
Gelegar guruh meredam suara dinding kaca yang pecah terhempas, seonggok tubuh terlempar terjun bebas lima lantai kebawah, berdebam meremukan atap taksi yang sedang parkir mengambil penumpang.
Malam itu Tokyo diguyur hujan deras Musim Panas yang tidak berkesudahan hingga subuh. Tak terkecuali Kabuki-cho, distrik lampu merah populer di Jepang.
Lampion berderet menghiasi jalanan yang memang lengan karena hujan, namun klub malam, pub berasap, dan kedai camilan yang buka hingga larut malam tetap padat oleh manusia.
Calon penumpang yang setengah mabok dan si sopir pun terperanjat mencari sumber jatuhnya mayat pria tersebut, menengadah kearah puncak gedung Klub Malam dan Spa di depannya.
Suara tembakan pistol menyalak-nyalak dari satu lantai diatas lantai yang kini berlubang dindingnya, kilas laras yang memuntah timah membias sekat-sekat temaram ruangan di dalam sana, bersahutan dengan teriak pilu kesakitan dan desing peluru memantul dinding.
Seseorang kembali terjun menghempas keras aspal basah di depan taksi, beberapa pejalan kaki yang berpayung terkesiap dan buru-buru melangkah pergi.
Kilat yang disusul geluduk menyorot sosok perempuan muda dengan setelan taktis militer berwarna gelap, wajah jelitanya yang beku sekaligus bengis terpotret bias sambaran geluduk kedua yang lebih nyaring dan lebih benderang.
Ruangan itu membisu setelah suara gemuruh hilang. Semuanya membujur tak bernyawa kecuali ia.
Pada sisi lain dari Klab Malam itu, sekelompok orang bergegas-gegas menerobos pintu keluar di gang sempit belakang Klab, menuju menuju sedan yang terpakir menanti.
“Hubungi Matsuda di kepolisian, suruh kirim anggotanya, jangan biarkan perempuan itu lolos!” teriak Pria dengan raut wajah kaku dan kumis terbelah, memakai setelan mahal yang nampaknya seperti bos mereka semua.
“Baik! Tuan Asano.” jawab salah satunya. Sementara mereka yang tersisa bersiaga melepas keberangkatannya.
Asano menerobos hujan dan segera masuk kedalam mobil yang menunggunya. Mengumpati dalam hati penyerangan malam ini yang kemungkinan di lakukan keluarga Yakuza rivalnya. Padahal ia sudah yakin kerjasama dengan pihak asing semestinya menguntungkan posisi kelompoknya dalam perebutan kekuasaan tertinggi dalam hierarki mereka.
“Ayo cepat jalan!” serunya kepada Sopir.
Blam!
Suara senapan kaliber besar menggema layaknya guntur di tengah udara dingin bersamaan dengan kap depan mobilnya yang meletup memercikan api.
Suara tembakan yang sama lantangnya menyusul, kali ini proyektilnya menembus kaca depan anti-peluru dan mencairkan kepala sopirnya hingga bersarang jok belakang.
Asano spontan melompat keluar dari mobil dan mendapati beberapa orang anak buahnya juga sudah terkapar di terjang peluru. Tiga orang yang masih hidup meraih Katana (Pedang melengkung khas Jepang) dari bagasi mobil dan menghunuskannya kearah seseorang di ujung gang.
Asano berusaha menerka sosok yang tersamarkan tirai hujan dan uap dari tanah yang mengepul, ia nampak berdiri tegak menghadang dibelakang sepeda motor yang terparkir merintangi arah keluar.
Hanya sekilas jas hitam dan kemeja putihnya yang nampak terbias neon warna-warni. Ia dan anak buahnya sendiri sama sekali tidak menyadari kehadiran sosok tersebut, padahal jarak antara mereka terpaut tak lebih dari 50 meter.
“Siapa kau! Siapa yang mengirimmu? Jawab!” teriak Asano.
Tidak ada jawaban dari ujung seberang. Sosok itu bergeming terhadap seruan yang terlayangkan kepadanya, mengacuhkan ancaman kosong yang anak buah Asano semprotkan.
Selayaknya pemangsa yang tenang mengawasi dari kejauhan, dan kini buruannya pun mulai merasa panik.
“Habisi!” titah Asano kepada ketiga bawahannya.
