Noda Darimu

Noda Darimu
Bab 19 Bukti Lagi


__ADS_3

Gilda tersenyum kecil mendengar pertanyaan mengecewakan dari Edzhar. Akan tetapi, sesudah itu dia tersenyum lebar. "Kalau kau ingin pura-pura, tidak apa, Ed. Berpura-puralah mencintaiku sampai nanti aku melahirkan anak kita. Aku akan bahagia walaupun semua itu hanya kepalsuan dan berlangsung sementara," jelas Gilda masih dengan senyum di wajahnya.


Tanpa Gilda duga, penuturannya itu membuat Edzhar membungkam bibirnya dengan bibir lelaki itu. Kali ini Gilda tidak membalas dengan penuh hasrat. Pikirannya seakan meminta untuk waspada, tidak memperbolehkan hati ikut berperan.


Sayangnya, setiap sentuhan atau bahkan hangat ciuman Edzhar, membuat dadanya selalu berdebar-debar. Wanita itu sulit membuang perasaan cinta yang tumbuh di hati sejak pagi itu terbangun di ranjang sang sahabat. Alhasil, ia menerima segala perlakuan lembut sekaligus panas dari suami sementaranya itu lagi.


Pagi hari itu, baik Gilda dan Edzhar sama-sama tampak lebih bersinar. Terutama Gilda, wanita itu tak berhenti menunjukkan senyum cerah setelah keluar dari kamar mandi, terlebih lagi kala menatap Edzhar. Sedangkan suami yang tengah mengancingkan kemeja, sudah tidak memperhatikan Gilda.


"Kenapa kau rapi sekali? Pagi ini kau harus bekerja, Ed?


"Ya, aku harus mengecek villa yang pantas direnovasi," ujar Edzhar sembari memasukkan ponsel ke saku belakang celana bahan panjang warna hitam. "Aku keluar dulu."


"Kita tidak sarapan bersama, Ed?"


"Kau saja dulu, aku benar-benar tidak bisa menunda lagi. Kakak sepupuku sudah mengabari, dia juga akan datang ke sini untuk mengecek."


"Baiklah, semangat bekerja, Ed."


Edzhar yang hendak membuka pintu, tiba-tiba berbalik. Dia menghampiri Gilda yang duduk di kursi depan meja tempat sang istri menyimpan alat-alat kecantikan. Dikecupnya bibir Gilda sekilas sambil mengelus perut rata yang tertutup dress selutut tanpa lengan motif kerang.


"Siang nanti aku akan mengajakmu makan berdua." Gilda mengangguk kecil dengan senyum yang tidak secerah tadi, karena ia masih syok dengan perlakuan Edzhar barusan. "Jadi kau tidak perlu sedih karena pagi ini kita tidak sarapan bersama."


Edzhar benar-benar angkat kaki setelahnya. Meninggalkan sang istri yang masih menatap pintu dengan perasaan tak percaya. Hampir saja sudutnya terangkat dan membentuk senyuman cukup lebar, namun terhenti karena mendadak ia terngiang-ngiang akan pertanyaan Edzhar pagi tadi.


"Tentu saja sangat penting, Ed. Perlakuanmu yang manis dan lembut tadi itu berasal dari hati atau tidak, itulah yang akan menentukan keputusanku, Ed ... apakah aku harus berhenti mencintaimu atau harus melanjutkan perasaanku. Aku terlalu takut sakit hati di kemudian hari. Apalagi setelah cinta untukmu semakin dalam setiap harinya."


Gilda menatap pintu kamar yang sudah tertutup rapat itu dengan menghembuskan napas berat. Jujur saja, Gilda merasa konyol jika harus mencintai sahabatnya sendiri. Akan tetapi, perasaan cinta sungguh berkembang di hatinya usai melewati malam penuh noda itu.


"Bisa-bisanya, mabuk saja yang aku ingat adalah bau kamar Edzhar. Dalam kondisi mabuk pun aku tahu tempat mana yang nyaman." Memegang dadanya yang berdegup kencang, Gilda mendongak. "Apakah sebenarnya aku sudah mencintai Edzhar jauh sebelum dia mengenal Carla?"

