Noda Darimu

Noda Darimu
Bab 25 Pukulan untuk Edzhar


__ADS_3

Gilda yang semula tertidur lelap di dalam pelukan hangat Edzhar, harus terbangun karena mendengar suaminya berbicara dengan seseorang melalui panggilan telepon. Wanita yang perlahan sadar bahwa semalam ia dan Edzhar melakukan penyatuan, tak tahan untuk menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyuman. Akan tetapi, ia dikejutkan dengan Edzhar yang mengecup kilat keningnya dan segera turun dari ranjang.


“Ada apa, Ed?” tanya Gilda sambil memegangi selimut yang menutupi tubuh polosnya.


“Lukas meminta kita untuk pulang ke rumah secepatnya,” jawab Edzhar memberitahu. “Dia sudah menanti kita, Gil.” Pria itu buru-buru mengambil dan memakai celananya.


“Dia sudah datang?”


“Ya. Dia diminta kakek untuk menjemput kita.”


Gilda yang masih berada di bawah selimut itu sampai terduduk. “Bukankah kakek yang meminta kita untuk berlibur? Mengapa kita diminta pulang secepat ini? Pekerjaanmu di villa bagaimana?” Gilda bingung, karena setahunya Mateo sangat menginginkan dirinya dan Edzhar menikmati waktu bersama.


Edzhar mengangkat bahunya. “Aku juga tidak tahu, yang jelas aku juga tidak bisa membantah permintaan kakek. Atau mungkin saja ada masalah di rumah.” Gilda mengangguk dan melirik pakaiannya yang ada di atas lantai, yang semalam bergabung dengan pakaian Edzhar. Kini pria itu mengambil pakaian mereka. “Kita harus cepat, kau tidak ingin membilas tubuhmu?”


Gilda yang belum sempat menjawab, sudah diangkut Edzhar. Lelaki itu tanpa izin menggendong, dan sepasang kakinya mengomando untuk masuk ke kamar kecil. Di saat Gilda berpegangan pada leher Edzhar, bibirnya tak ragu untuk mencium sang suami.


“Ucapan selamat pagi,” katanya sebelum Edzhar menutup pintu kamar mandi.


Gilda dan Edzhar yang menikmati malam di dalam yacht, kini harus cepat-cepat menemui Mateo. Keduanya bahkan tidak sempat ke penginapan, dan meminta seseorang untuk mengemasi barang-barang mereka yang masih ada di sana. Sore hari, pasangan muda itu baru sampai di rumah besar Mateo.


Mona menyambut kedatangan mereka, sedangkan Lukas membantu membawakan tas ransel milik Edzhar. Gilda yang melihat raut wajah Mona tak biasa, semakin dibuat bingung. “Tuan Edzhar dan Nyonya Gilda sudah ditunggu tuan Mateo di ruang keluarga,” ucap Mona yang dibalas Edzhar dengan kepala mengangguk singkat.


Sementara Gilda yang semula berjalan di samping Edzhar, mendekati Mona dan membiarkan Edzhar berjalan lebih dulu ke ruang keluarga. Wanita itu berbisik, “Mengapa kakek tiba-tiba meminta kami pulang secepatnya, Mona? Apakah ada sesuatu yang genting?”


“Tuan Mateo mengetahui sesuatu antara Nyonya dan tuan Edzhar ...,” jawab Mona tak kalah pelan. Raut wajahnya semakin pucat saat Edzhar mulai mengayunkan kaki ke ruang keluarga. Sedangkan Gilda masih memikirkan apa yang dimaksud oleh Mona.


Di saat dua wanita itu masih berjalan, bunyi seperti benda berbahan keramik jatuh ke lantai terdengar sangat kencang dari ruang keluarga. “Apa itu?!” Gilda yang terkejut itu pun segera berlari, diikuti Mona yang sudah menduga hal ini akan terjadi.


Gilda yang baru sampai di ruang keluarga itu sudah dikejutkan dengan jatuhnya sang suami di atas lantai bersama sebuah guci yang sudah berserakan di atas lantai. Sementara di depan Edzhar, Antonius berdiri dengan tangan yang masih mengepal. Gilda pun melihat Mateo yang tengah menatap Edzhar dengan kemarahan begitu jelas.


“Kakek, Antonius, ada apa ini?! Kenapa kalian diam saja?!” teriak Gilda yang langsung bergabung dengan Edzhar, membantu lelaki itu berdiri. “Apa yang kau lakukan, Antonius?!” tanya Gilda begitu sepasang tangan Antonius meremas kerah kemeja Edzhar.

__ADS_1


Tanpa berlama-lama Antonius memukul wajah Edzhar, namun tuan mudanya masih bisa berdiri dan sesekali menghindar. Akan tetapi, Antonius yang memang bukan sopir sembarangan itu pun mampu melayangkan beberapa pukulan, dan mendarat di pipi kanan dan kiri cucu Mateo tersebut, sampai Edzhar pun jatuh kembali di lantai.


