
"Lebih cepat, Ed ...," lirihnya meminta gerakan Edzhar di belakang tubuhnya, yang diakhiri dengan ******* panjang.
Edzhar menutup senam pagi khusus pasangan halal itu dengan mengecup leher belakang Gilda berkali-kali. Pasangan suami istri yang terengah-engah dengan bulir keringat membasahi sekujur tubuhnya tersenyum puas meski kelelahan. Gilda ditarik untuk masuk ke dalam pelukan Edzhar usai lelaki itu membalikkan tubuh Gilda agar menghadap padanya.
"Pagi ini aku ada kelas yoga, Ed ... bangun dan bersiaplah mandi, setelahmu aku," bisiknya saat Edzhar menempelkan mukanya di dada bidang pria itu.
"Biarkan aku memelukmu sejenak."
Gilda melengkungkan bibirnya senang, dan membalas pelukan suaminya. Wanita itu mendongak dan menatap Edzhar yang memejamkan mata. Dilihatnya sang sahabat sekaligus ayah dari calon anaknya lekat-lekat.
"Kamu masih tidak ingin melihat jenis kelaminnya, Ed?" tanya Gilda yang mendapat balasan lewat gerakan kepala. "Mengapa? Kamu tidak penasaran?"
"Biarkan menjadi kejutan. Lebih mendebarkan kalau kita mengetahuinya saat kamu bersalin, Gil."
Edzhar membuka mata dan membuatnya bertatap-tatapan langsung dengan netra Gilda. Jemari pria itu mengelus puncak kepala Gilda sebelum mendaratkan kecupannya di kening sang istri.
"Cepat bangun, atau kita akan mendapat amukan kakek karena sering terlambat sarapan bersama, Ed."
"Tidak apa, karena aku tidak ingin melewatkan bercinta di pagi hari yang terasa jauh lebih nikmat daripada malam hari." Gilda spontan menepuk bibir Edzhar dan membuat pria itu terkekeh geli. "Tapi aku serius, bukankah rasanya lebih menyenangkan dan seru di pagi hari seperti ini?"
"Berhenti berkata-kata semacam itu." Gilda mendengus dengan pipinya yang sudah berubah warna menjadi merah. Wanita itu bahkan menangkup muka Edzhar yang semakin memberikan senyum setan. "Kamu terlihat bukan seperti Edzhar yang sopan. Lebih baik mandi sekarang atau tidak ada bercinta selama seminggu penuh!"
Edzhar lantas menurunkan kakinya dari ranjang. Memakai celana tidur panjangnya dengan cepat, tak lupa untuk ******* bibir Gilda sekilas. "Sekarang berani mengancamku, awas saja kalau kamu yang merindukan milikku, Gil." Setelah itu cepat-cepat menjauhi ranjang.
"Tidak akan!" balas Gilda sambil tertawa kala melihat Edzhar berlari kilat ke arah kamar mandi. "Nyatanya kamu yang minta setiap pagi dan malam seperti minum obat, Ed ...," gumam Gilda mengambil napas panjang dan berusaha duduk tegak. Perutnya yang sudah membuncit itu sedikit menyusahkannya jika ingin bangun dari berbaring.
Gilda masuk kamar mandi setelah Edzhar keluar dari sana. Ia dibantu Edzhar berjalan ke kamar mandi, karena pria itu merasa ngilu sendiri jika sang istri mandi sendiri dengan perut yang cukup besar sebagai beban. Setelah itu barulah dia kembali mengancingkan kemejanya.
Bunyi ketukan di pintu membuat aktivitas Edzhar berhenti. Lelaki yang ingin merapikan rambutnya itu mendekat ke pintu dan melihat sosok Mona setelah membukanya. "Aku dan Gilda akan turun sebentar lagi. Minta kakek untuk makan lebih dulu jika sudah kelaparan."
__ADS_1
"Tuan Mateo bersikeras untuk menunggu, Tuan. Jadi, beliau meminta Tuan dan nyonya Gilda untuk lebih cepat turun."
