Noda Darimu

Noda Darimu
Bab 12 Rencana Mateo


__ADS_3

Akhirnya, orang yang ditunggu datang. Motor besar hitam milik sang cucu memasuki halaman besar rumahnya. Mateo bernapas lega setelah melihat Edzhar tiba di rumah tidak sendirian, melainkan bersama wanita muda yang begitu ia sayangi.


Mona yang berdiri di samping Mateo juga bersyukur karena Gilda berhasil ditemukan. Pasangan suami istri itu turun bergantian, dan Gilda berjalan lebih dulu. Gilda terkejut setelah menangkap tatapan tajam dari Mateo mengarah padanya.


“Kau dari mana saja?” tanya Mateo yang duduk di kursi teras sejak pagi buta. Ia menunggu kedatangan Gilda dan Edzhar sampai sekarang pukul delapan pagi lebih. “Apa kau senang melihatku pusing karena khawatir setelah mengetahui kau kabur dari rumahku?” Pria sepuh itu tiba-tiba terbatuk-batuk sampai Mona memberikan sapu tangan padanya.


“Ma-maafkan aku, Kakek.” Gilda yang semula tertunduk itu pelan-pelan mendongak. Dipandanginya Mateo yang kini masih terbatuk-batuk. Gilda melirik Edzhar yang baru saja berdiri di sebelahnya, sambil menjawab, “Aku hanya kecewa pada suamiku. Oleh karena itu, aku ingin menenangkan diri sejenak.”


“Memangnya apa yang sudah diperbuat oleh cucuku padamu?”


Gilda mendadak ingat akan kejadiannya di kamar semalam, sebelum ia melarikan diri dari rumah Mateo. Pipinya memanas kala mengingat sentuhan dan permainan bibir Edzhar saat mereka di ranjang. “Ti-tidak apa-apa, Kakek.” Gilda berdeham. “Sudah aku lupakan.”


“Jika ada masalah, ceritakan padaku. Aku juga akan mendengarkanmu.” Tangannya melipat sapu tangan dan melanjutkan, “Meskipun dia cucuku, aku tidak mendukungnya penuh, terlebih jika aku tahu dia menyakitimu.” Edzhar tak menanggapi. Lelaki itu hanya melirik Gilda yang tersenyum kecil pada sang kakek seraya mengangguk.


“Baik, Kakek,” balas Gilda masih dengan senyum membingkai cantik di wajahnya.


“Kalian pergilah ke kamar, bersih-bersih, dan segera sarapan.” Sambil tersenyum tipis, Gilda pamit naik untuk membilas tubuhnya yang kotor. “Ingat, Nak. Lain kali ceritakan masalahmu padaku. Selain sudah berjanji pada bibimu, aku juga sudah menganggapmu seperti cucuku sendiri.”


“Terima kasih, Kakek.” Gilda memeluk Mateo dan meminta, “Lebih baik Kakek perhatikan kesehatan Kakek saja, daripada menggangguku di toko roti. Itu satu-satunya usaha warisan dari kedua orang tuaku yang ingin aku kembangkan sendiri, dan aku ingin Kakek menarik kembali karyawan baru di sana.”


Mateo terkekeh pelan. “Biarkan mereka di sana, mereka juga butuh pekerjaan. Secara tidak langsung kau membantu mereka, Nak.” Hembusan napas Gilda terdengar sebelum wanita itu melepas pelukannya pada Mateo. “Jika memang bosan di rumah, kau boleh ke toko. Asalkan jangan berdiri terlalu lama, terlebih lagi sampai melupakan jam makan.”


Gilda mengangguk setuju. Setelah itu ia benar-benar ingin beranjak dari hadapan, tapi tangannya dicekal. Mateo menahannya, dan juga Edzhar. “Pipi kalian sama-sama terluka. Apa kalian berdua saling tampar?” tanya pria tua itu penuh selidik. “Mataku masih bekerja dengan baik, jadi jangan berikan alasan bodoh.”


Gilda mendadak kaku. Ia tidak berani menatap Mateo. Memilih bungkam, Gilda kembali berdiri di hadapan Mateo dengan kepala menunduk. Sedangkan Edzhar yang sedari tadi tidak bersuara, mulai membuka mulutnya.