Sebagai balasannya justru kini seberkas laser merah berkilas dari kejauhan dan menyusuri kening Asano. Ketiga anak kroconya mematung kebingungan, raut wajah bos Yakuza itu nampak menegang pucat pasi, matanya membelalak ngeri.
Sinar laser itu bermuara pada atap gedung lima lantai yang berjarak 200 meter dari tempat Asano berada.
Berasal dari teropong besar pada senapa kaliber tinggi yang operasikan oleh sosok jangkung dengan ponco hitam yang lepek.
Asano dan kroconya tidak akan mampu melihat wujudnya dengan jelas, namun sebaliknya, ia yang berbekal lensa bercitra malam mampu mengawasi mereka dari balik tabir malam.
“Target dalam bidikan,” ujarnya, memberi pesan pada rekannya yang mencegat jauh di bawah sana, di muka gang melalui earpiece.
Sosok yang menanti di ujung gang itu membalas dengan mengangkat tangan kirinya setinggi bahu, seolah memberi aba-aba kepada si petembak runduk dibalik teropong senapan.
Asano yang hanya bisa menyaksikan keduanya berkomunikasi, merasakan nyawanya makin di ujung tanduk.
Namun, tanpa diduga bidikan laser itu padam begitu saja, tidak ada suara tembakan.
Asano kembali dapat merasakan jantungnya berdetak normal, lututnya seperti hilang tenaga dan ingin ambruk saja.
Akan tetapi sebagai gantinya, sosok misterius di ujung gang itu yang kini mendatangi mereka.
***
“Arjuna, bersiaga di posisimu, tunggu aba-aba ku. Agni, update status?” seru Jagawana lirih melalui earpiece, sembari mencabut Katana yang berselempang di motornya.
Ia kemudian kembali melayangkan pandangan terhadap mangsanya yang bertingkah panik dan terpojok. Keempatnya terlihat tegang meski belum selangkahpun ia meninggalkan tempatnya.
Gertakan kecil dari Petembak Runduknya barusan rupanya efektif.
“Arjuna stand-by,” Sahut Arjuna, dengan rendah suara di earpiece. Ia memang mematikan pisir lasernya, namun masih tetap mengawasi kesemuanya dari ketinggian. Rintik hujan bergemerisik pada ponconya.
“Agni disini, saya akan segera bergabung. Seluruh ruangan sudah tersapu.” balas Agni di earpiece, seraya melangkahi mayat-mayat korbannya.
Ruangan lantai VIP itu sudah berantakan layaknya kapal pecah yang kandas berserak, penuh genangan darah, mayat bergelimpangan dan musik yang keras kendati penikmatnya kini sudah terjemput maut.
Wanita muda berpakaian militer ketat kehitaman itu mengelap bayonetnya pada kemeja salah satu mayat, lalu menyarungkannya di rompi dada. Udara basah merayap masuk dari dinding kaca yang menganga.
Tugas yang Jagawana berikan kepadanya kali ini adalah menciptakan pengalihan, dan ia melaksanakan itu dengan baik.
“Dimengerti! Jagawana disini, bergerak ekseskusi target.” kata Jagawana. Tatapannya mengincar kearah keempat Yakuza yang tersisa. Kedua anggota regunya sudah melaksanakan peran, sekarang gilirannya.
Rintik hujan memercik bilah tajam Katana yang terkibas itu, dengan genggaman mantap pada gagangnya Jagawana berderap menerjang buruannya.
Ketiga Yakuza itu maju hampir bersamaan dengan teriakan lantang menyongsongnya. Namun tidak cukup mematikan untuk menghentikannya, ia dengan mudah membaca gerak tubuh ketiganya.
Dua orang yang pertama menyosongnya kalah gesit meladeni langkah tipu Jagawana, ia seperti bayangan yang meliuk diantara celah yang keduanya buat, berkelit dan menangkis, serta mengayun tebasan menyilang yang memburai dada dan rusuk mereka.
Cepat dan mematikan sebagaimana biasanya, tanpa kesulitan sama sekali.
Keduanya seketika mematung kaku, katana mereka terbanting jatuh, reflek memegangi luka menganga yang menyembur deras sebelum akhirnya tumbang di balik sosok Jagawana.
__ADS_1
Satu Yakuza yang tersisa terperanjat dan untuk sesaat spontan mengerem larinya, mendapati kedua rekannya tumbang begitu saja. Namun sudah terlambat untuk mundur.
Jagawana melihat dapat melihat keraguan dan mimik keputusasaan pada serangan yang ia akhirnya lakukan.
