
Nina berjuang keras memendam rasa muak dari wajahnya ketika menyalami satu-persatu perwakilan dari Swarnadipa, klien mereka sore ini. Ia tetap melontarkan senyum kendati suasana hatinya sedang bergejolak, Pak Dandhy berusaha berbasa-basi dengan bertanya soal kabar atau sekedar komentar mengenai sepak bola sembari mereka berduyun-duyung mengosongkan ruang rapat.
Perwakilan dari Swarnadipa memisahkan diri pada satu lantai sehingga kini hanya Nina dan atasannya itu berdua di dalam lift. Ia lipat kacamatanya dalam rasa penat lalu diuraikan kembali rambutnya yang sebahu.
Pikirannya menerawang dan mencerna ulang hasil rapat barusan. Kemudian mengamati pantulan dirinya sendiri pada permukaan kabin lift. Wajah yang dulu pernah sangat bangga sewaktu menerima ijazah kuliah, yang sumringah luar biasa setelah mendapat serifikasi CPA dan mengucap sumpah profesi.
Nina masih berusaha merespon basa-basi Pak Dandhy terkait hasil rapat barusan yang menurutnya sangat mengganggu pikiran. Ia memahami soal wacana terkait profesionalisme dan kerahasiaan kepentingan klien, namun ia juga tidak sedemikian bodohnya untuk percaya begitu saja omong-kosong yang baru ia dengar panjang lebar.
Ini potensi kejahatan keuangan yang serius, batinnya.
“Soal ini, nanti saya akan diskusikan juga dengan Bu Elsa. Kamu tolong persiapkan saja hal-hal yang di rasa perlu,” kata Pak Dandhy, sekaligus mencuri pandang ke sosok ideal di dekatnya ini.
“Baik Pak,” balas Nina, menyadari pandangan menelusuri yang di layangkan membuatnya tak sabar ingin segera keluar dari lift ini. Rasa muaknya semakin berlipat.
“Dyah, pulangnya sekalian bareng saya saja gimana?” tawar Pak Dendhy.
“Saya dijemput sama pacar, Pak,” jawab Nina. Rasanya makin ingin mengumpat saja seandainya tua bangka genit ini bukan bosnya.
Segera setelah pintu lift terbuka, ia menerjang keluar menyebrangi Lobby dengan bergegas-gegas, suara hak runcing yang mematuk-matuk lantai marmer itu bergema di Lobby yang lengang. Pokoknya, ia tak perduli harus kemana dulu asalkan jauh dari si mata keranjang itu.
Lobby pun terlihat lengang, hanya berisi sekuriti Gedung yang masih berjaga dan beberapa staff. Matanya menyapu seisi ruangan, berharap menemukan sosok Sopir kantor yang menyebalkan itu. Namun, Rangga tidak ada di sana.
__ADS_1
Ada sedikit penyesalan ia sudah mengusir Rangga pulang sore tadi, seandainya ia masih ada, pastinya ia bisa segera angkat-kaki dari sini. Untungnya, sewaktu di lift tadi ia sempatkan mengirim pesan kepada Nathan kekasihnya, meminta untuk segera di jemput. Sebetulnya ia ingin segera pulang dengan taksi saja, namun Nathan bersikeras karena khawatir akan keselamatannya.
Sudah lewat pukul 2030 malam, langit Jakarta sudah berganti warna gelap. Paling tidak butuh waktu 45 menit bagi Nathan untuk tiba pada jam lalu lintas sibuk seperti ini. Nina memutuskan untuk menunggu di restoran cepat saji yang berada tidak jauh dari Menara Perkantoran Swarnadipa.
Perlu upaya lebih untuk naik turun tangga penyebrangan dan berjalan menyusuri trotoar dengan setelan kerja dan sepatu hak tingginya. Nina merasa ia rela menukar sepatu mahalnya ini dengan sendal jepit karet sekarang juga, jemari dan pergelangan kakinya sudah protes sejak turun tangga tadi.
Paling tidak 1.5 kilometer jarak yang ia tempuh dari Menara Perkantoran itu, sudah lama ia tidak berjalan kaki sejauh ini, apalagi dengan setelan kerja dan hak tinggi. Neon logo Kuning -Merah restoran cepat saji itu makin dekat, tinggal sedikit lagi gumamnya, menguatkan hati.
Beberapa menit kemudian, Nina sudah tiba di restoran tersebut, udara sejuk dari pendingin ruangan segera menggantikan bau jalanan dan gerah trotoar Jakarta. Rasanya seperti tiba di Oase setelah melintasi gurun.