“Pipiku terluka karena ulahku sendiri, tidak ada sangkut-pautnya dengan Gilda, Kakek.” Mateo menatapnya tak percaya. “Aku tidak peduli jika Kakek curiga padaku, yang jelas aku sudah bicara jujur. Ini bukan tamparan dari Gilda.” Kemudian ia berlalu dari sana.


Mona yang kaget saat mengetahui pipi Gilda memerah dan sedikit bengkak pun mengingat-ingat lagi. Semalam dia teringat akan Gilda yang memakai masker. Bukan hanya itu, tuan mudanya juga datang dari pulang kerja sembari mengenakan masker. Jelas ia tahu bahwa pipi mereka terluka bukan karena saling adu tamparan.


“Apa kau tahu sesuatu Mona?” tanya Mateo karena Gilda hanya diam saja. “Jika kau tidak ingin cerita, aku yang akan mencari tahunya, Nak,” ucap Mateo pada Gilda yang masih tertunduk. “Bersih-bersihlah dan segera isi perutmu. Kasihani cucu buyutku, mungkin dia sudah kelaparan. Gilda pun bergegas masuk setelah pamit.


“Saya ingat, Tuan. Semalam nyonya Gilda tidak terserang flu, tuan Edzhar juga pulang mengenakan masker. Bukankah luka tuan Edzhar terlihat cukup jelas semalam, Tuan?”


“Jadi, mereka tidak saling memukul?” tanya Mateo yang mulai berpikir.


“Menurut saya tidak, Tuan.”


Mateo yang terdiam itu tiba-tiba teringat kalau kemarin Gilda pulang bersama sopir pribadi yang khusus ditugaskan untuk mengawal Gilda ke mana pun wanita itu pergi. “Panggilkan sopir yang mengantar Gilda kemarin,” perintah Mateo yang segera dituruti Mona.


Wanita itu lantas masuk ke rumah di samping rumah besar, tempat para pekerja Mateo menginap. Hanya Mona saja pekerja yang tinggal di sana, karena wanita itu sudah menjadi orang kepercayaan Mateo. Ia pun berjalan bersama sopir yang usianya tak terlalu tua maupun muda, dan kembali berdiri di samping Mateo.

__ADS_1


“Kemarin aku memerintahmu untuk mengantar Gilda, bukan?”


“Benar, Tuan.”


“Lalu, setelah Mona pulang lebih dulu, apakah ada kejadian yang merugikan cucu menantuku?” Lelaki itu tak langsung menjawab. Ia tampak ragu, antara menceritakan semuanya pada Mateo atau menyembunyikan kebenaran seperti permintaan Gilda padanya. “Bukankah aku yang membayarmu, dan bukan Gilda? Seharusnya kau menuruti perintahku.”


“Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bisa menjaga nyonya Gilda dengan baik. Mohon maafkan saya,” tuturnya penuh penyesalan. Bahkan ia sampai bersimpuh di depan Mateo dengan tubuh yang masih tegap, namun kepala menunduk dalam.


“Siapa yang melakukannya?”


“Nyonya Carla, Tuan. Nyonya Carla yang menampar nyonya Gilda saat kami sedang berada di gerai makan di dalam pusat perbelanjaan.”


“APA? NYONYA CARLA?!” tanya Mona dan segera menutup mulutnya, begitu menyadari mulutnya keceplosan sampai berteriak cukup lantang. Hingga Mateo dan sopir itu juga kaget mendengar jeritannya. “Maaf, Tuan ...,” sesal Mona kala tahu kedua bahu Mateo terangkat.


Sementara di belakang pintu, Edzhar yang menguping itu melotot lebar mendengarkan penjelasan sopir Mateo. “Jadi, Carla juga tega melukai Gilda?” batin pria itu yang benar-benar kaget dengan perilaku kekasihnya.


“Bukan hanya padaku, ternyata kau juga tega menampar Gilda.” Mengayunkan kakinya, Edzhar beranjak dari sana, dan menghampiri tangga penghubung lantai dua.