__ADS_1


Masih menyentuh dadanya yang lagi-lagi merasakan getaran kala mengingat wajah Edzhar dulu, kenangan semasa kuliah semester pertama. Ya, mungkin di awal mengenal lelaki itu Gilda sudah tertarik, tapi ia berani bersumpah bahwa perasaan cinta sama sekali tidak ada. Bahkan mengganggu hubungan Edzhar dengan Carla, tidak pernah terbesit di pikiran Gilda untuk melakukan hal bodoh tersebut.


Lamunan Gilda dibuyarkan oleh dering singkat dari ponsel yang berada di atas meja rias kamar penginapan tersebut. Nama Antoniuslah yang berada di layar ponsel, dan sesegera mungkin Gilda membuka ruang obrolannya bersama sang sopir. Sudah bisa dipastikan bahwa Antonius mengabarkan sesuatu yang sangat penting.


Terlihat begitu jelas di layar, Carla tengah dirangkul Kendrick. Foto tersebut diambil di luar gedung apartemen milik Carla. Keduanya tampak saling memeluk satu sama lain. Bukan hanya foto itu, Antonius juga berhasil mengabadikan momen kala Kendrick dan Carla saling berciuman.


Antonius: Foto tersebut saya ambil semalam sebelum baterai ponsel saya habis, Nyonya.


Gilda: Terima kasih. Kerja yang bagus, padahal aku belum memintamu melakukan sejauh ini. Sekali lagi terima kasih, Antonius.


Gilda menghela napas untuk yang ke sekian kali usai melihat foto-foto Kendrick dan Carla di galeri ponselnya. Wanita itu merasakan sakit juga setelah mengetahui Carla berani memainkan perasaan sahabatnya. Sebagai seorang sahabat, Gilda tahu persis betapa sedih dan hancurnya hati Edzhar jika mengetahui pengkhianatan Carla.


"Kau sungguh keterlaluan, Carla ... tega bermain gila di belakang Edzhar." Melihat raut wajah Carla yang tampak tersenyum ceria tanpa beban bersama Kendrick, berhasil membuat hati Gilda panas. "Sebagai sahabat Edzhar, aku akan tetap berdiri di sampingnya, dan sebagai istrinya ... aku akan terus melakukan tugasku sebagai istri yang selalu mendoakan dan mendukungnya, bahkan aku akan melindunginya dari wanita licik sepertimu, Carla ...," bisik Gilda penuh niat dan tekad yang bulat.


Mengabaikan sejenak masalah perselingkuhan Carla, Gilda bangun dari tempat duduknya. Dia ingin keluar kamar karena sangat bosan jika harus berdiam diri tanpa aktivitas yang menyenangkan. Wanita itu membuka jendela dan menghirup segarnya udara luar yang sejuk.


Dua jam lebih Gilda larut dalam tontonannya, sampai ia tersadar bahwa apa yang ditonton hampir mirip dengan hubungan Edzhar dan Carla. Bedanya, di drama yang ia tonton si perempuannya yang diselingkuhi. "Kau akan sesakit apa jika tahu perselingkuhan mereka, Ed?" gumam Gilda seraya bangun. Menghentikan aktivitasnya menonton drama, karena membuatnya teringat akan Carla dan Kendrick.


Gilda pun memilih berdiri usai menyimpan gawai ke dalam saku pakaiannya di bagian samping, dan berjalan ke pagar balkon. Dalam sekejap, Gilda asik menatap hamparan pohon yang tumbuh di sekitar villa. Tatapannya lalu jatuh pada sebuah mobil yang baru saja sampai di depan pagar penginapan, dan kini masuk ke kawasan penginapan keluarga Martinez.


"Bukankah itu mobil Carla?"


Gilda bergegas masuk kembali ke kamar. Ia tak sabar ingin memastikan siapa yang datang. "Benarkah itu Carla?! Untuk apa dia ke sini, dan dari mana Carla tahu aku dan Edzhar ada di sini?" Buru-buru Gilda membuka pintu kamar dan keluar.


Dadanya yang semula berdegup normal, kini berubah lebih cepat. Wanita itu berjalan sambil menerka-nerka kemungkinan bagaimana bisa Carla datang ke sini. Kakinya mulai menuruni anak tangga satu-persatu yang tidak terlalu tinggi.