Teriak lantang Yakuza yang terakhir menyerang padam seketika, roboh oleh ayunan vertikal mengiris membelah sepanjang garis tubuhnya setelah Katananya tertangkis mentah, jatuh bergelontang menyusul tubuh empunya di atas genangan deras yang memerah.
Ketiganya menggelepar sekarat dalam waktu singkat layaknya hewan yang terjagal.
Jagawana mengibas noktah merah dari bilah pedangnya, membalik arah genggamannya dan melangkah menghampiri Asano. Ia dapat melihat bos Yakuza itu panik seperti buruan yang terpojok, dan dalam keputusasaannya mencoba untuk melawan.
Asano meraih sebilah Katana dari dalam mobil, menghunusnya keluar dari sarung berwarna hitam berornamen keemasan.
“Aku tidak akan mati seperti hewan di tempat menjijikan ini.” teriaknya seraya memasang kuda-kuda serangan. Sekujur tubuhnya lepek bermandi hujan.
“Kau sudah mati! Semenjak memutuskan menyandera Manuskrip Soekarno, dan memanfaatkannya untuk bernegosiasi dengan Amerika demi kepentingan kelompokmu.” Jagawana berhenti beberapa meter di depannya, menatap dingin gerak tubuh yang putus asa itu.
Ia kemudian memasang kuda-kuda menengah dengan bilah tergenggam setinggi pinggang, meladeni sikap menantang duel dari Asano yang ia analisa sebagai awal serangan menghujam kearah tubuh bagian atas.
“Belagak Pahlawan kau!” teriak Asano.
Bertumpu pada pijakan kanan, Asano menerjang dengan melesatkan sekeras mungkin tusukan lengan kiri yang mematikan, seandainya saja Jagawana tidak lebih cekatan menepis hujaman deras tersebut.
Serangan balik mendarat keras berlatar suara petir besar.
Dalam sekejap mata Jagawana sudah membalik arah mata pedangnya untuk melayangkan ayunan kedua yang meremukan tulang rusuk kiri lawannya.
Asano membelalak lebar, teriakannya tercekat, Katananya terlepas dari genggaman dan sikapnya goyah sebelum terjerembab pada kedua lututnya, lalu terkulai kebelakang.
Arjuna yang mengawasi dari tempatnya pun menyiul pendek, sebagai reaksi dari kejadian barusan.
“Kami cuma perlu manuskrip itu, wahai Okashira-sama. Jangan mempersulit keadaan,” seru Jagawana yang kini sudah menggantungkan ujung bilahnya di atas leher bos Yakuza itu.
Sementara pinggang sebelah kirinya perih dan nyaris mati rasa, bos Yakuza itu cuma bisa merespon dengan tertawa getir, Jagawana bertanya sekali lagi.
Suara tenangnya nyaris teredam kemerontang curah deras pada talang air. Hujan deras terus mengguyur langit Tokyo malam itu, 3 tahun silam.
***
“Kamu dipecat, Rangga!”
Statemen mengerikan itu terus bergelayut di dalam kepala Rangga. Sementara ia makin mempercepat lari kecilnya menyeberangi pelataran parkir. Ini kali kedua ia datang terlambat dalam minggu yang sama, sedangkan baru 6 enam bulan yang lalu ia diterima bekerja.
Bu Meyshinta, Manajer HR dikantornya sudah memperingati hal ini kepada Rangga ketika ia ditegur minggu lalu. Ia enggan membayangkan dilontarkan statemen itu sepagi ini layaknya dalam acara reality TV.
Terkena pemecatan dan kembali menganggur adalah momok yang ia berusaha hindari, akan tetapi kadang lalu lintas pagi Jakarta tidak selalu dapat bekerja sama.
Ia sedikit melambat manakala memasuki pelataran Lobby kompleks gedung perkantoran mahal yang ada pada urat nadi paling ramai perekonomian Jakarta. Kantornya menempati beberapa lantai pada satu gedung tersebut. Dengan gesit ia menyelusup ke tengah arus manusia yang yang memadati gerbang masuk Lobby, mengantre untuk masuk bergiliran.
“Mas Rangga!”
Seorang perempuan muda berbalut hijab coklat dan setelan kerja modis, menyerukan namanya dari salah satu sudut gedung. Rangga menoleh ke arah sumber suara, didapatinya teman kerjanya yang memanggil. Namanya Raisa, dia adalah akuntan muda yang baru bekerja di kantor yang sama dengan Rangga, kedua tangannya menjinjing wadah berisi gelas kopi.
