Noda Darimu

Noda Darimu
Bab 29 Gilda Kecewa


__ADS_3

Usia kehamilan yang sebentar lagi akan menginjak sembilan bulan membuat Gilda diminta oleh orang di rumah maupun sang bibi untuk berhenti kerja sementara. Wanita yang bulan depan berumur dua puluh dua tahun itu pun harus menyetujui permintaan keluarganya. Setelah mengikuti kelas yoga di pagi hari dan berenang di jam tiga sore lalu mandi, Gilda langsung pergi ke dapur.


Di saat langit senja mulai tampak itulah Gilda berkutat dengan adonan bersama Mona. Sembari menunggu kepulangan Edzhar, wanita itu membuat kue kering bermacam-macam rasa. Dari kue cokelat, kacang, castangel, dan nastar dibuat oleh wanita hamil itu beserta pelayan paruh baya kepercayaan Mateo.


Tak terasa sudah hampir dua jam Gilda berada di dapur bersama Mona. Ia pun membiarkan Mona menyiapkan makan malam sejak satu jam lalu, sedangkan dia hanya menunggu semua adonannya masuk oven. Gilda duduk di kursi makan, karena Mona mengatakan bahwa dirinyalah yang akan mengurus sisanya.


Selagi menunggu kue kering buatannya matang, Gilda coba menghubungi Edzhar yang sejak sore tadi tidak membalas pesannya. Wanita itu bahkan menelepon sang suami beberapa kali, namun tak ada jawaban. Gilda pun memutuskan untuk menyapa kelinci di taman dalam ruangan.


Dari yang induk sampai bayi pun dielus Gilda, dan ia juga iseng memberi wortel pada kelinci anggora. Bukan tanpa alasan ia memberikan makan lagi, karena selain sudah waktunya, wanita itu ingin mengelusnya lebih lama. Terutama anakan kelinci anggora yang memiliki bulu abu-abu muda, menjadi kelinci kesayangannya.


Hari Minggu lalu Gilda dan Mona pergi membawa kelinci-kelincinya ke dokter hewan ditemani Antonius. Ia khawatir karena telinga dari salah satu kelincinya terdapat tungau. Gilda heran karena satu ekor kelincinya sering sekali menggaruk-garuk telinga.


"Bukan hanya mereka yang butuh makan." Gilda menoleh ke sumber suara yang berasal dari luar taman. "Kau juga harus makan," ucapnya menambahkan.


Gilda pun berusaha berdiri dan mengangguk. "Ya, Kakek. Apakah Mona sudah menyiapkan makan malamnya?"


"Sudah. Mari kita makan malam."


Gilda mengangguk lagi. Tangannya mulai membuka kandang kelincinya yang berbentuk mirip rumah. "Apakah suamiku sudah datang?" Gilda bertanya sambil memasukkan kelincinya.


"Edzhar? Sepertinya belum, Nak." Mateo yang melihat wajah cemas cucu menantunya itu lantas bertanya, "Apa dia tidak menghubungimu jika akan pulang lebih malam?"


Gilda membilas dulu tangannya di wastafel yang tersedia di sudut dekat rumah kelinci. Sambil memakai sabun cair, Gilda menggeleng. "Panggilanku tidak diangkat, Kakek." Ia pun keluar dari taman indoor tersebut dan merangkul Mateo. "Sudah mengirim pesan sejak siang tadi, tapi juga belum mendapat balasan."


"Mungkin saja dia terlalu sibuk, kau tidak perlu khawatir." Gilda hanya bisa mengiyakan. Keduanya pun masuk ke ruang makan bersama, dan mendapat sambutan dari Mona yang tersenyum lebar. "Ed belum datang juga, Mona?"


"Belum, Nyonya." Mona melirik sekilas pada Mateo setelah pria itu dibantunya Gilda untuk duduk. Tangannya pun mulai memberikan piring di hadapan Mateo dan Gilda. "Mungkin tuan Edzhar terlalu sibuk. Nyonya tidak perlu cemas, tuan pasti akan pulang sebentar lagi," ujar pelayan itu yang turut berusaha menenangkan hati sang nyonya muda.


Gilda sesekali menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja makan saat menyantap makaroni dan keju, juga mencicipi semangkuk bubur jagung.


Hingga Mateo pamit ke kamar tidur pun, Gilda masih tak mendapat jawaban atau panggilan dari sang suami. "Jangan terlalu berpikir terlalu keras tentang Edzhar, cucuku itu pasti baik-baik saja." Gilda hanya tersenyum menanggapinya. Mona pun mendampingin Mateo untuk masuk kamar.