"Gilda sedang mandi, kami akan turun lima belas menit lagi."
"Baiklah, saya permisi, Tuan."
Sesudah itu Edzhar menutup kembali pintu kamarnya. Ia melanjutkan kegiatannya mengatur tatanan rambut sebelum mengecek ponsel. Sudah dipastikan bahwa Janez akan mencecarnya dengan banyak pertanyaan mengenai beberapa usaha Mateo yang wajib ia periksa minggu ini. Mulai dari restoran, bar dan kafe, serta beberapa villa yang wajib diperhatikan.
Tatapan Edzhar mau tidak mau harus fokus pada layar tablet setelah menerima semua pesan dari Janez. Ia duduk di sofa yang letaknya berada tepat di depan kasurnya. Lebih dari sepuluh menit ia mengecek, hingga dikejutkan dengan pemandangan wanita berperut buncit yang baru keluar dari kamar ganti.
Gilda keluar dengan rambut yang digulung tinggi, tampak sangat seksi karena memperlihatkan leher jenjangnya. Akan tetapi, yang menjadi masalah bagi Edzhar adalah pakaian wanita itu. Edzhar tidak rela jika Gilda memakai celana legging dengan atasan sport bra. Benar-benar menampilkan perut balon yang sangat menggoda.
"Lekuk tubuhmu itu mengganggu setiap mata pria."
Gilda tersenyum dan bertanya, "Termasuk dirimu?"
"Ganti pakaianmu," balas Edzhar sama sekali tidak tersenyum. Tatapannya bahkan berubah sangat menusuk. Gilda yang ingin membantah itu dikejutkan dengan ucapan tambahan Edzhar. "Ganti lalu pergi ke tempat yoga atau pilih di kamar saja? Pilihanmu hanya dua itu. Aku tidak terima alasanmu atau bantahanmu."
"Kakek sudah menunggu kita," sela Edzhar seraya bangun dari sofa. "Kamu ingin ganti atau tidak?"
"Aku lelah kalau harus ganti lagi, Ed! Kamu kira mudah melepas celana ketat ini dalam keadaan perut membesar?!"
"Apa perlu kubantu?" Gilda menghela napas dan terpaksa harus masuk ke ruang ganti lagi. Sedangkan Edzhar yang menyadari raut wajah kesal wanita itu pun turut berjalan, membuntuti Gilda. Ia benar-benar berniat membantu.
Dibantu Edzhar berganti celana, yang semula celana panjang ketat model legging, kini menjadi celana harem hitam yang longgar. Gilda pun tak jadi memakai sport bra saja, namun memakai kaos berpotongan pendek di bagian bawah maupun lengan. Padahal akan lebih leluasa kalau dia memakai sport bra, lagi pula di kelas yoga tidak ada pria sama sekali.
Mereka keluar dari ruang ganti dengan Edzhar yang sudah bisa tersenyum senang dengan tulus karena merasa lega melihat penampilan Gilda sekarang. Berbeda dengan Edzhar, Gilda justru menghilangkan senyum di wajahnya. Keduanya turun bersama dan masuk ke ruang makan, sarapan bersama Mateo yang terlalu lama menanti cucu-cucunya.
*
__ADS_1
"Aku ikut senang mengetahui kandunganmu baik-baik saja sejauh ini."
"Ya, dua bulan lagi aku akan melahirkan, Janez."
"Wah, aku tak sabar ingin melihat keponakanku."
Tangannya tak ragu untuk terulur dan memberikan usapan di perut Gilda. Janez tersenyum, turut bahagia melihat Gilda yang sekarang sudah makin bersinar. Terlihat sekali bahwa wanita itu lebih menikmati hari-harinya, dibanding terakhir kali ia melihat Gilda beberapa bulan lalu saat memergoki Edzhar berciuman dengan Carla.
