Null Eksistensia

Null Eksistensia
3. Permohonan


__ADS_3

Saat kita mencintai, kita selalu berusaha untuk menjadi lebih baik dari diri kita sendiri. Ketika kita berusaha untuk menjadi lebih baik dari kita, segala sesuatu di sekitar kita juga menjadi lebih baik.


Setidaknya demikianlah yang Paulo Coelho tuangkan dalam karya nya The Alchemist, Rangga pun mengamini kutipan yang entah kapan ia pernah baca pada linimasa social media itu.


Ia bukan pribadi yang romantis, ia tidak pernah mengenal Coelho siapa atau berniat mencari tahu, ia tidak pernah berminat berburu buku loakan bekas karangan Gibran atau Neruda.


Sesekali ia berkeliling ke grosiran buku bekas, komik-komik Superman lama lah yang ia beli atau buku-buku karangan Clancy karena merasa dekat dengan dunia yang tersurat.


Kalaupun ia sampai mengimani kutipan Coelho tadi, itu karena kebetulan ia baca di hari yang sama diterima masuk bekerja dan bertemu bara api masa kecilnya. Sialnya, hari ini alih-alih menjadi lebih baik dari kemarin, segala sesuatu di sekitar nya justru berantakan.aaa


Rangga bergegas kini menyebrangi Lobby bawah membawa sebuah kardus kecil pada gendongannya, terasa getaran lirih pada saku kemeja batiknya. Kardus dipindahkan ke pinggang dan diraihnya ponsel.


Pesan Whatsapp masuk, pengirimnya teman kuliah malam satu jurusannya, Larasati.


Mas Rangga, sudah mengerjakan tugas belum? Bisa ndak kalau malam ini ikut mengerjakan dengan yang lain, biar ada barengan ne mas?


Rangga memperlambat langkahnya, alih-alih membalas, ditinggalkannya pesan suara.


“Laras, Mas Rangga lembur. Kayaknya ngga bisa, salam ke yang lain ya.” ucap Rangga ke mikrofon.


Sebetulnya Rangga sendiri baru ingat kalau ada hutang tugas yang belum selesai, akan tetapi sekarang ada hal lain yang perlu jadi fokusnya. Biarlah tugas menyusul, pikirnya.


Kemudian ia kembali pada ritme langkahnya dan keluar melalui pintu Lobby, menuju mobil kantor yang diparkir. Disimpannya baik-baik kardus itu di bagasi, lalu segera menghampiri Bu Elsa dan Nina yang sudah menanti di luar Lobby.


“Berkas sudah ada di bagasi Bu, kita bisa berangkat sekarang.” tawar Rangga kepada Bu Elsa. Nina masih memasang muka masam di sebelahnya.


“Makasih ya Rangga, tapi ibu ada keperluan lain. Kamu antar Bu Dyah ya,” kata Bu Elsa, kalem.


“Hah?” Nina dan Ranggga terkejut nyaris bersamaan.

__ADS_1


“Iya, aku ngga bisa ikut meeting yang ini, Dyah. Gantinya nanti Pak Dandhy yang akan memimpin, kamu asistensi dia, Oke?”


“Tapi mendadak banget Bu, tadi pagi saya pikir kita berangkat berdua. Kalau begitu saya bawa mobil sendiri aja ya?” protes Nina, yang enggan menyembunyikan penolakan untuk disopiri berdua saja oleh Rangga.


“Jangan! Dyah diantar Rangga aja, lebih aman.”  tegas Bu Elsa.


Nina sedikit terkejut dengan reaksi atasannya itu, akhirnya niat untuk menawar keputusan tadi di urungkan. Tanpa berbicara banyak ia masuk ke tempat duduk belakang sedan kantor yang diparkir.


Bu Elsa kemudian memandang serius kearah Rangga dari balik kacamata mahalnya itu. Rangga menangkap aura keseriusan yang jarang sekali nampak dari Bos yang kesehariannya ramah dan ceria ini. Keseriusannya kontras sekali dengan Dress kembang-kembang yang dikenakan.


“Jaga Dyah baik-baik ya Rangga. Sepeti yang sudah Ibu sampaikan, Ibu percaya sama kamu.” Bu Elsa kembali menegaskan kepada Rangga, namun dengan suara yang diturunkan. Dibalasnya ucapan itu dengan anggukan pasti.


Terjadi kilas balik peristiwa di kepala Rangga, ucapan terakhir Bu Elsa dan air wajahnya membangkitkan memori yang lama sudah ia bunuh.


“Aman kan Target, Bawa ke Rumah Aman yang dipersiapkan. Gunakan segala cara untuk menyelesaikan tugas…”


Rangga segera mengenyahkan kenangan yang berusaha menggapai keluar dari pusaranya. Jangan terlampai paranoid, gumamnya dalam hati. Ia kemudian berpamitan dan masuk ke kursi pengemudi.


Rangga melirik tuan puterinya yang bermuram durja dari kaca spion tengah, sepertinya sengaja menyibukan diri dengan ponsel mahal keluaran terbarunya itu. Kesunyian seolah hadir berupa tirai kasat yang merintangi keduanya.


