
“Lama di mobil, aku jadi ingin makan steak ayam ...,” bisiknya setelah menutup pintu kamar mandi.
Gilda menghabiskan waktu di kamar mandi lebih dari lima belas menit. Wanita yang sedang hamil muda itu keluar dengan jumpsuit ungu motif floral lengan pendek. Tampilan rambutnya masih digulung asal, sampai ia berhenti di depan meja rias. Sebelum mengatur rambutnya dan memakai perona bibir, Gilda meraih ponsel di atas ranjang.
Melihat nama sopir pribadinya di layar ponsel, Gilda yang tak sabar lantas membaca isinya. Matanya terbelalak begitu membaca dua kalimat dari Antonius. Pesan pertama memberitahu bahwa dia melihat sepatu laki-laki di apartemen, dan kedua melihat bekas ciuman di leher Carla.
Gilda: Kalau bisa videokan atau foto dia, itu akan menjadi bukti supaya suamiku menjauhinya.
Antonius: Saya usahakan, Nyonya.
Napas Gilda tak beraturan. Rasanya ia baru saja melakukan hal bodoh dan gila. Menjauhkan Carla dari Edzhar bukanlah keinginannya, dia tidak menyukai hal ini. Ada perasaan tidak tega jika dia memisahkan Edzhar, namun di sisi lain ia juga tidak ingin rumah tangganya bermasalah di masa sekarang maupun di kemudian hari.
Tangan Gilda terulur ke perutnya yang tertutup jumpsuit. “Tapi mau bagaimana lagi? Aku punya hak untuk itu. Aku ingin anak kita nanti mempunyai keluarga yang lengkap, tanpa pengganggu dari luar. Walaupun kita dipersatukan karena kesalahan, sekarang akulah pendamping Edzhar.”
Diliriknya perut ratanya sembari tersenyum penuh tekad. “Aku tidak akan membiarkan pernikahan kita cuma sampai satu tahun, Ed. Aku akan memperjuangkan dirimu, memperjuangkan pernikahan ini, dan memperjuangkan keluarga kita.” Setelah itu Gilda bangun dan hendak merias diri.
Diambilnya tas alat dandan dari koper. Mengeluarkan dan ditaruh di atas meja. Karena sudah sore, Gilda akhirnya hanya memakai pelembap bibir dan salep khusus untuk pipinya yang masih memar, hampir pudar. Rambutnya diikat tinggi, membiarkan leher jenjangnya terekspos.
Ponsel yang ada di atas meja rias tiba-tiba berdering. Tangan kiri Gilda yang hendak menggapai, dikejutkan dengan bunyi ketukan dari luar pintu kamar. Ia pun cepat-cepat menghampiri dan membukanya.
“Ya?”
“Permisi, Nyonya. Tuan Edzhar memerintahkan saya untuk mengantar makanan untuk Nyonya.”
“Oh, baik.” Gilda menerima bingkisan dari lelaki paruh baya tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih, sebelum akhirnya menutup pintu. “Ternyata masih ingat aku,” gumam Gilda tersenyum senang. Ia meletakkan paper bag itu di atas meja rias kembali.
Sebelum makan, ia sempatkan waktu untuk mengecek ponsel. Gilda pun cukup tercengang dengan apa yang Antonius kirimkan. “Tanda itu banyak sekali, Carla ...,” gumamnya sebelum menggeser foto lainnya.
“Astaga! Bagaimana kalau Ed melihat ini semua ... dia pasti sangat terpukul,” ucapnya lagi sebelum mengelus dadanya. “Jadi, sudah sejauh ini dia bermain di belakang Ed?” Gilda benar-benar syok mengetahui keburukan Carla.
__ADS_1
Antonius begitu pintar mengambil foto Carla, walaupun foto-foto itu diambil dari samping. Walaupun beberapa hasil fotonya banyak yang blur, masih ada juga yang terlihat sangat jelas dan wajah Carla juga ikut diambil. Gilda yang masih syok itu sampai melamun, dan steak ayam di atas meja yang baru ia keluarkan dari paper bag belum juga disentuh.
“Apa aku harus mengancam Carla dengan foto ini?” tanyanya pada diri sendiri, masih ragu. Kemudian tatapannya jatuh pada steak ayam itu lagi, dan bergumam, “Mengapa Ed bisa tahu kalau aku ingin steak ayam? Atau ini kebetulan?” Tangannya mengusap perut dengan seulas senyum di bibirnya terlihat jelas.
