Noda Darimu

Noda Darimu
Bab 26 Gilda Minta Cerai


__ADS_3

Gilda yang melihat foto neneknya dari pihak sang papa tersenyum lembut. Jari-jemarinya mengusap foto wanita muda yang begitu cantik, perlahan ia menegakkan badan. Ia menatap Edzhar yang turut duduk setelah Mona memberikan kotak obat-obatan.


Setelah di ruangan itu hanya berisi tiga orang, Gilda berdeham dan menatap Mateo lekat-lekat. Wanita itu sudah memutuskan sesuatu yang sangat besar dan yakin seratus persen. Meskipun nantinya sang bibi akan bersedih, Gilda percaya bahwa apa yang ia putuskan hari ini menentukan kebahagiaannya ke depan.


“Kau ingin menyampaikan sesuatu?” tanya Edzhar saat tatapan Gilda ditujukan untuknya. Dia yang sedang menuang obat merah ke kapas itu pun berhenti sejenak saat Gilda mengangguk. “Sampaikan saja, tidak perlu menunda. Atau kau ingin hartamu, Gil?”


“Selain harta, aku juga ingin bercerai denganmu. Aku tidak ingin pernikahan yang suci ini harus dinodai,” balas Gilda yang membuat dua lelaki di sekitarnya melotot padanya. Terlebih lagi Mateo, pria itu tampak sekali terkejut dan perlahan netranya berkaca-kaca.


“Apa kau masih memakai otakmu? Kita baru saja menikah, dan kau ingin bercerai?”


Gilda mengangguk. “Untuk apa kita menunggu tahun depan? Lebih baik kita bercerai sekarang, Ed. Percuma saja aku mengharapkan cinta dari sahabatku yang tidak pernah mencintaiku. Hanya karena bayi kita, kau rela menikahiku. Jadi, aku pun rela bercerai dari pernikahan ini demi dirimu dan kebahagiaanmu.” Gilda menjelaskan keinginannya dengan perasaan yang jauh lebih tegar. Setidaknya dia memiliki harta yang cukup banyak, dan ia tak akan khawatir akan masa depan bayinya nanti karena memiliki banyak uang.


“Baiklah jika itu keputusanmu dan kau yakin akan itu, aku tidak akan menahanmu lagi, Nak. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Kau sungguh kuanggap seperti cucuku sendiri, jadi aku akan menghargai segala keinginanmu.”


“Terima kasih, Kakek.”


“Untuk pengalihan sebagian hartaku, aku akan memberikan berkasnya besok pagi.” Sekali lagi Gilda mengucapkan terima kasih. “Beristirahatlah, kau pasti kelelahan. Turunlah jika makan malam sudah siap,” tambah Mateo yang diiyakan oleh Gilda. “Dan kau, Ed. Aku ingin berbicara denganmu.”


Edzhar yang sangat ingin berbincang dengan Gilda itu terpaksa menurut. Pria itu kembali duduk dan memandang Gilda sampai wanita itu keluar dari ruangan. Sebagian dari dirinya tidak rela jika harus berpisah dari Gilda secepat ini. Keputusan mendadak dari Gilda benar-benar tak pernah ia duga.


Mateo yang menyadari raut wajah tak terima dari wajah cucunya lantas mengatakan, “Gilda berani mengatakan perceraian karena perasaan ragu dalam dirinya, dia takut sakit hati ke sekian kalinya, Ed.”


“Aku tahu, Kakek. Oleh sebab itulah aku ingin fokus padanya dan calon anak kami. Bahkan aku sudah memutuskan hubunganku dengan Carla untuk sementara ini.”


“Kau bilang apa? Mengakhiri sementara?” Edzhar diam dan hal itu membuat Mateo menggeram. “Sejujurnya tak ada wanita yang ingin diduakan. Ingatlah, dia tengah hamil. Perasaannya sangat sensitif, dan di ruang keluarga tadi kau melakukan kesalahan yang terlalu fatal.”


“Aku tahu, tapi untuk saat ini aku sungguh ingin menghabiskan waktu bersamanya.” Edzhar mengatakannya dengan sangat serius. Ia kini bahkan berhenti mengurus obat merah yang akan digunakan untuk bagian bibirnya yang berdarah. “Aku mulai mencintai anak kami, untuk itu aku memilih fokus pada mereka.”

__ADS_1


“Kau benar-benar menyakiti perasaannya saat mengklaim bahwa Carla adalah wanitamu, bahkan di saat kau tahu seberapa parahnya Carla mengkhianatimu. Jujurlah padaku, apakah kau sama sekali tidak ingin melanjutkan pernikahan kalian?”


“Aku masih ingin.”


“Apa kau membenci Gilda?”


“Tidak, untuk apa aku membencinya?”


“Apa kau tidak bisa mengubah perasaan sayangmu itu menjadi cinta?” Edzhar tak menjawab. Pria itu justru membuang pandangannya yang semula pada Mateo, berpindah ke foto pria tampan nan bijaksana. “Jawab pertanyaanku.”


“Aku tidak tahu.”


“Aku takut kau akan menyesal seperti diriku dulu,” balas Mateo sembari menatap album fotonya. “Aku pernah menolak cinta sahabatku, yang tidak lain adalah nenek dari Gilda. Setelah mengetahui dia menikah bersama pria lain, aku pun hanya bisa mencintai dalam diam. Sampai akhirnya aku menikah dengan nenekmu. Cintaku padanya tidak sebesar cintaku pada nenek kandung Gilda.”