Wajah muram si tuan puteri seperti menyiratkan betapa sia-sianya upaya Rangga seandainya ia berencana untuk memecah kebisuan dengan sekedar obrolan kecil. Ia sedang tidak ingin diganggu, terlebih oleh orang yang merusak paginya.


Sembari menyusuri dengan hati-hati lalu lintas Jakarta, pikirannya kembali menelisik kejadian pasca makan siang tadi. Sewaktu Bu Elsa memanggilnya.


“Saya mau setiap kali Dyah pergi untuk segala urusan dengan klien dari Swarnadipa Land, kamu yang antar dia.” pinta Bu Elsa. Tubuh gempalnya bertumpu pada sandaran kursi seolah sedang kelelahan, wajahnya berusaha untuk tidak terlihat cemas.


Rangga yang berpikir akan diceramahi soal ulahnya tadi pagi, tidak kalah herannya dengan ucapan barusan.


“Baik Bu, tapi apakah Pak Ajo setuju? Mengingat selain saya ada Pak Canggih yang sudah lebih lama dan terbiasa mengantar Bu Dyah.” jawab Rangga, meski ia sendiri tidak bisa menolak apa pun pekerjaan yang diberikan.

__ADS_1


“Nanti saya, bilang ke Ajo. Kamu tenang saja. Pokoknya saya minta kamu antar Dyah, tunggui kalau perlu, pastikan ia kembali kerumahnya. Selarut apapun itu, pokoknya jangan khawatir saya akan hitung itu sebagai lembur.”


Hati Rangga sedikit berbunga, bukan hanya ia akan lebih sering berada di dekat tuan puterinya, tapi juga potensi untuk uang lembur yang jelas akan menolong sekali keuangannya yang seret. Akan tetapi ada satu hal yang mengganjal, pemintaan Bosnya agak tak lazim.


 


 


“Ibu meminta saya langsung, tapi rasanya bukan sekedar untuk mengantar Bu Dyah. Ini seperti tugasnya Bodyguard.” Rangga langsung bicara blak-blakan disini.


Bu Elsa memang mengetahui perihal kemampuan Beladiri Rangga, bahkan alasan Rangga dipekerjakan juga sebagai ucapan terima kasih Bosnya itu juga. Waktu itu Rangga masih serabutan bekerja dan sedang mengantar pesanan makanan sebagai Ojek Online, siang hari bolong itu ia mendengan teriakan perempuan yang kejambretan.


Rangga yang baru keluar dari Restoran serta menjinjing makanan yang dipesan melihat kedua Jambret berboncengan sepeda motor dan melesat kearahnya, sesosok Ibu-Ibu bertubuh gempal berteriak menunjuk kearah kedua Jambret, beberapa orang juga terlihat berusaha mengejar.


Rangga secara refleks melempar kresek pesanan makanannya kearah Jambret yang mengemudikan motor, kuah makanan panas mengagetkannya hingga terguling kehilangan keseimbangan. Sementara yang dibonceng jatuh tertimpa, si pengemudi yang masih bisa bangun berusaha melarikan diri.


Rangga mencegatnya dan keduanya terlibat perkelahian kecil yang jika di deskripsikan oleh saksi mata adalah, si Jambret berusaha menyerang dengan pisau, namun dengan mudah dilucuti dan tersungkur setelah menerima belasan tinju disekuju dadanya.


Tidak lama kemudian keadaan menjadi ramai dan patroli polisi datang. Trotoar di depan restoran beserta massa yang mengelilinginya kemudian pudar perlahan, dan kini Rangga kembali terduduk di Ruangan Bu Elsa.


Bosnya itu masih berusaha menjelaskan tentang betapa khawatirnya ia terhadap keselamatan Dyah untuk alasan yang ia tidak dapat utarakan sepenuhnya pada Rangga, urusan dapur perusahaan tukasnya.


Rangga pun mahfum, pada dasarnya ia pun berhutang budi untuk pekerjaannya sekarang dan lagipula bayaran lemburnya lumayan. Ia berusaha menepikan sensasi familiar ketika Bu Elsa menerangkan tugas yang ia berikan itu, atau kecemasan yang menggelayuti pembicaraannya.


“Semoga saja Bu Dyah tidak keberatan karena saya ekori terus,” ujar Rangga.


“Oh itu sih, kamu ngga usah khawatir. Soal tadi pagi juga dia ngga cerita banyak. Si Dyah itu cuma kedoknya aja yang galak, aslinya lembut kok,” ketegangan di wajah Bu Elsa mengendur.


“Pinter-pinternya kamu aja, gimana supaya lunak. Kirim-kirim puisi mungkin. Nama kamu kan Rangga,”

__ADS_1


Ingin rasanya Rangga menepuk jidat dan meraup wajahnya sendiri di hadapan Bu Elsa, hampir saja malah, namun akhirnya cuma garuk-garuk pelipisnya yang tidak gatal.


__ADS_2