
Kilasan peristiwa pasca makan siang itu pun lenyap bersama deru lalu lintas dan riuhnya klakson di lampu merah. Rangga menoleh ketika seseorang dengan seragam Ojek Online mengetuk-ngetuk kaca jendelanya.
Lelaki tua itu menggeser masker dan kaca helmnya, ada beberapa kantong plastic menggelayuti skutermatic lusuh berwarna merah yang ia tunggangi, sewarna dengan sarung tangannya yang nyaris pudar. Wajah dan kulitnya legam terbakar Mentari, meski raut wajah nampak tetap ceria.
“Pak Sarbini,” gumam Rangga, melontarkan senyumnya dari balik kaca Mobil.
Rangga tidak berani membuka kaca jendelanya, khawatir mengusik mood tuan puteri yang sedang hambar di jok belakang.
Pak Sarbini tersenyum lebar, dia menunjuk mobil yang Rangga kemudikan dan berkata,
“Mobilnya Bagus, Mas Rangga.”
Rangga yang terlatih membaca gerak bibir dapat mengenali yang kalimat yang terucap kendati tidak terdengar sekalipun. Rangga menunjuk balik kearah kantong plastik di motor Pak Sarbini.
“Mau antar pesanan, ke Pasar Minggu.” kata Pak Sarbini.
Rangga memberikan kedua jempolnya, Pak Sarbini juga tertawa-tawa dan membalas dengan kedua jempol berbalut sarung lusuh itu. Nina melirik dari sudut matanya kelakuan sopirnya yang konyol ini.
Dasar manusia nggak jelas, cibirnya dalam hati.
Lampu berubah warna ke hijau, Pak Sarbini melambai dan memacu motor tuanya ke jalur kanan, berpisah jalan dengan Rangga yang bergerak terus maju. Rangga untuk sesaat masih mengikuti sosok tua itu berkelit di tengah lalu lintas dengan motornya.
“Kamu kok bisa kenal dia?”
Pertanyaan pendek dari suara bidadari yang menghuni bangku penumpang itu mengejutkan Rangga untuk sepersekian detik.
“Iya Bu Dyah, saya sebelumnya driver Ojek Online.” jawab Rangga, mantap. Setengah mati berusaha menyembunyikan sensasi dari kupu-kupu yang terbang di dalam perutnya.
“Kirain sudah lama bekerja jadi Supir, Skill nyetirnya lumayan sih.”
Mendapat pujian demikian picisannya pun tak urung jua membuat jumlah kupu-kupu itu berlipat ganda. Efeknya makin berat untuk dipendam.
“Iya Nina sayangku. Negara menghabiskan uang cukup banyak untuk melatihku dalam disiplin Vehicular Warfare. Apa itu, kuyakin engkau kan bertanya itu kemudian bukan?” ujar Rangga yang kini menoleh langsung kearah Nina.
__ADS_1
“Wahai tuan Puteri berparas elok, artinya kakanda mu ini mampu mengemudi dengan satu tangan terikat, ditembaki dan dikejari oleh banyak ******** pada waktu bersamaan, namun tidak akan aku mati dengan mudah kecuali para ******** itu semua terlebih dahulu. Sekarang pun jika adinda berkenan duduk dibangku depan, boleh lah aku menyetir hingga ketujuan meski hanya mengawasi jalanan dari pantulan kedua mata lentik mu yang jernih.” Lanjutnya.
Demikian lah jawaban dari Rangga seandainya ia tunduk pada geliat Dopamin dalam darahnya. Seandainya saja logikanya sudah mangkat, mungkin jawabannya tidak akan sesingkat,
“Saya dulu serabutan Bu Dyah, pernah jadi Kuli Proyek juga.”
Mata keduanya sempat bertemu ketika Rangga melirik dari spion tengah mobil, namun Nina berpaling seketika itu menuju ponselnya.
“Oh, Begitu ya,” imbuhnya.
Rangga kembali fokus pada urusan mengemudinya sedangkan Nina lanjut membenamkan perhatiannya kembali ke ponsel. Kesunyian yang sama berlangsung hingga akhirnya sedan biru metalik itu berbelok masuk menuju Menara Perkantoran sebuah perusahaan pengembang real estate nasional.
Nina langsung menerjang keluar pintu mobil begitu Rangga membuka kuncinya, seorang Staff perempuan menanti kehadirannya di muka Lobby. Sedangkan Rangga meraih kardus berisi dokumen di bagasi mobil.
Nina masih berbincang dengan staff tersebut ketika Rangga menghampiri dengan kardusnya.
“Itu keperluan meetingnya, Bu Dyah?” si Staff bertanya melihat Rangga yang datang. “Biar saya minta OB kita untuk bawakan ya, Bu?”
Rangga mengehela napas, sepertinya Nina sedikit masih kesal atas peristiwa pagi tadi, batinnya.
