Noda Darimu

Noda Darimu
Bab 17 Ditemani Hujan


__ADS_3

Edzhar tidak langsung mengeluarkan suara. Dia terdiam untuk beberapa detik, sampai Gilda bisa menebak bahwa Edzhar sangat keberatan. Padahal sebelumnya lelaki itu sendiri yang membuat janji pernikahan kontrak selama satu tahun penuh. Bukan keinginan hati terdalam Gilda menikah dengan sahabatnya, karena wanita itu tahu sahabat lelakinya tak akan pernah bisa melihatnya sebagai wanita yang layak dicintai.


"Baiklah. Aku akan berusaha menjauhi Carla selama satu tahun penuh pernikahan kontrak kita, tetapi aku tidak bisa berjanji untuk tidak bertemu dengan Carla."


"Aku hanya ingin kau berhenti berhubungan dengan Carla layaknya kekasih, Ed. Aku tidak melarangmu bertemu dengan Carla, yang aku ingin cuma berhenti melakukan hal-hal seperti orang berpacaran. Apa sampai sini kau paham maksudku?"


"Ya, aku mengerti."


"Aku tidak ingin kau menanamkan benihmu di dua wanita sekaligus, baik aku atau Carla selama kita berada di dalam pernikahan ini."


Detik itu juga Edzhar batal melanjutkan acara makannya. Dia mengambil minumnya sebelum menanyakan maksud Gilda. "Apa maksudmu menanam benih? Kau pikir otakku sekotor dan seliar itu?" Membiarkan beef steak di depannya sisa sedikit, Edzhar memutar tubuh Gilda agar berhadapan dengannya.


Jarak mereka pun sangat dekat, dan kini tangan Edzhar memegang kedua lengan Gilda. Wanita itu mendongak dan menatap dalam netra Edzhar yang mengarah padanya. Edzhar seakan mengunci matanya. Gilda hanya bisa menjawab, "Y-ya."


"Apa kau pikir ... aku dan Carla sudah melakukannya, sama seperti apa yang kita lakukan malam itu dan kemarin di rumah lama orang tuamu?" tanya Edzhar yang matanya semakin melotot tajam. Sementara Gilda yang gugup mengangguk-angguk kepalanya pelan. "Aku bahkan belum pernah melihat tubuh bagian dalam milik Carla, Gil."


Mulut Gilda yang berat untuk terbuka, kini menganga. Ia sangat terkejut dengan ucapan Edzhar. "Be-benarkah? Ka-kalian tidak pernah me-melakukan itu?" tanya Gilda terbata-bata, dan sekarang dia menutup mulutnya sendiri bersama sepasang mata terbelalak. "Jadi, kau sama sekali ti-tidak pernah berhubungan dengan si-siapa pun, Ed?"


"Ya, hanya kau satu-satunya gadis yang pernah kusentuh." Edzhar membuang napasnya dan melirik perut Gilda. "Sialnya langsung jadi," lirihnya yang masih bisa ditangkap oleh kedua telinga wanita di depannya.


Sontak saja Gilda menghempaskan tangan Edzhar yang memegang erat sepasang lengannya. "Aku juga tidak tahu kalau setelah itu aku akan hamil. Sampai kapan pun aku tidak akan lagi menganggap dia sebagai hasil kesialan! Aku juga tidak akan menganggap bayiku ini noda. Dia hartaku yang paling berharga!" seru Gilda sedikit berteriak, karena ia tak terima dengan nada bicara Edzhar yang seolah-olah menghina anak mereka.


Bersamaan dengan itu, suara petir di langit begitu menggelegar. Mengagetkan dua insan yang masih saling pandang. Disusul hujan yang tiba-tiba turun dengan sangat deras, Gilda memutus kontak mata lebih dulu. Wanita itu memeluk dirinya sendiri dan menggeser posisi duduknya agar lebih ke tengah gazebo.


"Aku tidak bermaksud menghina anak kita jika kau berpikir begitu."


"Lalu apa arti tatapanmu tadi? Kau menatap perutku dengan pandangan seolah-olah kau tidak menyukai dia, Ed." Tersenyum sinis, Gilda membuang muka karena perasaannya kembali muram. Bahkan ia seperti ingin menangis lagi. "Aku tidak buta!" semburnya sembari mengelus-elus perutnya dan memutar badan agar posisinya membelakangi Edzhar.