“Aku tidak akan membiarkan wanita licik itu menyakiti Gilda. Cukup kemarin saja aku kecolongan.” Mateo menatap tajam hamparan halaman rumahnya yang luas. Jemarinya yang memegang lutut tampak mengeras, ia berusaha bangkit dari kursi dan Mona lantas membantunya berdiri. “Minta Lukas ke kamarku, aku perlu bicara padanya.”


“Baik, Tuan,” jawab Mona patuh.


Sebelum masuk rumah, pandangannya jatuh pada sopir yang ia tugaskan menjaga Gilda. “Kembalilah, dan aku tidak akan memotong gajimu karena hal ini, tapi, jika kau berani menyembunyikan apa pun dariku mengenai Gilda lagi ... aku tidak akan berpikir dua kali untuk memecatmu.”


“Jujurlah dalam bekerja.” Sekali lagi pria itu berterima kasih pada Mateo karena sang tuan masih memberikan kesempatan untuk kerja. Mateo dibantu Mona ke kamar, karena Lukas sebagai anak buah sekaligus asistennya belum datang. “Minta dia untuk menyiapkan mobil lebih dulu sebelum ke kamarku.”


Keduanya masuk ke kamar Mateo, dan Mona membantu pria lanjut usia itu untuk duduk di sofa kamar. “Baik, Tuan. Saya permisi,” ujar Mona begitu sang tuan sudah bersandar pada sofa.


Pria yang ditunggu pun datang, sebelum itu bunyi ketukan pintu di kamar Mateo terdengar sampai akhirnya ia dipersilakan masuk. Lukas berdiri tegap di depan Mateo dan bertanya, “Apakah Tuan ingin keluar? Bukankah Tuan harus istirahat sesuai kata dokter kemarin?”


“Ada tugas untukmu.” Lukas mengerut bingung, namun sesudah itu mengangguk. “Pergilah dengan Antonius, mintalah rekaman CCTV saat kemarin Gilda dan Mona pergi ke resto di dalam pusat perbelanjaan.”


“Sesuatu yang tidak beres sudah terjadi?” gumam Lukas yang bisa didengar Mateo.


“Mantan calon menantu di sini berulah dengan menantu kesayanganku.”


Lukas tampak terkejut. Ia terlalu kaget mengetahui ada orang yang berani mengganggu ketenangan keluarga Martinez, terlebih lagi yang diganggu adalah orang kesayangan Mateo. Sudah bisa Lukas pastikan jika keselamatan orang itu tidak akan bertahan lama, karena cepat atau lambat Mateo akan bertindak.


“Antonius pasti tahu di mana tempatnya. Jika tidak dapat, hubungi pihak mall, dan kau tahu apa yang harus kau lakukan selanjutnya.”


“Jika boleh tahu, apa yang menimpa nyonya Gilda, Tuan.”

__ADS_1


“Kau akan tahu setelah melihat CCTV di sana. Pergilah,” jawab Mateo. “Sebelum itu panggilkan Mona, dan minta dia menyiapkan obat, aku belum sempat minum karena menunggu kedatangan cucuku.” Usai mengangguk patuh, Lukas berlalu dan mencari Mona yang pastinya tengah di dapur.


Sementara di kamar lantai atas, seseorang tengah duduk menunggu istrinya yang tengah mandi. Lelaki itu tak berhenti menatap ke pintu tertutup di sana dengan pandangan yang sulit diartikan. Hingga yang ditunggu muncul dari ruang ganti yang terhubung dengan kamar mandi.


“Apakah benar bekas tamparanmu itu dari Carla? Carla pelakunya?”


Gilda yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk, terpaksa mengarahkan pandangannya pada Edzhar. Mendengar pertanyaan yang seolah-olah tidak percaya itu, Gilda terkekeh geli. “Kau masih bertanya apakah ini benar atau tidak, Ed? Menurutmu aku berbohong agar kakek membenci Carla?”