“Saya bantu ya, Mas?” tawar Staff itu kembali.
“Ngga apa-apa Mbak, tolong tunjukan aja ruangan rapatnya.” tolak Rangga, membalas senyumnya.
Selesai membereskan dokumen yang perlu di antar, Rangga meninggalkan Nina di ruang meeting dan memutuskan untuk menunggu di Lobby. Padahal, Nina sudah tegas meminta untuk meninggalkannya saja dan kembali ke kantor.
“Pacar saya nanti menjemput, lagian Rapat sampai malam.” tolak Nina dengan sedikit penekanan pada kata Pacar, atau mungkin saja itu cuma perasaan Rangga saja tadi.
Setelah satu jam menunggu di Lobby, Rangga memutuskan untuk mengecek kembali ke Lantai dimana Ruangan Rapat berada. Ruangan Rapat modern itu berdinding transparan meski sepenuhnya kedap suara. Nina tampak sedang berargumen keras dengan beberapa hadirin yang ada ketika Rangga melongok setelah keluar pintu lift. Wajahnya berusaha menahan kesal meski tetap terlihat professional.
Rambutnya yang panjang sebahu kini di cepol naik dengan tetap menyisakan sulur halus pada garis pelipis rambutnya, mempertontonkan leher jenjangnya yang indah itu dan tetap terlihat professional.
__ADS_1
Rangga dan Nina kembali bertukar pandang ketika gadis itu membuang muka dari jalannya rapat yang nampak memuak kannya, Rangga hanya mematung saja. Nina kembali membuang muka ke tengah ruang rapat sembari bergumam lirih,
“Ngapain sih dia ini,”
Rangga yang mampu membaca gerak bibir mungil itu memutuskan untuk undur diri ketimbang semakin menggusarkan si tuan puteri. Tak urung kemudian Nina pun kembali menerawang ke muka pintu lift, seolah mencari sosok Rangga yang sudah menghilang.
Perempuan muda itu kembali melayangkan pandangan menuju slide presentasi, meski pikirannya nampak berlari-larian di tempat yang lain.
Rangga meninggalkan Menara Perkantoran itu dan memilih menghabiskan waktu di restoran cepat saji yang tidak jauh dari sana. Ia masih menggerutui senampan berisi ayam goreng dan sekepal nasi serta minuman yang memaksanya merogoh uang seharga tiga kali lipat makan siangnya. Tapi, dari sana ia masih dapat mengamati bagian puncak Menara tempat Nina berada sehingga jika terjadi sesuatu, ia tidak jauh dari situ.
Ia sudah menelpon Ajo, atasannya, sewaktu berjalan kemari perihal permintaan Bu Elsa untuk menunggui Nina sampai malam. Ajo pun bilang kalau Bu Elsa sudah bicara padanya, Ajo cuma berpesan,
“Ngana jangan pasang muka Bete-bete ya, kalau ketemu Pangeran ber-Lamborghini menjemput tuan Puteri,” disusul ketawa ringan Ajo di seberang telepon.
Rangga menutup telepon dan tersenyum simpul, Bosnya yang satu itu memang gemar berkelakar. Pangeran ber-Lamborghini itu bukannya Rangga belum pernah bertemu, sudah beberapa kali bahkan ia muncul dengan mobil mewahnya menjemput si tuan Puteri. Rangga yang tidak lebih dari Abdi Dalem pengurus kuda tentunya hanya bisa mengamati dari jauh kedua bangsawan itu bercengkrama.
Masih baru lewat beberapa menit dari pukul 17 sore, langit masih cerah. Selayang pandang ia mengamati puncak Menara Swarnadipa Land, seolah mata elangnya mampu menembus dinding-dinding dan sekat ruangan perkantoran itu, mencari-cari sosok tuan puteri yang bersandar pada kursinya.
Tentu saja hal yang itu hanyalah sekedar asa dari punuk yang merindu rembulan.
Satu hal yang Rangga tidak ketahui, Nina memang sedang nampak serius menatap slide presentasi yang warna-warninya terpantul di lensa kacamata ramping yang ia gunakan. Sosoknya memang bersandar pada kursi dan lengannya, diam tak berkata-kata dalam ruangan yang redup.
Kendatipun, sukma sang tuan puteri kini sudah terbang sejak tadi melayang ke tempat yang jauh melintasi ruang dan masa, sebelum akhirnya mendarat anggun pada halaman sekolah yang entah apa namanya.
Sang Puteri kini menyusuri tanah lapang yang luas dengan mentari terik diatas kepalanya itu.
Bayangan sosok yang merunjau itu berhenti lalu melontarkan senyum jelita pada kelima wujud belia berseragam putih-biru yang berbaris memberi hormat pada bendera.
Pandangan nya sayu dan degup jantungnya menggema pada dinding ruang rindu.
__ADS_1