“Mas, aku minta tolong ya. Itu sudah ada namanya masing-masing ya mas Rangga, tolong diantar ke meja masing-masing, saya buru-buru soalnya ada rapat pagi.” Pinta Raisa, sembari mengurut jemari lentiknya yang kemerahan.
“Oh iya Mbak, biar nanti sekalian saya antar” Jawab Rangga sembari menyunggingkan senyum.
“Kok tumben, Mbak Raisa yang beli kopi. Biasanya minta tolong OB?”
“ Iya Mas, kemarin sore dititipin sama Mbak Dyah, eh tahu-tahu yang lain juga nitip. Biasa lah Mas, namanya juga junior.” Raisa menjelaskan.
Klasik, Senioritas di tempat kerja, batinnya. Tapi sedikit kebangetan juga mengingat Raisa sendiri Pendidikannya tinggi, semestinya tidak dikerjai seperti ini.
Rangga lalu mengekor di belakang sosok yang ramping dan menarik itu. Mereka berbaris mengantre untuk menggunakan kartu akses karyawan mereka pada semacam gerbang seperti yang ada di stasiun-stasiun.
Keduanya bergabung ke antrian manusia yang mengabsen lalu masuk ke dalam lift menuju lantai 12. Tetapi lift mendadak kosong pada lantai 7 dan tinggal lah keduanya, ada sedikit kecanggungan yang menyeruak diantara mereka, namun Rangga sedikit enggan untuk memulai pembicaraan kecil.
Ia hanya terdiam sementara penciuman tajamnya mengenali aroma plum yang khas semerbak dari Raisa. Akhirnya keduanya hanya bertukar senyum dengan canggung hingga pintu lift terbuka.
“Hayo, Mas Rangga dan Mbak Icha janjian ini telatnya. romantis banget sih,”
Ayu si Resepsionis, menggoda mereka dari balik mejanya sewaktu Rangga dan Raisa keluar bersamaan dari Lift.
“Haduh, Sembarangan deh ini biang gossip,” celetuk Raisa ketika keduanya melewati meja Resepsionis.
“Mas Rangga telat lagi, awas loh diomelin Bu Mey atau Pak Ajo,” kata Ayu sambil merapihkan riasannya.
Jam menunjukan angka 08.50, alamat pasti diomelin lagi nih, pikir Rangga.
Raisa memberi salam kepada beberapa orang ketika mereka memasuki ruangan besar bersekat-sekat dibalik pintu resepsionis yang juga adalah ruang kerja utama, sementara Rangga hanya mengangguk-angguk saja membalas salam.
Keduanya berpisah ketika Raisa berbelok ke arah kubikalnya, sementara Rangga berkeliling dengan kopi dari meja ke meja sesuai dengan nama yang tertera pada gelas-gelas tersebut.
Hiruk-pikuk kantor pada Jumat pagi telah dimulai.
“Mas Rangga, aku minta tolong ganti colokan listrik di meja ku ya,” Pinta salah satunya, ketika Rangga mengantarkan kopi. Melontarkan senyuman manja.
“Nanti saya mintakan ke Pak Ajo, Mbak.” Kata Rangga sembari berlalu.
“Jangan lama-lama ya Mas, pokoknya Mas Rangga yang pasangin, jangan Pak Mis!” serunya.
“Dasar genit lo,” rekan disebelahnya terdengar mengomentari, sementara Rangga cuma mengangguk.
Menghadapi godaan kecil seperti ini juga termasuk aktifitas hariannya.
Raisa dan Rangga memang bekerja pada satu perusahaan yang sama akan tetapi jenjang level mereka berbeda.
__ADS_1
Kendatipun Raisa jauh lebih muda dibandingkan Rangga, Raisa adalah staf akuntan muda dengan pendidikan paling tidak S2 sebagai latar belakangnya, sementara Rangga diterima di pekerjaan tersebut murni karena balas budi Bu Elsa salah satu bos perusahaan itu.
Rangga adalah karyawan umum pada bagian General Affair, mayoritas pekerjaannya lebih banyak menyopir karyawan kantor atau bantu-bantu perbaikan-perbaikan kecil di kantor, namun tidak jarang apapun pekerjaan segala yang ada dilakukan juga.