__ADS_1


Sampai makan malamnya habis, Gilda juga tak kunjung menerima satu kabar pun dari Edzhar. Mona yang melihat nyonya-nya melamun, lantas menepuk pundak. "Kue buatan Nyonya sudah matang, beberapa yang dingin sudah saya masukkan ke dalam wadah, Nyonya."


Gilda mengangguk dan berterima kasih. Wanita itu berdiri, melihat kue-kue yang masih ada di atas loyang, masih hangat. Gilda mulai mencoba salah satu kue cokelatnya. Mona pun mengantarkan obat untuk Mateo yang sudah masuk kamar sejak sepuluh menit lalu.


Kemeja polos lengan panjang berwarna merah itu sudah digulung sampai siku, Edzhar berjalan sambil tersenyum simpul ke arah ruang makan yang menampilkan sang istri. Gilda yang melihat suaminya datang menghampirinya pun menyapa. Gilda juga meminta Edzhar untuk duduk di kursi sebelahnya berdiri.


"Maaf, aku terlalu sibuk mengurus pembangunan villa baru."


"Tidak apa-apa, tapi lain kali tolong sempatkan waktu untuk mengabariku, Ed." Edzhar mengiyakan dan melepas dua kancing kemeja teratas. "Aku cemas, takut kalau terjadi sesuatu padamu."


"Maaf, Gil." Lelaki itu menatap wajah Gilda yang tampak cantik meski tak berdandan, dan berusaha menunjukkan senyum terbaik untuknya. Melihatnya, membuat rasa bersalah dalam hati Edzhar kian membesar. "Apakah masih lama?" tanya Edzhar yang diangguki Gilda.


"Kamu sudah makan?"


"Sudah," jawab Edzhar jujur yang membuat kening Gilda mengerut. "Aku makan buru-buru karena pekerjaanku yang tidak mungkin ditinggal."


"Hem, aku pikir sampai tidak sempat makan malam."


Melihat aktivitas istrinya memasukkan kue kering ke dalam stoples kaca, Edzhar mengambil beberapa. Empat stoples lain sudah terisi penuh dengan kue aneka rasa. Ia bertanya lagi, "Tidak lelah berdiri?"


Tiba-tiba Mona yang membawa gelas kosong dan obat-obatan di tangan, masuk ke ruang makan. Ia hendak membantu Gilda memasukkan kue kering ke dalam wadah kaca yang tersedia. Akan tetapi, Gilda menolak.


"Aku bisa sendiri, Mona." Hanya memasukkan kue terlalu mudah, dan sampai detik ini Gilda tidak ingin diratukan. "Kau mengurus makan malam yang masih sisa saja. Edzhar sudah makan malam."


"Biarkan Mona dan pelayan lain yang mengurusnya, kita masuk ke kamar saja," Edzhar mengatakannya sambil menggigit kue castangel di tangan kiri sang istri. Lelaki itu juga mengedipkan matanya. "Ada kegiatan rutin yang harus kita lakukan, My Love...," sambungnya membuat Gilda meremas rambut Edzhar dan sedikit menariknya lebih kuat. Bukannya marah atau meringis kesakitan, Edzhar justru membalas, "Lakukan itu kalau kita sudah melakukannya."


"Enyahlah, Ed!" Meski mengusir, pipi Gilda sudah memerah saja. "Aku sedang tidak minat!"


"Apa katamu? Nikmat? Memang nikmat, siapa yang bilang tidak nikmat?!" Mendengar jawaban Edzhar yang tidak nyambung dengan jeritannya itu, membuat Mona tertawa. Sementara dirinya sudah diangkat oleh Edzhar. "Mari kita lakukan sepuasnya sampai pagi, Love ...," imbuhnya yang masih bisa didengar Mona. Gilda yang geram, tak ragu untuk menarik kencang telinga Edzhar.


Ternyata saat sampai di dalam kamar Edzhar tidak langsung 'memakan' sang istri, melainkan membaringkan Gilda di sofa terlebih dulu. Sementara dirinya pamit ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Kala duduk itulah Gilda memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Mengapa aku mencium aroma parfum perempuan di kemejanya?" tanya Gilda seraya menatap pintu kamar mandi yang tertutup.


Lama menanti, Gilda pun memilih untuk mengganti gaun rumahannya dengan gaun tidur yang pendek, namun tidak seksi. Sejujurnya dia tidak terlalu percaya diri setelah perutnya semakin besar, karena berat badannya pun naik sampai lebih dari sepuluh kilogram. Ia kembali ke sofa setelah memakai gaun tidur warna ungu muda.