"Bukan begitu, Gil ...."


"Lupakan, kau habiskan saja makananmu," sela Gilda terdengar ketus dan ia tak menoleh sedikit saja pada sang suami. Dia menatap langit yang benar-benar sudah gelap diikuti air hujan yang turun sangat deras. "Sudah hujan juga, dan karenamu ... kita terjebak di sini ditemani hujan."

__ADS_1


Edzhar tidak membantah. Lelaki itu benar-benar melakukan apa yang sahabatnya katakan. Meneruskan acara makannya dalam diam, namun tetap memperhatikan Gilda dari belakang.


Gilda yang kedinginan karena suasana sore hari ini dibarengi dengan hujan, ia menggosok-gosok lengannya sendiri. Sambil memikirkan foto Carla yang dikirimkan Antonius, Gilda juga tengah mempertimbangkan keputusannya untuk dekat dengan Edzhar selama dua belas bulan. Apakah ia sudah benar untuk meminta Edzhar agar fokus padanya dan buah hati mereka yang masih di dalam perut?


Beberapa menit berlalu, dan Edzhar sudah menghabiskan makanannya. Gilda yang tengah melamun itu, merasakan sepasang tangan hinggap di perutnya tanpa diminta. Wanita itu sudah tahu siapa pelakunya.


"Kau kedinginan, bukan?"


"Ya." Sesudah itu Gilda merasa tangan Edzhar yang tak hanya melingkar di sana. Akan tetapi, jemarinya juga bergerak naik-turun memberi usapan. "Jika kau masih keberatan, jangan paksakan, Ed. Akan lebih menyakitkan kalau kau melakukan itu karena terpaksa."


"Tidak, aku memang ingin meraba perutmu. Sekaligus ingin meminta maaf padanya," jawab Edzhar masih dengan memberi usapan pada perut rata Gilda dari belakang.


Gilda hanya berdeham dan menikmati sentuhan Edzhar yang membuat perasaannya nyaman. Hingga lama-kelamaan sentuhan itu semakin turun, diiringi dengan kecupan-kecupan kecil di leher. "Apa yang kau lakukan, Ed?!"


"Supaya kau tidak kedinginan."


Masih dengan memakai jumpsuit floral lengan pendek, Gilda merasakan tangan Edzhar sudah berada di tempat paling privasi. Dua tangan itu sudah berpencar, bagian kanan di bawah, sedangkan sebelah kiri di atas. Sang istri yang juga menerima kecupan di leher itu tak kuasa menolak saat suaminya menyambar bibir lembut nan merah miliknya.


Edzhar sengaja melakukan kegiatan intim itu semata-mata untuk membuat ibu dari calon buah hatinya merasa hangat, tidak kedinginan seperti beberapa saat lalu. Jauh di dasar hatinya, dia juga merindukan keintimannya dengan Gilda. Edzhar sendiri tidak sadar, mulai kejadian malam itu di kamarnya, dirinya semakin tertarik dengan sahabatnya sendiri.


"Aku tidak akan mengeksekusimu di sini." Edzhar berhenti mengelus bagian bawah milik Gilda. "Kita bisa melanjutkannya di kamar nanti," tambahnya sebelum ******* lagi bibir sang istri.


Kali ini lengan kanannya membawa pinggang Gilda agar lebih mendekat ke tubuhnya. Edzhar memeluk erat tubuh itu, agar sang empunya menerima kehangatan dari tubuhnya. "Kau melakukan ini karena tahu aku kedinginan?" tanya Gilda setelah Edzhar berhenti mencium bibirnya.


Bukannya menjawab, pandangan Edzhar justru jatuh pada kancing dari jumpsuit yang dipakai sang istri. "Bagaimana kalau aku benar-benar ingin melakukannya sekarang? Apa kau akan marah?" tanya Edzhar sembari meraba di sana.


"Kau bodoh, Ed?! Ini di luar!"


"Tidak akan ada yang berani datang ke sini karena mereka tahu aku butuh privasi."


Gilda pun terdiam saat jari lincah Edzhar melepas kancing pakaiannya satu-persatu dan kembali memanjakan miliknya bagian atas. Kali ini dengan bibir dan dua tangannya. Gilda yang masih waras karena takut kepergok orang lain, lantas meremas rambut Edzhar dan meminta, "Berhenti, Ed! Bagaimana kalau mereka tidak sengaja ke sini?! Bagaimana kalau mereka menjemput kita karena tahu kita terjebak di sini karena hujan?!"