"Mungkinkah Edzhar yang memberitahu Carla?" Baru saja dia menebak, kakinya yang mengayun dengan sangat cepat berhenti mendadak. Jantungnya yang sudah memompa dengan kilat pun terasa seperti dicabut paksa dari tempatnya.


Terlihat pemandangan yang dulu sering ia lihat, namun kini rasanya berbeda. Jika dulu Gilda terbiasa dan tertawa santai, sekarang hatinya seperti diiris. Suaminya mendapat ciuman tepat di bibir, dan hal itu membuat Gilda memalingkan muka dengan bibir sedikit terbuka.

__ADS_1


Wanita yang tengah syok itu spontan meraba perut dan tangan lain menutup mulutnya. Menarik napas dalam-dalam, Gilda yang kaget berusaha untuk tidak menjerit dan meminta Edzhar melepaskan ciumannya bersama Carla.


"Kau sebenarnya menikah dengan siapa, Ed?" tanya lelaki yang asing bagi Gilda, namun berhasil membuatnya menoleh ke asal suara.


Di sana, tepatnya beberapa meter dari Edzhar berdiri, Gilda melihat seorang pria yang tak kalah tampan dari Edzhar tengah memerhatikan dua kekasih berciuman. Carla dan Edzhar sontak melepaskan diri. Edzhar yang lebih dulu menjauh dan sedikit mendorong pundak Carla.


"Dia mantan kekasihku," ujar Edzhar yang membuat Carla melotot.


Gilda yang mengetahui situasi menjadi panas, lantas perlahan menuruni tangga dan memperhatikan mereka lebih dekat lagi. "Apakah seorang mantan berhak mendapatkan ciuman dari mantannya yang sudah menikah?" tanya pria itu yang membuat Gilda tersenyum tipis. "Kau tidak memikirkan perasaan istrimu ...? Bukankah kalian di sini untuk berbulan madu, Ed?"


"Janez, aku bisa jelaskan! Kau salah paham."


"Seharusnya bukan aku yang menerima penjelasan, tapi istrimu. Dia sudah melihat pemandangan kalian berdua dari kejauhan," jawab Janez yang terdengar sangat tajam di telinga Gilda.


Gilda lantas mendelik kala pria yang bernama Janez itu menatap ke arahnya, diikuti oleh Edzhar dan Carla. "Gil ...," lirih Edzhar yang terkejut karena Gilda sudah berdiri sambil menatapnya.


"Kau menodai pernikahanmu, terlebih-lebih kau mempermalukan nama Martinez di dalam villa keluarga, Ed. Bukan hanya mempermalukan kakek Mateo, tapi kau mempermalukan keluarga Martinez." Janez melayangkan tatapan tajamnya pada Carla. "Usir dia!" perintahnya pada Edzhar.


Edzhar yang menatap Carla itu lekas memberi kode Carla untuk segera angkat kaki. Wanita itu pun menunduk dan putar badan. Sebelum benar-benar angkat kaki dari villa, Carla sempat melirik sinis pada Gilda yang memandang ke arahnya dengan santai.


"Selain villa ini masih direnovasi, seharusnya kau tahu artinya bulan madu yang hanya berlaku untuk pasangan suami istri, Ed." Sesudah itu Janez menyingkir dari sana.


Gilda pun turut membalikkan badan setelah Carla memasuki mobilnya. Akan tetapi, langkah Gilda terhenti. Lengan Edzhar merangkul di pinggangnya. "Aku tidak bermaksud mencium Carla, tujuanku membawanya ke sini untuk mengakhiri hubungan kami."


"Tapi kau terlihat menikmati ciuman itu, Ed. Aku tahu kau masih, dan akan terus mencintai Carla."


"Kau salah, saat ini aku berusaha untuk menjauh darinya seperti janjiku padamu. Aku akan fokus padamu dan anak kita selama satu tahun pernikahan kita."


Gilda menoleh ke kiri di mana Edzhar menatapnya serius. Wanita itu sedikit mendongak dan menatap Edzhar lekat-lekat. "Lalu, bolehkah aku memberitahu sesuatu yang nantinya bisa membuatmu kecewa pada Carla? Apakah ini saat yang tepat untukku membeberkan semua perselingkuhan Carla, Ed?"

__ADS_1


__ADS_2