Lusinan pasang mata menyambut sosoknya yang berjalan tenang memasuki deretan bangku pengunjung, menjadi pusat perhatian bukan lagi hal yang awam baginya.
Suasana restoran cepat saji itu cukup ramai menjelang akhir pekan seperti sekarang. Nina memang lebih menyukai kafe yang lengang dan tentunya mahal untuk menyendiri, tetapi tempat ini adalah pilihan terbaik ketimbang menunggui Nathan di pinggir jalan.
Sebelum akhirnya tersadar bahwa ia adalah Nina Dyah Pithaloka yang harus tampil sempurna. Akan tidak lucu rasanya apabila ada yang mengenali dan mengunggah videonya berjalan tanpa alas kaki di depan umum, sementara produsen sepatu yang ia kenakan sudah mengikat kontrak iklan mahal untuk muncul di laman social medianya.
Suatu anugerah sekaligus kutukan yang ia pelajari seiring beranjak dewasa.
Setelah menghimpun tenaga kembali, akhirnya ia mampu bangkit dan berjalan dengan anggun layaknya seorang puteri yang hendak memesan kentang goreng dan Es Capuccino.
Ia serahkan kartu kreditnya sebagai metode pembayaran dan meminta pesanan diantar ke meja yang ia tunjuk, sebelumm meninggalkan konter. Pramusaji wanita yang melayani pun mengiyakan begitu saja permintaan Nina, buah dari aura percaya diri dan anggun yang ia pancarkan.
Untuk sesaat ia berpikir tentang apa yang akan ia sampaikan pada Bu Elsa besok, terkait temuannya perihal pekerjaan klien mereka. Ternyata perhatiannya teralihkan ke ujung ruangan, pada meja di samping pintu keluar lain restoran ini.
Ia tidak mengenali sosok perempuan yang jauh lebih muda dan sibuk bercengkrama dengan teman lelakinya itu. Sebaliknya, ia mengenali sosok lelaki di sisi lain meja dengan buku tebal di tangannya. Terlebih, ia masih mengenakan kemeja batik yang sama seperti yang dikenakan tadi pagi sewaktu ia memergokinya di ruangan.
__ADS_1
“Rangga,” batinnya.
Nina sengaja duduk membelakangi arah keduanya, kendatipun jarak mereka jauh. Tanpa sadar ia tidak ingin mereka melihat keberadaannya. Ia pun tidak menjawab ketika Pramusaji datang mengantarkan pesanannya.
Sejurus kemudian Nina merasa kesal sendiri mengingat perjalan yang harus ditempuh untuk tiba kemari, pegal dan perih di jemari kakinya, serta kegenitan Pak Dendhy yang buru-buru harus ia hindari hingga akhirnya terdampar disini. Bahkan, dua kali kakinya hampir terkilir di tangga penyebrangan.
Sopir semaunya ini harus diberi pelajaran, pikir Nina. Sambil menyedot keras-keras isi gelas Capuccion dinginnya.
Kalau memang ia masih berkeliaran di sekitar sini, mestinya Rangga menunggu saja di Lobby hingga rapat usai. Bukan malah berkencan di jam lembur. Meninggalkannya selarut ini dengan lelaki genit seperti Pak Dandhy.
Rasanya ingin sekali Nina melabrak keduanya dan memaki-maki Rangga, menumpahkan kekesalannya, menunjukan lecet dan memar di kakinya yang mulus dan bagaimana sulitnya memulihkan itu. Menyiramkan air soda diwajahnya yang kadang terlihat cengoh itu.
Tapi, Nina kemudian tersadar bahwa ia terlalu berkelas untuk mencak-mencak seperti itu di depan umum. Apa pula pentingnya Rangga sehingga ia harus sedemikian gusarnya, apa kata pengikut social medianya nanti, yang terjadi justru malah ia akan nampak seperti wanita yang cemburu karena Rangga sedang bersama orang lain.
Hah! Yang benar saja!, umpat Nina dalam hati. Gelas Capuccino plastik tanpa sadar sudah remuk digenggamnya.
Ia menaksir-naksir akan apa yang bisa dilakukan untuk sekedar membuat Rangga diomeli tetapi tanpa perlu diberi sanksi berat dikantor. Bola lampu berpijar diatas kepalanya.
Diraihnya ponsel dari tas genggam dan dibukanya Whatsapp.
__ADS_1