Sedangkan Gilda yang masih kaget itu berada dalam pegangan Mona, wanita itu menangis, dan berusaha melepaskan diri dari Mona. Ia terus meminta Antonius untuk berhenti memukul Edzhar. Di saat ia berhasil lepas dari Mona, Gilda terduduk di lantai dan memeluk Edzhar kala Antonius hendak memukulnya lagi.


“JELASKAN PADAKU ADA APA?! MENGAPA KAU MEMUKULI EDZHAR, ANTONIUS?!” bentak Gilda mendongak. Ia menatap Antonius yang menampilkan ekspresi seperti orang menyesal. “Kakek! Mengapa Kakek diam saja? Edzhar cucu Kakek, mengapa Kakek membiarkan Antonius memukul Ed?!”


“Maafkan saya, Nyonya. Tuan Mateo yang memerintah saya melakukannya,” ungkap Antonius membungkuk dan mundur dari hadapan Edzhar juga Gilda. Ia kembali pada posisinya semula, di samping Mateo.


“Aku sedang mengetes seberapa hebat kemampuan sopirmu, Nak ...,” jawab Mateo dengan santainya.


Edzhar yang sudah berdiri dan dirangkul Gilda itu pun menyeka darah di sudut bibirnya dan menatap sang kakek. “Aku tidak tahu apa yang aku lakukan sampai Kakek menyuruh Antonius untuk menghajarku. Apa yang membuat Kakek begitu marah padaku?” tanya Edzhar setelah lama dia berdiam dan menerima perlakuan Antonius padanya.


Tiba-tiba saja Mateo mengeluarkan kertas yang semalam ia remas dari kantong celana hitamnya. Lelaki itu melemparkan kertas yang sudah berbentuk bulat tepat ke muka Edzhar. Membuat sang cucu dan Gilda melotot, dan Edzhar lekas meraih kertas kusut dan berusaha membukanya.


“Kau ingin menyakiti Gilda, bukan? Alasan Gilda kabur setelah kalian menikah dikarenakan surat perjanjian pernikahan kontrak yang kau buat, bukan?”


Mendengar itu Gilda jadi tahu apa kertas yang dilemparkan Mateo pada Edzhar. “Kakek, Kakek tenanglah ...,” ujar Gilda tahu alasan di balik begitu marahnya Mateo hari ini karena surat perjanjiannya dengan Edzhar pun cukup gugup.


Edzhar yang mendengar kata ‘murahan’ keluar dari mulut Mateo lantas mengepalkan kedua tangannya. “Carla wanitaku.” Baik Mateo dan Gilda, serta seluruh orang di ruang keluarga itu menatap Edzhar. Gilda yang tahu perasaan Edzhar pun memilih untuk menyingkir dari sebelah Edzhar dan berdiri di samping Mona yang menatapnya sendu.


“Kau memang pria bodoh! Tujuan Carla menikahimu tentu bukan karena dia mencintaimu. Harta adalah tujuan utamanya.” Edzhar tampak terkejut mendengar ucapan sang kakek. Bunyi ketukan di pintu membuat Mateo mengangguk, mempersilakan Lukas untuk masuk. “Lihatlah semua yang ada di ponsel itu. Bukti bahwa wanitamu itu bukan wanita baik-baik.”


Edzhar menerima ponsel yang diberikan oleh Lukas. Di ponsel itu ia sudah diperlihatkan ke bagian galeri. Di sanalah semua foto-foto Carla remaja hingga sekarang ini terkumpul. Mulai dari laki-laki pertama, kedua, ketiga, hingga yang terakhir adalah Kendrick, pakaian yang dikenakan Carla sangatlah minim dan jauh dari kata wajar di dunia model. Bagian privasi Carla hanya tertutup oleh jarinya saja.


Edzhar juga dapat melihat semua gambar Carla yang kebanyakan diambil bersama Kendrick, tampak sangat mesra, dan itu hampir sama dengan apa yang Gilda tunjukkan padanya kemarin malam. Bahkan apa yang ditunjukkan di ponsel ini lebih panas, dan benar-benar membuatnya tersulut emosi. Edzhar kemudian memberikan ponsel itu pada Lukas.


“Jika aku tahu kau memberikan surat perjanjian lagi pada Gilda dan diam-diam berhubungan dengan wanita murahan itu, aku tidak segan-segan membuangmu. Seluruh hartaku akan kuberikan kepada Gilda dan calon anakmu,” jelas Mateo yang setiap katanya tak pernah main-main. “Pergilah dari rumahku jika kau masih berani mengkhianati pernikahan kalian, Ed.”


“Kakek?!” pekik Edzhar yang tak menyangka jika sang kakek bertindak sejauh ini hanya karena dia susah mencintai Gilda.