__ADS_1


Edzhar tidak membalas pertanyaan sang istri, justru makin asyik dengan kegiatannya yang berhasil membuat Gilda kepanasan. Beberapa menit kemudian Edzhar mendongak. "Kau tahu, Gil? Semua bagian tubuhmu membuatku kecanduan ...," bisik Edzhar sebelum kembali melabuhkan gigitan kecilnya yang membuat Gilda mengeluarkan desahannya.


*


Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Di sebuah restoran mewah, dua wanita tengah duduk berhadap-hadapan dengan saling tatap. Wanita yang lebih tua menatap lawan bicaranya dengan tatapan heran dan tak percaya.


"Jadi, kau takut dengan wanita yatim piatu itu? Ternyata nyalimu kecil sekali."


"Aku sudah bilang sebelumnya, kakek Mateo yang pasang badan untuknya. Bukan karirku saja yang menjadi taruhannya kalau aku mengganggu Gilda, tapi orang tuaku pun kena imbasnya," terang Carla sebelum membuang muka. "Intinya sudah jelas, aku tidak akan mengganggunya. Lagi pula, satu tahun lagi mereka akan bercerai."


"Kau yakin mereka akan bercerai?"


Carla mengangguk. "Edzhar sudah menunjukkan surat perjanjian pernikahan kontrak mereka. Jadi, sudah pasti mereka bercerai. Kau tenang saja, aku pasti jadi menantumu." Carla kemudian meminum cocktail miliknya.


"Tapi aku tidak tahan satu rumah dengan wanita menjijikkan itu. Satu hari saja di bawah atap yang sama membuatku ingin menjambak rambutnya," balas Lexa dengan tajam menatap Carla. "Aku ingin wanita itu segera angkat kaki dari rumah besar."


"Jangan bawa-bawa aku, karena aku tidak ingin berurusan dengan kakek. Kakek sudah tahu kalau ak--" ucap Carla yang terputus karena ia sadar bahwa Lexa tidak mengetahui perselingkuhannya dengan Kendrick. Bisa bahaya jika Lexa tahu dia bermain di belakang Edzhar. Selama ini wanita yang akan menjadi mertuanya itu hanya tahu dirinya adalah gadis manis yang paling setia.


"Sudah tahu apa?!" tanya Lexa dengan dahi mengerut bingung.


"Dia sudah tahu kalau aku menampar Gilda di pusat perbelanjaan. Saat itu Kendrick menemaniku, dan aku yang emosi karena melihatnya, tak sadar menamparnya."


"Itu bagus! Setidaknya dia sudah merasakan tamparanmu." Carla hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Jantungnya berdetak kencang kala ia hampir saja keceplosan mengungkapkan hubungannya bersama Kendrick pada Lexa. Bisa-bisa dia batal menikah dengan Edzhar lagi, dan tidak bisa menguras harta keluarga Martinez.


"Kalau kau tidak berani menyingkirkan Gilda dengan cepat, terpaksa akulah yang melakukannya."


Carla yang ingin memakan dessert berupa cake cokelat, berhenti mengarahkan sendok ke mulut. "Kau yakin?" tanyanya. "Karena Gilda yang sebenarnya adalah cucu dari mertuamu. Kakek bilang kalau Gilda adalah cucunya dari anaknya yang lain," ungkap Carla kemudian.


"Aku tahu."


"Kau tahu?! Jadi, siapa Gilda sebenarnya? Anak siapa dia?" Carla yang sudah terbelalak kaget itu mendadak diam beberapa detik sebelum lanjut bertanya, "Apakah kakek pernah memiliki wanita simpanan?"

__ADS_1


"Bodoh! Mana mungkin dia berselingkuh dari istrinya yang penurut dan terkenal kaya raya? Mateo pria setia, dan mencintai istrinya yang beberapa tahun lalu sudah tiada. Karena cinta itulah dia mengabulkan semua permintaan sang istri termasuk ...."


Melihat mata Lexa yang berkaca-kaca dan tangan meremas gelasnya, Carla mengerut bingung. Terlebih lagi ucapan wanita paruh baya itu menggantung. "Termasuk apa? Kenapa mukamu jadi begitu?"


__ADS_2