Selang beberapa menit kemudian Edzhar keluar dengan celana tidur panjang dan atasan yang tiga kancingnya terlepas. Ia turut duduk di sofa, lalu meletakkan sepasang kaki Gilda di pahanya. Tangannya meraih remote yang ada di sofa, menyalakan televisi.


Sambil memijat kaki sang istri, Edzhar menatap Gilda sekilas dengan tersenyum. Sementara Gilda yang mengamati gerak-gerik suaminya itu mulai menelan ludahnya. Jarang sekali Edzhar memijat kakinya seperti sekarang. Bahkan hal itu sudah dilakukan sejak dua bulan yang lalu, kala umur kehamilannya belum menyentuh angka tujuh bulan.


"Kenapa malam ini kamu memijat kakiku?"


"Aku hanya ingin saja, karena aku lihat kamu berdiri tadi." Gilda tampak diam, namun memandang Edzhar penuh selidik. "Ada apa? Apa salah kalau aku memijat kaki istriku? Atau kamu ingin kita langsung main?"


"Aku mencium parfum perempuan dari kemejamu, Ed."


Edzhar terdiam beberapa detik, tapi bibirnya langsung memberikan senyuman dan menyemburkan tawa kecil dari mulut. "Mungkin parfum dari beberapa karyawan yang aku temui, Gil. Bisa saja, bukan?"


"Ya, memang bisa." Gilda membuang napas panjang, ia merasa lega mendengar balasan Edzhar. Ternyata ia sudah berpikiran yang tidak-tidak dulu tanpa berpikir positif seperti yang dikatakan Edzhar barusan.


"Sebentar lagi kita akan bermain, karena itu aku memberikan pijatan terbaikku. Kamu juga harus memberikan yang terbaik malam ini."


*


Pagi ini jam delapan, Gilda memutuskan untuk pergi ke toko roti, tentunya setelah memohon pada Mateo. Itu pun karena hari ini dirinya tidak ada kelas yoga, dan bosan kalau dirinya harus di rumah seharian. Ia juga memastikan pada Mateo bahwa dirinya tidak akan ke ruang produksi dan hanya duduk manis di toko roti.


Sembari menikmati segelas milkshake rasa green tea, Gilda sesekali menyapa beberapa pembeli yang baru masuk. Tak hanya itu, Gilda juga berbincang singkat pada pembeli tetapnya yang makan roti di tokonya. Kegiatan itu yang membuat Gilda lupa sejenak pada bayangan menakutkan jika waktu persalinan tiba, dan sudah diprediksi akan terjadi satu bulan lagi menurut hitungan dokter.


Masih dengan menikmati milkshake dan bermain ponsel, Gilda dikejutkan dengan ucapan karyawannya. "Permisi, Nyonya Gilda. Ada kiriman untuk Nyonya dari kurir," lapor karyawan toko perempuan itu seraya mengulurkan amplop cokelat pada Gilda. Wanita itu menerima dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


"Apa ini?" gumamnya seraya membuka amplop cokelat besar tersebut. Gilda membukanya dengan kening mengerut, karena saat tangannya masuk ke dalam amplop ia merasakan ada banyak kertas di dalam.


Mulut Gilda terbuka lebar bersama dadanya yang seketika terasa sesak. "Fo-foto Edzhar dan Carla ...?" tanyanya tak percaya. Gilda melotot saat melihat keduanya saling berpelukan. Bukan itu yang membuatnya sangat terkejut, tapi kemeja yang dipakai suaminya adalah kemeja merah yang kemarin dipakai. Ia memasukkan amplop cokelat itu ke dalam tas, dan bilang pada karyawannya bahwa ingin pulang.

__ADS_1


Wanita hamil yang berusaha menahan air matanya itu langsung turun dari kursi. Ia mengambil tasnya dari meja, dan memasukkan amplop cokelat itu ke dalam tas, serta bilang pada karyawannya bahwa ingin pulang. Lalu mengirim pesan pada seseorang, dan segera membuka aplikasi untuk memesan taksi.


Gilda segera keluar dari toko rotinya dan menaiki taksi online yang beberapa menit lalu ia pesan. Hatinya yang sakit itu coba ditahan dengan terus mengelus perutnya. Sampai di tempat tujuan, ia duduk di salah satu bangku taman sembari menunggu Janez, pria yang ia hubungi sebelum memesan taksi. Tiba-tiba saja sebuah mobil hitam berhenti di depannya.


__ADS_2