Edzhar bangun dari tepi ranjang dan mendekati Gilda yang berdiri di depan meja rias. “Bukan itu maksudku.” Ia berdiri tepat di belakang Gilda yang masih mengeringkan rambut dengan handuk. “Hanya saja ...,” ucapannya itu tiba-tiba terhenti karena dilanjutkan oleh Gilda.


“Hanya saja kau tidak percaya kalau Carla tega membuat luka ini?” Gilda terkekeh. “Aku tidak masalah mendapatkan luka ini, yang terpenting dia tidak menyentuh anak yang tidak berdosa di dalam perutku.” Gilda memutar tubuhnya hingga menghadap Edzhar. “Mandilah, setelah itu kita sarapan.”


Edzhar yang melihat senyum tulus Gilda itu terdiam, sampai Gilda kembali menghadap ke kaca rias. Bukannya menyingkir dari sana untuk bersih-bersih, tangan kirinya justru meraba perut Gilda dari belakang. “Apa kau sudah mencintai anak itu?”


“Kau ingin kujawab jujur?” Edzhar mengangguk sembari mengusap perut rata Gilda yang tertutup dress kemeja selutut. “Sejak aku tahu kehadirannya.”


“Sebenarnya aku belum terlalu mencintainya.” Gilda yang semula sedikit menarik bibir ke atas, tiba-tiba berhenti mengeringkan rambutnya. Ia menatap Edzhar dari cermin rias. “Karena dia berada di dalam rahim wanita yang tidak aku cinta,” lanjut Edzhar jujur.


“Jadi, perilaku hangatmu kemarin ...?”


“Aku melakukannya karena memikirkan kakek,” sela Edzhar yang membuat Gilda mencengkeram erat handuk di tangannya.


Gilda melepas paksa tangan Edzhar yang menyentuh perut ratanya. Akan tetapi, tubuhnya justru terangkat. Gilda didudukkan Edzhar di meja dengan lengan lelaki itu mengungkungnya.


“Mulai hari ini, aku akan berusaha mencintai kalian.”


Setelah mengatakan tekad bulatnya, Edzhar mencium bibir Gilda dan **********. Gilda yang belum siap itu berpegangan pada pundak sang suami. Dihisapnya bibir bawah dan atas Gilda bergantian, cukup lama. Hingga Gilda bisa merasakan betapa hangatnya ciuman mereka.


Dengan napas terengah-engah, Edzhar menyatukan kening mereka. “Siang ini aku mulai pergi ke villa keluarga yang bermasalah. Kita akan bulan madu di sana.” Sesudah itu Edzhar mengecup singkat bibir Gilda, dan masuk ke kamar mandi.


“Apa ini awal yang baik untuk kita, Ed?” gumam Gilda yang jantungnya sudah berpacu di dalam sana. Senyum mengembang di wajah cantiknya, dengan tangan mengelus dada yang berdebar-debar. Namun, senyumnya luntur kala mengingat kata-kata Edzhar usai mereka memadu kasih.


“Dia akan berusaha mencintai kita, tapi di hatinya masih ada Carla. Mungkinkah Mama bisa menumbuhkan perasaan seperti ini di hati papamu?”


Mengesampingkan pertanyaan hatinya, Gilda merampungkan kegiatannya berdandan. Ia merapikan rambut dan memakai salep dingin yang mampu memudarkan bekas tamparannya meski tidak dalam sekejap. Memoleskan bibir dengan pelembap, kemudian ia siap turun untuk sarapan.


Sampai di meja makan Mona telah menyiapkan susu jahe untuknya. Gilda dengan senang hati menerima, dan mulai makan di saat Edzhar ikut bergabung. Keduanya pun makan dalam tenang.


Namun, Gilda yang penasaran akan kepergiannya siang nanti bersama Edzhar pun memecahkan keheningan. Dia bertanya, “Apa kita benar-benar akan bulan madu di sana, Ed?”


“Ya, bekerja sekaligus berbulan madu. Ada apa?”

__ADS_1


“A-aku belum siap untuk melakukan itu bersamamu terus-terusan, Ed.”


“Ada apa? Memangnya kau tidak ketagihan dengan milikku? Apa ukurannya tidak besar sampai kau tidak puas?”


__ADS_2