Lazimnya, peran Rangga disebut dengan palugada alias apa-lu-minta-gue-ada, seperti mengantar kopi pagi-pagi ini misalnya. Bagi Rangga yang hanya berijazah SMP dan penyetaraan SMA, dipekerjakan saja sudah syukur.
Rangga sudah hampir selesai mengantarkan seluruh gelas kopi ke seluruh empunya pesanan, khusus gelas yang terakhir ini spesial, karena berada di lantai yang berbeda dari Raisa dan yang lainnya, untuk orang yang tidak kalah spesialnya.
Ia memilih menggunakan jalur tangga darurat untuk mencapai lantai 13, ruangan khusus untuk orang-orang penting di perusahaan ini. Angka 13-nya sendiri semakin membuat bergidik manakala karyawan dipanggil untuk menghadap kemari.
Aura dingin menelisik seragam batiknya ketika Rangga memasuki lantai itu, kontras dengan lantai dibawahnya, suasana ruangan ini sunyi senyap.
Selain deretan sofa dan meja untuk menyambut tamu ditengah ruangan, sisa ruangan praktis dibagi menjadi ruang-ruang kecil sebagai kantor dengan pintu dan dinding kaca transparan bergradasi abu-abu sebagai corak sekaligus sekat semu.
“Dun, Madun! Bu Dyah sudah datang belum?” tanya Rangga ke salah satu Cleaning Services diruangan itu.
“Eh, Bang Rangga, belom tuh Bang. Baru gue liat ada Bu Mey sama Bu Julie aja dari pagi,” jawab Madun.
“Oke deh, aman berarti.”
“Emangnya napa, Bang?” tanya Madun.
“Kagak, ini gue nganter titipan kopinya dia aja,”
“ Spesial Deliperi nih Ye,” celetuk Madun.
“Kepo lu, dah sono lo lanjut gosok itu pot kembang sampe licin,” Rangga meninggalkan Madun ditengah kesibukannya.
“Gosok terus, lama-lama keluar Jin kali bang,”
“Iye, lo itu Jinnya,” timpal Rangga. Madun menggerutu dilatar belakang.
Rangga perlahan menggeser pintu kaca yang gagangnya dingin membeku itu, si pemilik ruangan yang namanya tertera pada label pintu itu memang belum terlihat sosoknya.
Interiornya terorganisir rapi terkait penempatan sofa dan meja kecil untuk tamu, serta meja besar dan kursi kebesarannya. Warna perabot dan aksesoris ruangan pun selaras. Benar-benar menggambarkan perfeksionisnya ia yang bersemayam disini.
Ada beberapa foto menghiasi Dinding, foto Wisuda bersama keluarga dan juga bersama pasangannya. Untuk yang terakhir itu Rangga buru-buru mengalihkan pandangan, rasanya mendadak mual.
Rangga menyalakan AC pada angka 21 celcius, sebagaimana kebiasaan si pemilik ruangan. Lalu menyemprotkan pewangi ruangan beraroma lavender yang juga pilihan si penghuni.
Ia tertegun mengamati bingkai foto kecil yang tergeletak ditengah meja, diatas tumpukan berkas dan map.
Foto seorang gadis belia rambut hitam indah terikat berbalut seragam wisuda, jika ditaksir dari garis wajah lembut difoto, sepertinya dari momen wisuda S1-nya. Terlihat bahagia dan percaya diri memeluk plakat wisudawan teladan yang ia raih.
Delapan tahun yang lalu, batin Rangga yang kini memandang lekat wajah yang terbingkai ditangannya.
Sudah belasan tahun berlalu sejak pertemuan mereka dulu. Akan tetapi cantik dan rona sayunya tidak berubah semenjak pertama kali Rangga melihatnya dari dekat sewaktu mereka masih berseragam putih-biru, berbaris memberi hormat ke tiang bendera dibawah terik mentari pagi pada memori yang jauh lebih lampau.
Rona sayu yang cantik itu memerah diterjang terik mentari, sekaligus juga menahan malu karena dihukum oleh Guru BK untuk pertama kali dalam hidupnya. Bagi Rangga yang memang langganan terlambat masuk atau lupa mengerjakan tugas seperti waktu itu, hari itu justru adalah kali pertamanya ia merasa bahagia di setrap oleh Guru BK.
Tidak setiap hari ia menerima hukuman ditemani siswi teladan sekaligus primadona angkatannya
Rangga makin terkekeh geli melihat gadis cantik di sebelahnya ini seperti hampir menangis ketika bel istirahat meraung, lalu berduyun-duyun siswa membubarkan diri dari kelas.
