makan lagi?” tanya Edzhar sembari membuka paper bag miliknya. Jika tadi Gilda menyantap steak ayam, Edzhar memilih menu beef steak. Mendapat gerakan kepala dari Gilda, ia menghela napas.


Edzhar mengamati netra sang istri yang mengembun karena habis menangis, lagi-lagi rasa bersalah mengusik hatinya. “Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu tadi. Aku juga minta maaf untuk luka di pipimu, bekas tamparan itu sedikit mengganggu perasaanku,” ungkap Edzhar sebelum berdoa dan menyantap makanannya, karena Gilda belum juga bersuara.


Duduk di samping Edzhar dengan kondisi hati yang kurang baik, membuatnya malas bersuara. Terlebih lagi ia masih berusaha untuk menenangkan diri agar tidak menangis di hadapan lelaki itu. Alhasil, Gilda setia menutup mulut dengan tangan yang tak berhenti menyapa calon anaknya di perut.


Edzhar yang sibuk makan itu sesekali memperhatikan perempuan di sampingnya. Ia juga bisa melihat senyum tipis Gilda yang ditujukan untuk calon buah hati mereka di dalam perut tertutup jumpsuit floral. Pemandangan itu membuat hati Edzhar bergetar, dan suapan untuknya sendiri mendadak berhenti.


“Aku terlalu emosi sampai lupa bahwa kau tengah mengandung, maaf ....” Dengan tangan kiri yang terangkat, Edzhar hendak memegang tangan sang istri. Namun, Gilda buru-buru menggeser tubuhnya. Wanita itu hanya meliriknya dan mengangguk singkat. “Aku benar-benar minta ma—“


“Sepertinya akan turun hujan, selesaikan saja makanmu. Setelah itu aku ingin masuk dan melihat-lihat villa ini,” potong Gilda yang melihat ke arah Edzhar singkat. Ia kembali fokus pada perutnya, tak ingin menatap sorot mata lelaki itu atau nanti air matanya kembali turun.


“Mencintaimu adalah hal paling sulit yang aku lakukan, Gil. Jadi, jangan terlalu berharap dengan pernikahan ini. Kita sama-sama sudah menandatangani perjanjian.” Gilda dengan pelan menengok ke arah Edzhar yang bicara serius. “Selama kita menjalani pernikahan ini, aku ingin kita sama-sama berperan layaknya pasangan yang baik-baik saja.”


“Jika memang itu keinginanmu, seharusnya kau juga bisa berhenti sejenak mengabaikan Carla selama satu tahun penuh, Ed.” Gilda menahan perih di dadanya, dan menutupi dengan seulas senyum.


Edzhar yang hendak merapatkan dirinya ke Gilda mendadak berhenti bergerak. Lelaki itu terkejut mendengar balasan Gilda. Sampai-sampai ia memikirkan Carla yang kemarin melayangkan tamparan untuknya.


“Fokuslah padaku dan calon buah hati kita selama pernikahan kontrak kita ini berjalan, hanya fokus pada kami.” Gilda mengelus perutnya tanpa memandang ke arah Edzhar, ia masih melihat langit yang mulai menjatuhkan titik-titik air. Tampak Edzhar yang makin tercengang mendengar pemintaan sahabatnya ini. “Bukankah waktu kita menjadi suami istri hanya satu tahun, Ed?”


“Gil ... aku tidak mungkin menjauhi Car—“


“Aku minta padamu jauhi Carla selama satu tahun pula,” lanjut Gilda yang belum selesai menjelaskan. “Kau juga bisa menyentuhku, seperti pasangan suami istri lainnya, asalkan ... berhenti sejenak menghubungi Carla sebelum kita benar-benar bercerai.” Menoleh pada Edzhar, Gilda menatap lelaki itu serius. “Apa kau mampu?”

__ADS_1


__ADS_2