Di kediaman Mateo, seorang wanita yang memakai gaun pendek itu didampingi oleh dua anak buah sang pemilik rumah. Kedatangannya membuat para pelayan di sana melotot, jelas kaget karena tampilan Carla sangat-sangat tidak normal. Bekas di bawah leher, dan hampir memenuhi dadanya terlihat sangat jelas.
“Tidak mungkin itu perbuatan tuan Edzhar,” batin Mona yang menyambut kedatangan tamu Mateo di pintu utama. “Selamat datang Nona Carla, tuan Mateo sudah menunggu Anda di ruang keluarga,” ujar Mona sopan. Carla melewatinya begitu saja, tanpa membalas sapaannya yang membuat Mona tersenyum tipis.
“Beruntunglah tuan Edzhar, kau tidak menikahi wanita itu. Jauh lebih baik nyonya Gilda,” Mona sebelum balik badan dan meneruskan pekerjaannya, mulai membuat makan malam untuk Mateo dan seluruh anak buah sang tuan.
Carla dipersilakan duduk di gazebo bersama Mateo. Di sana salah seorang pelayan yang baru datang memberikan makanan ringan dan juga segelas jus apel untuk Carla, dan susu khusus untuk pria lanjut usia, tuannya. Setelah pelayan pergi dan Lukas serta Antonius diminta menyingkir, barulah Mateo membuka pembicaraan.
“Aku tidak pernah memintamu untuk menjauhi cucuku, Edzhar. Namun, aku hanya ingin memintamu untuk jangan pernah sekalipun menyentuh cucuku yang lain, Gilda.” Carla yang semula menatap Mateo santai, kini mengerut bingung. “Sekali lagi kau berani melayangkan tanganmu itu, akan kupastikan karirmu di dunia model hancur,” sambung Mateo tak main-main.
“A-apa maksud Anda, Tuan? Gilda cucu Anda?”
“Kau tidak perlu tahu. Aku hanya memintamu untuk berhenti melukainya. Jika aku tahu kau melakukan hal yang sama seperti di mal kala itu, aku juga tidak segan-segan membuat orang tuamu malu memiliki anak sepertimu.” Carla mengepalkan kedua tangannya. “Lihatlah pakaianmu, tanda bahwa kau baru saja bercinta terlihat jelas,” ungkap Mateo yang membuat Carla memerhatikan bajunya.
“Gawat! Matilah aku bila Ed tahu aku bermain dengan Kendrick di belakangnya,” batinnya dengan tangan mengepal. Sebelum keluar dari rumah besar Mateo, ia kembali teringat akan ucapan pria tua itu.
“Gilda cucunya yang lain? Itu berarti dia punya anak selain papa Edzhar?” Carla hampir mengacak rambut. Selain pusing memikirkan nasib rencananya untuk menikah bersama Edzhar, ia pusing akan asal-usul Gilda yang ternyata menjadi bagian dari keluarga Martinez sejak lama. “Kalau begini, aku sudah kalah telak sebelum berperang.”
Carla pun memesan taksi online karena ia cukup sadar diri untuk tidak meminta sopir Mateo mengantarnya pulang. Sesudah duduk di kursi penumpang, ia pun mengabari seseorang. Dengan tidak rela dia menyatakan keputusasaan.
Carla: Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan menyingkirkan Gilda, mertuamu mengancamku.
Sesudah itu pandangan Carla tertuju pada bangunan di pinggir jalan yang tertata rapi. Ia menatap jendela bagian kiri mobil. “Sebenarnya kau anak siapa? Sampai-sampai kakek peyot itu begitu sayangnya padamu,” hembus Carla menatap jalanan tidak suka, sekaligus sangat penasaran akan kebenaran dari asal-usul Gilda.
*
__ADS_1
Gilda yang baru selesai menghabiskan steak ayam, melirik es susu di dalam paper bag. Diminumnya susu cokelat itu sampai sisa setengah cup. Lama berdiam di kamar, Gilda memutuskan untuk keluar sambil membawa ponselnya. Tiba-tiba saja ia benar-benar ingin meminta Carla untuk berhenti melanjutkan hubungannya dengan sang suami.