Mereka tengah berada di dalam toko roti milik Gilda. Toko roti itu sudah menyediakan beberapa bangku untuk para pembeli yang ingin makan di sana. Gilda duduk bersebelahan dengan Janez yang sesekali menggigit roti rasa moka dan beberapa kue kering yang ada di atas meja.
"Ternyata cintamu telah menyelamatkan pernikahan sementaramu." Janez mengatakannya setelah menelan rotinya.
Gilda menggeleng sembari terkekeh-kekeh. "Bukan cuma aku, kakek juga membantuku." Kekehannya berubah menjadi tawa lepas kala mengingat Mateo melemparkan surat perjanjian kontraknya dengan Edzhar, jatuh tepat di wajah suaminya. "Kakek juga menyuruh Antonius untuk memukuli Edzhar agar dia sadar akan cintaku," imbuhnya masih tertawa.
Keduanya tidak tahu bahwa ada orang yang tak suka melihat pemandangan itu. Dari jauh, Edzhar sudah mengepalkan sepasang tangannya. Dari luar jendela, ia bisa melihat tangan Janez masih asyik di perut Gilda, mengelus anak mereka yang entah mengapa hatinya mendidih melihat perlakuan manis Janez pada Gilda.
"Apa tanganmu itu tidak pernah disiram air panas, Janez?" tanya Edzhar usai ia masuk, melewati pegawai toko Gilda yang menyambutnya. "Apa kau ingin aku melakukannya untukmu?"
"Wow! Ada apa kau datang sambil marah-marah? Duduklah," balas Janez. Pria itu masih mengelus perut gendut Gilda. Tak mengerti bahwa yang dibicarakan Edzhar adalah tentang tangannya yang memberi usapan pada calon anak mereka.
"Sepertinya Ed marah karena tanganmu," bisik Gilda sembari melirik tangan Janez di perutnya. Gilda pun memegang tangan Janez dan buru-buru menjauhkannya dari perut yang masih tertutup kaos hitam. "Janez mendoakan yang baik-baik untuk calon bayi kita, Ed."
"Oh, kau cemburu jika aku menyentuh perut istrimu seperti ini?"
Edzhar pun kembali murka kala Janez mengulangi lagi aksinya. "Bilang saja jika kau cemburu, Ed. Apa kau sudah mencintai istrimu? Jika tidak, aku siap menunggunya bercerai denganmu."
"Sialan kau! Aku tidak akan pernah menceraikannya!" pekik Edzhar dan menarik kerah Janez sampai pria itu bangun dari bangku. "Ya, aku sudah mencintainya! Aku mencintai Gilda! Apa kau puas?!" Edzhar kemudian membanting tubuh Janez sekencang mungkin sampai tubuh lelaki itu terhuyung, dan wajahnya hampir mencium lantai. "BAWA DIA KELUAR DARI SINI!"
"Mengapa harus marah, Ed? Janez hanya mengucapkan selamat atas kehamilanku yang tumbuh sehat dan dia berharap agar aku selalu bahagia bersamamu." Gilda mencoba untuk menenangkan Edzhar. Tangannya mengusap-usap punggung sang suami. "Apa kamu benar cemburu, Ed?"
__ADS_1
"Ya! Aku tidak suka tubuhmu diraba-raba orang lain selain aku! Aku tidak suka walaupun itu perutmu! Kamu milikku, Gil!" jawab Edzhar berapi-api. Ia menatap Gilda sekilas saja dan kembali memerhatikan Janez yang dibantu berdiri oleh pelayan toko. "Sekali lagi aku melihatmu menyentuhnya, aku tidak akan sudi mengikuti perintahmu di kantor! Aku juga tidak akan fokus memperbesar bisnis keluarga Martinez lagi."
Janez sama sekali tidak takut dan dengan santai menjawab, "Sifat cemburumu itu benar-benar membuatku ingin tertawa, Ed. Dulu kau ingin membuang Gilda, tapi sekarang kau menjaganya dengan sangat berlebihan."