Ia teringat karakter Cersei Lanister dari novel favoritnya, seorang Ratu yang dipaksa menjalani hukuman dengan berjalan tanpa busana menyusuri jalan utama ibukota kerjaannya dibawah rundungan dan cemoohan.
Mungkin sebesar itulah malu yang ia rasakan, karena bagi Rangga, menghabiskan waktu hukuman hingga jam istirahat bersama primadona sekolah ini tak ubahnya seperti terkabulkan permintaan, setelah berhasil mengumpulkan tujuh bola naga.
Pasalnya dia tidak sedetikpun merasa bosan memandangi wajah si gadis, yang lama-lama membalas dengan tatapan galak sekalipun pelupuk matanya sempat berkaca.
Sungguh sosok yang jelita mengimbangi namanya, nama seorang tuan puteri Kerajaan Sunda yang kepergiannya diratapi Prabu Hayam Wuruk dari Majapahit dan diabadikan dalam Kidung Sunda serta Kitab Pararaton.
Sayangnya, Rangga dan Tuan Puteri ini pun harus terpisah karena kematian dan tragedy jua.
Ingin rasanya Rangga berlama-lama menikmati setiap detik kenangan yang ia putar kembali. Akan tetapi seruan ketus membantingnya keras dari lamunan.
“Kamu ngapain disini, Rangga!”
Rangga terperanjat. Sosok sayu berseragam putih-biru itu kini menjelma menjadi wanita dewasa yang anggun dengan riasan dan setelan blazer mahal. Tatapannya sinis seolah memergoki pencuri yang sedang menerobos masuk rumahnya.
Bukan si Tuan Puteri Dyah Pithaloka yang ayu yang ada di hadapannya kini, namun jelmaan sosok Dyah Ayu Pengukir, Pendekar wanita dari lakon sandiwara lama yang seolah siap melepaskan pukulan tenaga dalamnya kepada Rangga.
“Maaf Bu, saya mengantar kopi dari Mbak Raisa.” Jawab Rangga tergagap panik. Menunduk dalam.
Seandainya ia adalah Rangga Geni dari serial silat yang sama, mungkin kini ia sudah melompat keluar jendela dan kabur menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Saking malunya.
“Lalu, kenapa bingkai foto saya bisa ada ditangan kamu. Lancang kamu ini,” Lontaran pertanyaan susulan ini layaknya dakwaan telak bagi Rangga yang masih menggenggam bingkai foto tadi. Semacam maling yang sedang dihakimi warga.
Sementara Rangga bergeming, makhluk anggun itu beranjak melewati Rangga yang terpatri menuju kebalik mejanya, mengibas aroma Eau de Toilette dari Channel yang menggugah indra.
“Maaf Bu. Saya mengantar kopi tadi, dan bermaksud merapihkan meja Bu Dyah,”
“Ngga perlu!” ucapnya, momotong argument Rangga. “Letakan Foto saya, lalu silahkan keluar.”
Rangga menunduk mengiyakan dan bergegas meletakan kembali bingkai foto tersebut. Tanpa sepatah kata pun, kemudian pamit meninggalkan ruangan. Ingin rasanya bumi menelan bulat-bulat keberadaannya sekarang supaya terlepas dari kebodohan yang ia ciptakan sendiri.
Ia acuhkan saja entah berapa pasang mata yang mengawasi sosoknya yang nanar menyeberangi ruangan. Ia sudah terbayang omelan atasannya atau bahkan Bu Elsa yang berbaik hati memberinya pekerjaan. Ia berharap tidak diberhentikan karena hal ini.
Seandainya Ia dipecat, bukan hanya Rangga akan kehilangan penghasilan, tetapi kuliah malam yang ia tempuh juga terancam mandeg.
Dasar Bodoh kau, Rangga. Umpatnya dalam hati.
Dari seberang pintu dan dinding sekat kaca, sosok anggun itu meraih kopi hangatnya sembari tatapannya mengawasi sosok Rangga yang beranjak pergi dalam kepanikan. Tersungging senyum kecil dari bibir mungilnya.
__ADS_1
Sosok perempuan muda yang setiap detik aura keberadaannya selalu menggugah hati Rangga, maupun para lelaki eksekutif muda di ibukota Jakarta.
Namanya Karenina Dyah Pitaloka, cintanya Rangga.