Gilda: Hai, Carla. Sebelumnya aku minta maaf karena harus mengirimkan fotomu yang tidak senonoh. Maaf, hal ini memang harus aku sampaikan. Aku sangat menyesal karena malam itu menghabiskan waktu bersama Edzhar, dan tidak sengaja aku mengandung buah hati kami.
Aku harap kau mau memaafkanku. Tolong jauhi Edzhar, karena aku ingin menjaga pernikahan kami selamanya. Foto itu akan kutunjukkan pada Edzhar jika kau masih ingin merebutnya dariku.
Tanpa berlama-lama lagi, Gilda mengirimkannya pada Carla beserta satu foto Carla yang menampilkan gaun pendek dengan potongan dada rendah. Foto dari Antonius yang menunjukkan bekas ciuman di leher bawah dan sekitar dada Carla dikirimkan juga. Tak sampai lima menit, Gilda mendapat pesan dari Carla.
Carla: Merebutnya darimu? Seharusnya kau sadar siapa yang merebut kekasih siapa. Meski begitu, aku akan mencoba untuk merelakan Edzhar padamu. Hanya saja aku ingatkan, pastikan suamimu itu tidak mengejarku. Fakta mengatakan bahwa Biantara Edzhar Martinez masih mencintai Carla Florine.
Langkah Gilda tiba-tiba saja berhenti setelah membaca balasan dari Carla. Ia kembali merasa ditampar oleh kenyataan. Meski sudah menikah, hati Edzhar bukanlah miliknya. Sepasang matanya mendadak terasa panas, disusul oleh bulir air mata yang turun ke pipi.
“Tidak apa, aku akan berjuang demi dirimu.” Gilda tersenyum sambil menatap perutnya. Ia juga mengelus-elus perutnya sebelum pandangannya jatuh pada sosok pria yang mengenakan kaos hitam lengan pendek tengah berkacak pinggang sambil menatap dinding. Di sampingnya ada seorang lelaki yang mengetahui keberadaannya. “Itu papamu ada di sana, apa aku haru ke sana untuk menemuinya dan menunjukkan foto Carla?”
Belum sempat Gilda mengayunkan kaki, tatapan mereka bertemu. Gilda yang salah tingkah lantas buru-buru putar badan, sepertinya dia belum siap bertatapan dengan Edzhar setelah melihat bibir lelaki itu. Sampai akhirnya namanya dipanggil oleh suami sekaligus sahabatnya.
“Kau butuh sesuatu?” tanya Edzhar yang berlari ke arah Gilda dan menepuk bahunya. “Makananmu sudah habis? Atau masih kurang? Atau ingin aku pesankan sesuatu?”
Gilda menggeleng dan meletakkan jari telunjuknya di bibir Edzhar. Hingga dia sendiri gelagapan saat tatapan mereka kembali menyatu. “Eh, tidak. A-aku cuma bosan di kamar, Ed.” Gilda lantas mundur satu langkah. “Ngomong-ngomong mengapa kau bisa tahu kalau aku ingin steak ayam? Apakah di kamar kita ada penyadap suara?”
Edzhar menarik pinggang Gilda agar wanita itu mendekat. Tubuh keduanya benar-benar bertabrakan karena Edzhar merangkul pinggang sang istri. “Tidak ada penyadap suara, tapi kaulah yang mengatakan itu saat tidur di dalam mobil,” jelas Edzhar sebelum memegang dagu Gilda dan mengangkatnya.
Edzhar menundukkan kepala, dan siap mencium bibir merah muda Gilda yang tampak menggoda di matanya. Akan tetapi, suara perutnya sendiri justru mengacaukan segalanya. Gilda buru-buru mendorong Edzhar dengan menahan tawa.
“Temani aku makan,” perintah Edzhar yang diangguki Gilda.
Keduanya pun jalan berdampingan ke ruang makan yang ada di penginapan keluarga Martinez tersebut. Lokasinya tidak jauh dari Edzhar berdiri bersama lelaki yang dilihat Gilda tadi. Tiba-tiba saja Gilda teringat akan foto Carla. “Aku ingin bertanya sesuatu, Ed.”
“Apa?”
__ADS_1
“Jika nanti kau tahu Carla berselingkuh di belakangmu, apakah kau akan memaafkannya?”