“Aku tidak menerima bantahan.”

__ADS_1


“Mengapa Kakek begitu menyayangi Gilda?!” Edzhar yang melihat sang kakek hendak berdiri itu pun melanjutkan, “Kakek menyembunyikan sesuatu dariku selama ini? Mengapa kau begitu tega membuangku hanya karena masalah sepele? Mencintai Gilda tidak mudah kulakukan, kami selama ini bersahabat dan sulit untukku mencintainya. Seharusnya kau tahu itu ....”


Tak langsung menjawab, Mateo menatap Edzhar dan Gilda bergantian. Ia kemudian dibantu Lukas untuk berdiri. “Kalian berdua ikutlah ke kamarku,” ucap pria berumur itu seraya berjalan dengan tongkat di tangan kanannya.


Edzhar dan Gilda mengikuti Mateo dari belakang. Tentunya Gilda menjaga jarak, ia semakin takut untuk mencintai Edzhar setelah mendengar penuturan spontan lelaki itu selama di ruang keluarga. Menyakitkan, sangat menyedihkan bila dia ingat semalam sudah mencurahkan isi hatinya pada Edzhar, dan ternyata Edzhar justru masih menyematkan nama Carla di hatinya.


Sampai di kamarnya, Mateo memerintah, “Pindahkan lemari itu, Lukas!” Lukas dengan sigap melaksanakan perintah sang tuan. Ia mendorong lemari kaca yang beroda itu ke sisi lain. Tampaklah sebuah pintu yang menyerupai dinding kamar.


Edzhar dan Gilda masih diam memperhatikan, hingga Mateo meminta mereka untuk turut masuk ke ruang rahasia Mateo. Ruangan itu hanya diketahui oleh Lukas dan Mona karena selama ini mereka yang mengurus Mateo dan menemani pria berumur itu jika berada di dalam kamar.


Dahi Edzhar mengerut begitu melihat foto pria berjas yang terlihat sangat tampan dan bijaksana. Sedangkan wanita yang baru masuk itu berkaca-kaca setelah berdiri di samping Edzhar. “Papa?” gumam Gilda setelah melihat foto besar sang papa dipajang di tembok di dalam ruangan rahasia Mateo.


“Seperti yang kau ketahui baru-baru ini, Gilda. Papamu adalah anak angkatku.”


Edzhar yang melotot itu memindah tatapannya pada sang kakek. “Apa maksud Kakek?!” pekik Edzhar, karena ia baru tahu. “Bukankah ayahku satu-satunya anak Kakek?!”


“Apa yang dikatakan bibimu adalah benar, Gilda. Semua itu benar, aku sangat menentang hubungan Gideon dengan Zelda. Aku pun sangat marah mengetahui dia mencintai gadis sederhana, karena ... Gideon bukanlah anak angkat biasa bagiku maupun istriku.”


“Memangnya apa yang membuat Kakek menyayangi papaku? Bibi juga bercerita kalau papa adalah pewaris dari keluarga Martinez, sebenarnya papaku anak siapa?”


“Gideon adalah satu-satunya pewaris dari kerabat dekatku.” Tampak Mateo tersenyum kecil, dan tiba-tiba dia menunjuk laci di sebuah meja kerjanya dulu. Lukas yang tahu pun mendekati meja itu dan mengambil sebuah album foto dari sana. “Aku pernah mencintai seorang gadis, dan gadis itulah ibu kandung Gideon. Aku mencintainya sebelum aku menikah dengan istriku. Istriku juga tahu bahwa aku mencintainya.”


“Lalu, siapa ayah papaku? Siapa kakek kandungku?”


Mateo menerima album yang sudah diambil Lukas. Ia duduk di sofa dan meminta Gilda untuk mendekat. “Bukalah album ini, di sini ada foto nenekmu. Sayang sekali, aku tidak punya foto kakekmu.”


Gilda menurut dan duduk di samping Mateo. “Di mana mereka sekarang?”


“Kakek dan nenekmu sudah lama tiada. Mereka menitipkan Gideon padaku dan memintaku untuk merawatnya seperti aku merawat putraku sendiri,” terang Mateo dengan netranya sudah berkaca-kaca dan detik selanjutnya ia menangis tertunduk.


Edzhar yang diam mendengarkan itu perlahan menatap Gilda. Dari sini ia mulai menyadari bahwa Gilda bukanlah anak dari orang sembarangan. Kakek kandung Gilda pastilah dari keluarga yang berada. Sampai ucapan Mateo membuatnya dan Gilda menatap Mateo dengan mata terbelalak.

__ADS_1


“Gideon satu-satunya pewaris di keluarga Johnson. Karena kakekmu tiada, akulah yang meneruskan sebagian usahanya. Untuk itulah aku berani memberikan sebagian hartaku padamu, karena sebenarnya itulah hakmu, Nak.”


__ADS_2