“Untuk itu Kakek sangat menyayangi Gilda? Karena dia anak dari wanita yang kau cintai?” Mateo mengangguk. “Meskipun Gideon bukan anak kandungmu kau juga menyayanginya?”


Sekali lagi Mateo menggerakkan kepala ke atas dan bawah, membenarkan pertanyaan sang cucu. “Gideon mengingatkanku pada ibunya. Begitu pun dengan Gilda, aku dapat melihat cinta tulus neneknya yang melekat padanya.” Masih sangat terekam jelas di benak Mateo bagaimana perlakuan manis sahabatnya dulu untuk menarik hatinya, sayangnya ia terlambat menyadari dan berbuah penyesalan terdalam. “Jadi, jangan pernah sekalipun kau menyakiti orang yang sudah tulus memberikan cintanya padamu, atau kau akan menyesal seumur hidupmu.”


Edzhar tidak melihat Gilda di atas kasur. Ia pun coba masuk ke kamar mandi, namun tidak ada. Edzhar juga mengecek ke ruang ganti juga sang istri tak terlihat. Edzhar pun menyadari bahwa pintu balkon sedikit terbuka, dan Edzhar memilih menengok balkon.


Ternyata dugaannya benar, Gilda ada di sana. Lelaki itu perlahan mengulurkan tangannya ke arah kepala Gilda, ingin mengelus rambutnya. Akan tetapi, isak tangis Gilda membuatnya memilih untuk memeluk sahabatnya itu dari belakang.


“Kau yakin dengan keputusanmu, Gil?”


“Tolong jauhkan tanganmu.” Edzhar tidak mengabulkan. Justru ia makin mengeratkan pelukannya. “Aku mohon, Ed ... tolong lepaskan,” pintanya sekali lagi, tapi tetap tidak didengarkan.


Edzhar tak hanya memeluk, ia memberikan usapan di perut Gilda. Berusaha membuat sang istri tenang, Edzhar pun mulai bertanya untuk ke dua kalinya dengan suara lebih pelan dan halus. “Jawab pertanyaanku, apa kau yakin dengan keputusanmu ...?”

__ADS_1


“Berat jika aku mendapat gelar single mom nanti, tapi akan lebih berat lagi kalau aku bertahan di pernikahan yang tidak ada cinta di dalamnya.” Gilda meremas pagar balkon guna menguatkan hati. Ia tidak ingin menangis. “Di umurku yang masih dua puluh satu tahun ini, rasanya berat kalau menjalaninya. Membayangkannya sangat menakutkan, Ed.”


“Tapi mengapa kau memilih untuk bercerai secepat ini? Kau tidak ingin bertahan lebih lama lagi agar aku sadar akan cinta tulusmu, Gil?”


“Bagiku pernikahan berbicara tentang dua manusia, dua hati, namun satu cinta dan satu tujuan, Ed. Pernikahan itu kudus, siapa pun yang berkhianat di dalamnya, maka pernikahan itu sudah tidak suci lagi dan ternodai. Kalau kau mencintai orang lain di saat kita sudah menikah, sama saja kau menodaiku.”


Mendengar suara Gilda yang mulai bergetar itu Edzhar memutar tubuh yang semakin berisi itu. Menatap matanya, Edzhar menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya dan menangkup wajah Gilda. “Malam ini ikut aku. Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Carla.”


“Jangan bercanda, Ed. Aku tidak ingin sakit hati lebih dalam lagi, sudah cukup.” Di saat Gilda ingin memutar badannya, Edzhar menahan pinggangnya. “Kau membuatku semakin buruk kalau melakukannya dengan terpaksa. Jangan buat aku jatuh untuk beberapa kali, Ed ...,” lirih Gilda bersama air matanya yang turun, tak bisa dicegah lagi.


“Aku tidak bercanda. Aku akan menjadikanmu ratuku, Gil.”


Gilda kini masuk ke dalam dekapan Edzhar. Ia yang masih menangis itu tak mau percaya. Gilda takut jika ini hanya akal-akalan Edzhar saja agar ia mengundurkan waktu perceraian. “Keputusanku sudah bulat, Ed. Aku tidak mau terluka lebih lama.”


“Aku bersumpah, aku akan menjadikanmu wanitaku selamanya. Hanya kau, Gil.”


“Ed!”


“Dengarkan aku ...,” bisik Edzhar yang mengangkat dagu Gilda dengan tangan kanannya, sementara tangan kiri masih mendekap pinggang wanita itu. “Meskipun aku aku belum sepenuhnya mencintaimu, aku mau kau berusaha menunjukkan cinta tulusmu, Gil. Aku ingin dicintai oleh wanita yang sungguh mencintaiku.”


“Kau bilang begini karena aku hamil, bukan?”


“Bukan begitu, tapi ... itu ada benarnya. Hanya saja tidak benar sepenuhnya.”


“Jangan bilang kau mengatakan itu karena takut miskin, karena aku yang akan mendapatkan sebagian besar kekayaan kakek?” Edzhar terkekeh-kekeh mendengarnya. “Benar begitu? Kau takut jadi pria miskin, Ed?”


“Kau mengenalku selama berapa tahun? Apakah aku pernah menjadi orang kaya raya?” Gilda mendadak mengingat masa lalu. “Pernahkah aku hidup bergelimang harta?” tanya Edzhar sembari menghapus sisa air mata Gilda di pipi kanan maupun kiri.

__ADS_1


“Tidak, sepertinya tidak.”


“Kalau begitu temani aku menemui Carla setelah makan malam nanti,” ucap Edzhar seraya mengangkat tubuh Gilda dan mendaratkan ciumannya di bibir wanita itu.


__ADS_2